Bab 8 Cemburu
Setelah pindah di rumah yang tak jauh dari rumah Rosita, Abyan merasa hari-harinya penuh kebahagiaan. Setiap pagi dan sore ia melewati rumah Rosita, dengan memelankan laju motornya ia mengamati rumah itu berharap bisa melihat pujaan hatinya. Kalau sedang beruntung ia bisa melihat Rositanya dan menyapa. Rosita selalu membalas sapaanya dengan senyuman.
Hari yang paling disuka Abyan adalah weekend, sabtu dan minggu. Di hari itu Abyan akan menyempatkan diri jogging ke lapangan di pagi hari, dan bertemu Rosita serta kakaknya Reza yang sedang bermain sepeda. Mereka akan berbincang bersama dan kadang bermain basket bersama di lapangan. Setelah itu Abyan mengajak kedua kakak beradik itu sarapan bubur ayam atau nasi uduk di kedai yang tidak jauh dari lapangan. Bahagianya Abyan, energi yang terkuras selama magang bagai terisi penuh kembali.
Sore itu seperti biasa Abyan pulang dari tempatnya magang, ia melambatkan laju motornya 100 m sebelum rumah Rosita.
Ada yang berbeda di rumah Rosita. Sebuah mobil sedan yang belum pernah dilihat Abyan terparkir di depan. Motor Abyan berhenti di bawah sebuah pohon. Mata Abyan menyipit memperhatikan keadaan di rumah Rosita.
Seorang anak lelaki seusia Rosita keluar dari pintu pagar rumah dan diiringi oleh Rosita. Begitu ia memasuki mobil, Rosita tersenyum dan melambaikan tangan.
Siapa anak lelaki itu?
Kenapa Rosita tersenyum?
Rasa cemburu menjalari pikiran Abyan. Ia tidak rela jika Rositanya menjalin hubungan dengan lelaki lain. Pikiran-pikiran buruk merasukinya.
Abyan sampai di rumah sambil menggerutu. Ia membanting pintu rumah sekencang-kencangnya lalu meneguk air dingin langsung dari botolnya.
Sialan! Siapa tuh bocah? Beraninya deketin Rosita!
Abyan masuk ke dalam kamar mandi lalu mengguyur dirinya tanpa melepas baju. Kepalanya terasa panas apalagi hatinya.
Setelah merasa sedikit reda, Abyan mandi kemudian memakai handuk lalu berpakaian.
Adzan maghrib berkumandang, Abyan pun sholat. Ia mengadukan rasa cemburunya pada Sang Pencipta.
Ya Allah jadikan Rosita menjadi jodohku dan jauhkan laki-laki lain dari dirinya!
Ya Allah jadikan aku satu-satunya lelaki yang menjadi suami Rosita kelak!
Aamiin!
Doa Abyan memang terdengar sedikit memaksa tapi begitulah Abyan yang sedang terbakar cemburu.
"Assalamualaikum. "
Siapa si jam segini bertamu?
"Waalaikum salam."
Reza berdiri di depan pintu sambil memegang tas berisi buku dan tempat pensil.
"Om Aby, Reza mau belajar dong. Ada PR susah banget."
"Adek kamu mana? Nggak ikut?"
"Di rumah lagi nonton TV."
"Nonton TV, bukannya belajar." Gerutu Abyan.
"Apa om?"
"Nggak, nggak ada apa-apa. Masuk!"
"Iya Om. Jangan galak-galak dong Om."
"Katanya mau belajar?"
"Iya Om."
"Yaudah masuk! Langsung belajar!"
Abyan mengajari Reza dengan keadaan tidak tenang. Penjelasan-penjelasan yang diberikan pada Reza disampaikan dengan nada ketus. Kejadian tadi sore masih berputar di kepala Abyan, ada pertanyaan yang ingin sekali diajukan pada Reza.
Reza menyadari kondisi Abyan, "Om kenapa sih dari tadi aneh banget?"
"Nggak pa-pa." Jawab Abyan dengan nada datar.
"Ada masalah ya om di kantor? Papa gitu om kalo lagi ada masalah, gak tenang, marah-marah."
"Kamu anak kecil tau apa. Eh tadi sore siapa yang ke rumah kamu?"
"Tadi sore?"
"Iya tadi sore. Bocah laki-laki."
"Bocah?"
"Iya. Seumuran Rosita."
"Temennya Rosita kali, Reza gak tau."
"Kamu gimana sih, jadi kakak kok gak tau adeknya maen sama siapa!"
"Reza tadi les renang om. Mana tau di rumah ada siapa."
"Lain kali kamu gak boleh gitu. Harus tau adek kamu main sama siapa. Adek kamu kan cewek, harus dijagain. Jaman sekarang banyak orang gak bener."
"Om kenapa sih, belum minum obat ya?"
"Dikasi tau malah ngeledek. Kids jaman now!"
"Lagian om tuh kalo mau tau yang tadi ke rumah siapa tanya aja Rosita itu kan temen dia atau tanya mama."
"Iya juga ya."
"Udah ah. Nomer berikutnya om, Reza gak ngerti."
