Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 7

"FREYYA WOYY!! TUNGGU GUE!!"

Freyya refleks memberhentikan langkah ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke samping, menatap Edsel yang tengah mengatur nafasnya.

"Lo ngapain?"

"Huh! Lo mah tega tinggalin gue! Gue tadi jemput lo, tapi lo malah pergi duluan." Ujar Edsel, menatap Freyya kesal.

"Sorry, gue buru-buru soalnya." Alibi Freyya.

Edsel mengangkat satu alisnya bingung, "Buru-buru? Buru-buru kenapa?"

"Ya...ya buru-buru aja!"

"Ga jelas." Ujar Edsel seraya merangkul bahu Freyya.

"Apa-apaan sih Sel, malu ih di liatin tuh!" Freyya hendak menyingkirkan lengan Edsel namun, Edsel malah menahannya. Lelaki itu semakin mengeratkan rengkuhan nya.

"Edsel!!!"

"Stt, diem. Gausah ladenin orang-orang yang liatin kita, mungkin mereka iri ngeliat lo di peluk sama cogan kek gue." Edsel melirik para siswi yang tengah menatap kearahnya dan juga Freyya.

Freyya yang mendengar kalimat kepedean Edsel, spontan langsung menyikut perut lelaki itu. Edsel meringis. Namun, ia tidak melepaskan rengkuhan nya.

"Kepedean!"

"Biarin, emang faktanya begitu kan?"

"Serah lo!"

"Jutek amat, gue cium nih?" Goda Edsel, mencolek hidung Freyya gemas.

Freyya mendongak menatap Edsel tajam sambil mengepalkan tangan kanannya didepan wajah lelaki itu.

"Nih!"

"Galak, gue jadi semakin ga sabar mau nikah sama lo tau gak?"

"Bodoamat."

"kek nya kita berdua udah cukup jadi tontonan gratis. Yuk, gue anterin lo ke kelas."

"serah lo."

-----

Bel istirahat telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kini, Freyya tengah melamun duduk di bangku taman belakang sekolah seraya menikmati semilir angin yang entah mengapa membuatnya merasa nyaman.

Freyya memikirkan acara pernikahan nya dengan Edsel besok. Ia ragu. Ia tidak tahu bisa atau tidak membina rumah tangga bersama Edsel dengan umur yang masih terbilang cukup muda.

Freyya ingin menolak. Namun, ia tidak ingin membuat beban untuk papa nya. Ia tidak ingin papa nya kepikiran hingga nanti akan membuatnya drop. Apalagi, ketika mengingat penyakit yang diderita oleh papa nya saat ini.

"Gue cariin lo ternyata lo malah disini."

Suara bass milik Edsel terdengar membuat Freyya refleks menoleh kearahnya. Ia menatap Edsel yang tengah mendudukkan bokongnya disamping nya.

"Ngapain?" Tanya Freyya.

"Seharusnya itu gue yang nanya. Lo ngapain disini sendiri? Ga istirahat? Tadi gue liat, kedua temen lo itu ada di kantin."

"Gue lagi pengen sendiri aja. Lagi pula mereka udah tau kalo gue disini, gue udah bilang." Balas Freyya dan Edsel hanya beroh-ria.

"Ga nyangka ya Ya' kita besok nikah." Edsel tampak mengulas senyumnya, menatap wajah cantik Freyya dari samping.

"Lo seneng?"

"jelas."

"Kenapa?"

"Karena gue sayang sama lo."

Freyya tampak terkejut mendengar ucapan Edsel. Jadi, Edsel menyukainya?

"Lo... suka sama gue?" Tanya Freyya ragu.

"Bukan suka lagi, tapi sayang, cinta juga."

"Oh." Freyya mengalihkan pandangannya ke depan.

Tapi, gue gak ada perasaan sama lo Sel.

"Kok oh? Lo ga suka atau cinta gitu ke gue?"

Freyya kembali menatap Edsel, "Kalo gue bilang engga, lo akan marah?"

Edsel terkekeh kecil mendengar pertanyaan Freyya. Ia mengacak rambut gadis itu gemas.

"Kenapa gue harus marah? Justru dari situ gue harus bisa bantu lo buat suka juga ke gue. Lo percaya kan, kalo cinta datang karena terbiasa?"

Freyya mengangguk ragu.

"Nah, dari situ. Semoga dengan terbiasanya kita bareng-bareng, rasa itu datang di hati lo dengan sendiri nya."

"Hm, semoga." Gumam Freyya.

"Btw, lo gak marah atau kesel gue deket-deket sama lo kek sekarang ini?"

"Tadi nya sih mau iya. Tapi gue gak tega mau ngusir lo, gimana pun kan lo calon suami gue."

Edsel tertawa pelan mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Freyya barusan. Astaga, mengapa ia jadi gemas sendiri pada gadis itu?

"Cie, udah bisa nerima gue nih ceritanya?" Edsel mencolek pipi Freyya, sambil terus tersenyum menatapnya.

"Belum sih."

"Terus?"

"Gue lagi belajar buat bisa nerima lo aja."

"Ahh!! Kok gemessss mau peyukk!!" Edsel merentangkan kedua tangannya didepan Freyya. Namun, Freyya refleks memundurkan tubuhnya dan menahan tangan Edsel supaya tidak memeluk nya.

"Jijik oon! Dan kalo sampe lo peluk gue, gue hajar lo sekarang juga!"

"Hajar aja, emang lo berani?"

"Berani lah!"

"Oke! Sebelum lo hajar gue, gimana kalo gue cium lo dulu?" Edsel menampilkan smirk nya sambil menaik-turunkan alisnya menggoda Freyya.

"Iihh!! Emang ya lo tuh mesum!!!!!" Freyya memukuli lengan Edsel. Namun, bukannya marah Edsel malah tertawa melihat kedua pipi Freyya yang kini bersemu merah.

"Udah udah ampun, sakit sayang."

"Bodoamat!!"

Freyya semakin gencar memukuli lengan Edsel. Hingga ide jahil terlintas dipikiran Edsel untuk mengerjai gadis itu.

Edsel menahan kedua tangan Freyya yang sibuk memukuli lengannya. Ditatapnya mata Freyya yang tengah menatapnya juga.

Cup.

Edsel mencuri kecupan singkat pada pipi kanan Freyya. Setelah nya, ia pun segera berlari terbirit-birit guna menghindari amukan gadis itu.

"EDSEL MESUM!!!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel