Pustaka
Bahasa Indonesia

Melodi Cinta sang Superstar

55.0K · Tamat
matabe
40
Bab
25
View
9.0
Rating

Ringkasan

Erlangga “Erlan”, 24 tahun, tampan dan berbakat musik, hidup dalam bayang kelam masa lalu. Ibunya dipenjara karena dituduh membunuh ayahnya—seorang pengusaha yang tewas diracun setelah ketahuan berselingkuh. Sejak itu, hidup Erlan hancur. Ia menarik diri dari dunia luar, hanya ditemani pembantu setianya, Bu Siti, dan sahabatnya satu-satunya, Roy, musisi jalanan yang selalu mendukungnya. Takdir mempertemukan Erlan dengan Ghea Giyani, aktris dan penyanyi papan atas yang hidupnya bergelimang kemewahan namun terpenjara oleh ambisi dan tekanan ayahnya. Di sebuah konser amal, Ghea terpikat oleh suara dan ketulusan Erlan. Cinta tumbuh di antara dua dunia yang bertolak belakang. Namun, perbedaan status dan sorotan media menghancurkan hubungan mereka. Erlan dianggap aib, Ghea dipaksa memilih citra dan karier. Hati hancur, Ghea meninggalkan Erlan. Beberapa tahun kemudian, Ghea menikah dengan Joe—aktor terkenal tapi rusak oleh narkoba dan gaya hidup hedon. Saat hidup Ghea makin gelap, Erlan justru berjuang bangkit dari kehancuran. Ia dijebak Joe, dipenjara setahun, dan di balik jeruji, Erlan menulis lagu-lagu numetal—keras, namun penuh pesan moral dan semangat. Keluar penjara, Erlan membentuk band bersama Roy. Meski ditolak dan dihina, kerja keras mereka berbuah hasil. Berkat bantuan Jack, pengusaha muda yang percaya pada mereka, band itu menembus panggung internasional. Erlan berubah menjadi ikon musik dunia—simbol perjuangan dan pembuktian. Saat Erlan berada di puncak, Ghea justru terpuruk: Ia bercerai dari Joe yang masuk penjara yang tertangkap karena kasus narkoba, ayahnya bangkrut dan sakit, ibunya kehilangan waras. Erlan yang masih menyimpan cinta, memutuskan pulang ke Indonesia untuk konser terbesar dalam kariernya—konser yang akan mengubah segalanya. Di hadapan puluhan ribu penonton, Erlan menyanyikan lagu “I MISS U”—lagu tentang cinta yang tak pernah padam. Penonton menangis, dan saat nada terakhir bergema, Ghea muncul di panggung, dibawa Jack dan Roy sebagai kejutan. Dalam tangis dan sorak, Erlan menyatakan cintanya kembali, di depan seluruh dunia. Akhirnya, mereka bersatu lagi—dua jiwa yang sama-sama hancur, kini memilih sembuh bersama. Dan dari luka itulah, lahir yayasan baru: tempat bagi mereka yang ingin bangkit dari gelapnya dunia narkoba dan kehilangan.

RomansaDewasaRevengeCinta Pada Pandangan PertamaCinta PertamaTransformasiSelebritiOptimis

#1: Senyap di bawah Stigma

Keheningan di apartemen lantai empat itu terasa begitu padat, seolah-olah udara telah membeku menjadi beton yang menghimpit paru-paru Erlangga. Di luar jendela yang berdebu, Jakarta sedang memamerkan kegilaannya; deru klakson yang saling bersahutan, raung mesin bus kota, dan teriakan pedagang asongan menciptakan simfoni kekacauan yang tak pernah tidur. Namun, di dalam kotak beton berukuran lima kali lima meter ini, suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu di atas peti mati.

Erlan menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tergantung di pintu kamar mandi. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menceritakan malam-malam panjang tanpa mimpi. Ia menyugar rambut hitamnya yang berantakan, mencoba mengusir bayangan seorang wanita yang meronta di layar televisi belasan tahun silam. Ibunya. Berita itu tak pernah benar-benar mati; ia hanya bersembunyi di balik lipatan waktu, menunggu saat yang tepat untuk menerkamnya kembali.

Anak pembunuh.

Dua kata itu adalah warisan yang tidak pernah ia minta, namun harus ia pakai layaknya pakaian yang terbuat dari kawat berduri. Erlan menghela napas panjang, meraih jaket denim lusuhnya, dan melangkah keluar. Ia tidak butuh ketenangan ini. Ketenangan hanya memberinya ruang untuk berpikir, dan bagi orang seperti Erlan, berpikir adalah cara tercepat untuk hancur.

Lantai bengkel "Sinar Jaya" terasa dingin di bawah sepatu bot Erlan yang sudah menipis solnya. Bau oli bekas, bensin, dan karet terbakar menyambutnya layaknya aroma rumah yang paling jujur. Di sini, ia bukan Erlangga Atmaja yang membawa beban masa lalu; ia hanyalah seorang mekanik yang tangan-tangannya cekatan menjinakkan mesin-mesin yang meronta.

"Erlan, garap yang Supra itu. Orangnya mau buru-buru," seru Roy dari balik kap mobil yang terbuka. Roy adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah menatap Erlan seolah ia akan mencabut nyawa seseorang di tengah jalan.

Erlan hanya mengangguk singkat. Ia berjongkok, meraih kunci pas, dan mulai membongkar karburator. Gerakannya presisi. Ia menyukai mesin karena mesin tidak punya prasangka. Jika kau merawatnya dengan benar, ia akan bekerja. Jika kau merusaknya, ia akan mati. Mesin tidak akan menanyakan siapa ibumu atau apa yang terjadi di malam berdarah empat belas tahun yang lalu.

"Mas, masih lama?" sebuah suara berat menginterupsi konsentrasi Erlan.

Erlan mendongak. Seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi berdiri di sana, menatapnya dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun memegang erat ujung baju ayahnya.

"Sebentar lagi, Pak. Sedang dibersihkan," jawab Erlan datar. Suaranya serak karena jarang digunakan.

Pria itu mengamati Erlan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya berhenti sejenak pada tato kecil berbentuk kunci nada di pergelangan tangan Erlan yang tertutup noda oli. Kemudian, mata pria itu menyipit. Ada kilat pengenalan yang mendadak muncul di sana. Ia seolah sedang menggali memori lama dari tumpukan koran kriminal yang pernah ia baca.

"Kamu... kamu Erlangga, kan?" tanya pria itu, suaranya kini berubah lebih rendah, lebih tajam.

Erlan membeku. Tangannya yang memegang kunci pas berhenti bergerak. Ia bisa merasakan aliran adrenalin yang dingin mulai merambat di punggungnya. Jangan sekarang. Tolong, jangan sekarang.

"Saya mekanik di sini, Pak," jawab Erlan, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil kembali menunduk pada mesin motor.

Pria itu tidak menyerah. Ia justru menarik anaknya sedikit menjauh dari jangkauan Erlan, seolah Erlan adalah wabah yang bisa menular melalui udara. "Iya, benar. Kamu anak Harumi, kan? Wanita yang membantai suaminya sendiri di rumah susun itu? Beritanya sempat viral lagi di media sosial minggu lalu."

Suasana di bengkel yang bising itu mendadak terasa senyap di telinga Erlan. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia tidak berani menoleh ke arah Roy, meskipun ia tahu sahabatnya itu pasti sedang menahan amarah di seberang ruangan.

"Maaf, Pak, saya hanya sedang memperbaiki motor Bapak," kata Erlan, suaranya bergetar halus. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak meledak.

"Pantas saja auranya beda. Dingin, tidak punya sopan santun," pria itu mencibir. Ia menoleh ke arah Roy. "Mas, tolong gantikan mekanik ini. Saya tidak sudi motor saya dipegang oleh anak orang gila seperti dia. Siapa yang tahu kalau dia tiba-tiba kumat dan merusak rem saya?"

Roy membanting obengnya ke lantai, menciptakan bunyi dentang yang memekakkan telinga. "Heh, Pak! Kalau mau servis, servis saja. Jangan bawa-bawa urusan pribadi orang!"

"Lho, saya ini konsumen! Saya punya hak untuk merasa aman!" pria itu membentak balik. "Ayo, Nak, menjauh dari situ. Jangan dekat-dekat dengan orang berbahaya."

Anak kecil itu menatap Erlan dengan mata bulat yang penuh ketakutan, seolah Erlan adalah monster dari dongeng sebelum tidur yang menjadi nyata. Tatapan itu—tatapan polos yang penuh penghakiman—adalah yang paling menyakitkan. Erlan merasakan sesuatu yang panas mulai mendidih di dadanya. Bukan keinginan untuk menyakiti, melainkan rasa malu yang begitu hebat hingga ia ingin lantai beton di bawahnya terbuka dan menelannya bulat-bulat.

"Sudah, Roy," potong Erlan pelan. Ia berdiri, meletakkan kunci pasnya di atas meja kerja dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah. "Bapak benar. Biar teman saya yang selesaikan."

Erlan melangkah menuju bagian belakang bengkel tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan pria itu menusuk punggungnya, mengikuti setiap gerakannya dengan kecurigaan yang kental. Ia masuk ke dalam kamar mandi kecil yang pengap dan menyalakan keran. Air mengalir membasahi tangannya yang hitam karena oli, namun noda itu seolah enggan luntur.

Ia menggosok tangannya dengan sabun kasar sampai kulitnya memerah dan perih, tapi ia masih bisa melihat "darah" itu di sana. Stigma itu bukan sesuatu yang menempel di kulit; itu meresap ke dalam pori-pori, menyatu dengan DNA-nya, mengalir bersama setiap tetes keringatnya.

"Lan?" Roy mengetuk pintu kamar mandi pelan. "Orangnya sudah pergi. Dia bayar setengah, tapi masa bodohlah. Kamu nggak apa-apa?"

Erlan menatap pantulannya di cermin buram di atas wastafel. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang ia kurung rapat-rapat di balik jeruji kewarasan. "Aku nggak apa-apa, Roy."

"Jangan didengarkan. Orang stres memang suka cari gara-gara," hibur Roy, suaranya terdengar tidak yakin.

"Dia benar, Roy," bisik Erlan, suaranya hampir hilang ditelan suara air. "Di mata mereka, aku bukan Erlan. Aku hanya sekadar peringatan tentang apa yang bisa dilakukan oleh seorang manusia yang rusak."

Erlan keluar dari kamar mandi, mengambil tas punggungnya, dan berjalan menuju motor tua miliknya yang terparkir di pojok bengkel. Roy mencoba menahannya, namun Erlan hanya menggeleng.

"Aku butuh udara," kata Erlan singkat.

Ia menyalakan mesin motornya yang menderu kasar, sebuah suara yang biasanya memberinya kenyamanan, namun kali ini terasa seperti teriakan yang mengejeknya. Ia memacu motornya keluar dari bengkel, membelah kemacetan Jakarta yang semakin menggila di bawah langit sore yang berwarna jingga pucat.

Erlan tidak punya tujuan. Ia hanya ingin melarikan diri dari tatapan-tatapan itu. Namun, ke mana pun ia pergi, ia membawa kepalanya sendiri. Ia membawa memori tentang ibunya yang menangis di balik jeruji besi, memohon ampunan yang tak pernah datang. Ia membawa bayangan ayahnya yang tergeletak diam, mengakhiri semua mimpi tentang keluarga yang utuh.

Ia berhenti di pinggir jembatan layang yang menghadap ke arah pusat kota. Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh dengan lampu-lampu yang mulai menyala, terlihat seperti permata yang tak tersentuh oleh kotoran di bawahnya. Erlan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah pemutar musik tua dan memasang earphone.

Musik metal yang agresif mulai membanjiri telinganya. Distorsi gitar yang kasar, dentuman drum yang secepat detak jantung yang panik, dan vokal yang meraung seolah sedang mencabik-cabik langit. Inilah dunianya. Di dalam melodi yang gelap dan penuh amarah ini, Erlan merasa tidak sendirian. Musik ini tidak menghakiminya. Musik ini justru merangkul luka-lukanya dan memberinya bentuk.

Ia menutup mata, membiarkan kebisingan itu menelan semua suara penghinaan yang tadi ia dengar. Namun, ketika lagu berakhir dan kesunyian kembali merayap, rasa sakit itu masih ada di sana. Tetap tajam. Tetap nyata.

Erlan membuka matanya dan menatap tangannya yang memegang setang motor. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dinginnya angin malam, melainkan karena ia menyadari satu hal yang mengerikan.

Besok, ia harus bangun lagi. Besok, ia harus menghadapi tatapan yang sama lagi. Besok, ia harus berjuang hanya untuk membuktikan bahwa ia berhak bernapas, meskipun dunia lebih suka melihatnya mati atau membusuk di dalam sel yang sama dengan ibunya.

Ia merogoh kunci motornya dengan jari-jari yang masih bergetar hebat. Di bawah sinar lampu jalan yang berkedip, Erlan menyadari bahwa hidupnya bukan sekadar rangkaian hari; hidupnya adalah sebuah perjuangan eksistensi yang melelahkan. Dan malam ini, perjuangan itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sesuatu di dalam dirinya mulai retak, sebuah bendungan emosi yang selama ini ia jaga dengan susah payah, kini mulai menunjukkan celah-celah kecil yang berbahaya.