Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Pulang

"Kenapa kau kunci pintunya?" ucap Barnes. Ara menepuk jidatnya sendiri, gadis itu benar-benar lupa jika pintunya dia kunci.

"Ma-af, aku menguncinya karena tadi aku pergi mandi dan aku lupa membuka kuncinya," tutur Ara.

Wajahnya menjadi merah seperti tomat, tapi selang beberapa menit Ara mengubah mimik wajahnya saat melihat gadis yang ada di belakang Bernas.

"Oiya ... Ara, perkenalkan ini adikku." Bernas menarik tangan gadis itu hingga berdiri berjajar dengannya.

"Halo ...," sapa gadis itu dengan ramah. Gadis itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Ara. Justru Ara terlihat masih sedikit canggung. Namun, akhirnya Ara membalas uluran tangan dari gadis itu. "Namaku Jean," lanjutnya tersenyum.

"Aku———Ara," balas Ara sambil tersenyum.

Dibalik senyuman itu, Ara mengira jika Jean adalah sosok gadis yang jutek.

***

"Kau sedang mencari pekerjaan?" tanya Jean disela-sela makan malamnya bersama dengan Barnes dan juga Ara. "Eh, serius makanan ini enak sekali," lanjut Jean memuji masakan Ara.

Jean dan Barnes kompakan menatap Ara. Pujian dari Jean dibenarkan oleh Barnes. Laki-laki itu pun mengacungkan jempol kanannya.

"Sepertinya kau sangat berbakat di dunia perdapuran," celoteh Jean dengan memasukkan sendok ke mulutnya. Suapan terakhir dan sempurna masuk ke dalam perut. "Kau punya pengalaman kerja di mana?" lanjutnya.

"Restoran," jawab Ara singkat.

"Mungkin kau bisa membantunya, Jean. Tempat kerjaku sedang membutuhkan tenaga pria. Jika yang dibutuhkan tenaga wanita, aku akan membawa Ara untuk bekerja di tempatku." Barnes menatap Ara, lalu berpindah ke Jean. "Bolehkah aku memakan habis sayuran ini?" tunjuk Barnes pada piring yang isinya sayur brokoli.

"Tentu saja. Lagi pula aku sudah kenyang. Mungkin Ara iki makan lagi?" Jean memegangi perutnya.

"Ti-tidak. Aku sudah kenyang. Kau boleh menghabiskan sayuran itu. Tidak baik juga membuang sayuran," tukas Ara.

Setelah makan malam mereka bertiga duduk santai di ruang depan. Mereka terlihat sedang serius. Tentu saja mereka bertiga sedang membahas masalah pekerjaan.

"Kau sangat pandai di dapur. Kau memang cocok kerja di restoran atau mungkin juga kerja rumahan," cicit Barnes.

"Hmm ... Ara, apa kau pernah bekerja di rumahan?" tanya Jean. Ara menggelengkan kepalanya. "Jika kau minat kerja rumahan, aku akan coba mencari info di tempatku kerja. Seminggu yang lalu aku sempat mendengar bahwa majikan ku akan mencari asisten maid."

"Asisten maid?" Ara mengulang kata-kata itu. Jean pun menganggukkan kepalanya.

"Aku akan mencoba mencari tahu infonya terlebih dahulu. Nanti jika info yang aku dapat sudah akurat, aku akan mengirim kabar pada Kak Barnes, tapi tentunya kau harus siap tidur di dalam."

"Aku tidak masalah jika harus tidur di dalam asalkan aku bisa bekerja," balas Ara.

"Baiklah. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku harus segera kembali ke rumah majikan ku," jelas Jean.

"Aku pikir kau akan menginap dan pulang besok," kata Barnes.

"Tidak bisa. Tadi aku izin keluar hanya sampai jam 8 malam. Hari ini sudah ada beberapa maid yang izin pulang," imbuh Jean dengan wajah yang sedikit letih.

"Perlu aku antar?" tawar Barnes.

"Tidak perlu kak. Jarak dari sini ke rumah majikan juga tidak terlalu jauh jadi aku bisa pulang sendiri." Jean bangkit dari duduknya.

Setelah berpamitan Jean kembali pulang ke tempat kerjanya. Tinggallah Ara dan Barnes yang sedang membereskan ruang depan.

"Kau tidak khawatir dengan adikmu itu?" tanya Ara mencairkan suasana agar tidak sepi.

"Tidak. Jean sudah terbiasa dengan kehidupannya. Tadinya aku tidak mengizinkan Jean untuk bekerja. Aku ingin dia kuliah dan biar aku saja yang bekerja, tapi Jean tidak mau. Justru dia ingin segera bekerja agar bisa membantu keuangan keluarga di kampung."

Ara mengangguk.

Setelah mereka menyelesaikan membersihkan ruang depan. Keduanya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Di dalam kamar Ara terbaring di atas ranjang milik Jean. Dalam hati Ara, dia berharap akan mendapatkan kabar baik dari Jean.

"Semoga saja aku segera mendapatkan pekerjaan. Aku tidak ingin membuat ibuku di kampung khawatir. Dia pasti akan sedikit saat mendengarkan kabar berita tentang ujiannya yang menimpaku. Ya Tuhan, kenapa engkau memberiku cobaan yang begitu sangat berat." Ara meraupkan kedua tangan ke wajahnya.

Dan begitulah Ara mulai mempersiapkan segalanya untuk melamar pekerjaan sebagai tukang masak di Keluarga Chase, hingga hari seleksi pun tiba.

Pagi itu ditemani oleh Barnes, Ara berangkat menuju alamat di mana Jean bekerja di sana.

Kebetulan, tempat kerja Barnes dan Jean hanya selisih beberapa blok saja.

Tak terasa, Barnes berhenti.

Jantung Ara berdegup kencang kala melihat rumah yang mereka tuju sudah mulai ramai dengan gadis-gadis yang hendak melamar kerja.

Ara begitu takjub dengan keadaan rumah mewah itu. Bak istana di negeri dongeng, rumah itu sangat megah dan indah.

"Rumah ini besar sekali," ucapnya tanpa sadar.

Barnes tertawa pelan mendengarkan celotehan Ara. Barnes begitu sangat lega, akan tetapi di balik itu semua dia merasa sedih karena akan berpisah dengan Ara.

Sepertinya, rumahnya akan kembali sepi seperti semula.

"Ara, kau bisa bergabung dengan lainnya di sana. Sebentar lagi mungkin akan dimulai penyeleksiannya."

Ara mengangguk, "Kau akan menunggu di sini?"

"Tidak, Ara. Aku harus kerja. Aku sudah memberitahu Jean," terang Barnes. "Ara, ingatlah pesanku padamu. Hidup ini keras, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri dan tetap berhati-hati. Untuk seleksi ini kau harus percaya diri jika kau akan diterima bekerja di rumah ini. Jika ada waktu luang main lah ke rumah," lanjut Barnes.

Hal itu dijawab dengan anggukan kepala dari Ara. "Kita pasti bertemu kembali. Lagi pula aku dan Jean kerja di satu tempat."

Ara melangkah penuh percaya diri bergabung dengan para peserta lainnya.

Hanya saja, peserta yang mendaftar tampaknya semakin banyak.

Ara tampak pesimis, dia berpikir jika dirinya tidak akan lolos seleksi.

Sebab gadis-gadis lain yang berdatangan mereka semua tampak berpenampilan cantik dan modis, sedangkan dirinya berpenampilan sederhana!

"Tolong berbaris yang rapi!"

Suara wanita yang begitu lantang dan tegas mendadak terdengar.

Manik mata wanita paruh baya itu memperhatikan para gadis yang melamar kerja di rumah megah tersebut.

Semua pelamar kerja, termasuk Ara sontak menurut, mereka merapikan barisan masing-masing.

"Kami akan memulai menyeleksi. Kami hanya membutuhkan dua orang saja," lanjutnya lagi.

Mendadak suasana menjadi riuh. Semua pelamar langsung protes. Dari sekian banyak pelamar hanya dua orang yang akan beruntung kerja di istana megah itu?

"Maaf. Bukannya di selembaran tertera membutuhkan lima orang. Kenapa anda bilang hanya membutuhkan dua orang?" sela seseorang yang memprotes.

Albertina langsung menoleh ke arah suara tersebut dan menatap tajam gadis itu. Para pelayan yang ada di dalam ruangan tersebut langsung memberi kode dengan jari telunjuk menempel di mulut mereka masing-masing, bahkan ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Albertina terus menatap gadis itu hingga gadis tersebut menundukkan kepalanya.

"Ma-maaf."

Kemudian wanita paruh baya tersebut menatap lainnya. "Masih ada yang ingin protes?" teriak Albertina. "Jika masih ada yang protes, maka aku akan langsung mencoretnya dari daftar. Termasuk dia!" Albertina menunjuk gadis yang pertama kali protes.

Deg!

Tidak ada yang berani menjawab atau menatap Albertina. Semua menunduk ke bawah termasuk Ara. Albertina pun memulai penyeleksian.

Dari penyeleksian itu banyak pelamar kerja yang gugur. Entah tes apa yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut hingga banyak yang berguguran. Hal itu membuat nyali Ara semakin menciut dan pasrah.

Hingga pada akhirnya orang yang berdiri di depan Ara maju ke depan. Ara semakin gemetaran dan gugup serta dia merasa takut jika dirinya akan gugur juga seperti yang lainnya. Termasuk gadis yang berdiri di depannya. Gadis itu tidak lolos seleksi. Gadis itu melangkah lesu dengan wajah yang sangat sedih dan sekarang giliran Ara.

Ara maju ke depan dengan langkah pelan dan gemetaran. Dia berdiri di depan Albertina.

"Siapa namamu?"

"Ara Shanelly," ujar Ara sambil memperhatikan Albertina yang tengah membaca sebuah kertas.

Di sisi lain, Albertina menatap Ara, wanita paruh baya itu memperhatikan gadis cantik yang sedang berdiri di depannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Pergilah ke dapur dan buatkan aku menu masakan yang spesial," pinta Albertina pada Ara.

Ara terkejut mendengarkannya. Dia berdiri mematung di sana. Tiba-tiba Ara diserang rasa gugup yang teramat sangat. Padahal selama kerja di restoran Ara tidak pernah merasa gugup!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel