Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Seleksi Ketat

Hangatnya mentari pagi dan udara segar yang menyapa pagi itu dapat membuat mood lebih baik untuk memulai aktivitas. Selain itu mentari pagi seringkali ditunggu banyak orang untuk dinikmati keindahannya. Perpaduan antara sinar mentari pagi dan embun membuat suasana pagi makin sempurna.

Begitu pula dengan suasana hati Ara pagi itu. Ara yang tidak bisa tidur, akhirnya tertidur pulas tepat pada jam dua belas dan dia bangun lebih pagi dari biasanya. Ya, Ara bangun tepat pukul empat.

Ara mempersiapkan segalanya untuk melamar pekerjaan sebagai tukang masak di Keluarga Chase. Tentu saja hal itu akan membuatnya berpisah dengan Barnes. Jika andaikata Ara diterima kerja, tentunya Ara akan menginap dan tidur di rumah Keluarga Chase.

Pagi itu ditemani oleh Barnes, Ara berangkat menuju alamat di mana Jean bekerja di sana. Tempat kerja Barnes dan Jean hanya selisih beberapa blok saja.

Ada pertemuan pasti akan ada perpisahan dan itu sudah pasti. Ara sangat sedih akan hal itu, tapi dia pun tidak mungkin berlama-lama tinggal di rumah Barnes. Namun, justru Barnes terlihat sedih. Laki-laki itu berpikiran jika dia tidak akan pernah bertemu dengan Ara lagi. Ara malah meledek Barnes hingga mereka berdua tertawa bersama.

Ara benar-benar merasa terbantu, bahkan dia bisa melupakan kejadian yang telah menimpanya. Terlebih lagi dia bisa melupakan Ryan.

Saat tiba di sebuah rumah yang elegan, Barnes berhenti. Barnes mengangkat kepalanya dan menatap rumah tersebut. Masih terlihat sepi, tapi di dalam sana pasti sudah disibukan dengan segala aktivitas.

"Apa kita sudah sampai?" kata Ara.

"Belum," balas Barnes.

"Lalu kenapa kita berhenti? Aku pikir kita sudah sampai tempat tujuan," timpal Ara.

"Aku bekerja di rumah ini," kata Barnes menjelaskan.

"Wah, rumahnya besar sekali," ujar Ara takjub.

"Lebih besar rumah yang akan kau tuju nanti. Ayo, kita lanjutkan lagi perjalanan. Datang lebih awal akan lebih baik. Kau akan mendapatkan nomor antrian awal dan tidak perlu menunggu lama."

Beberapa blok sudah dilewati, tibalah mereka berdua di rumah yang dituju yaitu rumah Keluarga Chase.

Rumah itu sudah mulai ramai dengan gadis-gadis yang hendak melamar kerja. Walaupun belum begitu banyak yang datang.

Barnes mengajak Ara masuk ke halaman rumah keluarga Chase. Ara begitu takjub dengan keadaan rumah mewah itu. Bak istana di negeri dongeng, rumah itu sangat megah dan indah.

"Kau benar, Barnes. Rumah ini jauh lebih besar," celoteh Ara.

Barnes tertawa pelan mendengarkan celotehan Ara. Barnes begitu sangat lega, akan tetapi di balik itu semua dia merasa sedih. Barnes sedih karena akan berpisah dengan Ara dan rumahnya akan kembali sepi seperti semula.

"Ara, kau bisa bergabung dengan lainnya di sana. Sebentar lagi mungkin akan dimulai penyeleksiannya."

Ara mengangguk, "Kau akan menunggu di sini?"

"Tidak, Ara. Aku harus kerja. Aku sudah memberitahu Jean," terang Barnes. "Ara, ingatlah pesanku padamu. Hidup ini keras, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri dan tetap berhati-hati. Untuk seleksi ini kau harus percaya diri jika kau akan diterima bekerja di rumah ini. Jika ada waktu luang main lah ke rumah," lanjut Barnes.

Hal itu dijawab dengan anggukan kepala dari Ara. "Kita pasti bertemu kembali. Lagi pula aku dan Jean kerja di satu tempat."

Ara melangkah penuh percaya diri bergabung dengan para peserta lainnya. Peserta yang mendaftar makin siang semakin banyak. Tentu saja itu membuat Ara frustrasi.

Ara semakin pesimis, dia berpikir jika dirinya tidak akan lolos seleksi. Sebab gadis-gadis lain yang berdatangan mereka semua tampak berpenampilan cantik dan modis, sedangkan dirinya berpenampilan sederhana.

"Wah, pasti aku tidak akan lolos seleksi," kata Ara memasang muka manyun. Namun, Ara kembali ingat pesan Barnes dan juga Jean. Mereka berdua meminta Ara untuk percaya diri dan optimis. "Aku tidak boleh membuat Barnes dan Jean kecewa. Aku mendapatkan info kerja ini juga dari Jean." Ara kembali bersemangat. Namun, dari tadi Ara belum bertemu dengan Jean.

Jelang siang seorang wanita paruh baya dengan seragam khusus melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan. Wanita tua itu memakai seragam yang berbeda dengan seragam pelayan lainnya. Wanita tua itu adalah asisten rumah tangga senior di Keluarga Chase dan dia bernama Albertina.

Wanita itu berdiri di depan sebuah meja, yang di mana di atas meja itu terdapat tumpukan berkas para pelamar kerja. Manik mata wanita paruh baya itu memperhatikan para gadis yang melamar kerja di rumah megah tersebut.

"Tolong berbaris yang rapi!" teriak Albertina dengan tegas. Semua pelamar kerja menurut, mereka merapikan barisan masing-masing. "Kami akan memulai menyeleksi. Kami hanya membutuhkan dua orang saja."

Mendadak suasana menjadi riuh. Semua pelamar langsung protes. Dari sekian banyak pelamar hanya dua orang yang akan beruntung kerja di istana megah itu.

"Maaf. Bukannya di selembaran tertera membutuhkan lima orang. Kenapa anda bilang hanya membutuhkan dua orang?" sela seseorang yang memprotes.

Albertina langsung menoleh ke arah suara tersebut dan menatap tajam gadis itu. Para pelayan yang ada di dalam ruangan tersebut langsung memberi kode dengan jari telunjuk menempel di mulut mereka masing-masing, bahkan ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Albertina terus menatap gadis itu hingga gadis tersebut menundukkan kepalanya.

"Ma-maaf."

Kemudian wanita paruh baya tersebut menatap lainnya. "Masih ada yang ingin protes?" teriak Albertina. "Jika masih ada yang protes, maka aku akan langsung mencoretnya dari daftar. Termasuk dia!" Albertina menunjuk gadis yang pertama kali protes.

Tidak ada yang berani menjawab atau menatap Albertina. Semua menunduk ke bawah termasuk Ara. Albertina pun memulai penyeleksian.

Dari penyeleksian itu banyak pelamar kerja yang gugur. Entah tes apa yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut hingga banyak yang berguguran. Hal itu membuat nyali Ara semakin menciut dan pasrah.

Hingga pada akhirnya orang yang berdiri di depan Ara maju ke depan. Ara semakin gemetaran dan gugup serta dia merasa takut jika dirinya akan gugur juga seperti yang lainnya. Termasuk gadis yang berdiri di depannya. Gadis itu tidak lolos seleksi. Gadis itu melangkah lesu dengan wajah yang sangat sedih dan sekarang giliran Ara.

Ara maju ke depan dengan langkah pelan dan gemetaran. Dia berdiri di depan Albertina.

"Siapa namamu?"

"Ara ...."

"Nama panjang?"

"Ara Shanelly," ujar Ara sambil memperhatikan Albertina yang tengah membaca sebuah kertas.

Albertina menatap Ara, wanita paruh baya itu memperhatikan gadis cantik yang sedang berdiri di depannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Pergilah ke dapur dan buatkan aku menu masakan yang spesial," pinta Albertina pada Ara.

Ara terkejut mendengarkannya. Dia berdiri mematung di sana. Tiba-tiba Ara diserang rasa gugup yang teramat sangat. Padahal selama kerja di restoran Ara tidak pernah merasa gugup.

Akankah Ara lolos seleksi dan bekerja di rumah mewah Keluarga Chase?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel