Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 4

Dress merah selutut tanpa lengan yang membalut tubuh mungil gadis itu terlihat sangat pas di tubuhnya. Tidak kebesaran tidak pula kekecilan. Make-up natural pada wajahnya membuat gadis itu terlihat tampak lebih cantik, dengan rambut sepunggung yang dibiarkan tergerai indah.

Ceklek!

Mendengar suara pintu kamarnya terbuka, membuat gadis yang tengah bercermin itu menoleh kearah pintu. Ditatapnya wanita paruh baya dengan dress yang sudah membaluti tubuhnya.

"Sayang, kamu cantik banget." Tangan kanan Lucy memegang pipi Freyya sambil melempar senyum.

Freyya tersenyum tipis, "mama bisa aja."

"udah siap kan?"

Freyya mengangguk.

"Emm...sebenernya siapa sih mah calon suami Freyya? Freyya kepo."

Lucy mengulas senyumnya, "Nanti kamu akan tau, sekarang keluarga calon suami kamu lagi di perjalanan menuju kesini." ujar Lucy kemudian memberikan sebuah penutup mata kepada Freyya.

"Itu buat apa mah?"

"Kamu harus pake ini."

"Ih, gamau ah mah."

"udah nurut aja."

Lucy mulai memasangkan penutup mata itu pada mata Freyya, "engga kekencengan kan?"

"Engga mah."

"yauda, yuk kita turun ke bawah."

-----

"Aduh bun, yah, ini mata Edsel gelap ih. Udah nyampe belum sih? Edsel buka juga nih penutup mata lama-lama."

"Sabar, sebentar lagi kita sampe." Ujar Elys sedikit gemas. Semenjak keluarga kecilnya berangkat, Edsel tidak henti-hentinya mengoceh didalam mobil.

"Udah sampe ya yah?" Tanya Edsel, ketika merasakan mobil yang dikendarai oleh ayah nya tidak lagi bergerak.

"Iya udah sampe, kamu tunggu di belakang dulu biar bunda yang bantu kamu keluar." Balas Evans lalu keluar dari mobil dengan diikuti oleh Elys.

Elys membuka pintu mobil jok kedua guna membantu putranya keluar. Setelah menutup pintu mobilnya kembali, ia menggandeng lengan Edsel kemudian menuntunnya masuk ke dalam. Sedangkan di samping Elys, Evans tampak berjalan dengan gagahnya.

"Assalamualaikum." Ujar Elys dan Evans bersamaan begitu mereka memasuki rumah sahabat Evans itu.

"Wa'alaikumsalam." Sahut seseorang dari dalam. Tak lama kemudian, sepasang suami istri datang menyambut kedatangan keluarga kecil Evans.

"Wah, akhirnya udah dateng. Gimana? Apa perjalanan nya macet malam ini?" Gustin dan Lucy menghampiri Evans dan Elys kemudian bersalaman.

"Ya, lumayan."

"Ayo masuk, putri ku udah nunggu didalem." Ujar Gustin, dan Evans serta Elys pun mengangguk. Mereka berjalan memasuki rumah megah milik keluarga Gustin.

Mata Elys menangkap seorang gadis dengan balutan dress nya yang sudah duduk disofa berwana putih itu. Mata gadis itu ditutupi oleh sebuah penutup mata, sama seperti putranya kini.

Sepertinya cantik.

Elys menuntun Edsel duduk di samping gadis itu. Setelahnya, ia pun duduk disamping Evans sementara Gustin duduk di samping Lucy.

"Silahkan, kalian buka penutup matanya."

Suara Gustin mengintruksi Edsel dan Freyya, membuat mereka perlahan membuka penutup matanya.

"LO?!" Ujar Edsel dan Freyya bersamaan. Mata mereka membulat terkejut. Bahkan, jemari mereka pun kini saling menunjuk.

Sedetik kemudian Edsel menyunggingkan senyumannya. Berbeda hal nya dengan Freyya yang malah menatapnya kesal.

Uhuyyy! Ternyata bener Freyya calon bini gue!

Iih! Sial! Kenapa harus Edsel sih?!

keduanya sama-sama membatin.

"Loh, kalian udah saling kenal?" Tanya Evans.

"Udah." Balas Edsel dan Freyya bersamaan membuat mereka saling pandang.

"Ngapain lo ikutin gue?!" Tanya Freyya galak.

"Lo tuh yang ikutin gue." Edsel gemas menatap wajah galak Freyya, hingga ia mengacak pelan rambut gadis itu.

Freyya membulatkan matanya, spontan saja ia langsung melayangkan pukulan-pukulan kecil pada lengan Edsel yang terbalut tuxedo hitam nya.

"Iih!! Berantakan kan!!!" ujar Freyya.

Orangtua Freyya dan Edsel saling pandang menatap putra putri mereka. Terbesit rasa syukur dihati mereka karena melihat Edsel dan Freyya yang sudah saling kenal.

Ya iyalah saling kenal, orang Edsel sering mengganggu Freyya disekolah.

Edsel segera menahan tangan Freyya lalu berbisik, "Stt, jaim dikit elah."

"Bodo amat." Balasnya, sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

"Kalian lucu yah, bunda ngga nyangka ternyata kalian udah saling kenal. Ah, senang nya." Ujar Elys sambil tersenyum lebar.

"Iya Alhamdulillah. Udah cepet Tin, kita bicarakan kapan tanggal yang pas buat mereka." Tambah Evans.

"Baiklah, kita langsung ke intinya aja. Gimana kalo kita langsungkan pernikahan nya hari sabtu aja? Kan kebetulan mereka berdua libur kalo hari sabtu sama minggu. Jadi, pas hari minggu mereka bisa istirahat."

"Aku sih setuju, tiga hari lagi kan hari sabtu. Lebih cepat lebih baik." Ujar Lucy.

"Nah, bener banget aku juga setuju." Tambah Elys.

"gimana kalo kalian berdua?" Tanya Evans pada Edsel dan Freyya.

"Terserah om." Freyya tersenyum tipis pada Evans. Jaim katanya.

"Kamu gimana Sel?"

"Lah Edsel sih nurut aja yah. Bener kata tante Lucy tadi, lebih cepat lebih baik. Ya gak Ya'?" Edsel menaik-turunkan alisnya guna menggoda Freyya. Freyya sontak menyikut perut Edsel gemas, membuat lelaki itu meringis.

"Alhamdulillah kalo kalian setuju." Gustin mengulas senyumnya, "Ayo silahkan dimakan cemilannya, diminum juga." sambungnya dan dibalas anggukan oleh Evans dan Elys.

"Emm...maaf. Om, tante, mah, pah, Freyya ke belakang dulu ya." Ujar Freyya, beranjak meninggalkan ruang tamu menuju ke taman belakang.

"Edsel juga ke belakang sebentar ya, permisi."

Edsel tersenyum sekilas, lalu berjalan menuju taman belakang rumah Freyya untuk menyusul gadis itu.

Mata Edsel menangkap sosok Freyya yang tengah duduk di bangku taman tersebut. Pandangan gadis itu menatap pada beberapa tumbuhan yang bergerak-gerak terhempas angin malam.

Edsel lantas melepas tuxedo nya kemudian menenteng tuxedo itu ditangan kanannya. Ia berjalan menghampiri Freyya lalu langsung menyampirkan tuxedo miliknya pada tubuh Freyya.

Freyya terkejut. Ia sontak menoleh ke samping dan mendapati Edsel yang sudah duduk disana dengan mengenakan kemeja putihnya saja.

"Dingin." Ujar Edsel, seraya membenarkan letak tuxedo nya yang menyampir di bahu Freyya. Freyya diam. Matanya kembali menatap ke depan.

"Lo ga mau ya nikah sama gue?"

"Gak!"

Edsel tersenyum geli. Ternyata gadis ini semakin galak saja.

"Tapi gue mau loh, malah gue seneng setelah tau calon istri gue itu lo."

"Bodoamat."

"Lo ikhlaskan ngabulin permintaan papa lo? Gue aja ikhlas, masa lo anaknya engga."

Freyya menatap Edsel yang tengah menatapnya juga, "Lo tau darimana?"

"Bokap lo kan sahabat bokap gue, ya jelas gue tau dong."

"Seandainya, papa ga sakit kayak gini. Pasti.."

"Pasti lo ga akan dijodohin sama gue?"

"Iya!"

Edsel tersenyum tipis, "Kalo emang pada dasarnya kita jodoh atas dasar Tuhan, gimana?"

"Bodo ish! Gue mau masuk!"

Freyya hendak beranjak, namun Edsel lebih dulu menarik gadis itu kedalam pelukannya. Freyya terkejut. Entah mengapa, ia merasa nyaman berada dipelukan lelaki ini.

Cup!

Edsel mencium puncak kepala Freyya, membuat gadis itu terdiam membisu.

"Tiga hari lagi ya." Bisik nya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel