Bab 5 keresahan raja naga
Pintu gerbang utama Istana Drakareth terbuka perlahan.
Grrrkk...
Suara roda-roda besi raksasa bergema di seluruh halaman.
Barisan pengawal yang berjaga di sepanjang jalan masuk serempak berlutut, meletakkan tangan kanan di dada sebagai bentuk penghormatan.
"Salam kepada Yang Mulia Raja Drakon."
"Salam kepada Yang Mulia."
Suara mereka bergema memenuhi pelataran istana.
Lyssara yang baru turun dari kereta sontak menghentikan langkahnya.
Istana itu jauh lebih megah daripada yang ia lihat dari kejauhan.
Dinding-dindingnya tersusun dari batu hitam berkilau dengan guratan emas yang seolah hidup. Pilar-pilar tinggi menjulang hingga langit-langit, dihiasi ukiran naga dalam berbagai wujud. Cahaya dari ribuan kristal yang menggantung menerangi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana hangat, bukan menyeramkan seperti yang dibayangkannya.
"Yang Mulia."
Seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
Rambutnya telah memutih, tetapi tubuhnya masih tegap mengenakan jubah kebesaran kerajaan.
Ia membungkukkan badan dalam.
"Selamat datang kembali."
Drakon mengangguk pelan.
"Bagaimana keadaan istana selama aku pergi, Cedric?"
"Semua berjalan baik, Yang Mulia. Namun Dewan Tetua telah menunggu sejak sore. Mereka ingin membahas mengenai..."
Cedric menghentikan ucapannya ketika pandangannya jatuh kepada Lyssara.
Raut wajahnya berubah.
"Apakah... beliau?"
"Benar."
Jawab Drakon singkat.
"Siapkan Kamar Bulan."
Cedric tampak terkejut.
"Kamar Bulan, Yang Mulia?"
"Itu adalah kamar yang..."
Drakon menatapnya tenang.
"Aku tahu."
"Tapi kamar itu sudah lama kosong."
"Mulai malam ini, kamar itu menjadi milik Lyssara."
Cedric tidak berani membantah lagi.
"Baik, Yang Mulia."
Ia segera memberi isyarat kepada beberapa pelayan.
Dalam hitungan detik, enam orang pelayan wanita datang membawa lentera dan membungkuk hormat kepada Lyssara.
"Salam, Nona."
Lyssara tersenyum canggung.
"Salam."
Ia belum terbiasa diperlakukan seperti itu.
Drakon melangkah lebih dulu memasuki lorong utama.
"Ayo."
Lyssara segera menyusul.
Mereka berjalan melewati koridor panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan besar.
Sebagian menggambarkan naga yang terbang di atas pegunungan.
Sebagian lagi memperlihatkan raja-raja terdahulu yang mengenakan mahkota serupa dengan milik Drakon.
Lyssara menghentikan langkahnya di depan sebuah lukisan.
Di dalamnya terlihat seorang pria berambut hitam berdiri berdampingan dengan seekor naga putih raksasa.
"Siapa ini?"
tanyanya penasaran.
Drakon ikut menoleh.
"Itu Raja Aster."
"Nenek moyangku."
"Dialah raja pertama yang menyatukan seluruh klan naga."
Lyssara mengangguk pelan.
"Kalau naga putih?"
"Bukan naga."
Drakon menjawab singkat.
"Itu adalah wujud naganya."
Lyssara membelalak.
"Maksud Yang Mulia... para Raja Naga memang bisa berubah menjadi manusia?"
"Bisa."
"Sebagian besar bangsa naga memiliki dua wujud."
"Wujud asli dan wujud manusia."
"Lalu..."
Lyssara menatap Drakon dari ujung kepala hingga kaki.
"Yang Mulia lebih sering memakai wujud manusia?"
"Ya."
"Aku hanya menggunakan wujud naga ketika diperlukan."
Lyssara kembali mengangguk.
Rasa penasarannya semakin besar terhadap bangsa naga.
Tak lama kemudian mereka tiba di lantai paling atas istana.
Lorong di sana jauh lebih sunyi.
Tidak banyak pelayan berlalu-lalang.
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu putih gading dengan ukiran bulan sabit dan bunga-bunga kristal.
Cedric membuka pintu perlahan.
"Cahaya."
Seluruh kristal di dalam ruangan langsung menyala lembut.
Lyssara tertegun.
Kamar itu sangat luas.
Tempat tidurnya berkanopi putih dengan tirai tipis yang menjuntai hingga lantai. Di dekat jendela terdapat sofa panjang berwarna biru muda, sementara balkon luas menghadap langsung ke pegunungan dan langit malam.
Rak-rak kayu dipenuhi buku.
Di sudut ruangan terdapat meja besar lengkap dengan botol-botol kaca kosong, lesung batu, serta berbagai peralatan meracik obat.
Lyssara mendekatinya dengan mata berbinar.
"Ini..."
Ia menyentuh salah satu botol kaca.
"Peralatan tabib."
Drakon memperhatikannya.
"Aku mendengar kau senang meracik tanaman obat."
"Karena itu aku meminta mereka menyiapkan semuanya."
Lyssara menoleh cepat.
"Yang Mulia yang menyiapkannya?"
"Ya."
"Kalau kau merasa lebih nyaman meracik obat daripada hanya berdiam diri, lakukanlah."
Senyum kecil akhirnya muncul di wajah Lyssara.
"Terima kasih."
"Itu hadiah pertama yang kuterima sejak tiba di sini."
Drakon hanya mengangguk pelan.
Beberapa pelayan mulai membawa masuk pakaian, makanan hangat, dan air untuk mandi.
"Nona," ujar salah seorang pelayan dengan ramah. "Kami telah menyiapkan gaun dan kebutuhan Anda."
Lyssara tampak sedikit kikuk.
"Terima kasih."
Drakon berbalik hendak meninggalkan kamar.
Namun sebelum ia mencapai pintu, suara Lyssara menghentikannya.
"Yang Mulia."
Drakon menoleh.
"Ya?"
Lyssara menggenggam ujung bajunya sendiri.
"Aku..."
Ia menarik napas pelan.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku malam ini."
Drakon menatapnya beberapa saat.
"Beristirahatlah karena perjalananmu masih panjang."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia keluar dari kamar.
Pintu tertutup perlahan. Lyssara mengembuskan napas panjang.
Akhirnya ia benar-benar sendirian.
Ia berjalan menuju balkon.
Dari sana terlihat seluruh Kerajaan Drakareth yang bermandikan cahaya bulan.
Pemandangannya begitu indah hingga sejenak ia melupakan semua ketakutannya.
Namun tanpa disadari, dari balik pilar lorong di luar kamar, sepasang mata ungu kembali mengawasinya.
Wanita bergaun hitam itu menyeringai tipis.
"Jadi iItulah perempuan yang dipilih Yang Mulia."
Ia mengepalkan tangan hingga kukunya menancap ke telapak.
"Aku tidak akan membiarkan seorang gadis desa merebut tempat yang seharusnya menjadi milikku."
Dengan langkah pelan, wanita itu berbalik meninggalkan lorong.Rencana pertama untuk menyingkirkan Lyssara mulai tersusun di dalam benaknya.
Malam semakin larut.
Istana Drakareth yang megah perlahan diselimuti keheningan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar kamar Lyssara, menerangi lantai marmer putih yang berkilau.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Lyssara berdiri di depan balkon.
Gaun tidur berwarna biru muda yang disiapkan para pelayan terasa lembut di kulitnya. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai, tertiup angin malam yang sejuk.
Tatapannya mengarah ke langit.
Beberapa naga masih terlihat terbang berkeliling di kejauhan.
"Aku benar-benar berada di kerajaan naga..."
gumamnya pelan.
Semuanya terasa seperti mimpi.
Pagi tadi ia masih sibuk memetik tanaman obat di hutan.
Kini...
Ia berada di istana yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
Lyssara menoleh.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pelayan wanita masuk sambil mendorong troli berisi makanan.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun dengan wajah ramah dan senyum hangat.
"Selamat malam, Nona."
"Aku membawa makan malam."
Lyssara tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Pelayan itu meletakkan satu per satu hidangan di atas meja.
Sup hangat.
Roti panggang.
Buah-buahan segar.
Teh herbal yang masih mengepulkan uap.
"Apa semuanya untukku?"
"Tentu."
Pelayan itu mengangguk.
"Yang Mulia sendiri yang memerintahkan dapur agar menyiapkan makanan yang ringan. Beliau khawatir perjalanan panjang membuat Nona kelelahan."
Lyssara sedikit terkejut.
"Beliau memikirkan hal itu?"
"Yang Mulia memang tidak banyak bicara."
"Tapi beliau selalu memperhatikan hal-hal kecil."
Pelayan itu tersenyum sebelum membungkukkan badan.
"Nama saya Elina."
"Mulai malam ini saya yang akan membantu kebutuhan Nona."
"Senang bertemu denganmu."
jawab Lyssara ramah.
"Aku juga."
Elina tampak lega.
"Saya sempat gugup."
"Kenapa?"
"Karena kami mendengar calon tamu Yang Mulia berasal dari desa."
Lyssara terkekeh pelan.
"Lalu?"
"Saya takut Nona akan sombong setelah tiba di istana."
Lyssara langsung menggeleng.
"Aku bahkan belum terbiasa dipanggil 'Nona'."
Jawaban itu membuat Elina tertawa kecil.
Suasana yang semula canggung perlahan mencair.
Setelah memastikan semua kebutuhan Lyssara tersedia, Elina berpamitan.
"Silakan beristirahat."
"Kalau membutuhkan sesuatu, tarik saja tali lonceng di samping tempat tidur."
"Baik."
Pintu kembali tertutup.
Lyssara duduk di kursi dekat jendela sambil menikmati semangkuk sup hangat.
Rasanya berbeda dari masakan desa.
Namun cukup lezat.
Saat ia hendak meminum teh herbal, pandangannya tertuju pada rak berisi tanaman kering di sudut ruangan.
Ia menghampirinya.
"Daun embun..."
"Akar silva..."
"Bunga lunaris..."
Matanya berbinar.
Sebagian tanaman itu bahkan belum pernah ia lihat secara langsung.
Tangannya bergerak menyentuh salah satu bunga berwarna perak.
"Aroma obat penenang."
"Kalau dicampur daun embun..."
"...efeknya bisa bertahan dua kali lebih lama."
Tanpa sadar, ia mulai menyusun beberapa tanaman di atas meja.
Kebiasaannya sebagai peracik obat muncul begitu saja.
Sementara itu...
Di ruang kerja kerajaan.
Drakon berdiri menghadap jendela besar.
Jubah kebesarannya telah dilepas, menyisakan pakaian hitam sederhana yang membuatnya tampak lebih santai.
Meski begitu, wibawanya tidak berkurang sedikit pun.
Cedric berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Yang Mulia."
"Para tetua sudah menunggu."
Drakon tetap memandang bulan.
"Aku tahu."
"Mereka pasti tidak menyetujui kedatangannya."
Cedric mengangguk pelan.
"Sebagian besar memang menolak."
"Mereka menganggap manusia tidak pantas tinggal di istana naga."
Drakon berbalik.
Tatapan emasnya kembali dingin.
"Biarkan mereka berkata apa pun."
"Keputusanku tidak akan berubah."
Cedric menundukkan kepala.
"Apakah Yang Mulia akan memberitahu Nona Lyssara tentang ramalan itu?"
Drakon terdiam.
Beberapa saat kemudian ia menjawab pelan.
"Belum."
"Dia baru saja kehilangan kehidupan lamanya."
"Aku tidak ingin menambah bebannya."
"Tapi cepat atau lambat beliau akan mengetahui semuanya."
"Aku tahu."
Drakon mengepalkan tangan.
"Dan saat hari itu tiba aku hanya berharap dia tidak membenciku." Ucapan itu membuat Cedric sedikit terkejut.
Selama puluhan tahun melayani Raja Naga, baru kali ini ia mendengar nada penyesalan dalam suara rajanya.
Pada saat yang sama...
Di sebuah menara terpencil yang berada di sisi timur istana.
Seorang wanita berambut hitam panjang sedang berdiri di depan cermin.
Gaun ungu gelap yang dikenakannya menyapu lantai.
Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya dipenuhi ambisi.
Ia mengangkat sebuah kalung berbentuk mata naga berwarna hitam.
"Yang Mulia..."gumamnya pelan.
"Aku menunggumu selama belasan tahuun, belajar sihir dan menjadi wanita yang pantas berdiri di sisimu."
"Lalu Kenapa kau justru membawa seorang gadis desa?"
Kalung di tangannya mulai memancarkan cahaya merah.
Wanita itu tersenyum tipis.
"Kalau Lyssara tidak bisa disingkirkan dengan cara biasa. aku akan membuat seluruh istana membencinya."
Di balik senyumnya yang manis...
Rencana licik mulai bergerak, sementara Lyssara masih belum menyadari bahwa kedatangannya telah mengguncang keseimbangan Kerajaan Drakareth.