Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Pertemuan Pertama

Seluruh hutan seakan berhenti bernapas.

Tak ada lagi suara benturan pedang.

Tak ada lagi teriakan.

Bahkan desir angin pun menghilang, seolah alam ikut menundukkan kepala di hadapan penguasa tertinggi bangsa naga.

Makhluk raksasa itu berdiri di atas tebing dengan kedua sayap terlipat anggun di belakang tubuhnya.

Sepasang mata emasnya memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan.

Tidak liar.

Tidak pula haus darah.

Tatapan itu justru tenang, tetapi cukup untuk membuat siapa pun kehilangan keberanian.

Para penyerang mulai gemetar.

"S-sial..."

"Kenapa Raja Naga muncul di sini?"

"Kita dijebak!"

"Pergi! Cepat pergi!"

Mereka yang semula begitu berani kini mundur beberapa langkah.

Namun...

Belum sempat satu pun dari mereka melarikan diri, naga hitam itu mengangkat sedikit kepalanya.

Hanya satu gerakan kecil.

Tetapi tekanan sihir yang luar biasa langsung menyelimuti seluruh hutan.

Bruummm...

Tanah bergetar.

Pepohonan melengkung seolah ditekan oleh tangan tak kasatmata.

Beberapa penyerang jatuh berlutut.

"A-aku... tidak bisa bergerak."

"Kakiku..."

"Ini... tekanan naga...."

Sebagian lainnya bahkan pingsan sebelum sempat menghunus senjata.

Lyssara ikut merasakan tekanan itu.

Dadanya terasa berat.

Namun anehnya...

Ia masih mampu berdiri.

Meski lututnya sedikit gemetar, tubuhnya tidak dipaksa berlutut seperti orang-orang lain.

"Kenapa...?"

gumamnya bingung.

Pemimpin pasukan kerajaan yang menyadari hal itu perlahan menoleh.

Sorot matanya dipenuhi keterkejutan.

"Benar..."

"Ramalan itu memang benar."

Lyssara mendengarnya.

"Ramalan apa?"

Pria itu tidak menjawab.

Ia justru segera berlutut menghadap naga hitam tersebut.

Diikuti seluruh prajurit kerajaan.

"Kami memberi hormat kepada Yang Mulia."

Puluhan suara bergema bersamaan.

"Salam kepada Raja Drakon."

Lyssara ikut menoleh.

Raja Drakon.

Jadi...

Itulah nama Raja Naga yang selama ini hanya hidup dalam dongeng.

Naga hitam itu melompat turun dari atas tebing.

Tubuh raksasanya mendarat dengan begitu ringan hingga nyaris tidak menimbulkan suara.

Langkahnya perlahan.

Tenang.

Penuh wibawa.

Setiap pijakan membuat rerumputan di sekitarnya dipenuhi cahaya keemasan.

Ia berjalan melewati para prajurit.

Melewati para penyerang yang gemetar ketakutan.

Tak satu pun diliriknya.

Tatapan emas itu hanya tertuju pada seorang gadis yang berdiri di dekat kereta.

Lyssara.

Jantung gadis itu berdetak semakin cepat.

Entah mengapa, ia tidak mampu mengalihkan pandangan.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa meter, Raja Drakon berhenti.

Mata emas itu menatap lekat wajah Lyssara.

Tak berkedip.

Seakan sedang memastikan sesuatu.

Suasana kembali sunyi.

Beberapa saat kemudian...

Naga hitam itu perlahan menundukkan kepalanya.

Kilau keemasan menyelimuti tubuh raksasa tersebut.

Cahaya itu semakin terang hingga membuat semua orang menutup mata.

Angin berembus kencang.

Jubah para prajurit berkibar.

Daun-daun beterbangan memenuhi udara.

Saat cahaya perlahan menghilang...

Sosok naga itu telah lenyap.

Di tempat yang sama kini berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan bahu bidang.

Rambut hitam legamnya tersisir rapi hingga menyentuh tengkuk.

Sepasang mata emas yang tajam masih memancarkan kewibawaan yang sama seperti saat ia berwujud naga.

Jubah hitam panjang bersulam benang emas menutupi tubuh tegapnya.

Mahkota sederhana berbentuk tanduk naga bertengger di kepalanya, membuat auranya semakin sulit diabaikan.

Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tetapi ekspresinya datar tanpa sedikit pun senyum.

Tak ada yang berani menatapnya terlalu lama.

Semua orang kembali menundukkan kepala.

"Yang Mulia."

Drakon tidak menjawab.

Langkahnya tetap tenang hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Lyssara.

Gadis itu refleks mundur selangkah.

Namun Drakon tidak mengejarnya.

Ia hanya menatap liontin biru yang tergantung di leher Lyssara.

Untuk pertama kalinya...

Ekspresi dingin di wajah Raja Naga itu berubah.

Mata emasnya sedikit melebar.

Seolah mengenali benda yang seharusnya tidak mungkin berada di tangan gadis desa itu.

Dari mana kau mendapatkan liontin itu?"

Suara Drakon rendah dan berat, tetapi terdengar jelas di tengah keheningan.

Lyssara spontan menggenggam liontin tersebut.

"Ini peninggalan kedua orang tuaku."

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Tatapan Drakon semakin dalam.

Lalu, tanpa disangka, ia mengucapkan kalimat yang membuat Lyssara membeku.

"Kalau begitu aku mengenal mereka."

Ucapan itu membuat dunia Lyssara seakan berhenti berputar.

"...Apa?"

Suara gadis itu lirih, nyaris tak terdengar.

Ia menatap pria di hadapannya tanpa berkedip.

"Mengenal... orang tuaku?"

Drakon tidak langsung menjawab.

Tatapan emasnya masih terpaku pada liontin biru yang tergenggam erat di tangan Lyssara.

Benda itu tampak sederhana.

Namun, bagi Raja Naga, liontin tersebut adalah kenangan yang telah terkubur selama lebih dari dua puluh tahun.

Lyssara kembali bertanya.

"Kalau Yang Mulia benar-benar mengenal mereka..."

"...siapa sebenarnya ayah dan ibuku?"

Keheningan kembali menyelimuti hutan.

Drakon mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan mata bening milik Lyssara.

Untuk sesaat, sorot matanya yang dingin tampak sedikit melunak.

"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu."

"Tapi bukan di tempat ini."

Belum sempat Lyssara membalas, terdengar suara seseorang mengerang.

Salah seorang penyerang yang tadi berpura-pura pingsan tiba-tiba bangkit.

Dengan wajah penuh kebencian, pria itu mengangkat busur hitamnya.

"Bunuh calon pewarisnya!"

Anak panah berselimut aura hitam melesat lurus ke arah Lyssara.

"Waspada!"

Teriak para prajurit.

Semua terjadi begitu cepat.

Lyssara bahkan tidak sempat bereaksi.

Namun...

Drakon hanya mengangkat satu tangan.

Anak panah itu berhenti di udara, hanya beberapa jari dari wajah Lyssara.

Seolah waktu tiba-tiba membeku.

Mata Lyssara membelalak.

"Itu..."

Drakon mengepalkan telapak tangannya perlahan.

KRAKK!

Anak panah tersebut hancur menjadi serpihan debu hitam.

Belum selesai sampai di situ.

Tatapan emas Raja Naga beralih kepada si pemanah.

Hanya satu tatapan.

BRUUMM!

Tubuh pria bertopeng itu terpental puluhan meter sebelum menghantam batang pohon besar.

Ia langsung tak sadarkan diri.

Tak ada darah.

Tak ada ledakan.

Hanya kekuatan murni yang begitu menakutkan.

Semua penyerang yang masih tersisa langsung menjatuhkan senjata.

"K-Kami menyerah!"

"Ampuni kami, Yang Mulia!"

Drakon sama sekali tidak memedulikan mereka.

Fokusnya kembali tertuju pada Lyssara.

"Kau terluka?"

Lyssara menggeleng pelan.

"Tidak..."

Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Pria yang katanya ditakuti seluruh benua itu...

Baru saja melindunginya.

Bukan sekali.

Melainkan tanpa ragu.

Drakon mengulurkan tangannya.

"Ikutlah denganku."

Lyssara menatap tangan besar itu.

Tangannya kekar, dipenuhi bekas luka tipis yang seolah menjadi saksi tak terhitungnya pertempuran.

Entah mengapa...

Ia tidak merasakan ancaman dari uluran tangan tersebut.

Justru ada rasa aman yang asing.

Namun bayangan wajah Mireya tiba-tiba terlintas di benaknya.

"Aku tidak bisa."

Drakon sedikit mengernyit.

"Nenekku sendirian di desa."

"Aku sudah berjanji akan pulang."

Drakon menarik kembali tangannya.

"Aku telah memerintahkan pasukanku menjaga Desa Eldoria."

"Tidak seorang pun akan mengusik mereka."

"Selama aku hidup."

Nada suaranya tetap datar.

Namun kalimat itu diucapkan dengan keyakinan yang tak menyisakan sedikit pun keraguan.

Lyssara memandangnya beberapa saat.

"Kenapa?"

"Apa maksud Yang Mulia?"

"Kenapa aku?"

"Kenapa semua orang mencariku?"

"Kenapa aku harus mengandung anak Raja Naga?"

Pertanyaan-pertanyaan itu keluar tanpa sempat ia tahan.

Drakon menghela napas pelan.

Sorot matanya mengarah ke langit malam.

"Karena itu adalah takdir yang diwariskan jauh sebelum kau dilahirkan."

"Aku tidak percaya pada takdir."

Balas Lyssara cepat.

"Aku hanya ingin hidup tenang."

"Aku ingin meracik obat."

"Mengobati orang-orang sakit."

"Itu saja."

Drakon kembali menatapnya.

"Lalu bagaimana jika takdirmu tidak pernah memberimu pilihan?"

Lyssara terdiam.

Drakon melanjutkan dengan suara rendah.

"Dua puluh satu tahun yang lalu..."

"...kedua orang tuamu datang ke Istana Drakareth."

"Mereka memohon sesuatu kepadaku."

"Malam itu..."

"...aku membuat sebuah janji."

Lyssara menahan napas.

"Janji?"

Drakon mengangguk.

"Aku berjanji akan melindungi anak mereka."

Mata Lyssara membelalak.

"A-Anak itu..."

Drakon menatapnya lekat.

"Adalah dirimu."

Angin malam kembali berembus pelan.

Di kejauhan, bulan purnama perlahan keluar dari balik awan, menyinari wajah keduanya.

Lyssara merasa semakin dekat dengan jawaban yang selama ini ia cari.

Namun ia belum menyadari satu hal.

Janji yang diucapkan Raja Naga dua puluh satu tahun silam dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Dan orang yang paling mengetahui kebenarannya adalah Drakon sendiri.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel