#6: Sebuah Tatapan yang Tak Terlupakan
Koridor belakang aula panti asuhan itu terasa sempit, pengap oleh aroma kayu tua dan debu yang mengendap bertahun-tahun. Erlan berjalan terburu-buru, mencengkeram tas gitarnya seolah benda itu adalah perisai yang melindunginya dari sisa-sisa tatapan memuja di dalam sana. Gema tepuk tangan masih berdenging di telinganya, namun alih-alih merasa bangga, ia justru merasa mual. Ia baru saja menelanjangi jiwanya di depan orang-orang asing, dan sekarang ia merasa sangat rentan.
"Lagu itu," sebuah suara lembut menginterupsi langkahnya.
Erlan berhenti mendadak. Di hadapannya, hanya beberapa langkah di bawah sorot lampu pijar yang redup dan berkedip, berdiri Ghea Giyani. Wanita itu tampak sangat berbeda dari poster-poster parfum atau sampul majalah yang sering Erlan lihat di sudut-sudut kota. Di sini, tanpa pencahayaan panggung yang glamor, Ghea tampak... manusiawi. Ada kelelahan yang samar di matanya, jenis kelelahan yang Erlan kenali dengan sangat baik.
"Permisi," kata Erlan, suaranya serak. Ia mencoba menundukkan kepala, membiarkan rambut hitamnya menutupi wajahnya yang masih basah oleh keringat. Ia ingin segera lewat, namun Ghea tidak bergeser.
"Kamu menulisnya sendiri, kan? Lirik tentang belenggu dan dosa yang bukan milikmu itu?" Ghea bertanya lagi. Suaranya tidak terdengar seperti basa-basi seorang selebriti yang sedang beramal. Ada nada mendesak, seolah jawaban Erlan sangat penting baginya.
Erlan mendongak sedikit, menatap ujung sepatu gaun Ghea yang tampak terlalu bersih untuk lantai semen yang kotor ini. "Hanya coretan. Bukan apa-apa. Tolong, saya harus lewat."
"Bagi kamu mungkin bukan apa-apa, tapi bagi saya itu adalah hal paling jujur yang pernah saya dengar," potong Ghea. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Bau parfumnya yang lembut—campuran vanila dan melati—bertabrakan dengan aroma bensin dan oli yang melekat kuat di jaket denim Erlan. "Saya menghabiskan setiap hari menyanyikan kata-kata yang ditulis orang lain, mengenakan baju yang dipilih orang lain, dan tersenyum untuk orang-orang yang bahkan tidak peduli siapa saya. Tapi kamu... kamu tadi tidak sedang berpura-pura."
Erlan mendengus hambar. Ia akhirnya memberanikan diri menatap langsung ke mata Ghea. "Kejujuran itu mahal harganya, Mbak. Di dunia saya, jujur berarti siap untuk dihancurkan. Mbak tidak akan mengerti."
"Kenapa kamu berasumsi saya tidak mengerti?" Ghea balik bertanya, alisnya bertaut. "Hanya karena saya berdiri di bawah lampu sorot yang lebih terang, bukan berarti saya tidak punya kegelapan saya sendiri."
Erlan terdiam sejenak. Ia melihat ke sekeliling koridor yang sepi itu, memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka. "Mbak Ghea, orang-orang seperti Mbak melihat musik sebagai hiburan. Bagi saya, musik itu cara untuk tetap waras. Kalau Mbak tahu siapa saya yang sebenarnya, Mbak tidak akan mau bicara dengan saya di lorong gelap seperti ini."
"Identitasmu tidak ada hubungannya dengan suara yang keluar dari tenggorokanmu tadi," sahut Ghea mantap. "Siapa kamu, Erlangga? Seorang mekanik? Seorang musisi? Atau hanya seseorang yang sedang melarikan diri?"
"Saya anak seorang pembunuh," bisik Erlan, kata-kata itu keluar seperti racun yang sudah lama ia simpan di bawah lidahnya. Ia menunggu reaksi Ghea. Ia menunggu wanita itu mundur selangkah karena takut, atau mungkin menunjukkan tatapan kasihan yang merendahkan.
Namun, Ghea tidak bergerak. Ia justru menatap Erlan dengan tatapan yang lebih intens, seolah sedang mencari sesuatu di balik topeng kasar pemuda itu. "Dan saya adalah produk dari industri yang membunuh jiwa orang-orang di dalamnya demi uang. Jadi, kita berdua punya sejarah yang berdarah, kan?"
Erlan tertegun. Ia tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. "Mbak bercanda."
"Saya tidak pernah seserius ini," Ghea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat letih. "Lagu kamu tadi... boleh saya tahu judulnya?"
"Belum ada judul. Roy biasanya memanggilnya 'Shackles of Love', tapi saya rasa itu terlalu manis untuk lagu sekelam itu," jawab Erlan, mulai merasa sedikit kurang terancam oleh kehadiran Ghea.
"Shackles. Belenggu," Ghea menggumamkan kata itu, seolah sedang mencicipi maknanya. "Itu pas. Kita semua punya belenggu kita masing-masing. Hanya saja, belenggu saya terbuat dari emas, sementara belenggu kamu mungkin terbuat dari besi tua. Tapi rasanya sama-sama berat."
Keheningan jatuh di antara mereka selama beberapa detik. Suara tawa anak-anak dari aula terdengar lamat-lamat, mengingatkan Erlan bahwa dunia di luar koridor ini masih terus berjalan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Erlan merasa ada seseorang yang benar-benar melihatnya—bukan sebagai stigma, bukan sebagai mekanik yang kotor, tapi sebagai manusia yang membawa luka yang sama.
"Ghe! Ayo, mobilnya sudah siap. Kita harus mengejar jadwal syuting jam empat!" Suara melengking asisten Ghea memecah momen itu.
Ghea menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot. Pesona selebritinya kembali menutupi sosok manusiawi yang baru saja Erlan lihat. Ia merogoh tas tangan kecilnya dan mengeluarkan selembar kartu nama berwarna putih bersih dengan tulisan emas yang elegan.
"Ambil ini," kata Ghea, menyodorkannya pada Erlan.
Erlan menatap kartu itu dengan ragu. "Untuk apa?"
"Suatu saat, kalau kamu memutuskan untuk berhenti bersembunyi di balik kunci pas dan oli bekas, hubungi saya. Saya ingin mendengar lagu itu lagi. Versi lengkapnya," Ghea menyelipkan kartu itu ke saku jaket denim Erlan sebelum pemuda itu sempat menolak.
Erlan merasakan sentuhan jari Ghea yang dingin di punggung tangannya, sebuah kontak fisik yang sangat singkat namun terasa seperti sengatan listrik. Ia hanya bisa berdiri terpaku saat Ghea berbalik dan mulai berjalan menjauh menuju pintu keluar.
"Erlangga!" Ghea berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Ya?"
"Jangan biarkan mereka membungkammu. Suaramu itu... adalah satu-satunya hal yang nyata di kota yang penuh kepalsuan ini," kata Ghea dengan senyuman tulus terakhirnya sebelum menghilang di balik pintu besar aula.
Erlan tetap berdiri di sana, sendirian di koridor yang pengap. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kartu nama itu, dan menatapnya lama. Ghea Giyani. Nama itu terasa begitu berat di tangannya. Ada percikan harapan yang mulai berdenyut di dadanya, sebuah perasaan yang sangat asing dan menakutkan bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan keputusasaan.
Ia memasukkan kartu itu kembali ke saku paling dalam, tepat di atas jantungnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di kepalanya. Mungkin Roy benar. Mungkin sudah saatnya ia berhenti melarikan diri.
Erlan melangkah keluar dari koridor menuju parkiran motor. Matahari sore Jakarta terasa menyengat kulitnya, namun kali ini ia tidak menundukkan kepala. Ia berjalan menuju motor tuanya dengan langkah yang lebih mantap. Namun, saat ia menyalakan mesin motornya, ia merasa bulu kuduknya meremang.
Ia merasa diawasi.
Erlan menoleh ke arah deretan mobil mewah yang terparkir di seberang jalan. Di dalam sebuah sedan hitam yang kacanya sangat gelap, ia melihat siluet seseorang yang sedang memperhatikannya. Orang itu tidak bergerak, hanya diam di sana dengan aura yang sangat mengancam. Erlan tidak bisa melihat wajahnya, namun ia bisa merasakan kebencian yang memancar dari balik kaca itu.
Tanpa membuang waktu, Erlan segera memacu motornya keluar dari halaman panti asuhan. Ia membelah kemacetan dengan kecepatan tinggi, mencoba mengusir perasaan tidak enak yang merayapi punggungnya. Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkatnya dengan Ghea barusan telah menarik perhatian sosok yang paling berbahaya dalam hidup Ghea—Jonathan, atau yang akrab dipanggil Joe.
Di dalam sedan hitam itu, Joe meremas stir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang merah karena kurang tidur dan pengaruh zat kimia menatap tajam ke arah punggung Erlan yang semakin menjauh. Ia telah melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Ghea menatap pemuda kumal itu. Ia melihat bagaimana Ghea tersenyum dengan cara yang tidak pernah diberikan padanya.
"Berani-beraninya mekanik sampah itu menyentuh milikku," desis Joe dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Joe mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor, dan menunggu beberapa saat hingga panggilan tersambung. "Cari tahu siapa pemuda yang baru saja bicara dengan Ghea di Panti Asuhan Kasih Bunda. Erlangga Atmaja. Aku ingin semua informasinya di mejaku malam ini. Semuanya. Termasuk setiap noda di masa lalunya."
Ia memutus panggilan itu dengan kasar. Seringai dingin muncul di wajahnya yang tampan namun tampak rusak oleh kedengkian. Joe tahu betul cara menghancurkan orang-orang seperti Erlan. Baginya, Erlan hanyalah serangga kecil yang perlu diinjak sebelum sempat terbang.
Sementara itu, Erlan sampai di apartemennya dengan napas yang masih memburu. Ia melemparkan tas gitarnya ke tempat tidur dan mengeluarkan kartu nama Ghea. Ia menatapnya sekali lagi, tidak menyadari bahwa kartu nama itu bukan sekadar undangan menuju dunia musik, melainkan awal dari jebakan yang akan menjebloskannya ke dalam neraka yang lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.
Di luar, langit Jakarta berubah menjadi merah darah, seolah memberi peringatan akan badai yang sedang menuju ke arahnya.
