
Ringkasan
Lyssara Evanthe, gadis biasa yang hidup di desa terpencil, mendadak dijadikan tumbal untuk menenangkan amarah naga kuno. Semua orang yakin ia akan mati begitu memasuki Kerajaan Drakareth. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Draven Arkaenos, Raja Naga yang ditakuti seluruh benua. Dingin, angkuh, dan tak pernah menunjukkan belas kasih, pria itu menyimpan rahasia yang telah terkubur selama ribuan tahun. Satu malam yang seharusnya hanya menjadi ikatan sihir berubah menjadi awal dari malapetaka. Lyssara mengandung anak Raja Naga. Kehamilan itu bukan sekadar membawa seorang pewaris, melainkan membangkitkan kekuatan kuno yang selama ini disegel. Para penyihir, keluarga kerajaan, hingga para pemburu naga mulai memburu Lyssara demi merebut bayi yang dipercaya mampu menguasai seluruh dunia. Di tengah ancaman yang datang dari segala arah, Draven yang dikenal tanpa hati rela menumpahkan darah siapa pun demi melindungi wanita dan calon anaknya. Namun, semakin besar cinta yang tumbuh di antara mereka, semakin dekat pula ramalan mengerikan yang mengatakan... Hanya satu yang akan bertahan hidup: sang ibu, sang ayah, atau pewaris Raja Naga. Saat cinta harus bertarung melawan takdir, sanggupkah Lyssara mempertahankan anak yang bahkan belum sempat melihat dunia?
Bab 2 Awal Pertemuan
Ruangan itu mendadak terasa sesak.
Lyssara mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding kayu. Napasnya memburu, sementara kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tak mampu ia pahami.
"Aku tidak akan pergi."
Suaranya bergetar, tetapi sorot matanya tetap tegas.
"Aku bahkan tidak mengenal Raja Naga kalian."
Pemimpin pasukan mengangkat kepalanya perlahan.
"Maafkan kami, Nona. Ini bukan permintaan."
"Melainkan titah."
"Dengan segala hormat, kami akan membawa Nona, baik secara sukarela maupun dengan paksa."
Ucapan itu membuat Mireya segera berdiri di depan Lyssara.
Wanita tua itu membentangkan kedua tangannya, seolah tubuh renta itu mampu menjadi benteng terakhir bagi cucunya.
"Jangan sentuh cucuku!"
Para prajurit saling berpandangan.
Pemimpin pasukan menghela napas pelan.
"Kami tidak ingin melukai siapa pun."
"Kalau begitu, tinggalkan desa kami!"
Mireya berteriak dengan mata memerah.
"Lyssara tidak bersalah!"
"Dia hanya gadis desa yang hidup dari meracik tanaman obat!"
"Dia tidak pantas dijadikan tumbal!"
Pemimpin pasukan menatap wanita tua itu beberapa saat sebelum berkata pelan,
"Yang akan menjadi tumbal bukan dia."
"Melainkan seluruh desa... bila kami pulang tanpa membawanya."
Kalimat itu seketika membuat suasana membeku.
Mireya memucat.
"B-Bukankah Raja Naga telah berjanji tidak akan mengganggu desa lagi?"
"Janji itu berlaku selama desa memenuhi kewajibannya."
"Kini saatnya janji itu ditepati."
Lyssara menggenggam lengan neneknya.
"Nek..."
Mireya menoleh. Air matanya kembali jatuh.
"Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu."
"Tapi kalau aku tidak pergi..."
Lyssara mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Ia melihat anak-anak bersembunyi di balik kaki orang tua mereka.
Para petani yang selama ini baik kepadanya berdiri dengan wajah pucat.
Rumah-rumah sederhana yang menjadi tempatnya tumbuh sejak kecil tampak begitu rapuh di hadapan pasukan kerajaan.
Ia menelan ludah.
"Apakah mereka benar-benar akan menyerang desa ini?"
Pemimpin pasukan menjawab tanpa ragu.
"Aku tidak pernah berdusta atas nama Kerajaan Drakareth."
"Perintah Raja adalah hukum."
Lyssara memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak.
Ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam.
Perlahan, ia melepaskan tangan neneknya.
"Nek..."
"Jangan."
Suara Mireya pecah.
"Tolong... jangan tinggalkan Nenek."
Lyssara memeluk wanita tua itu erat.
Sejak bayi, hanya Mireya yang membesarkannya.
Wanita renta itulah yang mengajarinya membaca, mengenali tanaman obat, meracik salep, hingga mengobati warga desa yang sakit tanpa meminta imbalan.
Meninggalkannya terasa seperti mencabut separuh jiwanya.
"Aku akan kembali."
Bisiknya lirih.
Mireya menggeleng kuat.
"Tidak."
"Begitu kau melewati gerbang Drakareth..."
"...hidupmu tak akan pernah sama lagi."
Lyssara tersenyum tipis meski air matanya mulai mengalir.
"Kalau aku tetap di sini, seluruh desa bisa menjadi korban."
"Aku tidak ingin itu terjadi."
Ia mengusap pelan pipi neneknya.
"Percayalah."
"Aku akan menemukan jalan pulang."
Mireya tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Wanita tua itu hanya menggenggam sebuah kalung sederhana dari balik bajunya.
Liontin berbentuk tetesan air berwarna biru tua.
Kalung itu telah disimpannya selama dua puluh tahun.
Dengan tangan gemetar, ia memasangkannya ke leher Lyssara.
"Jangan pernah melepasnya."
Lyssara menatap liontin itu.
"Ini milik Ayah dan Ibuku?"
Mireya mengangguk pelan.
"Satu-satunya peninggalan yang mereka titipkan sebelum..."
Ucapan itu terhenti.
"...sebelum mereka menghilang."
Lyssara terdiam.
Selama ini ia selalu mengira kedua orang tuanya meninggal karena wabah.
Ternyata...
Masih ada rahasia yang belum pernah diceritakan kepadanya.
"Nek, sebenarnya siapa orang tuaku?"
Mireya menggigit bibirnya.
"Maafkan Nenek."
"Belum saatnya kau mengetahui semuanya."
Pemimpin pasukan melangkah mendekat.
"Kereta telah siap."
Lyssara menarik napas panjang.
Ia menatap rumah kecil yang telah menjadi dunianya selama ini.
Rak-rak penuh tanaman obat.
Meja kayu tempat ia meracik ramuan.
Kebun kecil di belakang rumah.
Semuanya mungkin tak akan pernah ia lihat lagi.
Dengan langkah berat, ia keluar dari rumah.
Ratusan pasang mata langsung tertuju kepadanya.
Tak ada satu pun suara.
Yang terdengar hanya embusan angin malam.
Seorang anak kecil tiba-tiba berlari menghampirinya.
"Kak Lyssara..."
Gadis itu berlutut.
"Ada apa, Lune?"
Anak kecil itu menyodorkan bunga liar berwarna putih yang biasa tumbuh di tepi sungai.
"Supaya Kakak cepat pulang."
Lyssara tersenyum hangat.
Ia menerima bunga itu dan mengusap kepala Lune.
"Iya."
"Aku janji."
Namun jauh di dalam hatinya...
Ia sendiri tidak yakin apakah janji itu bisa ditepati.
Tak lama kemudian, pintu kereta kerajaan terbuka.
Tanpa borgol.
Tanpa rantai.
Tetapi bagi Lyssara...
Kereta itu terasa lebih menakutkan daripada sebuah penjara.
Saat ia melangkahkan kaki masuk, seluruh langit tiba-tiba berubah.
Awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa.
Kilatan petir keemasan menyambar puncak Pegunungan Drakareth.
Lalu...
ROOOAAARRR!
Raungan naga kembali menggema.
Kali ini lebih dekat, lebih jelas.
Dan entah mengapa...
Lyssara merasa suara itu bukan sedang mengancamnya melainkan menyambut kedatangannya.
Kereta kerajaan mulai bergerak meninggalkan Desa Eldoria.
Roda besinya menggilas jalan berbatu dengan suara berderit pelan. Di luar jendela, rumah-rumah penduduk perlahan menghilang ditelan kabut malam.
Lyssara masih menggenggam bunga putih pemberian Lune.
Kelopaknya yang lembut bergetar setiap kali kereta melewati jalan yang tidak rata.
Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Siluet neneknya masih berdiri di depan rumah, ditemani beberapa warga desa. Meski jaraknya semakin jauh, Lyssara tahu wanita tua itu belum berpaling sedikit pun.
Dadanya kembali sesak.
"Aku pasti pulang, Nek."
Bisiknya lirih.
---
Perjalanan menuju Kerajaan Drakareth berlangsung tanpa banyak percakapan.
Di dalam kereta hanya ada Lyssara, sementara dua prajurit berjaga di luar.
Sesekali ia mengintip melalui jendela kecil.
Mereka telah melewati hutan pinus yang lebat.
Pepohonan menjulang tinggi hingga menutupi cahaya bulan. Kabut putih menggantung di antara batang-batang pohon, membuat suasana terasa sunyi dan mencekam.
Entah sudah berapa jam perjalanan berlangsung.
Hingga akhirnya...
Kereta berhenti mendadak.
"Ck!"
Tubuh Lyssara sedikit terdorong ke depan.
Ia mendengar suara langkah kaki para prajurit berlarian.
"Kenapa berhenti?"
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar justru suara logam beradu.
Clang!
Clang!
Disusul teriakan seseorang.
"Musuh!"
"Semua bersiap!"
Jantung Lyssara berdetak kencang.
Ia membuka sedikit tirai jendela.
Puluhan pria berpakaian serba hitam muncul dari balik pepohonan. Wajah mereka tertutup topeng, sementara senjata yang mereka bawa memantulkan cahaya bulan.
"Serahkan gadis itu!"
teriak salah seorang dari mereka.
"Kalau tidak, tak seorang pun keluar dari hutan ini hidup-hidup!"
Pemimpin pasukan kerajaan maju beberapa langkah.
"Lancang!"
"Gadis itu berada di bawah perlindungan Raja Drakon."
"Siapa pun yang menghalangi akan dianggap musuh kerajaan."
Pria bertopeng itu justru tertawa.
"Kerajaan?"
"Kami tidak takut."
"Yang kami inginkan hanya calon ibu pewaris naga."
Belasan anak panah melesat bersamaan.
Sreet! Sreet! Sreet!
"Tameng!"
Para prajurit segera mengangkat perisai.
Suara benturan memenuhi hutan.
Pertarungan pun pecah.
Lyssara menutup mulutnya.
Ia belum pernah melihat pertempuran sungguhan.
Kilatan pedang.
Jeritan kesakitan.
Darah yang membasahi dedaunan.
Semuanya membuat tubuhnya gemetar.
"Aku harus membantu..."
Gumamnya.
Ia memang bukan petarung.
Namun sejak kecil ia belajar meracik tanaman obat.
Di dalam tas kain kecil yang selalu dibawanya tersimpan beberapa ramuan darurat.
Tanpa berpikir panjang, Lyssara membuka pintu kereta.
"Nona!"
Seorang prajurit terkejut melihatnya keluar.
"Masuk kembali! Berbahaya!"
"Ada yang terluka!"
Lyssara melihat seorang prajurit muda tersungkur sambil memegangi bahunya yang tertancap anak panah.
Darah terus mengalir.
Ia langsung berlari menghampiri.
"Tahan."
Tanpa menunggu izin, Lyssara mengeluarkan sebotol cairan hijau dan beberapa lembar daun obat.
"Ini akan sedikit perih."
Prajurit itu mengangguk menahan sakit.
Lyssara menuangkan cairan tersebut ke luka.
"Asyhh!"
Pria itu meringis.
Kemudian ia menempelkan daun obat sambil membalutnya menggunakan kain panjang yang dibawanya.
"Tekan bagian ini."
"Darahnya akan berhenti."
Prajurit itu menatapnya tidak percaya.
"Darahnya... benar-benar berhenti."
Belum sempat Lyssara menjawab, suara ledakan keras mengguncang tanah.
BOOOM!
Semua orang menoleh ke arah langit.
Seekor makhluk bersayap raksasa turun dari balik awan.
Ukurannya begitu besar hingga menutupi cahaya bulan.
Sisik hitam berkilau seperti baja.
Sepasang tanduk melengkung ke belakang.
Matanya menyala keemasan.
Hanya dengan sekali kepakan sayap, angin dahsyat menyapu seluruh hutan.
Para penyerang yang tadi begitu berani kini mendadak membeku.
"Itu..."
"Naga..."
"Raja Naga datang!"
Suara mereka dipenuhi ketakutan.
Makhluk itu mendarat di sebuah tebing tak jauh dari lokasi pertempuran.
DUUM!
Tanah bergetar hebat.
Tak seorang pun berani bergerak.
Lyssara mengangkat kepalanya perlahan.
Inilah pertama kalinya ia melihat naga.
Jauh lebih besar.
Jauh lebih megah dan jauh lebih menggetarkan daripada semua cerita yang pernah didengarnya.
Naga hitam itu menatap seluruh medan perang tanpa mengaum.
Namun tatapan emasnya saja sudah cukup membuat semua orang berlutut ketakutan.
Hanya Lyssara yang tetap berdiri mematung.
Entah kenapa, ia merasa sepasang mata itu tidak sedang melihat semua orang.
Melainkan...
Hanya dirinya seorang.
