#2: Melodi yang terkunci
Getaran di setang motor itu perlahan merambat ke lengan Erlan, menyatu dengan gemetar di jemarinya yang tak kunjung reda. Ia kembali ke bengkel "Sinar Jaya" saat langit sudah benar-benar gelap, hanya untuk menemukan Roy masih duduk di depan pintu rolling door yang setengah tertutup, menyesap kopi dari gelas plastik.
"Gue kira lu bakal kabur ke ujung dunia," celetuk Roy tanpa menoleh. Suaranya datar, namun ada nada lega yang terselip di sana.
Erlan mematikan mesin motornya. Kesunyian mendadak tumpah, lebih berat dari suara bising knalpot tadi. Ia turun, melepaskan helm, dan menyampirkan tas punggungnya dengan gerakan kaku. "Gue cuma muter-muter. Cari angin."
"Angin Jakarta itu isinya polusi, Lan. Nggak bakal bikin paru-paru lu bersih, apalagi hati lu," Roy berdiri, menepuk debu dari celana mekaniknya yang belepotan oli. Ia berjalan mendekati Erlan, lalu menyodorkan selembar kertas yang sudah agak kumal. "Tadi ada yang ketinggalan di meja kerja lu."
Erlan melirik kertas itu. Jantungnya berdegup sekali, keras. Itu adalah coretan lirik yang ia tulis di sela-sela waktu istirahat siang tadi. Barisan kata yang gelap, penuh dengan metafora tentang belenggu dan suara yang dibungkam.
"Buang aja," kata Erlan dingin. Ia mencoba meraih kertas itu, namun Roy lebih cepat menariknya menjauh.
"Lu gila? Ini jenius, Lan. Gue udah baca berulang kali sambil nunggu lu balik. Progression nada yang lu tulis di pinggir kertas ini... gue bisa bayangin bass gue masuk di situ. Ini bukan sekadar lagu, ini ledakan."
Erlan mendengus, tawa hambar lolos dari bibirnya yang pecah-pecah. "Ledakan yang bakal bikin orang makin takut sama gue? Nggak, Roy. Gue udah selesai sama semua itu. Gue ini anak pembunuh, inget? Kalau gue teriak di depan mikrofon, orang nggak bakal denger musik. Mereka cuma bakal denger suara monster."
Roy menghela napas panjang, melangkah masuk ke dalam bengkel yang remang-remang. Ia menyalakan lampu neon tunggal yang berkedip-kedip di pojok ruangan, tempat sebuah gitar elektrik tua tanpa merk bersandar di dinding. "Dunia ini emang jahat, Lan. Tapi lu nggak bisa terus-terusan ngumpet di balik kunci pas dan oli bekas. Lu punya bakat yang bisa bikin orang-orang brengsek itu diem."
"Bakat nggak bisa hapus sejarah, Roy," sahut Erlan tajam. Ia mengikuti Roy masuk, namun langkahnya berhenti tepat di depan batas cahaya lampu. "Lu liat tadi siang, kan? Baru denger nama gue aja, orang udah narik anaknya menjauh. Gimana kalau mereka liat gue di atas panggung? Mereka bakal panggil polisi sebelum gue sempet petik senar pertama."
"Itu karena mereka belum denger yang sebenarnya!" Roy meletakkan kertas lirik itu di atas meja kayu. "Mainin buat gue, Lan. Satu kali aja. Lagu yang ini. Gue tahu lu udah dapet melodinya di kepala."
Erlan menatap gitar tua itu. Benda itu tampak seperti hantu dari masa lalu yang terus mengejarnya. Ia teringat masa-masa ketika ia masih percaya bahwa musik adalah kunci kebebasan, sebelum fitnah dan stigma mengunci pintu itu rapat-rapat.
"Nggak bisa, Roy."
"Cuma ada gue di sini. Nggak ada kamera, nggak ada wartawan, nggak ada bapak-bapak rese sama anaknya yang ketakutan. Cuma kita," desak Roy. Ia mengambil gitar itu dan menyodorkannya pada Erlan. "Tunjukin ke gue kalau lu masih hidup."
Tangan Erlan gemetar saat ujung jarinya menyentuh kayu gitar yang dingin. Ada dorongan purba yang meronta di dadanya, sebuah amarah yang butuh saluran keluar. Dengan gerakan ragu, ia mengalungkan tali gitar itu di bahunya. Ia mencolokkan kabel ke amplifier kecil yang tersembunyi di bawah tumpukan ban bekas.
Suara dengung listrik mengisi ruangan.
Erlan memetik satu akor minor. Distorsinya kasar, pecah, dan menyakitkan. Ia memejamkan mata. Tiba-tiba, wajah ibunya yang menangis dan tatapan menghina pria di bengkel tadi berputar-putar di kegelapan kelopak matanya. Ia mulai memainkan ritme yang cepat, sebuah riff gitar metal yang agresif namun melankolis.
Lalu, ia membuka mulutnya.
Bukan nyanyian merdu yang keluar, melainkan sebuah teknik vokal scream yang begitu dalam dan terkontrol. Suara itu keluar dari pangkal tenggorokannya, membawa beban penderitaan bertahun-tahun. Itu bukan sekadar teriakan; itu adalah sebuah instrumentasi rasa sakit yang terstruktur. Roy ternganga. Ia sering mendengar Erlan berlatih, tapi tidak pernah seperti ini. Suara Erlan bergetar dengan emosi yang begitu murni hingga bulu kuduk Roy meremang.
Erlan seolah kesurupan. Jari-jarinya menari di atas fretboard dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi seorang mekanik bengkel. Setiap nada adalah protes, setiap teriakan adalah deklarasi bahwa ia masih ada, meskipun dunia mencoba menghapusnya.
Tiba-tiba, Erlan berhenti. Ia melepaskan gitarnya dengan kasar hingga menimbulkan suara denting yang menyakitkan telinga. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahinya.
"Puas?" tanya Erlan, suaranya kini kembali serak dan lemah.
Roy terdiam beberapa saat, matanya masih terpaku pada Erlan. "Itu... itu gila, Lan. Lu nggak boleh simpen suara itu sendirian. Lu harus balik ke panggung. Kita bisa bikin band. Gue, lu, kita cari orang lain yang sefrekuensi—"
"Gue bilang nggak, ya nggak!" bentak Erlan. Ia melepas gitar itu dan meletakkannya kembali ke dinding dengan kasar. "Dunia nggak butuh kejujuran gue, Roy. Mereka cuma butuh sasaran empuk buat disalahin. Dan gue nggak mau kasih mereka alasan lagi buat hancurin hidup gue yang udah sisa kepingan ini."
Erlan menyambar jaketnya, tidak memedulikan tatapan kecewa Roy. Ia berjalan keluar menuju motornya, meninggalkan Roy yang masih berdiri terpaku di tengah bengkel yang sunyi kembali.
Beberapa jam kemudian, di dalam apartemennya yang sempit, Erlan duduk di lantai bersandarkan tempat tidur. Lampu kamar sengaja ia matikan. Hanya cahaya pucat dari lampu jalan di luar yang menerobos masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan di dinding.
Di pangkuannya, sebuah gitar akustik tua yang senarnya sudah berkarat tergeletak diam. Ia memetiknya pelan, sangat pelan, seolah takut suaranya akan menembus dinding dan memanggil setan-setan masa lalu. Melodi yang keluar kali ini sangat berbeda dengan apa yang ia mainkan di bengkel. Ini adalah ratapan yang sunyi, sebuah melodi yang menangisi mimpi-mimpi yang mati sebelum sempat tumbuh.
Ia teringat ibunya. Wanita itu dulu sering bersenandung sambil memasak, sebelum semuanya berubah menjadi darah dan jeritan. Erlan menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia merindukan kehangatan yang tak lagi mungkin ia miliki. Ia merindukan sebuah dunia di mana namanya tidak diikuti oleh bisikan-bisikan jahat.
Setiap kali ia mencoba untuk bangkit, bayangan "Anak Pembunuh" itu selalu menarik kakinya kembali ke lumpur. Ketakutannya akan sorotan publik bukan tanpa alasan. Ia tahu, sekali ia melangkah ke bawah lampu sorot, masa lalunya akan dikuliti habis-habis oleh mata-mata yang haus akan skandal.
Ia terus memetik gitarnya dalam gelap. Jari-jarinya mulai terasa perih karena menekan senar karat, namun ia tidak berhenti. Rasa sakit fisik itu jauh lebih mudah dikelola daripada rasa sakit yang menggerogoti jiwanya.
"Kenapa harus gue?" bisiknya pada kegosongan ruangan itu.
Pertanyaan itu tidak pernah mendapat jawaban.
Erlan menundukkan kepalanya dalam-dalam, dahi bersandar pada bodi gitar. Bahunya mulai berguncang. Di tengah keheningan malam Jakarta yang angkuh, Erlan membiarkan pertahanannya runtuh. Tidak ada suara teriakan metal yang garang kali ini. Hanya ada isakan senyap yang tertelan oleh kegelapan, sebuah tangisan dari seorang pemuda yang merasa dunianya telah berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Ia memeluk gitarnya erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah benih telah tertanam. Suara yang ia lepaskan di bengkel tadi tidak akan bisa ia lupakan begitu saja. Itu adalah bagian dari dirinya yang menolak untuk mati, sebuah melodi yang terkunci namun kini mulai meronta mencari jalan keluar.
Erlan terlelap dalam posisi duduk, dengan sisa air mata yang mengering di pipinya, tidak menyadari bahwa di tempat lain, takdir mulai menyusun rencana yang akan memaksanya untuk menghadapi dunia, suka atau tidak.
