Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Masih Cemburu

Sudah beberapa hari berselang sejak Abyan melihat bocah lelaki yang keluar dari rumah Rosita, rasa cemburu itu masih terasa. Harusnya Abyan tak perlu cemburu karena belum ada ikatan apapun diantara mereka. Rosita bebas berteman dengan siapapun dan Abyan tidak berhak melarang. Tapi perasaan Abyan tidak sejalan dengan logikanya.

Minggu pagi yang cerah setelah sabtu sebelumnya seharian mendung dan hujan, kesempatan bagi Abyan bertemu pujaan hatinya. Semoga pertemuannya hari ini mengahpus segala rasa cemburu yang terasa di hati.

Setelah shalat Subuh Abyan bersiap dengan pakaian olah raganya. Sepatu lari kesayangannya telah dikenakan. Abyan kemudian menyemprotkan parfum agar aromanya segar saat berdekatan dengan Rosita, walau sebelum shalat ia sudah mandi namun tetap saja ia khawatir gadisnya mencium aroma tak sedap dari keringatnya.

Abyan lari keliling komplek, mengelilingi blok rumah Rosita lebih tepatnya. 2 kali putaran sudah ia lakukan namun belum ada orang yang keluar dari rumah Rosita. Tiap kali melalui depan rumah Rosita Abyan memelankan laju larinya.

Rosita!

Ingin sekali Abyan teriak di depan rumah gadisnya agar ia keluar. Namun logika Abyan melarang. Bisa membangunkan seisi komplek jika ia teriak.

Di putaran ketiga, pintu rumah Rosita terbuka. Reza keluar dengan pakaian olahraga.

Rosita mana si?

Abyan mengamati dari kejauhan.

Pintu garasi rumah Rosita terbuka dari dalam. Sosok gadis berusia 9 tahun lebih beberapa bulan terlihat. Abyan merasa lega sekaligus senang.

"Rosita, mau ke lapangan ya?" Ucap Abyan setengah berteriak saat Rosita dan Reza baru saja menaiki sepedanya.

"Iya Om. Aku sama Rosita mau ke lapangan." Reza menjawab sambil menyiapkan sepedanya.

"Bareng dong." Ajak Abyan yang telah berdiri tepat di depan rumah Rosita.

"Nggak bisa bareng, Om kan lari kita pake sepeda, duluan kita lah." Jawab Rosita.

"Om bisa lari cepat nyaingin sepeda kamu." Abyan tak mau kalah.

"Ayo Om, buktiin!" Tantang Reza.

"Ok!"

Tanpa aba-aba Reza dan Rosita mengayuh pedal sepedanya, melaju cepat ke arah lapangan.

"Hei, tunggu!" Abyan teriak.

Abyan berlari secepatnya agar dapat menyusul kakak beradik itu. Namun tenaga Abyan sudah lumayan terkuras setelah 3 kali putaran mengelilingi blok rumah Rosita sehingga ia tertinggal jauh.

"Cape om?" Reza menyambangi Abyan dengan sepedanya.

"Hosh...hosh... Kalian cepet banget."

"Makanya jangan takabur om, om kan udah tua tenaganya udah berkurang."

"Sembarangan kamu! Om baru 20 tahun tau, masih muda!"

Rosita datang menyusul Reza, "Nih om minum dulu, tadi aku bawa air dari rumah." Rosita menyerahkan botol air miliknya.

"Kamu perhatian banget Ros, kak Aby jadi tambah sayang."

"Apa om?"

"E... itu...Sesama manusia kan harus saling menyayangi, iya kan?" Abyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu segera meminum air pemberian Rosita.

"Iya ya?" Rosita merasa bingung.

"Om aneh. Ayo Ros kita main di lapangan!" Reza berucap.

Reza dan Rosita melesat ke lapangan meninggalkan Abyan yang jaraknya sekitar 20 meter dari lapangan. Abyan meneguk kembali botol minum pemberian Rosita.

Botol minum Rosita, kalo Rosita minum dari botol ini juga berarti secara gak langsung bibir gue dan bibir Rosita bertemu.

Abyan tersenyum sendiri dengan khayalannya yang terlalu jauh itu.

"Rosita, ini botolnya!" Teriak Abyan dari pinggir lapangan sambil mengangkat botol.

Rosita menghampiri Abyan, " Masih ada airnya?"

"Iya, kak Aby sisain buat kamu. Kali aja kamu haus juga." Abyan menyerahkan botol itu pada Rosita.

Ayo Ros diminum!

Rosita membuka botol minumnya. Baru saja bibirnya hampir menyentuh botol, Reza datang menyambar botol itu dan menenggak isinya sampai habis.

Abyan kecewa, khayalannya pupus sudah.

"Eh Bagas, kok ada di sini?" Ucap Rosita.

Abyan yang mendengar perkataan Rosita, mengikuti arah tatapan Rosita. Dilihatnya bocah lelaki yang beberapa hari sebelumnya berkunjung ke rumah Rosita.

Mau apalagi ni bocah, ganggu aja!

"Kebetulan tante aku rumahnya di sini, aku lagi nginep." Bagas berucap sambil mendekati Rosita.

"O..gitu."

Stop! Jangan mendekat lagi!

Abyan menatap Bagas penuh benci.

"Project IPA yang kemaren kapan bisa kita kerjain lagi Ros?"

"Kalian ada tugas sekolah ya, om bisa bantu loh! " Abyan bergerak mendekati Rosita. Niat Abyan sama sekali bukan untuk membantu, ia hanya tidak ingin Rosita berdua-duan dengan Bagas.

"Om emang ngerti tugas kita?" Pertanyaan Bagas terdengar seperti merendahkan bagi Abyan.

"Hei bocah! Gue ini mahasiswa, tugas anak SD itu kecil buat gue!"

"Om Aby bisa bantu kami?" Ucap Rosita dengan mata bulatnya. Seketika itu juga rasa kesal Abyan hilang.

"Bisa dong, buat Rosita apa si yang nggak." Abyan tersenyum manis.

"Kita kerjain siang ini aja, om Aby kan libur kalo hari minggu. Ya kan Om?"

"Siap nona, buat kamu kak Aby selalu siap."

"Om Aby bisa aja." Mata Rosita berbinar bersamaan dengan senyumnya.

Jadi pengen buru-buru ngehalalin kamu Ros, tiap liat mata indah kamu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel