
Ringkasan
Abyan, mahasiswa berusia 20 tahun terpesona pada gadis kecil berusia 9 tahun yang merupakan cucu dari tetangganya. Ia tak percaya perasaannya sendiri, apakah ia seorang pedofil?Abyan bertekad menunggu sang gadis hingga cukup dewasa untuk ia nikahi. Inilah perjuangan seorang pria untuk memantaskan dirinya demi mendapatkan gadis idamannya.
Bab 1 Mata Indah
Libur lebaran memang paling enak kumpul bersama keluarga. Jutaan rakyat Indonesia melakukan hal yang sama tiap Idul Fitri tiba begitu juga Abyan seorang mahasiswa jurusan bisnis di sebuah universitas ternama melakukan hal serupa. Pulang ke rumah orang tuanya saat libur lebaran tiba.
"Bun, rumah kakek Dorman keliatan ramai." Ucap Abyan pada sang bunda setelah ia selesai membersihkan diri.
"Oh.. itu anak dan cucunya dari Jakarta datang." Bunda menjawab sambil mengaduk masakannya yang masih di atas kompor.
"Bukannya kakek Dorman gak punya anak?" Abyan penasaran sambil terus melihat ke arah jendela.
"Itu anak angkatnya, sudah lama merantau di Jakarta dan baru kali ini mereka pulang." Ucap bunda sambil mematikan kompor.
"O..." Abyan mengangguk.
"Nanti kamu anter makanan ke kakek Dorman ya? Bunda siapkan dulu."
"Ok."
Abyan melihat dari jendela rumahnya, ada keramaian di rumah sang kakek yang biasanya sepi. Mobil yang tak dikenal terparkir di sana dan suara gelak tawa serta perbincangan beberapa orang samar-samar terdengar.
"Aby, ini makanan yang harus kamu antar!" Bunda menunjuk sebuah rantang yang diletakkan di atas meja.
"Siap bun." Abyan mendekati rantang yang dimaksud bundanya.
Satu hari menjelang lebaran bunda memiliki kebiasaan mengantar makanan pada para tetangga dekat untuk berbagi berkah. Ada kenikmatan tersendiri ketika rezeki yang kita punya bisa dinikmati oleh orang lain.
Abyan menenteng rantang putih bercorak bunga menuju rumah kakek Dorman. Langkah Abyan terhenti di depan pintu rumah yang terbuka lebar. Suara tawa anak-anak menghiasi rumah yang biasanya sepi.
"Rosita, kembaliin mainan abang!" Teriak anak laki-laki dari dalam rumah.
Abyan berdiri di depan pintu, "Assalamualaikum. "
Bruk!
Prang!
Seorang anak perempuan berusia sembilan tahun berlari dengan cepat lalu menubruk Abyan. Alhasil rantang yang dibawa Abyan jatuh ke lantai. Untunglah rantang itu masih tertutup rapat hingga isinya tidak menghambur keluar.
"Maaf." Gadis kecil itu menatap Abyan dengan mata berkaca-kaca.
Abyan melihatnya, mata gadis kecil itu amat indah dan memukau Abyan, mata paling indah yang pernah dilihatnya. Selama beberapa detik Abyan menatap tanpa berkedip.
Wow, matanya...
"Maaf, rantangnya jadi jatuh." Gadis kecil itu meminta maaf dengan penuh rasa bersalah.
"Nggak papa, makanannya gak tumpah kok." Abyan mengambil rantangnya.
"Rosita, mana mainan aku?" Bocah lelaki berusia 11 tahun bertanya pada adiknya.
"Ini bang." Ucap Rosita sedih.
"Mama! Rosita nabrak om nih." Lapor si bocah lelaki pada ibunya yang baru saja datang menghampiri.
"Maafin anak saya ya!" ucap sang ibu dengan rasa bersalah.
"Nggak papa tante, biasa namanya anak-anak. Saya ke sini mau nganter ini!" Abyan menyerahkan rantang yang dibawanya.
"Kalau boleh saya tahu adek siapa ya?" selidik mama Rosita.
"Saya Abyan tante dari rumah seberang." Ucap Abyan sambil menunjuk rumahnya.
"O.. ini toh nak Abyan yang suka diceritain bapak."
"Iya, Tan."
"Makasih ya suka nemenin bapak main catur. Tapi bapak lagi keluar."
"Iya tan gak pa-pa, cuma mau anter titipan bunda aja."
"Tante ke dalem sebentar, kamu duduk aja dulu!" pinta mama Rosita sambil menunjuk sofa coklat yang ada di dalam ruang tamu.
"Iya tan."
Perempuan yang dipanggil Abyan tante berjalan ke dalam, Rosita yang hendak mengikutinya terhenti karena tangan Abyan mencekal pergelangannya.
"Kamu jangan pergi, kamu di sini temenin aku!"
"Hah?!" Rosita menatap bingung.
"Mata kamu bagus, aku suka."
Rosita makin bingung dengan kata-kata Abyan.
"Nama kamu Rosita kan, aku Abyan panggil aja Aby."
"Om Aby?" tanya Rosita dengan mata bulatnya.
"Jangan pake om, kak Aby aja."
"Gak mau. Om Aby aja." Tolak Rosita.
Percakapan keduanya terhenti karena kedatangan sang tante sambil membawa rantang.
"Abyan ini rantangnya, tante isi sedikit oleh-oleh. Kasih ke bunda kamu ya!"
"Makasih, Tan."
"Salam buat bunda kamu."
"Iya tan. Saya pulang dulu. Assalamualaikum."
“Waalaikum salam.”
Ada perasaan berbeda saat Abyan melangkahkan kakinya keluar dari rumah kakek Dorman. Hatinya terasa penuh dengan kebahagiaan.
Rosita. Matanya indah banget. Batin Abyan berkata.
Sampai di rumah Abyan menaruh rantangnya di atas meja makan. Suara tawa khas anak-anak terdengar dari rumah kakek Dorman.
Abyan berjalan ke arah jendela, dilihatnya Rosita dan kakaknya menyiapkan sepeda. Mereka menaiki sepeda dan mengayuhnya ke arah lapangan.
Abyan berpikir untuk menyusul mereka, ia berlari ke arah garasi. Sepedanya ada di sana.
"Sial, bannya kempes! " gerutu Abyan sambil memegang ban sepedanya.
"Bun! Bunda! "
"Ada apa teriak-teriak?"
"Pompa ban sepeda Aby mana bun?"
"Kemarin dipinjam kakek Dorman dan belum dikembalikan. "
"Yaah bunda."
"Kamu tinggal ke sana aja ambil pompa kamu."
"Gak lah gak jadi!" Abyan merasa kesal lalu pergi menuju kamarnya.
Rosita!
Rosita!
Rosita!
Batin Abyan berteriak ingin bertemu.
Abyan bangkit dari kasurnya lalu bergegas menuju keluar. Ia berjalan cepat menuju lapangan. Dilihatnya Rosita dan sang kakak bermain sepeda. Nafasnya terengah-engah, apalagi saat ini ia sedang berpuasa di hari terakhir Ramadan.
Abyan mengeluarkan ponselnya. Menekan aplikasi kamera lalu mengarahkan pada Rosita, perbesaran dilakukan beberapa kali sampai terasa pas.
Berkali-kali Abyan menekan layar touchscreen ponselnya, menghasilkan foto-foto Rosita dari kejauhan.
