Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 6

"Freyya! Freyya buka nak."

Tok! Tok! Tok!

"Freyya!!"

"Freyya!!"

Freyya yang tengah tengkurap menonton drakor di layar laptopnya spontan langsung melompat dari ranjang kemudian berjalan cepat untuk membukakan pintu kamarnya.

"Kamu ini. Lagi apa sih didalem? Dari tadi mama panggil-panggil juga."

Freyya cengengesan sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.

"Maaf mah, Freyya lagi nonton drakor."

"udah cepat ganti baju, kita pergi ke butik nya bunda Edsel malam ini. Edsel sama orangtua nya udah nunggu kita disana."

"Hah? Pergi ke butik mah? Kenapa mendadak sih? Freyya kan males iih!!" Rengek Freyya pada Lucy.

"udah cepet, mama sama papa tunggu kamu di bawah."

"Tapi mah...ah! Mama mah ga asik!" Freyya menghentak-hentakkan kakinya sambil menatap punggung mama nya yang perlahan menjauh.

-----

Mobil yang dikendarai oleh Gustin telah sampai di sebuah butik. Freyya, Lucy, dan juga Gustin keluar bersamaan dari dalam mobil.

Freyya melangkahkan kakinya memasuki butik dengan langkah malas. Padahal, malam ini ia sudah berencana menghabiskan waktunya untuk menonton drakor. Heuh.

Kedatangan keluarga Gustin di sambut hangat oleh para pegawai yang

bekerja dibutik tersebut.

"Bapak Gustin ya?" Tanya salah satu pegawai wanita itu.

"Iya, saya Gustin."

"Bapak sudah ditunggu oleh bapak Evans, mari saya antar."

Gustin mengangguk. Ia, Lucy dan Freyya pun berjalan mengikuti pegawai tersebut.

"Itu bapak Evans pak." Pegawai tersebut menunjuk sopan pada Evans dan Elys yang tengah duduk di sofa yang tak jauh dari mereka.

"makasih." Ujar Gustin mengulas senyumnya. Setelah permisi pada keluarga Gustin, pegawai itu pun kembali pada tempatnya semula.

Gustin serta istri dan putrinya berjalan menghampiri keluarga Evans. Evans yang menyadari ada seseorang yang berjalan kearahnya, refleks menoleh. Ia tersenyum menatap keluarga Gustin yang tengah berjalan menghampirinya.

Melihat Evans yang beranjak, Elys pun mengikuti. Ia juga mengulas senyumnya.

Gustin dan Evans saling bersalaman, begitupun dengan Elys dan juga Lucy. Merasa tengah dilihati oleh Elys, Freyya tersenyum kikuk. Ia mencium punggung tangan Evans dan Elys bergantian.

"Cantik banget kamu." Elys tersenyum menatap Freyya kemudian mencolek hidung gadis itu gemas.

"Makasih tante."

"Ayo-ayo silahkan duduk." Ujar Evans dan diangguki oleh keluarga Gustin.

"Putra mu dimana Lys?" Tanya Lucy, karena sedari tadi ia tidak melihat sosok Edsel.

"Oh, Edsel lagi ke toilet sebentar."

"Om, tante." Tiba-tiba saja Edsel datang. Lelaki itu segera menghampiri Gustin dan Lucy, mencium punggung tangan mereka.

Edsel duduk di samping Elys. Matanya mengarah pada gadis cantik yang duduk di samping Gustin. Ia tersenyum pada Freyya, namun gadis itu malah membuang muka.

"Berhubung Edsel udah dateng, ayo kita langsung aja ngeliat gaun pengantinnya." Ujar Elys seraya beranjak dari duduknya dengan diikuti pula oleh yang lain.

Mereka semua berjalan menuju tangga, dimana disana lah tempat gaun-gaun pengantin di pajang.

Mata mereka langsung disuguhkan oleh beberapa patung yang terbalut gaun pengantin megah nan mewah ketika mereka telah sampai di lantai dua.

"Ini nak, bunda udah milih gaun ini buat kamu. Apa kamu suka?" Elys menunjuk sebuah gaun berwarna putih tanpa lengan, dengan corak berwarna biru muda sebagai pelengkapnya.

"Bagus sih tan.."

"Bunda sayang." Ralat Elys, tersenyum geli.

Freyya tersenyum kikuk, "I..iya, maksud Freyya bunda."

"Kamu suka engga? Atau kamu mau milih gaun yang lain?"

"Menurut aku sih bagus Lys, kayaknya cocok di tubuh Freyya." Celetuk Lucy.

"Kalo gitu gimana kalo Freyya coba dulu?" Usul Elys dan langsung di angguki oleh semuanya.

"Mel!"

Wanita yang dipanggil 'Mel' oleh Elys menoleh. Ia berjalan menghampiri Elys, kemudian menunduk patuh.

"Ada apa bu?"

"Bantu Freyya coba gaun ini ya."

"Baik bu."

"Mari." Sambung Mely, seraya tersenyum ramah pada Freyya. Freyya pun mengangguk mengikuti.

"Sambil nunggu Freyya, ayo kita duduk dulu." Ujar Evans. Mereka pun menghampiri sebuah sofa, mendudukkan tubuhnya disana.

Huh! Kenapa gue jadi ga sabar gini ya pengen cepet-cepet nikah sama Freyya? Seseorang yang selama ini gue suka, akhirnya menikah juga sama gue!

"Mah, bun."

Kelima manusia yang tengah berbincang di sofa itu sontak menoleh ke sumber suara.

Mereka tercengang kagum. Terutama Edsel. Mulut serta mata lelaki itu terbuka sempurna menatap Freyya yang terlihat begitu cantik dengan gaun yang ia kenakan sekarang.

Elys dan Lucy berlari menghampiri Freyya, melempar senyum padanya.

"Ya ampun sayang, kamu cantik banget!" Ujar Lucy, seraya meminggirkan rambut sepunggung Freyya ke belakang.

"Bener Lys, cantik banget! Gaun nya cocok banget. Aku jadi engga sabar nunggu hari-H."

"Lo cantik manis." Celetuk Edsel, yang kini telah berada di belakang Freyya. Elys dan Lucy saling pandang lalu tersenyum.

"Ma...makasih." Balas Freyya tampak gugup.

Sedangkan di sofa, Gustin dan Evans tampak tersenyum melihat kearah istri serta putra-putri mereka.

Duh, gue semakin ga sabar mau nikah sama lo Ya'. batin Edsel.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel