Bab 4 Keindahan kerajaan Drakareth
Lyssara masih menatap pria di hadapannya.
Sulit mempercayai bahwa sosok tinggi berwajah tampan dengan sorot mata keemasan itu adalah naga raksasa yang beberapa saat lalu mengguncang seluruh hutan.
Rambut hitamnya bergerak pelan diterpa angin malam.
Jubah panjang bersulam benang emas menjuntai hingga menyapu rerumputan, sementara mahkota sederhana berbentuk tanduk naga mempertegas wibawanya sebagai penguasa Drakareth.
Tak ada senyum di wajahnya.
Namun, ketenangan yang dipancarkannya justru membuat siapa pun enggan membangkang.
Drakon mengalihkan pandangan kepada para prajurit.
"Dengar perintahku."
Seluruh pasukan segera berlutut.
"Siap, Yang Mulia."
"Rawat prajurit yang terluka."
"Tangkap mereka yang masih hidup."
"Izinkan yang telah menyerah menjalani pengadilan kerajaan. Aku tidak menginginkan pembantaian malam ini."
"Baik, Yang Mulia."
Lyssara sedikit terkejut.
Selama ini ia mendengar bahwa Raja Naga adalah penguasa kejam yang membunuh siapa pun tanpa ampun.
Namun kenyataannya...
Pria itu justru memilih menegakkan hukum daripada melampiaskan amarah.
Drakon kembali menoleh kepada Lyssara.
"Kita berangkat."
"Ke mana?"
"Istana Drakareth."
Lyssara menghela napas pelan.
"Apa aku benar-benar tidak boleh kembali ke desa terlebih dahulu?"
"Tidak."
Jawabannya singkat.
"Semakin lama kau berada di luar istana, semakin besar peluang musuh menyerangmu."
"Siapa sebenarnya mereka?"
"Mereka adalah Ordo Umbra."
"Kelompok yang telah lama memburu darah naga."
"Mereka percaya anak yang akan kau lahirkan dapat membuka Segel Langit dan memberikan kekuatan yang tak terbatas."
Lyssara mengernyit.
"Tapi aku bahkan belum..."
Ia menghentikan ucapannya.
Pipinya memanas.
Ucapan para prajurit tentang dirinya sebagai calon ibu pewaris naga terus terngiang di kepalanya.
Drakon memahami kegelisahan itu.
"Tak perlu memikirkan semuanya malam ini."
"Aku akan menjelaskan semuanya setelah kau tiba di istana."
Sebelum Lyssara sempat membalas, terdengar suara kepakan sayap dari atas langit.
Seekor wyvern berwarna abu-abu turun membawa sebuah kereta besar yang seluruh sisinya dihiasi kristal biru.
Kereta itu jauh lebih megah daripada kereta yang sebelumnya digunakan pasukan kerajaan.
Roda-rodanya bahkan tidak menyentuh tanah.
Ia melayang beberapa jengkal di atas permukaan bumi.
Lyssara menatapnya takjub.
"Kereta itu..."
"Kereta kerajaan."
Jawab Drakon.
"Kendaraan biasa terlalu lambat."
Pintu kereta terbuka dengan sendirinya.
Drakon melangkah lebih dulu, lalu berhenti di ambang pintu.
Ia menoleh ke belakang.
"Apa kau bisa naik sendiri?"
Lyssara mengangguk pelan.
"Bisa."
Meski begitu, gaun panjangnya sedikit menyulitkan.
Saat ia mengangkat ujung gaunnya dan hendak menaiki pijakan, kakinya terpeleset oleh batu kecil yang tertutup lumut.
"Akh!"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Belum sempat jatuh, sebuah tangan besar dengan sigap meraih pinggangnya.
Lyssara membelalak.
Ia kini berada sangat dekat dengan Drakon.
Aroma kayu cedar dan embun malam yang lembut menguar dari tubuh pria itu.
Tatapan emas mereka saling bertemu.
"Maaf..."
Lyssara buru-buru mencoba berdiri sendiri.
Drakon melepaskan pegangannya tanpa sepatah kata pun.
Namun sebelum gadis itu sempat melangkah, ia melihat telapak tangan Raja Naga itu.
Ada luka panjang yang baru saja terbuka.
Darah merah pekat menetes perlahan ke tanah.
"Yang Mulia!"
Lyssara refleks memegang pergelangan tangannya.
Drakon sedikit terkejut.
"Ada apa?"
"Anda terluka."
"Hanya goresan."
"Bukan."
Lyssara menggeleng.
"Kalau tidak segera dibersihkan, luka sekecil apa pun bisa terinfeksi."
Ia segera membuka tas kecil berisi tanaman obat yang selalu dibawanya.
Para prajurit yang melihat itu langsung menahan napas.
Tak seorang pun pernah berani menyentuh Raja Naga tanpa izin.
Namun...
Drakon tidak menarik tangannya.
Ia hanya memperhatikan gadis itu mengeluarkan beberapa helai daun hijau, menumbuknya dengan batu kecil, lalu mencampurnya dengan cairan bening dari botol kaca.
"Sedikit dingin."
Ucap Lyssara pelan.
Ia mengoleskan ramuan itu dengan hati-hati ke luka di telapak tangan Drakon.
Sentuhan jemarinya begitu ringan.
Berbeda dengan tabib istana yang biasanya terburu-buru karena ketakutan.
Beberapa detik berlalu.
Luka yang tadinya menganga perlahan menutup.
Para prajurit saling berpandangan dengan wajah tak percaya.
"Ramuan itu..."
"Sembuh secepat ini?"
Drakon menatap telapak tangannya.
Tak ada lagi darah yang menetes.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seseorang merawat lukanya tanpa rasa takut, tanpa mengharap imbalan, dan tanpa memandangnya sebagai monster.
Tatapan emasnya kembali jatuh pada Lyssara.
"Kau pandai meracik obat."
Lyssara tersenyum kecil.
"Nenek yang mengajariku."
Drakon mengangguk pelan.
"Lalu mulai hari ini biarkan aku yang menjagamu."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa, membuat jantung Lyssara kembali berdetak lebih cepat daripada sebelumnya.
Lyssara tidak langsung menjawab.
Tatapan matanya masih terpaku pada Drakon.
Ucapan pria itu terdengar begitu sederhana, tetapi entah mengapa mampu mengusik hatinya.
"Biarkan aku yang menjagamu."
Kalimat itu terasa asing.
Sejak kecil, hanya Mireya yang pernah mengucapkan kata-kata serupa kepadanya.
Kini, orang kedua yang mengatakan hal itu justru adalah Raja Naga yang selama ini dianggap monster oleh seluruh benua.
Lyssara perlahan melepaskan tangan Drakon.
"Terima kasih..."
ucapnya pelan.
Drakon hanya mengangguk tipis.
"Mari berangkat."
Keduanya menaiki kereta kerajaan.
Begitu pintu ditutup, dua ekor wyvern mengepakkan sayapnya bersamaan.
Kereta perlahan terangkat dari tanah.
Lyssara refleks mencengkeram sandaran kursi.
"Keretanya... terbang?"
Drakon yang duduk di hadapannya menjawab singkat.
"Ya."
Tak lama kemudian, kereta melesat membelah langit malam.
Di balik jendela kaca kristal, hutan yang tadi mereka lewati berubah menjadi hamparan hijau kecil.
Sungai-sungai tampak seperti pita perak yang berkilau diterpa cahaya bulan.
Lyssara terpukau.
"Indah sekali..."
Ini pertama kalinya ia melihat dunia dari ketinggian.
Semua rasa takutnya seolah menghilang untuk sesaat.
Drakon diam-diam memperhatikan ekspresi gadis itu.
Sudut bibirnya nyaris terangkat, meski hanya sesaat.
"Kalau kau menyukai pemandangan malam..."
katanya pelan.
"...kau akan lebih menyukai Drakareth."
Lyssara menoleh.
"Memangnya seperti apa kerajaan itu?"
Drakon tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia membuka tirai kecil di sisi kanan kereta.
"Sebentar lagi kau akan melihatnya."
Perjalanan kembali diselimuti keheningan.
Anehnya...
Keheningan itu tidak terasa canggung.
Lyssara beberapa kali mencuri pandang ke arah Drakon.
Pria itu duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas tongkat hitam berukir naga yang sedari tadi berada di sampingnya.
Tatapannya mengarah keluar jendela.
Tenang.
Berwibawa.
Namun wajahnya terlihat begitu lelah.
Seolah sudah sangat lama memikul beban seorang diri.
Tanpa sadar Lyssara bertanya,
"Yang Mulia..."
"Hm?"
"Apakah menjadi Raja Naga sangat melelahkan?"
Pertanyaan itu membuat Drakon menoleh.
Untuk beberapa saat, ia tidak menjawab.
"Aku tidak tahu."
Lyssara tampak bingung.
"Maksudnya?"
"Aku menjadi raja ketika masih sangat muda."
"Jadi aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup sebagai orang biasa."
Nada suaranya tetap datar.
Namun untuk pertama kalinya, Lyssara menangkap kesepian di balik ketegasan itu.
"Tidak punya teman?"
tanyanya hati-hati.
Drakon menggeleng pelan.
"Yang ada hanyalah bawahan."
"Penasehat."
"Jenderal."
"Tidak ada yang berani memperlakukanku seperti manusia biasa."
Lyssara tersenyum kecil.
"Itu pasti membosankan."
Drakon menatapnya cukup lama.
"Semua orang selalu mengatakan hidupku menakutkan."
"Kau justru mengatakan membosankan."
"Karena memang begitu."
jawab Lyssara spontan.
"Kalau setiap orang takut berbicara denganmu, bukankah itu sepi?"
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...
Drakon benar-benar terdiam.
Tak pernah ada yang mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya.
Orang-orang hanya melihat mahkota di kepalanya.
Tidak pernah melihat pria yang mengenakannya.
Belum sempat ia menjawab, suara kusir terdengar dari luar.
"Yang Mulia!"
"Kita sudah tiba."
Drakon bangkit dari duduknya.
Ia membuka pintu kereta.
Angin dingin langsung menerpa wajah mereka.
Lyssara ikut berdiri.
Begitu melangkah keluar...
Matanya membelalak.
Di hadapannya berdiri sebuah kerajaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Istana Drakareth menjulang di puncak pegunungan, dibangun dari batu hitam berkilau yang memantulkan cahaya keemasan.
Puluhan menara tinggi menusuk langit.
Air terjun mengalir dari tebing-tebing kristal, sementara ribuan lentera melayang di udara menerangi seluruh kota.
Di langit, beberapa naga dengan berbagai ukuran terbang berputar mengelilingi istana.
Sebagian membawa prajurit sebagian lagi hanya melintas bebas di antara awan.
Pemandangan itu begitu megah hingga membuat Lyssara lupa berkedip.
"Ini kerajaan Drakareth?"
"Ya." jawab Drakon.
"Inilah rumahmu mulai malam ini."
Lyssara perlahan menoleh ke arahnya.
"Aku belum tentu tinggal di sini selamanya."
Drakon menatap lurus ke depan.
"Itu akan kita bicarakan nanti tapi untuk saat ini..."
Ia mengulurkan tangan kepada Lyssara.
"Selamat datang di Drakareth."
Tanpa sadar, Lyssara menerima uluran tangan itu.
Di kejauhan, dari salah satu balkon tertinggi istana, sepasang mata berwarna ungu mengamati kedatangan mereka.
Seorang wanita bergaun hitam tersenyum tipis.
"Jadi perempuan itu akhirnya datang."
Tatapannya dipenuhi kebencian.
"Kalau begitu, permainan kita baru saja dimulai."