Part 5
Tok! Tok! Tok!
"Sayang! Cepat turun, dibawah udah ada nak Edsel."
Didalam kamar Freyya tampak mendengus kesal setelah mendengar teriakan mama nya dari luar kamar. Pasalnya semenjak insiden semalam, Evans--ayah Edsel menyuruh Edsel untuk berangkat sekolah bersama dengan Freyya. Begitupun pulangnya, katanya.
Setelah dirasa sudah siap, Freyya pun menggendong ranselnya lalu bergegas keluar kamar.
"Lama banget." Omel mama nya.
"Ya, maaf mah kan Freyya abis siap-siap."
"yauda ayo cepet, nak Edsel udah nunggu dibawah."
Freyya dan Lucy pun berjalan beriringan menuruni tangga. Ketika pada tangga terakhir, Freyya menangkap sosok Edsel yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel nya.
"Nak Edsel." Panggil Lucy membuat sang empunya menoleh.
Edsel tersenyum. Ia menyimpan ponselnya disaku celana kemudian beranjak.
"Pagi manis." Ujarnya, menatap wajah Freyya yang tampak kesal.
"Apaan sih!"
"Loh? Engga boleh kayak gitu dong sama calon suami."
Freyya memutar bola matanya malas, sementara Edsel tersenyum simpul.
"Udah ah mah, Freyya berangkat ya."
"engga sarapan dulu?"
"Nanti bisa disekolah, oh iya papa mana?"
"Papa masih di kamar lagi siap-siap."
"Yaudah, salam aja ya buat papa. Aku berangkat dulu." Ujar Freyya, lalu mencium punggung tangan Lucy.
"Edsel juga berangkat ya tan-"
"Mama dong."
Edsel cengengesan, "Oh iya. Edsel berangkat ya mah, salam juga buat papa." Sambungnya seraya mencium punggung tangan Lucy.
"Assalamualaikum." Ujar Edsel dan Freyya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati nak!"
Edsel dan Freyya mengangguk menanggapi.
"Ayo manis!" Edsel merengkuh bahu Freyya tanpa ada rasa malu sedikitpun. Freyya hendak menyingkirkan tangan besar Edsel pada bahunya. Namun, Edsel malah semakin mengeratkan rangkulannya. Freyya pun pasrah. Ia tidak bisa apa-apa selain mendengus kesal.
Ck, mencari kesempatan dalam kesempitan.
-----
Freyya keluar dari mobil Edsel tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada lelaki itu. Bahkan, mengucapkan terimakasih pun tidak.
Dengan terburu-buru Edsel pun keluar dari mobilnya.berniat menyusul Freyya yang sudah lebih dulu keluar. Edsel menarik tangan Freyya pelan membuat gadis itu spontan memberhentikan langkahnya. Dihempaskan nya tangan Edsel dengan kasar dan ditatapnya kesal wajah lelaki itu.
"Apa sih?!"
"Ga ada basa-basi nya sama sekali yah calon bini gue ini. Ucapin makasih kek, atau kasih kecupan kek....eh! Tunggu gue dong manis!"
Edsel segera melangkah menyusul Freyya yang berjalan meninggalkannya.
"Kok gue di tinggalin?" Tanya Edsel yang kini sudah berjalan disamping Freyya.
Pertanyaan Edsel tidak di gubris oleh Freyya. Gadis itu masih tetap memfokuskan langkahnya.
"Iya deh gue di kacangin." Edsel tampak menghembuskan nafasnya pelan sambil terus berjalan beriringan dengan Freyya menyusuri koridor.
Banyak pasang mata yang menatap kearahnya dan juga Freyya. Ada yang menatapnya kagum bahkan iri. Ide jahil seketika terlintas begitu saja di pikiran Edsel ketika beberapa siswi menyapa dirinya.
Edsel segera merengkuh bahu Freyya hingga membuat tubuh gadis itu otomatis langsung mendekat padanya. Freyya meronta. Ia sangat risih mendapat tatapan serta bisikan dari beberapa siswi yang menatapnya.
"Diem, atau gue cium lo disini sekarang juga!" Bisik Edsel, terdengar tegas ditelinga Freyya.
"Sialan!"
-----
"Assalamualaikum! Selamat pagi anak-anak!" Sosok pria paruh baya berjalan memasuki kelas sebelas IPA satu membuat keadaan kelas yang semula ramai mendadak diam. Pria itu, pak Sam--guru fisika.
"Wa'alaikumsalam pak!"
"Simpan buku paket dan buku catatan kalian ke dalam tas masing-masing, hari ini kita akan melaksanakan ulangan harian."
Para siswa terkejut setelah mendengar ucapan pak Sam yang memberitahu bahwa hari ini akan diadakan ulangan dadakan.
"Kok gitu pak? Mendadak banget!"
"Tau nih bapak!"
"Ah, gak asik pak!"
"Sudah diam! Jika diantara kalian ada yang tidak terima, silahkan keluar dari sini sekarang juga!"
Para siswa menunduk takut. Mereka pun hanya mampu menghembuskan nafasnya pasrah.
Jika semua siswa terlihat begitu cemas dan takut, sangat berbeda dengan Edsel yang malah sebaliknya. Lelaki itu terlihat santai sambil memainkan bolpoin yang berada di tangan kanannya.
Pak Sam mulai membagikan kertas ulangan tersebut. Setelah dirasa semua siswa telah terbagi semua, pak Sam kembali ke depan.
"Kerjakan soalnya dengan jujur dan benar! Jangan bermain-main, kalian harus serius! Ini nilai tambahan untuk kalian. Jika ada soal yang menurut kalian kurang jelas silahkan tanyakan pada bapak."
"Iya pak!"
"Selamat mengerjakan! Yang sudah selesai, silahkan, dan bapak izinkan keluar!"
Pak Sam kembali duduk di tempatnya. Para siswa pun mulai mengisi soal yang ada dikertas ulangan tersebut.
"Aduh, kok tiba-tiba mata gue burem yak?"
"Ini gimana lagi, susah bener. Nyesel gue semalem kagak belajar!"
"Stt, stt. Nomer dua dong!"
"hm! Kerjakan dengan jujur!"
Semua siswa langsung terdiam setelah mendengar suara tegas pak Sam.
Mampus! Mereka ternyata ketahuan.
Pak Sam beranjak dari duduknya, berjalan mengitari beberapa siswa yang tengah mengerjakan soal.
Para siswa menggerutu dalam hati. Jika seperti ini maka mereka tidak bisa berbisik bahkan menyontek. Nah kan, makanya kejujuran itu penting.
"Pak."
Edsel mengangkat tangan kanannya, sambil menoleh ke belakang--tepatnya pada pak Sam.
Pak Sam berjalan menghampiri Edsel, "Ada apa Edsel? Apa ada soal yang kurang jelas?"
Edsel menggeleng, ia tersenyum sambil memberikan kertas ulangannya pada pak Sam.
"Saya udah selesai pak."
Seketika, semua pasang mata langsung tertuju pada Edsel. Mereka menatap Edsel kagum sekaligus iri.
"Wah, ini! Ini, kalian contoh Edsel! Dia sangat pandai mengerjakan soalnya!" Pak Sam mengulas senyumnya, sambil mengangkat kertas ulangan Edsel tinggi-tinggi.
"Pak!"
Pak Sam menoleh ke belakang, tepatnya pada meja yang ditempati oleh kedua sahabat Edsel--Cavan dan juga Ryan.
Pak Sam menghampiri mereka.
"Ada apa? Apa kalian juga sudah selesai?"
Cavan dan Ryan mengangguk, lalu tersenyum lebar. Mereka sama-sama memberikan kertas ulangan tersebut pada pak Sam.
"Wah! Bapak bangga pada kalian!"
"Apa kita boleh keluar pak?"
"Tentu!"
"Makasih pak!"
Edsel dkk beranjak dari duduknya, segera bergegas keluar kelas untuk menuju ke basecamp mereka.
