Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Pedofil?

Abyan memandangi hasil foto-foto yang didapatnya. Tersenyum sendiri sambil sesekali menyentuh layar ponselnya. Posisi tubuhnya berubah-ubah dari tengkurap menjadi telentang lalu tengkurap lagi namun matanya tetap pada layar ponsel.

"Aby, udah hampir Maghrib. Ayo siap-siap berbuka!" Ucapan bunda menyadarkan Abyan yang sedang berbaring di ranjang.

Ayah dan bunda sudah duduk di meja makan menunggu anak semata wayang mereka bergabung. Abyan segera duduk di tempat biasa, sambil menunggu adzan maghrib ia melihat foto-foto Rosita.

Saat berbuka Abyan menyantap hidangannya sambil melihat layar ponselnya seraya tersenyum.

"Lihat apa sih di hape? Serius banget."

"Oh ini foto." Abyan berkata tanpa melihat kedua orang tuanya yang penasaran dengan tingkah anaknya.

"Sekarang anak ayah gitu ya, liat hape mulu. Punya pacar?"

"Nggak, bukan pacar kok yah." Abyan menjawab dengan sedikit gugup.

"Simpen dulu hapenya, makan yang benar!" perintah ayah.

Abyan mematuhi ayahnya walau sedikit kesal. Dihabiskannya makanan yang menjadi jatahnya lalu menunaikan shalat maghrib.

Takbir menggema ke seluruh penjuru bumi. Begitu juga di kediaman Abyan. Ia melihat ke arah jendela, ada suasana ramai di rumah kakek Dorman. Rosita bersama keluarganya bermain kembang api.

Terbersit sebuah ide di kepala Abyan, ia segera menyambar kunci motornya lalu bergegas mengendarai motornya menuju ke sebuah toko kembang api.

Abyan menenteng keresek berisi kembang api setelah memarkirkan motornya di garasi. Ia berjalan ke arah halaman rumah kakek Dorman.

"Aku boleh gabung?"

"Boleh." Jawab bocah lelaki yang merupakan kakak Rosita.

"Aby, mari sini!" Ajak kakek Dorman.

"Iya kek."

"Sudah lama kita tidak main catur, kamu jarang pulang sejak kuliah."

"Maklumlah Pah, mahasiswa kan sibuk." Ucap Mama Rosita sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.

"Tante tau aja."

"Dulu juga waktu tante jadi mahasiswa ya gitu." Mama Rosita menyerahkan segelas minuman pada Abyan, “Minum dulu By!”

“Iya, Tan. Makasih.” Abyan menyesap minumannya sambil melihat Rosita yang sedang menyalakan kembang api.

"Aby, ayo main catur!" ajak kakek Dorman.

"Pah, malam takbiran gini ngajak maen catur. Lagian tuh nak Abyan ngeliatin anak-anak terus yang lagi main kembang api, sepertinya dia ke sini bukan buat main catur."

"Oh iya hampir lupa Tan, ini saya punya kembang api buat Ro... anak-anak."

"Wah anak-anak pasti senang. Rosita!"

"Ya mah." Rosita yang dipanggil segera mendekati ibunya.

"Ni, om Aby bawa kembang api buat kalian." Sang tante menyerahkan keresek berisi kembeag api pada Rosita.

"Asiik, maen kembang api lagi." Mata Rosita berbinar diikuti oleh senyum yang terbit di wajah Abyan.

"Aku bantu nyalain kembang apinya ya?" Tawar Abyan.

"Ok, Om."

"Panggil kakak aja!" Pinta Abyan.

"Om!" Rosita tetap pada pendiriannya.

"Okelah untuk sementara."

"Ayo om kita main!"

Abyan sangat menikmati bermain kembang api bersama Rosita dan kakaknya. Beberapa kali ia mengabadikan momen itu dengan foto dan video.

Malam semakin larut, Rosita pun mengantuk. Beberapa kali ia menguap.

"Rosi ngantuk?"

"Iya om."

"Ya udah bobo aja. Aku juga mau pulang, udah malem."

"Iya om."

Abyan kemudian berpamitan pada kakek Dorman dan kedua orang tua Rosita. Lalu pulang ke rumah.

Sampai di kamarnya Abyan langsung membuka galery ponselnya melihat foto-foto yang diabadikannya tadi dan memutar videonya. Ia asik sekali menyaksikan sebuah video yang memperlihatkan tawa Rosita saat bermain kembang api sampai tak sadar sang bunda telah ada di sebelahnya.

"Serius banget nontonnya?"

"Eh bunda."

"Video main kembang api tadi?"

"Iya bun."

"Rosita cantik ya?"

"Banget, matanya bagus."

"Kamu suka?"

Abyan menjawab pertanyaan ibunya dengan anggukan.

"Bunda gak bisa atur kamu suka dengan siapa tapi perlu kamu ingat umur Rosita itu 9 tahun dan kamu 20 tahun. Dia masih anak-anak kamu udah dewasa."

"Aby tau bun soal perbedaan usia itu."

"Dia masih anak-anak Aby. Kamu bukan pedofil kan?"

"Ya bukan lah bun."

"Bunda gak mau punya anak yang menderita kelainan seksual." ucap bunda tegas lalu pergi dari kamar Abyan.

Abyan memikirkan kata-kata bundanya. Lalu meneliti kembali perasaannya pada Rosita. Ia melihat kembali foto-foto Rosita dan rasa suka yang teramat sangat itu kembali hadir. Tidak pernah ada rasa itu pada perempuan selain Rosita. Abyan pernah berpacaran tapi perasaannya tidak sedalam saat ia berinteraksi dengan Rosita.

Pedofil? Apa aku pedofil?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel