Bab 7 Pindah
Abyan sudah menyepakati harga sewa sebuah rumah di komplek yang sama dengan Rosita. Hanya beda satu blok dan untuk keluar komplek Abyan harus melewati rumah Rosita. Ini keuntungan bagi Abyan, ia bisa tiap hari melewati rumah Rosita sambil mengamati gadis pujaannya atau syukur-syukur bertemu tepat saat Rosita berangkat sekolah dan memberi tumpangan.
Semotor berdua dengan Rosita, indah sekali rasanya. Abyan tersenyum membayangkan.
Abyan membereskan barang-barang di kosannya. Buku-buku dan perlengkapannya sudah dirapikan dalam sebuah kardus besar. Abyan menyewa sebuah mobil pick up untuk membawa barang-barangnya.
Sebuah mobil sudah terparkir rapi di depan rumah kontrakan Abyan. Mobil yang sangat Abyan kenali, milik ayahnya.
Abyan memarkir motornya lalu bersegera mendekati ayah dan bundanya.
"Jadi ini rumah kontrakan kamu?" Tanya bunda saat Abyan membuka pintu rumah.
"Iya bun."
"Deket sama tempat magang?"
"Iya yah, lebih deket daripada kosan Aby."
Mereka masuk ke dalam, ayah dan bunda Aby melihat-lihat isi rumah itu. Kamar tidur, kamar mandi dan dapur juga tidak mereka lewatkan. Rumah dalam kondisi sangat baik.
"Kenapa pilih kontrak rumah bukan kosan?" tanya ayah sambil melihat langit-langit.
"Lingkungannya nyaman yah."
"Lingkungannya nyaman atau biar deket sama Rosita?" sindir bunda.
"Hehehe.... bunda emang paling tahu. Top deh."
"Inget By dia masih 9 tahun!"
"Iya bun."
"Biar udah 17 juga, kamu nggak boleh macem-macem sama anak gadis orang. Jaga pergaulan kamu! Bukan cuma sama Rosita sama gadis lain juga. Ayah nggak suka kamu pacaran kayak dulu!"
"Iya yah."
"Udah ngobrolnya mending mulai ngangkutin barang dari mobil. "
"Siyap bun."
Untung bunda nyelametin, kalo nggak bisa dapet kultum dari ayah. Kuliah tujuh puluh menit.
Abyan dan ayahnya mengangkut barang-barang dari mobil ke dalam rumah. Sementara bunda membantu merapikan di dalam rumah.
"Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam."
"Eh mamanya Rosita, mari masuk." Ucap bunda Abyan. Mendengar mamanya Rosita datang Abyan bersegera keluar dari kamar yang sedang dirapikannya. Ia berlari sampai sempat tersandung dan hampir jatuh untung tubuhnya cukup seimbang.
Hampir aja...
"Eh tante.." Abyan mencium tangan calon mama mertuanya.
"Buru-buru amat, By, sampe lari-lari gitu. Mamanya Rosita nggak kemana-mana kok." Sindir bunda.
"Eh... bunda bisa aja. Tan, sendirian aja?"
"Nggak, sebentar lagi juga yang dua nyusul pake sepeda."
“Yang dua?”
“Rosita dan Reza.”
“Owh....” Senyum terbit di wajah Abyan.
"Seneng ya By ada temennya."
"Iya yah.." Aby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh iya saya bawa ini." Mama Rosita menyerahkan sebuah termos air berisi sirup dingin.
"Tante tau aja, Aby lagi haus-hausnya. Seger banget ini!" Abyan menerima termos itu dan melihat isinya.
"Aby, gak tau malu ih!"
"Aby emang haus bun."
"Jujur banget kamu."
"Harus tan. Jaman hari gini susah loh nyari laki-laki jujur kayak Aby."
"Bisa aja kamu. Nah tuh Rosita sama abangnya udah dateng."
Tambah cantik aja calon bini gue.
"By, ngedip! Jangan lupa diri!" Bunda berbisik di telinga Abyan.
"Eh Rosi..." Abyan tersenyum.
"Rosita, gelas plastik sama camilan nya kasi om Aby."
"Iya, Ma."
Rosita turun dari sepedanya lalu mengambil gelas dan satu toples camilan dari keranjang sepeda.
"Nih, Om."
"Makasih Rosi... sayang."
Cape gue langsung ilang, lenyap tak berbekas. Gini ya rasanya lagi cape ketemu kesayangan.
"Aby itu minumnya dituangin, yang haus bukan cuma kamu loh."
"Iya bun, iya."
"Om Aby sekarang tinggal di sini?" Tanya kakak Rosita
"Iya."
"Ma, abang boleh ya main-main ke sini?"
"Boleh."
"Rosita juga boleh kalau mau main ke sini. Bukan cuma main, nanya-nanya PR juga boleh." Ucap Abyan.
"Rosita kan cewek om, masa main sama cowok?" Protes kakak Rosita.
"Kan bukan cuma main, om juga bisa ngajarin adik kamu kalo dia ada PR."
"Kalo gitu aku mau juga diajarin sama om. PR aku banyak om."
"Iya. Boleh."
"Makasih Om!"
Ini yang semangat malah abangnya.
Rosita hanya diam sambil memakan camilan mendengar kakaknya dan Abyan bicara.
