Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Nasehat Bunda

Abyan mengunyah kastangelsnya yang kesekian, hampir satu toples dihabiskannya. Saudara-saudara dari pihak ayah dan bundanya datang bergantian membuat Abyan harus menahan keinginannya mengunjungi rumah kakek Dorman. Semenjak pulang dari masjid belum sekalipun ia menginjakkan kakinya ke rumah kakek Dorman, padahal baru 2 jam sejak ia berpisah dengan Rosita tapi perasaan rindu itu begitu menyiksa. Kastangels kue favoritnya membantu Abyan mengalihkan perasaan.

"Aby, itu kue udah hampir habis." tegur bunda.

"Enak bun." Jawab Abyan sambil mengunyah dan melihat ke arah jendela.

Rosita mana ya? ck... keluar dong!

"Enak si enak tapi masa satu toples Kastangels mau kamu habiskan dalam waktu satu jam?" Bunda duduk di samping Abyan.

"Gak bisa berenti bun." Mata Abyan masih ke arah jendela.

"Enak banget ya tuh Kastangels sampe ada tamu juga kamu cuekin, salaman doang terus duduk deket jendela sambil makan Kastangels, bunda ngomong juga gak diliat." sindir bunda.

"Iya." Abyan menjawab sekedarnya, tak peduli.

"Kastangelsnya enak banget atau pengen liat Rosita?"

"Rosita." Abyan kelepasan bicara.

Ketahuan deh...

Bunda tersenyum, ia tahu anaknya sedang jatuh cinta. Semalam sang bunda sudah berdiskusi dengan suaminya mengenai Abyan dan kekhawatiran anaknya seorang pedofil, kenyataannya tidak ada ciri pedofil pada diri anaknya.

Walau Abyan telah berusia 20 tahun ayah dan bunda tetap terus mengawasi tanpa mendikte. Kedua orang tua Abyan berusaha sebaik mungkin menjalankan tanggung jawabnya.

"Rosita cantik ya?" selidik bunda.

"Mm..Iya." Abyan berhenti mengunyah dan toples Kastangels pun ditutupnya.

Abyan memutuskan untuk jujur pada bundanya. Karena ditutupi juga percuma, bundanya seperti cenayang yang selalu dapat mengetahui apapun masalah yang dihadapi anaknya.

"Kamu suka?" Bunda menatap anaknya.

"Banget." jawab Abyan disertai anggukan.

"Cinta?" Bunda bertanya lagi.

Anggukan adalah jawaban Abyan, kemudian menunduk. Abyan merasa tidak enak mengingat ucapan bunda kemarin. Bunda adalah orang yang paling Abyan hormati, satu kata kekecewaan bunda bisa membuat dirinya amat sedih.

"Kamu tau umur dia berapa?"

"9 tahun bun." jawab Abyan dengan suara lemah.

"Umur kamu?"

"20."

"Kalau kamu benar-benar cinta maka tunggu dia, sampai Rosita dewasa."

"Boleh bun?" Mata Abyan berbinar mendengar ucapan bundanya, yang menandakan sang bunda memberi restu.

"Boleh, tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Sebelum kalian resmi jaga diri kamu, jangan melakukan hal-hal yang melanggar agama. Itu satu."

Bunda mengambil toples yang ada di pangkuan putranya, kini ia yang membuka toples dan mencicipi penganan yang dibuatnya beberapa hari sebelum lebaran.

"Itu satu berarti ada yang kedua, apa lagi bun?"

"Yang kedua. Selama menunggu tingkatkan kualitas diri kamu, punya pendidikan yang baik, penghasilan memadai untuk menafkahi anak istri, keimanan yang baik sehingga kamu benar-benar layak menjadi imam dalam keluarga seperti ayah."

Susah banget ya

"Ada lagi bun?"

"Enggak. Kamu mau lagi?"

"Nggak bun, dua itu aja udah susah kayaknya."

"Kalau nggak bisa memenuhi kedua syarat itu , lupakan Rosita!" Bunda berkata tegas dan tajam.

"Bisa bun, bisa. Aby pasti bisa!" Aby meyakinkan diri.

Bismillah, gue harus bisa!

"Bunda akan pantau usaha kamu ke arah itu."

Bunda kembali mengambil sepotong Kastangels dan mengunyahnya.

"Tapi bun, kalau ada lelaki lain gimana?"

"Takut ada saingan ya?"

"Kita kan gak tau bun, di masa depan gimana. Apalagi Rosita masih muda, mungkin ada temen sekolah atau kakak kelas atau siapa aja bisa naksir dia. Secara Rosita itu cantik. "

"Gampang, berdoa sama Allah supaya Rosita jadi jodoh kamu dan menjaganya dari lelaki lain, Allah sebaik-baik penjaga."

"Udah bun."

"Kapan?"

"Pas sholat ied tadi."

"Jangan cuma sekali, berdoa tiap hari."

"Iya bun. Kastangelsnya enak ya bun? Sampe habis."

"Owh..hihihi." bunda melihat toples di tangannya yang sudah kosong.

"Bunda yang ngabisin ya bukan Aby."

"Iya. Dari pada duduk di sini aja mending ke rumah kakek Dorman, Rosita dan keluarganya mau berangkat ke rumah kakek dari pihak papanya."

"Jadi Rosita mau pergi?"

"Iya."

"Kok bunda bisa tau?"

"Tadi habis sholat Ied kan bunda ngobrol sebentar sama mamanya Rosita."

"Aby ke sana sekarang." Abyan berdiri dan bergegas pergi.

"Tunggu!"

"Apalagi si bun, nanti Rosita keburu berangkat?" Abyan menggerutu.

"Nih, kasih mamanya Rosita bilang dari bunda buat nyemil di jalan." Bunda memberikan setoples keripik pisang buatannya.

"Wah Aby jadi ada alesan dateng ke rumah kakek Dorman. Thank you bundaku yang paling cantik di dunia!" Abyan mencium pipi bundanya lalu pergi menuju rumah kakek Dorman.

Bunda menatap putra semata wayangnya yang setengah berlari keluar rumah. Putranya sedang jatuh cinta.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel