Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

#5: Suara Hari yang Jujur

Akor pertama itu bergetar, merambat dari lubang gitar menuju ulu hati Erlan, lalu meledak menjadi gelombang resonansi yang memenuhi seisi aula. Suaranya tidak lembut. Itu adalah petikan yang kasar, jujur, dan sedikit sumbang di bagian ujungnya—seperti retakan pada kaca yang dipaksa menahan beban terlalu berat. Erlan masih memejamkan mata, membiarkan kegelapan di balik kelopak matanya menjadi panggung yang sebenarnya.

"Di bawah lampu ini, aku merasa telanjang," bisik Erlan pelan, hampir tidak terdengar oleh mikrofon, namun cukup untuk membuat barisan depan terdiam.

Ia mulai memetik melodi yang lebih cepat. Jari-jarinya yang kasar, dengan sisa noda oli yang tak bisa hilang meski sudah digosok sabun kasar, menari di atas senar dengan presisi yang mengejutkan. Ia tidak memainkan lagu anak-anak. Ia memainkan sebuah komposisi tanpa nama yang lahir dari malam-malam tanpa tidur di apartemennya. Sebuah lagu tentang belenggu yang tidak terlihat, tentang suara yang terkubur di bawah stigma.

Di sudut belakang aula, seorang wanita dengan kacamata hitam besar dan topi baseball yang ditarik rendah mendadak berhenti mengutak-atik ponselnya. Ghea Giyani, yang datang ke acara ini hanya untuk memenuhi kewajiban kontrak citra publiknya, perlahan menegakkan punggung. Ia terbiasa mendengar penyanyi dengan teknik vokal sempurna, hasil polesan studio mahal, dan balutan busana desainer ternama. Namun, apa yang ia dengar sekarang adalah sesuatu yang asing.

"Ghe, liat deh, mekanik itu... suaranya kok ngeri ya?" bisik asisten di samping Ghea, mencoba memecah keheningan yang mulai mencekam.

Ghea tidak menjawab. Ia melepas kacamata hitamnya, membiarkan mata indahnya terpaku pada sosok pemuda di atas panggung itu. Erlan tampak seperti orang yang sedang berperang dengan hantu-hantu di kepalanya. Keringat mulai membasahi dahinya, dan tangannya yang gemetar kini berubah menjadi gerakan yang penuh energi yang terpendam.

"Suaranya tidak ngeri," sahut Ghea pelan, hampir untuk dirinya sendiri. "Suaranya jujur."

Erlan mulai bernyanyi. Suaranya serak, berat, dan penuh dengan vibrasi yang menyakitkan. Ia bercerita tentang seorang anak yang melihat dunia melalui jeruji besi, tentang nama yang berubah menjadi kutukan, dan tentang keinginan untuk sekadar dianggap ada.

Jangan sebut namaku jika hanya untuk menghakimi,

Jangan sentuh lukaku jika hanya untuk menyakiti,

Aku adalah gema dari dosa yang bukan milikku...

Lirik itu menghantam aula seperti badai. Anak-anak panti asuhan yang tadinya riuh, kini terpaku. Mereka mungkin tidak mengerti sepenuhnya tentang lirik itu, namun mereka merasakan getarannya. Rasa sakit yang dibagikan tanpa saringan. Pak Joko dan Bu Siti berdiri di pinggir panggung, mata mereka berkaca-kaca melihat transformasi Erlan. Pemuda pendiam itu seolah sedang memuntahkan seluruh racun yang selama ini mengendap di jiwanya.

Di atas panggung, Erlan merasa dunianya mulai kabur. Lampu neon di langit-langit seolah berubah menjadi lampu interogasi polisi belasan tahun lalu. Wajah-wajah donatur di depannya tampak seperti kerumunan wartawan yang haus akan skandal ibunya. Amarahnya memuncak, dan secara naluriah, teknik vokal yang ia latih di bengkel—teriakan scream yang dalam dan terkontrol—nyaris keluar.

Ia menahannya di pangkal tenggorokan. Ia tahu ini bukan tempat untuk musik metal. Namun, ketegangan itu justru membuat suaranya terdengar lebih dramatis, sebuah ratapan yang berada di ambang ledakan.

Ghea merasakan bulu kuduknya meremang. Selama bertahun-tahun di industri hiburan, ia dikelilingi oleh kepalsuan. Senyum yang diatur, air mata yang direncanakan, dan lirik cinta yang dangkal. Namun pria ini... pemuda dengan kemeja flanel kusam ini... ia sedang memperlihatkan luka yang masih basah di depan publik.

"Siapa nama dia tadi, Ghe?" tanya asistennya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

"Erlangga. Erlangga Atmaja," jawab Ghea, melafalkan nama itu seolah ia sedang mempelajari mantra baru.

Lagu mencapai puncaknya. Erlan menghantam akor terakhir dengan kekuatan penuh, membiarkan suara gitar itu berdengung panjang sebelum perlahan menghilang ditelan kesunyian aula. Napasnya memburu. Ia membuka mata, dan untuk sekejap, ia merasa pusing. Cahaya lampu terasa terlalu terang, dan ribuan pasang mata terasa terlalu tajam.

Ia mengharapkan cemoohan. Ia mengharapkan seseorang berteriak bahwa ia adalah anak seorang pembunuh. Ia menunggu saat-saat di mana Pak Joko akan memintanya turun karena telah merusak suasana acara amal dengan lagu yang begitu gelap.

Namun, yang terjadi adalah keheningan yang absolut.

Bocah ompong di barisan depan masih membuka mulutnya, matanya berbinar dengan air mata yang menggantung. Para donatur yang tadi sibuk dengan ponsel dan obrolan bisnis mereka, kini terpaku di tempat. Keheningan itu berlangsung selama hampir sepuluh detik—waktu yang terasa seperti selamanya bagi Erlan—sebelum akhirnya satu tepukan tangan terdengar dari arah belakang.

Itu adalah Ghea. Ia berdiri, bertepuk tangan pelan namun mantap. Kemudian diikuti oleh asistennya, lalu Pak Joko, dan tiba-tiba seluruh aula meledak dalam tepuk tangan yang riuh. Anak-anak panti asuhan berdiri, melompat-lompat kecil sambil meneriakkan nama Erlan.

"Lagi, Mas! Lagi!" teriak salah satu anak.

Erlan terpana. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di pelipis. Ia mencari pegangan pada kursi kayunya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini nyata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, orang-orang tidak menatapnya dengan rasa jijik atau takut. Mereka menatapnya dengan kekaguman.

Ia menundukkan kepala sedalam mungkin, bukan karena malu, melainkan karena ia tidak ingin ada yang melihat matanya yang mulai memerah. Katarsis itu datang begitu tiba-tiba, meruntuhkan bendungan emosi yang ia jaga selama empat belas tahun.

"Terima kasih," bisik Erlan ke arah mikrofon, suaranya pecah.

Ia segera membereskan gitarnya dengan gerakan terburu-buru. Ia ingin segera keluar dari sana. Popularitas sesaat ini membuatnya ketakutan. Ia merasa seperti baru saja menyerahkan bagian paling rahasia dari dirinya kepada orang asing, dan sekarang ia merasa sangat rentan.

"Mas Erlan! Tunggu dulu!" Bu Siti mencoba menahannya, namun Erlan hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan dan segera melangkah turun dari panggung.

Ia berjalan cepat menuju pintu keluar samping, menghindari kerumunan orang yang mencoba mendekatinya. Ia butuh udara. Ia butuh bau oli dan suara mesin untuk menenangkan kepalanya yang berisik.

Namun, saat ia sampai di koridor sempit yang menuju ke arah taman belakang, langkahnya terhenti.

Seorang wanita berdiri di sana. Ia tidak lagi memakai kacamata hitamnya. Gaun sederhananya tampak mahal, namun wajahnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta: sebuah simpati yang murni. Ghea Giyani berdiri tepat di jalur Erlan, menghalangi jalannya dengan cara yang tidak agresif, melainkan penuh rasa ingin tahu.

Erlan membeku. Ia mengenali wajah itu dari papan reklame raksasa di pusat kota. Ghea Giyani. Bintang yang selalu tampak sempurna di layar kaca.

"Permisi," kata Erlan ketus, mencoba melewatinya. Ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang berantakan.

"Lagu itu," Ghea bersuara. Suaranya lembut namun memiliki otoritas yang aneh. "Liriknya... kamu yang tulis sendiri?"

Erlan berhenti. Ia tidak menoleh, namun ia menjawab, "Hanya coretan tidak berguna. Maaf, saya harus pergi."

"Itu tidak tidak berguna," potong Ghea cepat. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Itu adalah hal paling jujur yang pernah saya dengar sepanjang tahun ini. Kamu punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang di luar sana, Erlangga."

Mendengar namanya disebut oleh wanita itu, Erlan akhirnya memberanikan diri untuk mendongak. Ia menatap mata Ghea, mencari jejak penghakiman atau kepalsuan yang biasa ia temukan pada orang-orang kaya. Namun, ia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah sebuah pengakuan.

"Kamu tidak tahu siapa saya," bisik Erlan, suaranya kembali mendingin. "Kalau kamu tahu, kamu tidak akan bicara seperti itu."

Ghea menatapnya dengan tatapan intens yang seolah bisa menembus dinding pertahanan Erlan. "Saya tidak peduli siapa kamu di masa lalu. Saya bicara tentang apa yang saya dengar tadi. Suara itu... suara itu adalah suara seseorang yang merindukan kebebasan."

Erlan tertegun. Ia merasa seperti baru saja ditelanjangi oleh kata-kata wanita itu. Sebelum ia sempat membalas, suara asisten Ghea terdengar memanggil dari kejauhan, memberitahu bahwa mobil mereka sudah siap.

Ghea memberikan satu senyuman tipis—senyuman yang tidak ia tunjukkan di depan kamera—lalu berbalik pergi. Erlan tetap berdiri terpaku di koridor yang redup itu, mencengkeram tas gitarnya erat-erat. Ia merasakan detak jantungnya kembali berpacu, namun kali ini bukan karena kecemasan sosial.

Ada sebuah percikan harapan kecil yang menyakitkan di dadanya. Dan untuk sesaat, stigma "Anak Pembunuh" itu terasa sedikit lebih ringan, seolah melodi yang ia lepaskan tadi benar-benar telah mematahkan satu rantai di jiwanya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Erlan tahu bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.

Ia menatap punggung Ghea yang menghilang di balik pintu, tidak menyadari bahwa di saat yang sama, sepasang mata lain dari kejauhan sedang mengamati mereka dengan penuh kebencian.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel