Bab 1 Perintah Raja Naga
Langit malam di atas Desa Eldoria selalu tenang.
Angin gunung berembus pelan, membawa aroma pinus dan tanah basah setelah hujan sore. Cahaya bulan purnama menimpa atap-atap rumah kayu, menciptakan suasana damai yang sudah menjadi bagian dari kehidupan penduduk desa selama puluhan tahun.
Namun, malam itu berbeda.
Dentuman keras mengguncang bumi.
DUARRR!
Beberapa kendi tanah liat jatuh dari rak hingga pecah berserakan. Kuda-kuda di kandang meringkik panik. Anjing-anjing menggonggong tanpa henti ke arah langit.
Orang-orang berhamburan keluar rumah.
"Apa itu?"
"Gempa?"
"Tidak... lihat ke utara!"
Semua kepala menoleh ke arah Pegunungan Drakareth yang menjulang gelap di kejauhan.
Di balik puncaknya, semburat cahaya keemasan membelah awan, disusul raungan panjang yang membuat dada siapa pun bergetar.
ROOOAAARRR!
Suara itu bukan milik hewan biasa.
Itu adalah raungan naga.
Wajah para penduduk langsung memucat.
"Raja Naga..."
"Ia bangun lagi."
"Celaka... sudah puluhan tahun kita tidak mendengar suaranya."
Seorang ibu buru-buru memeluk anaknya. Beberapa pria dewasa spontan berlutut sambil berdoa, sementara yang lain menutup pintu dan jendela rapat-rapat seolah kayu tipis itu mampu melindungi mereka dari makhluk legendaris tersebut.
Di tengah kepanikan itu, seorang gadis justru masih sibuk memungut keranjang berisi tanaman obat yang berhamburan.
"Aduh... semua daun moonleaf bercampur lumpur."
Lyssara Evanthe mengembuskan napas panjang.
Rambut cokelat panjangnya tergerai berantakan karena angin. Gaun sederhananya dipenuhi bercak tanah setelah ia berlutut memunguti satu per satu tanaman yang baru dipetik sore tadi.
"Lyssara!"
Suara seorang wanita tua memanggilnya dari depan rumah.
"Nenek?"
"Nak, cepat masuk!"
Lyssara mendongak.
"Nanti dulu. Tinggal sedikit."
"Sudah kubilang masuk!"
Nada suara neneknya kali ini terdengar jauh lebih keras dari biasanya.
Lyssara akhirnya berlari kecil sambil membawa keranjang itu.
"Ada apa? Kenapa semua orang keluar rumah?"
Wanita tua bernama Mireya segera menarik tangan cucunya masuk ke dalam.
"Kau tidak mendengar suara itu?"
"Mendengar."
"Itu bukan pertanda baik."
Lyssara mengerutkan kening.
"Memangnya benar ada naga di Pegunungan Drakareth?"
Pertanyaan itu membuat Mireya mendadak diam.
Wajah keriput wanita tua tersebut berubah pucat.
Ia perlahan menutup semua jendela sebelum menyalakan beberapa batang lilin.
Barulah ia menoleh kepada Lyssara.
"Jangan pernah menganggap itu dongeng."
Lyssara tersenyum tipis.
"Aku sudah dua puluh tahun tinggal di desa ini, Nek. Tidak pernah sekali pun melihat naga."
"Itu karena kau beruntung."
"Kalau memang ada, kenapa tidak menyerang desa?"
Mireya menarik napas panjang.
"Dulu... mereka pernah datang."
Senyum Lyssara perlahan menghilang.
"Datang?"
Wanita tua itu mengangguk pelan.
"Lima puluh tahun lalu."
"Hampir seluruh desa habis terbakar."
"Mereka mencari seseorang."
"Mencari siapa?"
Mireya menatap api lilin yang bergoyang pelan.
"Tumbal."
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara angin yang sesekali menyelinap melalui celah-celah dinding kayu.
Lyssara tertawa kecil, berusaha mengusir rasa tegang.
"Nek, cerita seperti itu pasti dibuat supaya anak-anak tidak berkeliaran malam."
"Aku tidak bercanda."
Tatapan Mireya begitu serius hingga membuat Lyssara kehilangan senyumnya.
"Dengar baik-baik."
"Jika suatu hari lonceng desa dibunyikan tiga kali berturut-turut..."
"...jangan pernah keluar rumah."
"...jangan melihat ke langit."
"...dan apa pun yang terjadi..."
"...jangan biarkan siapa pun mengetahui tanda lahirmu."
Lyssara spontan menyentuh sisi belakang lehernya.
Di balik helaian rambutnya tersembunyi sebuah tanda lahir berbentuk sisik berwarna keemasan. Sejak kecil, neneknya selalu menyuruhnya menutupinya dan tidak pernah menjelaskan alasannya.
"Apa hubungannya tanda lahir ini dengan Raja Naga?"
Mireya membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab.
TENG!
Lonceng desa berdentang.
Satu kali.
Lalu...
TENG!
Dua kali.
Seluruh tubuh Mireya menegang.
"Tidak..."
Matanya membelalak ke arah pintu.
Kemudian dentang ketiga menggema lebih keras dari sebelumnya.
TENGGG!
Suara jeritan warga langsung memenuhi malam.
"Mereka datang!"
"Pasukan kerajaan!"
"Prajurit Drakareth sudah tiba!"
Lyssara dan Mireya saling berpandangan.
Entah mengapa, jantung Lyssara berdetak jauh lebih cepat.
Ia belum tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir dirinya hidup sebagai gadis desa biasa.
Jeritan demi jeritan memecah kesunyian malam.
Penduduk Desa Eldoria berhamburan ke jalan utama. Sebagian memeluk anak-anak mereka, sebagian lagi menutup pintu rumah rapat-rapat, berharap ancaman itu segera berlalu.
Namun, harapan mereka sirna saat puluhan obor muncul dari balik gerbang desa.
Derap kaki kuda terdengar semakin dekat.
Duk... duk... duk...
Barisan prajurit berbaju zirah hitam memasuki desa dengan formasi rapi. Lambang naga berwarna emas terukir di dada setiap baju perang mereka, memantulkan cahaya api yang menari di udara malam.
Tak seorang pun berani menghalangi.
Di belakang mereka, sebuah kereta hitam berukir sisik naga berhenti tepat di tengah alun-alun desa.
Semua orang menahan napas.
Pintu kereta terbuka perlahan.
Seorang pria tua berjubah merah tua turun dengan langkah tenang. Rambutnya memutih, tetapi sorot matanya masih setajam elang.
Di tangannya terdapat gulungan perkamen yang disegel lilin emas.
Kepala Desa Eldoria segera maju dengan tubuh gemetar.
"Salam hormat untuk utusan Kerajaan Drakareth."
Pria tua itu hanya mengangguk tipis.
"Dengarkan titah kerajaan."
Suasana mendadak hening.
Tak ada seorang pun yang berani bersuara.
Utusan itu membuka gulungan perkamen, lalu membacanya dengan suara lantang.
"Atas perintah Yang Mulia Raja Drakon, penguasa sah Kerajaan Drakareth..."
"...malam ini Kerajaan menagih janji yang telah dibuat Desa Eldoria sejak lima puluh tahun silam."
Kalimat itu membuat wajah kepala desa berubah pucat.
Beberapa tetua desa saling berpandangan dengan napas tercekat.
"Malam ini..."
"...desa harus menyerahkan gadis yang dipilih oleh Takdir Naga."
Suara gaduh langsung memenuhi alun-alun.
"Tidak mungkin..."
"Perjanjian itu masih berlaku?"
"Kami pikir semuanya sudah berakhir."
Utusan kerajaan menutup kembali perkamennya.
"Perjanjian tidak pernah berakhir."
"Selama Raja Naga masih hidup, sumpah itu akan tetap mengikat."
Kepala desa berlutut.
"Yang Mulia... mohon belas kasihan. Sudah puluhan tahun desa kami hidup damai."
"Anak-anak sekarang bahkan tidak mengetahui adanya perjanjian itu."
Utusan itu menatap dingin.
"Takdir tidak mengenal belas kasihan."
"Tunjukkan gadis yang memiliki Tanda Sisik Emas."
Jantung kepala desa serasa berhenti berdetak.
Tanda Sisik Emas.
Nama itu kembali terdengar setelah sekian lama.
Beberapa warga mulai saling berbisik.
"Apa masih ada pemilik tanda itu?"
"Aku tidak pernah melihatnya."
"Mungkin garis keturunannya sudah punah."
Sementara itu, dari balik jendela rumahnya, Lyssara memperhatikan semua yang terjadi.
Ia menggenggam tangan neneknya.
"Nek..."
"Tanda Sisik Emas yang mereka maksud..."
Mireya memejamkan mata.
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
"Maafkan Nenek..."
Lyssara mengernyit.
"Kenapa Nenek menangis?"
Wanita tua itu menggenggam kedua tangan cucunya erat-erat.
"Karena hari yang paling kutakuti akhirnya datang."
"Nek, sebenarnya apa yang terjadi?"
Dengan tangan gemetar, Mireya menyibakkan rambut panjang Lyssara dari belakang lehernya.
Kilauan keemasan yang menyerupai sisik naga tampak jelas terkena cahaya lilin.
Mata Lyssara membelalak.
"Nenek..."
"Sejak kapan tanda ini bersinar?"
"Itu selalu bersinar setiap kali Raja Naga memanggil pewaris takdirnya."
Lyssara menggeleng cepat.
"Tidak... pasti ada kesalahan."
"Aku hanya gadis biasa."
"Kau memang dibesarkan sebagai gadis biasa."
"Tetapi darah yang mengalir dalam tubuhmu..."
"...tidak pernah biasa."
Belum sempat Lyssara bertanya lebih jauh, terdengar suara benturan keras dari luar.
BRAAK!
Pintu rumah mereka roboh seketika.
Empat prajurit kerajaan memasuki rumah tanpa ragu.
Pemimpin mereka melangkah maju sambil mengamati ruangan.
Tatapannya berhenti tepat pada Lyssara.
Kemudian, matanya turun ke arah tanda sisik emas yang masih memancarkan cahaya lembut di tengkuk gadis itu.
Ekspresi pria tersebut langsung berubah.
Ia berlutut dengan satu kaki.
Diikuti seluruh prajurit lainnya.
"Salam hormat..."
"...calon Ibu Pewaris Raja Naga."
Tubuh Lyssara membeku.
"Apa?"
Ia menatap mereka dengan wajah pucat.
"Kalian pasti salah orang."
"Aku bukan siapa-siapa."
Pemimpin pasukan mengangkat wajahnya.
"Takdir tidak pernah salah memilih. malam ini juga, Nona Lyssara Evanthe akan dibawa ke Istana Drakareth."
"Atas titah langsung Raja Naga."
