Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2, Pilihan yang Berat

SESAMPAINYA di apartemen, Fabian mengambil kunci dari tangan Kate lalu membuka flat. Dia tidak ingin masuk, tapi hal itu mungkin akan lebih menyakitkan hati Kate.

“Istirahatlah,” kata Fabian sambil tersenyum lembut. “Atau kau ingin mandi terlebih dahulu?”

Kate menggeleng. Kecuali kau mau mandi bersamaku.

“Selamat tidur, Kate.” Setelah merapikan selimut, dia meninggalkan Kate sendirian.

Begitu Fabian sudah keluar dari flat-nya, Kate menangis. Tangisan yang dari tadi dia tahan tumpah semua. Entah berapa lama dia menangis, hingga jatuh tertidur.

***

Fabian langsung masuk ke flat-nya, tepat di depan flat Kate. Lelah. Badannya menggigil.

Dia mengantuk, namun kebutuhan akan rokok lebih kuat memanggilnya. Duduk meringkuk di jendela kamar, tempat favoritnya untuk merenung, dia teringat sayapnya yang lain yang patah.

April, di mana kau sekarang?

Fabian teringat ketika dia berlari meninggalkan April menangis di kamarnya. Namun setidaknya tadi dia tidak meninggalkan Cattleya. Sedikit perbaikan. Dia tersenyum miris.

Tuhan, aku sudah menjauh dari makhluk-Mu yang berjenis wanita. Kenapa Cattleya datang? Kenapa perbedaan ini susah aku satukan? Untaian kalimat mirip doa berhamburan di antara kepulan asap di atas kepalanya.

Dia teringat Mami. Ibunya di seberang samudra sana.

Alangkah beruntungnya Papi. Wanita pertamanya, menjadi wanita terakhirnya, pikirannya makin bergerak jauh.

Lamunannya terganggu dering ponsel.

Mami. Kontak batin ibu dan anak.

“Rindu aku buat Mami.” Tersenyum. “Mami sehat?”

“Seperti yang kamu dengar,” jawab Mami.

Ah, Mami selalu berkata bahwa dia sehat. Atau selalu terdengar sehat? Mami kadang menyembunyikan sakitnya.

“Apa kabar kamu, Sayang?”

“Nggak terlalu baik, tapi dengar suara Mami, jadi baik deh.”

“Perayu.” Suara di seberang sana terkekeh.

“Buat apa sih Ian ngerayu Mami? Semua cinta Mami kan buat Ian.”

Wanita di ujung telepon itu tergelak makin geli. “Ian bakal bikin perempuan patah hati kalau pakai kemampuan merayu dan merajuk kamu, Sayang.”

Fabian menarik napas panjang.

“Kenapa, Ian?”

“I am...”

“You knew that you can always tell me…. Cerita ke Mami.”

Fabian tersenyum sendiri, “I knew, Mi…. Makanya Ian sayang banget sama Mami…”

“So? Kamu ngerayu anak gadis orang?”

“Tapi aku nggak merasa ngerayunya, Mi. Aku juga nggak ngambek. Tapi dia sering manjain aku. Mana aku tau kalau itu karena dia cinta aku?” Mengalirlah ceritanya. Maka, selama sejam ke depan, mengalirlah cerita dari mulut Fabian, kepada wanita yang sangat dia hormati.

Mami hanya berkata agar aku selalu tegar dan selesaikan masalahku dengan hati dan otak dingin. Hati? Entah apa aku punya hati saat ini. Fabian melanjutkan lamunannya saat hubungan telepon mereka selesai sambil menghabikan sebungkus rokok lagi.

***

Hampir sebulan Fabian berusaha menjauhi Cattleya. Hanya sekadar menelepon sesekali, lebih sering berkirim pesan. Dia berharap dengan cara seperti ini, lambat laun Cattleya bisa melupakannya.

Sore yang cerah menjelang musim gugur. Agak berangin. Fabian menikmati sore itu di taman kampus. Bersandar dirindangnya sebatang pohon oak. Agak tersembunyi dari mahasiswa yang lain. Merokok. Rindu rumah. Rindu Mami. Rindu Papi. Rindu Ari, adiknya. Merasa percuma berlari menjauh kalau akhirnya jatuh di lubang yang sama.

“Kau sudah merokok terlalu banyak, Fabian.”

Fabian terhenyak, menoleh ke sumber suara. Cattleya. “Kau mengagetkanku.”

“Kau terlalu asyik merokok.”

Fabian mematikan rokoknya. “Kemarilah. Ada apa?”

Karena rindu ini menyiksaku, jawab Kate dalam hati.

“Sudah hampir seminggu aku berusaha menyelesaikan tugas kalkulus. Besok sudah harus selesai.”

Fabian tersenyum lalu tertawa kecil. “Mana tugasmu? Mungkin ada yang bisa kulakukan dengan tugasmu.”

Lakukan sesuatu untuk hatiku, bisik Kate dalam hati.

Hampir satu jam Fabian berusaha menjelaskan, hampir satu jam pula Kate hanya mencuri pandang ke wajah Fabian.

“Sudah terlalu sore, kita lanjutkan di flat saja.” Fabian melirik jam tangannya lalu bangkit berdiri, menarik kedua lengan Kate sebagai bantuan. “Apa Leo tidak pernah datang mengunjungi Shannon?” Fabian bertanya tentang Shannon, teman se-flat Kate.

“Tentu saja masih sering datang. Kenapa?”

“Tidak. Apa mereka sudah tidak ‘mengganggu’mu lagi?” tanya Fabian sambil tersenyum kecil.

“Ugh. Masih. Semakin lama mereka semakin parah. Kenapa?”

“Tidak. Hanya kau tidak pernah mengungsi di flat-ku saja. Kukira mereka tidak pernah ‘melakukan’ di flat-mu lagi.”

Kate membuang napas kasar. “Aku tak mau mengganggumu, Ian.”

“Lalu apa yang kau lakukan kalau mereka sedang bersama?”

“Sepertinya aku butuh ke dokter THT. Aku selalu memakai headset jika ada mereka. Dengan volume full.” Wajah Kate merengut.

Ian tergelak—lepas. “Mengungsilah di flat-ku. Aku tak mau kau jadi gadis tuli.” Mereka tertawa bersama.

“Kau tidak pakai motor?”

“Tidak. Bagaimana kalau kita jalan kaki saja? Sekalian singgah untuk makan malam. Aku tak pernah menerima ransum belakangan ini.”

“Jangan menyindirku. Aku tidak pernah memasak lagi.”

“Itu akan membuatku semakin kurus.” Balasan yang membuat Kate tertawa.

Mereka singgah makan malam sambil melanjutkan membahas tugas kalkulus Kate. Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang. Kate tahu, Fabian berusaha untuk seperti dulu. Bercanda, menggodanya, bermanja-manja, bahkan sesekali merangkul bahunya. Meski begitu, orang yang melihat pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih.

Sesampainya di apartemen, di ujung lorong menuju flat, tiba-tiba Cattleya terdiam. Memandang ke arah flat-nya. Fabian mengikuti arah pandangannya. Lalu tertawa sangat keras. “Sepertinya ada yang ingin mengungsi saat ini.” Tertawa sambil merangkulkan tangan ke bahu Kate. Berjalan ke arah flat-nya—tepat di depan flat milik Kate.

“Jangan tertawa, Ian!”

“Masuklah. Anggap saja rumah sendiri.” Fabian memberi jalan agar Kate bisa masuk. “Atau kau ingin mengambil pakaianmu dulu?”

“Nanti sajalah. Dilihat dari bagaimana mereka masuk, sepertinya aku akan menonton blue film ketika membuka pintu,” jawab Kate yang membuat Fabian terbahak. Kate merengut, namun di bibirnya tersungging senyum saat teringat malam ini dia berada dalam flat yang sama, berdua saja bersama Fabian.

***

Kebersamaan ini begitu indah. Mereka duduk di sofa. Fabian bersila, Kate meletakkan kakinya di meja. Hanya ditemani teh panas. Fabian penggila teh, tapi tak suka kopi. Kate sebaliknya.

Sebenarnya Kate tidak terlalu memperhatikan penjelasan Fabian. Dia hanya menikmati kebersamaan ini. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Ian, apa kalau kita begini, tidak ada yang marah?”

“Maksudmu?”

“Kudengar kau sedang dekat dengan seorang gadis.”

“Benar.” Fabian memang selalu jujur apa adanya. “Tapi aku tidak suka diatur-atur. Aku akan berteman dengan siapa yang aku mau.” Dia mengedikkan bahu. “Itu syarat yang aku ajukan. Aku tidak takut berkomitmen, jadi aku juga minta kejujuran. Selama masih bersatu, tidak ada orang lain. Simple.”

“Seserius itu kah?”

“Cattleya, wanita diciptakan untuk dihargai. Aku selalu serius. Setiap berhubungan, aku selalu serius. Walaupun selalu patah.”

Diam.

Sunyi.

“Maaf kalau kabar ini melukaimu. Sebenarnya ketika Gladys mengajakku berkomitmen, aku belum mau. Belum siap. Tapi kupikir, ini mungkin dapat membantumu melupakanku. Aku butuh pengalih perhatian. Kedengarannya mungkin tidak adil buat dia. Tapi aku tahu perasaanku. Aku orang yang mudah jatuh cinta, sekaligus mudah patah hati.”

“Itu hakmu, Ian. Aku bertanya sekadar untuk menjaga perasaannya.” Sebenarnya dia memang sangat butuh pernyataan Fabian tadi.

“Dia juga menanyakan hubungan kita. Aku jawab kalau kita adalah sahabat. Dia tidak boleh mengutak-atik hal itu. Dia harus bisa memercayai aku.”

“Terima kasih.”

“Buat apa?”

Tak ada jawaban.

Mereka kembali membahas tugas kalkulus itu. Fabian dengan sabar membimbing Kate menyelesaikan soal-soal. Kadang satu soal harus dijelaskan berulang-ulang. Dan kali ini, sepertinya Fabian harus menambah stok kesabarannya. Tapi Fabian mengerti.

“Apa kau sudah mengerti, Kate?” Sepi. “Kate?”

Ternyata Kate jatuh tertidur di bahunya. Sambil tersenyum Fabian berkata, “Dasar kau, Gadis Pemalas.” Bergerak sangat perlahan, Fabian meletakkan kepala Kate di bantal lalu dia merapikan buku-buku dan kertas-kertas yang bertebaran. Sangat berhati-hati agar tidak mengganggu tidur Kate. Setelah yakin Kate sungguh lelap, perlahan dia mengangkat dan menidurkan Kate di ranjang. Kate biasa tidur di situ jika mengungsi. Setelah menyelimuti Kate, Fabian keluar kamar. Kalau Kate tidur di kamarnya, itu artinya dia tidur di sofa. Tersenyum, dia mengambil laptop, dia ingin mengerjakan tugas kuliah. Usahanya pun butuh perhatian. Sambil merokok, Fabian terlarut dengan pekerjaannya. Tidak sadar kalau ada sepasang mata mengintip di balik pntu.

Sepasang mata hijau menatapnya sendu.

Tuhan, aku lebih memilihMu daripada lelaki itu. Lelaki yang sangat kucintai. Kalau memang harus seperti ini, aku ikhlas, tapi mohon bantu aku melupakannya.

Kalimat yang hampir sebulan ini menjadi doanya. Kate menikmati berada di kamar Fabian. Memang tidak ada foto wanita di sini. Hanya foto ibunya dan foto Kate di meja. Foto sederhana, hanya diambil dari kamera ponsel. Tapi di foto itu mereka berdua tertawa. Mungkin sebentar lagi foto itu akan hilang, berganti foto Fabian dan Gladys tertawa. Atau berpelukan mesra? Segenggam cemburu memenuhi dadanya. Terasa sesak. Tapi dia sudah menentukan pilihan.

Kate tidak bisa tidur. Dia menikmati aroma Fabian yang melingkupinya. Di bantal, di selimut, di kasur, bahkan di t-shirt-nya.

***

Ketika akhirnya dia bisa tertidur, Kate terbangun di tengah malam. Berjinjit, dia mengintip ke luar kamar. Fabian sudah selesai mengerjakan tugasnya. Tertidur di sofa. Telentang. Dadanya naik turun. Sekilas dilihatnya ada sesuatu yang aneh di celananya. Kate tertawa tertahan.

Kau mimpi apa, Ian? rutuknya dalam hati.

Kate berg*ir*h melihat pemandangan di depannya. Fabian tergolong kurus, tapi badannya berisi. Lelakinya terlelap. Sepertinya Kate ingin meloncat ke tubuh itu. Menikmati kelelakiannya. Dia berpikir harus menjauh dari Fabian. Tapi ke mana? Karena Fabian ada di pikirannya. Ada di hatinya.

Dia mengambil selimut untuk menyelimuti Fabian. Malam ini cukup dingin.

***

Ketika Kate terbangun esoknya, matahari sudah cukup tinggi. Dia yakin Fabian pasti sudah rapi.

“Selamat pagi, Gadis Pemalas,” sapa dan senyum paginya. “Mimpi indah tadi malam?”

“Tentu.” Karena aromamu melingkupiku

“Baguslah.”

“Kau sendiri?”

“Tentu. Aku bermimpi ada wanita cantik yang menyelimutiku.” Fabian melihat ke arah Kate. “Terima kasih. Kau tertidur cepat sekali. Aku tidak sempat menyiapkan selimut untukku.”

“Duduklah. Makan pagi dulu.”

Mereka makan pagi bersama.

“Cattleya, libur ini aku akan pergi.”

“Pulang?”

“Tidak. Aku akan mengunjungi adikku Ari di UK. Lalu backpacking bersama teman-teman. Kami akan ke selatan sampai menyeberang ke Afrika.”

“Melarikan diri lagi, Ian?”

“Sepertinya.” Fabian mengedikkan bahu. “Aku ingin menjauh darimu, Kate. Aku ingin membantumu melupakan aku.” Fabian tekun melihat wajah Kate.

“Itu buatmu juga. Perasaanku padamu mungkin beda dengan perasaanmu padaku. Tapi kalau sudah merasa sesakit ini, aku bisa berempati untukmu, lalu bagaimana denganmu sendiri, Ian?”

“Pasti lebih sakit. Aku tahu rasanya seperti apa. Karena aku pernah merasaknnya. Bahkan mungkin masih kurasakan,” balas Fabian pelan sambil menerawang. Tak ada yang dia sembunyikan. Kate tahu urusannya dengan April.

“Kenapa kau tidak pulang ke rumah saja?”

“Aku mencari kesibukan. Kalau di rumah, baik di rumah Mami atau di rumah Bunda, aku akan kembali menjadi anak manja. Bersantai sepanjang hari.”

“Kau tidak rindu ibumu?”

“Sangat.”

“Aku ingin kenal dengan ibumu.”

“Datanglah. Kau pasti diterima dengan senang hati.”

Aku ingin mengenal seorang wanita yang dapat menikmati cinta Fabian tanpa syarat.

***

Fabian sungguh pergi backpacking. Tapi perasaan itu tetap sama. Dua bulan lebih Cattleya tidak bertemu Fabian. Mereka hanya sesekali berkirim kabar lewat tulisan dan suara.

Rindu.

Memenuhi rongga dadanya.

Membekap udara di sekelilingnya.

Sampai kapan?

Dia tau, kalau rasa ini akan bertahan lama.

Mungkin akan dia bawa mati.

***

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel