Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Calon Istri

Abyan berkali-kali mencari artikel tentang pedofil, untuk membuktikan dirinya bukan pedofil. Berbagai situs di internet ia buka dan membacanya dengan penuh teliti. Dia tidak pernah punya rasa suka sekuat ini saat melihat anak-anak lain. Hanya pada Rosita saja.

Dari beberapa artikel yang ia baca seseorang bisa dikatakan pedofil kalau ada rangsangan seksual saat melihat anak-anak sementara yang Abyan rasakan bukan seperti itu. Ia memang terpukau dengan mata indah Rosita tapi tidak terangsang secara seksual yang ada adalah keinginan untuk menyayangi, melindungi dan ingin selalu didekatnya.

Abyan merenung, perasaannya pada Rosita lebih kepada cinta ya Abyan telah jatuh cinta. Tapi Rosita masih anak-anak. Takbir yang terus terdengar di malam Idul Fitri sesekali diikutinya namun pikiran dan perasaannya hanya pada Rosita.

Rosita

Rosita

Abyan memegang dadanya, debarannya nyata untuk Rosita. Dan ini lebih dari apa yang ia rasakan dulu pada mantan pacarnya.

Dia masih anak-anak

Aku akan menunggu

ya menunggu sampai Rosita dewasa

Itulah kata hati Abyan. Dan ia sudah yakin akan menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan dan memiliki Rositanya.

Tapi berapa lama?

10 tahun?

15 tahun?

Abyan mondar-mandir di kamarnya, menimbang-nimbang berapa lama ia harus menunggu.

Menunggu

Hal yang paling membosankan

Abyan merebahkan dirinya di atas kasur dan perlahan terlelap.

Suara takbir semalaman terus berkumandang dan kini adzan subuh telah tiba, aktifitas pagi telah dimulai di rumah Abyan terutama persiapan untuk merayakan hari raya Idul Fitri.

Setelah shalat subuh, Abyan beserta kedua orangtuanya menikmati sarapan ringan sesuai sunnah Rasul untuk bersantap sebelum shalat Idul Fitri. Setelah bersantap, Abyan membantu bunda merapikan rumah lalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.

"Aby udah siap?" tanya bunda dari balik pintu kamar Abyan.

"Sebentar, Bun lagi pake koko."

Sambil mengancingkan baju kokonya Abyan melihat ke arah jendela, mencari Rosita diantara anggota keluarga kakek Dorman yang telah berada di beranda rumah mereka. Rositanya terlihat cantik dengan gamis dan jilbab putih khas anak-anak.

Mereka udah mau jalan.

Abyan bergegas keluar.

"Aby, bunda tungguin kok malah keluar duluan?" tanya bunda sambil mengekori Abyan.

"Bunda lama." Abyan berucap tanpa melihat ke arah bundanya.

"Kamu yang ditungguin dari tadi malah ninggalin bunda!" Bunda berucap sambil mengunci pintu.

Abyan menoleh, "Cepet bun!"

"Biar aja bun, udah gak sabar dia." ayah berkata sambil memberi kode pada bunda menunjuk pada keluarga Rosita yang sudah siap berangkat.

Abyan ingin berangkat ke masjid berbarengan dengan keluarga Dorman. Tentu saja karena ada Rosita.

Langkah Abyan yang cepat membuatnya sampai di halaman keluarga kakek Dorman tidak sampai 1 menit.

"Assalamualaikum om, tante, kakek Dorman." Abyan sedikit membungkukkan badannya tanda penghormatan.

"Waalaikum salam Aby, ayok ke masjid!" Kakek Dorman menepuk bahu Abyan.

"Baik kek."

Ayah dan bunda Abyan melihat interaksi Abyan dengan keluarga kakek Dorman dan keduanya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Jarak masjid dengan rumah mereka tidak terlalu jauh, sehingga hanya perlu berjalan kaki. Abyan yang awalnya berjalan di depan, memelankan langkahnya agar sejajar dengan Rosita.

"Rosi, kak Aby bawain ya mukena dan sejadahnya?" tawar Abyan.

"Nggak usah, Rosi bisa sendiri." Rosita menolak sambil terus berjalan.

"Biar gak cape." Abyan membujuk.

"Rosi gak cape." Rosita tetap menolak.

"Nak Abyan, Rosita memang gitu. Mandiri anaknya." Mama Rosita yang berada di dekat keduanya menjelaskan.

"Mandiri ya tan?"

"Iya."

Mandiri

Baguslah kalo gue tinggal kemana-mana gak bakal bikin khawatir.

Pas buat calon istri

Calon istri?

Abyan tersenyum sendiri dengan lintasan pikirannya.

Sampai di masjid Abyan duduk di bagian lelaki bersama ayah, kakek Dorman, papa Rosita dan kakaknya. Sementara Rosita di bagian perempuan bersama mamanya dan bunda.

Setelah sholat Ied dan mendengarkan khutbah dilakukan doa berjamaah. Bukannya mengaminkan doa yang dipanjatkan sang imam Abyan justru melantunkan doanya sendiri di dalam hati.

Ya Allah jadikan Rosita istriku di masa depan.

Ya Allah aku hanya menginginkan Rosita yang menjadi istriku.

Ya Allah yang Maha mengabukkan kabulkanlah doaku

Aamiin

Tak hanya sekali ia panjatkan namun berkali-kali hingga pembacaan doa selesai. Abyan berharap para malaikat yang hadir di tempatnya shalat saat ini ikut mengamini doanya.

Selesai sholat Ied para jamaah saling bersalaman, saling mendoakan dan bermaaf-maafan.

Abyan bersalaman dengan ayahnya lalu dengan kakek Dorman, papa Rosita dan Reza. Lalu mereka menemui Rosita, mamanya dan sang bunda yang sudah menunggu di pelataran masjid.

"Rosita salim sama om Aby!" Kakek Dorman berkata.

Rosita mendekati Abyan lalu mencium tangannya. Berdebar hati Abyan saat Rosita mencium tangannya. Setelah itu Abyan mengusap kepala Rosita dengan penuh senyum bahagia.

Di benaknya Abyan membayangkan saat dewasa nanti Rosita mencium tangannya dan ia mencium kening Rosita setiap mereka selesai sholat berjamaah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel