Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

#3: Sebuah Panggilan Darurat

Dering telepon itu membelah keheningan apartemen seperti ledakan dinamit di tengah pemakaman. Erlan tersentak, kelopak matanya terbuka paksa dengan rasa perih yang menyengat. Ia masih terduduk di lantai, punggungnya kaku dan lehernya terasa seperti dipelintir setelah tertidur dalam posisi yang salah. Di pangkuannya, gitar akustik tua itu masih setia mendekap, senar-senarnya yang berkarat seolah ikut bergetar merespons suara bising dari atas meja kayu di sampingnya.

Layar ponsel yang retak itu berpendar terang di kegelapan kamar, menampilkan satu nama yang tidak akan pernah ia abaikan: Roy.

Erlan merogoh ponselnya dengan jemari yang masih kaku. Ia berdeham, mencoba mengusir sisa-sisa isakan yang tadi malam sempat menguasainya. "Halo?" suaranya keluar lebih parau dari yang ia duga.

"Lan! Syukurlah lu angkat!" Suara Roy di seberang sana terdengar panik, napasnya memburu seperti seseorang yang baru saja berlari maraton. Ada suara latar yang bising; bunyi mesin yang menderu dan teriakan-teriakan samar yang tidak bisa Erlan kenali.

"Roy? Lu kenapa? Ada apa?" Erlan langsung tegak, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di tulang belakangnya.

"Gue kecelakaan, Lan. Bukan, bukan gue yang parah, tapi motor gue hancur dan... asu, tangan kanan gue terkilir parah. Gue sekarang di klinik," ujar Roy cepat, bicaranya tersendat oleh rasa sakit.

Erlan merasa jantungnya merosot ke perut. "Klinik mana? Gue ke sana sekarang."

"Jangan! Nggak usah ke sini, ada sepupu gue yang jagain. Masalahnya bukan itu, Lan," Roy menjeda, suaranya kini berubah dari panik menjadi memohon. "Acara panti asuhan itu, Lan. Acara amal di Panti Asuhan Kasih Bunda. Gue udah janji bakal main akustikan di sana pagi ini. Jam sepuluh, Lan! Dan sekarang udah jam delapan!"

Erlan terdiam. Dunianya seolah berhenti berputar sejenak. "Terus? Lu mau gue ngapain?"

"Gantiin gue, Lan. Please. Cuma lu yang bisa. Gue udah bilang sama pengurus panti kalau gue bakal bawa 'temen'. Anak-anak itu udah nunggu, mereka butuh hiburan, Lan. Gue nggak mau ngecewain mereka."

"Roy, lu gila?" Erlan berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang sempit. "Gue nggak bisa. Lu tahu sendiri kondisi gue. Lu tahu apa yang bakal terjadi kalau orang-orang liat gue!"

"Nggak akan ada yang tahu, Lan! Itu panti asuhan kecil di pinggiran. Nggak ada kamera, nggak ada wartawan gosip, cuma anak-anak yatim piatu yang nggak punya televisi di kamar mereka. Mereka nggak akan kenal siapa lu. Mereka cuma butuh musik, Lan. Mereka butuh orang yang mau peduli."

"Gue ini anak pembunuh, Roy! Gue pembawa sial!" bentak Erlan, suaranya memantul di dinding beton apartemennya yang dingin. "Gimana kalau salah satu pengurusnya ngenalin gue? Lu mau mereka ngusir gue di depan anak-anak itu? Itu bakal lebih ngerusak suasana daripada kalau lu nggak dateng."

Di seberang sana, Roy terdiam. Hanya terdengar helaan napas berat dan rintihan kecil akibat rasa sakit di tangannya. "Lan," suara Roy kini merendah, sangat tulus. "Selama ini gue pernah minta apa sama lu? Gue selalu ada buat lu bukan karena gue kasihan, tapi karena gue tahu lu orang baik. Anak-anak panti itu... mereka sama kayak lu, Lan. Mereka dibuang dunia. Mereka nggak punya siapa-siapa. Kalau lu nggak dateng, mereka cuma bakal duduk diem di aula yang sepi itu tanpa ada hiburan di hari istimewa mereka. Lu mau ngebiarin mereka ngerasain kesepian yang sama kayak yang lu rasain tiap malem?"

Kalimat terakhir Roy menghantam Erlan tepat di ulu hati. Bayangan dirinya saat masih kecil, berdiri sendirian di tengah kerumunan orang yang menunjuk-nunjuknya dengan kebencian, mendadak berputar di kepalanya. Ia tahu bagaimana rasanya diabaikan. Ia tahu bagaimana rasanya dianggap tidak ada oleh dunia.

Erlan menatap gitar akustik di tangannya. Alat musik itu tampak menyedihkan, penuh goresan dan debu, tapi suaranya adalah satu-satunya hal yang masih jujur dalam hidupnya.

"Gue... gue nggak tahu lagu anak-anak, Roy," bisik Erlan, sebuah tanda bahwa benteng pertahanannya mulai runtuh.

Roy tertawa kecil, meskipun terdengar meringis di akhir. "Nggak usah main lagu anak-anak yang menye-menye. Mainin apa aja yang ada di hati lu. Lu kasih melodi yang jujur, mereka bakal ngerasain itu. Ambil gitar lu, berangkat sekarang. Alamatnya udah gue kirim di WhatsApp."

"Roy?"

"Ya, Lan?"

"Kalau ini berantakan, gue bakal patahin tangan lu yang satunya lagi pas lu sembuh."

"Hahaha, terserah lu, Bos. Good luck. Lu pasti bisa."

Telepon terputus. Erlan menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Adrenalin mulai mengalir di nadinya, rasa takut dan keinginan untuk membantu bertarung di dalam dadanya. Loyalitas adalah satu-satunya mata uang yang Erlan punya saat ini, dan Roy adalah orang yang memegang seluruh simpanannya. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya itu menanggung rasa bersalah karena membatalkan janji pada anak-anak panti.

Ia bergerak cepat. Erlan menyambar kain lap, membersihkan bodi gitarnya dengan gerakan terburu-buru namun hati-hati. Ia mengambil kunci pas kecil dari tas mekaniknya, mencoba menyetel ulang tuning gitar yang sempat berantakan karena ia peluk saat tidur.

Setiap putaran pegs gitar terasa seperti ia sedang mengencangkan saraf-sarafnya sendiri. Ia mengganti kaosnya yang kusut dengan kemeja flanel gelap dan memakai jaket denim yang paling bersih. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak itu sekali lagi.

Jangan liat matanya, Erlan. Jangan cari pengakuan. Cukup mainkan musiknya dan pergi, batinnya memberi instruksi pada diri sendiri.

Ia mengambil tas gitarnya, memasukkan instrumen itu ke dalamnya, dan menyampirkannya di bahu. Berat gitar itu terasa familiar, sebuah beban yang anehnya memberikan stabilitas di tengah badai kecemasan yang sedang berkecamuk.

Langkah kakinya menuruni tangga apartemen terasa lebih berat dari biasanya. Setiap kali ia berpapasan dengan tetangga di lorong, ia menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan rambut hitamnya menutupi sebagian wajahnya. Ia merasa seperti seorang buronan yang sedang menyelundupkan barang terlarang, padahal yang ia bawa hanyalah sebuah instrumen musik dan niat baik yang rapuh.

Saat ia sampai di parkiran, matahari Jakarta sudah mulai memanaskan aspal. Ia menyalakan motor tuanya, raungannya yang kasar memecah ketenangan pagi. Erlan membuka ponsel, melihat alamat yang dikirim Roy. Panti Asuhan Kasih Bunda terletak di sebuah gang cukup jauh di pinggiran Jakarta Timur.

Sepanjang perjalanan, pikiran Erlan tidak bisa diam. Ia membayangkan berbagai skenario buruk: ada wartawan yang kebetulan sedang meliput acara itu, atau salah satu donatur panti adalah pelanggan bengkel yang mengenali wajahnya. Tangannya yang memegang setang motor mulai berkeringat di dalam sarung tangan kulitnya yang lusuh.

Kenapa gue setuju? Gue harusnya tetep di apartemen. Gue harusnya tidur lagi, keluhnya dalam hati. Namun, setiap kali ia ingin memutar balik motornya, suara Roy yang memohon kembali terngiang.

Dua puluh menit kemudian, ia sampai di depan sebuah bangunan tua bercat putih kusam dengan papan nama kayu yang sudah mulai lapuk: Panti Asuhan Kasih Bunda. Suara tawa anak-anak terdengar dari balik pagar besi yang berkarat, menciptakan kontras yang tajam dengan kegelapan yang selama ini menyelimuti hati Erlan.

Ia memarkirkan motornya di bawah pohon kersen yang rindang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia melepaskan helm dan merapikan rambutnya. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa lebih ringan di sini.

Erlan melangkah masuk. Seorang wanita paruh baya dengan senyum yang sangat hangat—mungkin pengurus panti yang dimaksud Roy—sudah berdiri di teras, menyambutnya.

"Mas temannya Roy, ya?" tanya wanita itu ramah.

Erlan hanya mengangguk singkat, tidak berani melakukan kontak mata terlalu lama. "Saya Erlan, Bu. Roy... tangannya kecelakaan, jadi saya yang gantiin."

"Oh ya ampun, kasihan Mas Roy. Tapi syukurlah Mas Erlan bisa datang. Anak-anak sudah kumpul di aula, mereka sudah tidak sabar. Mari, Mas, lewat sini."

Erlan mengikuti wanita itu dengan langkah kaku. Aula panti itu sederhana, hanya berupa ruangan luas dengan tikar yang digelar di lantai. Di sana, sekitar tiga puluh anak dari berbagai usia sudah duduk dengan rapi. Mata mereka yang besar dan penuh rasa ingin tahu langsung tertuju pada Erlan saat ia memasuki ruangan.

Hening sejenak.

Erlan merasakan tenggorokannya mengering. Ia merasa seperti sedang berdiri di hadapan juri paling ketat di dunia. Ia duduk di sebuah kursi kayu yang sudah disiapkan di depan, membuka tas gitarnya, dan mengeluarkan instrumen itu dengan gerakan yang sangat pelan.

Ia menatap barisan anak-anak itu. Beberapa dari mereka tampak cacat fisik, beberapa lagi memiliki tatapan yang terlalu dewasa untuk usia mereka—tatapan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah kenyang dengan kepahitan hidup. Erlan melihat dirinya sendiri di dalam mata-mata itu.

Ia memetik satu senar. Bunyinya jernih, menggema di ruangan yang sunyi itu.

Erlan menunduk, menatap lubang suara gitarnya. Ia menyadari satu hal. Di tempat ini, tidak ada yang peduli dengan siapa ibunya. Di tempat ini, tidak ada yang peduli dengan noda oli di tangannya. Di sini, ia hanya seorang pria dengan sebuah gitar.

Firasat itu datang tiba-tiba, sedingin es namun setajam pisau. Saat ia menempatkan jari-jarinya di atas fretboard, Erlan merasa bahwa setelah hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ini bukan sekadar acara amal; ini adalah kunci pertama dari belenggu yang selama ini mengikatnya.

Erlan memejamkan mata, membiarkan satu akor pembuka keluar dari hatinya yang paling dalam.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel