Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

#4: Di Balik Panggung yang Lusuh

Denting dawai itu masih menggantung di udara aula yang lembap, menciptakan getaran halus yang merambat hingga ke ujung jari Erlan. Ia tetap memejamkan mata selama beberapa detik, mencoba membangun dinding imajiner yang memisahkan dirinya dari tatapan puluhan pasang mata di hadapannya. Namun, suara riuh rendah dari anak-anak yang mulai berbisik membuat dinding itu runtuh sebelum benar-benar kokoh.

"Mas, gitarnya bagus," celetuk seorang bocah laki-laki di barisan depan. Giginya ompong dua di bagian atas, namun senyumnya begitu lebar hingga matanya menyipit.

Erlan tersentak kecil. Ia membuka mata dan mendapati bocah itu sedang menunjuk ke arah bodi gitarnya yang penuh goresan. Bukannya merasa terancam, Erlan justru merasakan desiran aneh di dadanya. Kehangatan yang sudah lama tidak ia kunjungi.

"Mas Erlan, ya?" Seorang wanita paruh baya dengan celemek yang masih terikat di pinggang mendekat. "Saya Siti, yang biasanya masak di sini. Mas Roy sering cerita tentang Mas Erlan."

Erlan segera berdiri, sedikit kikuk karena beban gitar yang masih menggantung di bahunya. "Iya, Bu. Maaf, saya baru sampai."

"Tidak apa-apa, Mas. Mari, silakan duduk di sini dulu. Acaranya masih setengah jam lagi. Kita baru mau pembagian nasi kotak," ujar Bu Siti ramah. Ia memberikan segelas teh hangat dalam gelas plastik kepada Erlan.

Tak lama kemudian, seorang pria dengan rambut yang sudah memutih sepenuhnya namun memiliki sorot mata yang teduh menyusul Bu Siti. Ia adalah Pak Joko, pengelola panti yang namanya sering disebut Roy dengan nada hormat.

"Selamat datang, Mas Erlan," Pak Joko menyalami Erlan dengan genggaman yang mantap. "Terima kasih sudah mau menggantikan Roy. Dia bilang Mas adalah pemain gitar terbaik yang dia kenal."

Erlan menunduk, menatap lantai semen yang mulai retak di bawah kakinya. "Roy terlalu berlebihan, Pak. Saya hanya mekanik."

Pak Joko tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan kayu yang menenangkan. "Mekanik mesin atau mekanik nada, di mata anak-anak ini, Mas adalah pahlawan hari ini. Jangan terlalu tegang. Di sini, tidak ada yang sedang menilai Mas."

Erlan hanya sanggup mengangguk singkat. Kalimat Pak Joko seolah-olah menyentuh saraf pusat kecemasannya. Tidak ada yang menilai? batin Erlan pahit. Dunia yang ia kenal selalu memiliki timbangan yang rusak untuk orang-orang seperti dirinya. Namun, saat ia melihat Pak Joko yang kembali membantu anak-anak menata kursi, Erlan tidak menemukan jejak penghakiman di wajah pria tua itu.

Kecemasan Erlan kembali memuncak saat beberapa mobil mewah mulai memasuki halaman panti. Sekelompok orang berpakaian rapi—para donatur dan sukarelawan dari kalangan menengah ke atas—turun dengan membawa tumpukan hadiah. Erlan segera menarik lengan kemeja flanelnya ke bawah, berusaha menyembunyikan tato kecil di pergelangan tangannya. Ia merasa seperti noda oli di atas seprei putih yang baru dicuci.

Gue nggak seharusnya di sini, pikirnya. Tangannya mulai berkeringat di dalam saku jaket. Setiap kali ada orang asing yang melintas dan menatapnya sebentar, Erlan merasa mereka bisa membaca sejarah gelap di keningnya. Ia merasa mereka tahu bahwa pemuda yang duduk di pojok aula ini adalah putra dari wanita yang tangannya pernah bersimbah darah.

"Mas Erlan?"

Erlan mendongak dan mendapati bocah ompong tadi sudah berdiri di samping kursinya. Di tangannya ada sebuah biskuit yang sudah patah jadi dua.

"Buat Mas," katanya polos, menyodorkan setengah biskuit itu.

Erlan terpaku. "Buat aku?"

"Iya. Biar Mas nggak pucat. Kata Bu Siti, kalau orang pucat itu tandanya lapar," bocah itu nyengir.

Erlan menerima biskuit itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia melihat biskuit murah itu, lalu melihat wajah polos si bocah. Di panti asuhan ini, anak-anak ini tidak memiliki apa-apa, namun mereka memberikan apa yang mereka punya tanpa bertanya siapa orang di depan mereka. Sesuatu yang beku di dalam hati Erlan perlahan mulai retak.

"Terima kasih," bisik Erlan. Ia memakan biskuit itu, dan anehnya, rasa manisnya sanggup sedikit meredam gemuruh di perutnya yang mual karena cemas.

Beberapa jam berlalu dalam persiapan yang sibuk. Erlan membantu Pak Joko mengangkat beberapa meja dan menyusun sound system sederhana yang dibawa sukarelawan. Meskipun ia terus menjaga jarak dari para donatur yang sibuk berfoto, keterlibatannya dalam membantu anak-anak panti membuatnya merasa sedikit lebih berguna. Ia melihat bagaimana anak-anak itu tertawa saat mengejar balon, mengabaikan fakta bahwa mereka tumbuh tanpa orang tua.

Ketabahan mereka adalah tamparan bagi Erlan.

"Mas Erlan, boleh minta tolong?" Bu Siti mendekat saat Erlan sedang menyetel ulang senar gitarnya di belakang panggung kecil yang terbuat dari susunan palet kayu. "Bisa bantu pasangkan kain penutup di tiang itu? Kami kekurangan tangan."

Erlan segera berdiri. Ia memanjat tangga kecil, mengikatkan kain batik sederhana untuk menutupi tiang beton yang sudah terkelupas catnya. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat seluruh aula. Ruangan itu kini penuh sesak. Suara obrolan orang dewasa bercampur dengan pekikan gembira anak-anak.

Ia melihat seorang ibu muda dari kelompok donatur sedang mengelus rambut salah satu anak panti dengan penuh kasih. Pemandangan itu mendadak membuat sesak dadanya. Ingatan tentang ibunya yang dulu juga pernah mengelus rambutnya dengan lembut sebelum kegelapan merenggut segalanya kembali muncul. Erlan buru-buru turun dari tangga, mencoba mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan.

Tenang, Erlan. Fokus. Mainkan lagunya, lalu pulang, perintahnya pada diri sendiri.

Ia kembali ke kursinya di belakang panggung, memeluk gitarnya erat-erat. Instrumen itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. Di luar, ia mendengar suara Pak Joko memberikan kata sambutan. Suara tepuk tangan membahana, menandakan acara inti akan segera dimulai.

Erlan bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup di kerongkongan. Ia memeriksa jemarinya. Dingin. Ia mencoba memainkan beberapa akor tanpa suara, memastikan otot-ototnya tidak kaku. Namun, bayangan pria di bengkel kemarin yang menatapnya dengan jijik kembali melintas.

Gimana kalau salah satu dari orang-orang berpakaian rapi di luar sana tahu siapa gue?

"Dan sekarang, kita akan mendengarkan penampilan musik dari teman baik panti kita," suara Pak Joko terdengar melalui pengeras suara yang sedikit berdenging. "Sebenarnya hari ini Mas Roy yang harus tampil, tapi karena beliau berhalangan, ia mengirimkan sahabatnya yang tidak kalah hebat."

Erlan memejamkan mata kuat-kuat. Ia merasakan dorongan untuk lari keluar lewat pintu belakang, naik ke motornya, dan menghilang di kegelapan Jakarta. Namun, ia teringat biskuit patah dari bocah ompong tadi. Ia teringat Roy yang sedang menahan sakit di klinik.

"Mari kita sambut dengan meriah, Mas Erlangga Atmaja!"

Nama itu. Nama yang biasanya ia sembunyikan di balik bayang-bayang, kini diteriakkan dengan penuh antusiasme di sebuah ruangan penuh orang.

Erlan berdiri. Kakinya terasa seberat timah saat ia melangkah menuju panggung kecil itu. Setiap langkah terasa seperti menuju tiang gantungan. Cahaya lampu neon di aula terasa menyilaukan saat ia menginjakkan kaki di atas palet kayu yang berderit.

Ia berdiri di tengah panggung, menyesuaikan tinggi mikrofon dengan tangan yang tampak jelas bergetar di bawah lampu sorot sederhana. Di hadapannya, puluhan anak duduk bersila di atas tikar, menatapnya dengan binar harapan yang begitu murni. Di belakang mereka, para donatur dan pengurus panti berdiri, memperhatikan dengan rasa ingin tahu yang mencekam.

Keheningan jatuh di aula itu. Begitu sunyi hingga Erlan bisa mendengar suara napasnya sendiri yang pendek-pendek. Ia menatap kerumunan orang asing itu, dan untuk sesaat, ia merasa oksigen di ruangan itu habis.

Ia menunduk, memposisikan jemarinya di atas dawai gitar. Dunianya mengecil, hanya menyisakan dirinya dan instrumen kayu di pelukannya. Ia tahu, ini adalah saatnya. Ia tidak bisa lagi bersembunyi.

Erlan menarik napas panjang, menutup matanya, dan memetik akor pertama dengan seluruh sisa keberanian yang ia miliki. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang melompat ke dalam jurang tanpa tahu apakah ia akan terbang atau hancur saat mencapai dasar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel