Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Dewa Penolong

Ara menuruti permintaan Barnes. Gadis itu mengikuti Barnes pulang sampai ke rumahnya. Ara tertegun ketika sampai di rumah Barnes.

"Selamat datang di gubuk kecilku." Barnes mempersilahkan Ara untuk masuk ke dalam rumahnya.

Ara masuk ke dalam rumah Barnes. Saat menapaki rumah tersebut, seketika itu juga Ara teringat pada sosok sialan yang membuat hidupnya menjadi hancur. Hal itu membuatnya kesal dan bercampur dengan sedih.

"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan." Barnes menghibur Ara.

"Aku tahu itu, tapi aku juga tidak ikhlas karena semua jerih payahku harus sia-sia." Ara terlihat sangat kesal. Sangat terlihat jelas di wajahnya.

"Jika memang itu milikmu, pasti akan kembali padamu kelak. Namun, jika itu bukan milikmu, maka Tuhan akan memberi gantinya dengan yang lain. Percaya padaku." Barnes memberi pengertian pada Ara. Gadis itu kemudian mengangguk dan tersenyum.

"Terima kasih telah membuka pikiranku," ucap Ara.

"Tidak masalah. Tunggu di sini dulu." Barnes menyuruh Ara untuk duduk dan menunggu di ruang tamu.

Barnes melangkah masuk ke dalam salah satu ruangan yang berada tidak jauh dari tempat Ara duduk.

Sembari menunggu Barnes. Ara memperhatikan sekeliling rumah Barnes. Rumah yang sangat sederhana dan rapi. Padahal yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda. Beberapa menit setelah itu, Barnes keluar dan tersenyum pada Ara.

"Kau bisa tidur di kamar ini."

"Hah?" ucap Ara karena lambat menangkap ucapan Barnes.

"Kau bisa beristirahat di kamar ini. Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu dan aku letakkan di atas kasur gulung," jelas Barnes.

"Pa-pakaian untukku," balas Ara kikuk.

"Jangan salah paham. Aku tinggal dengan adikku dan pakaian yang aku siapkan untukmu itu adalah pakaian milik adikku," jelas Barnes.

"A-adikmu?" Ara merasa tidak enak.

Barnes tersenyum melihat reaksi Ara. "Iya, adikku. Aku pikir ukuran pakaian adikku sama persis denganmu. Kau tidak perlu sungkan seperti itu. Anggap saja di rumah sendiri," jelas Barnes.

"Lalu di mana adikmu?" tanya Ara karena sedari tadi Ara tidak melihat siapapun selain dirinya dan Barnes.

"Adikku tidak di rumah. Dia kerja di rumah keluarga yang sangat kaya raya. Mungkin besok dia akan pulang ke rumah dan aku akan coba menanyakan padanya apakah di tempat dia kerja sedang membutuhkan tenaga?"

"Aku jadi merepotkan mu," ujar Ara lesu.

"Tidak masalah. Sesama perantauan harus saling tolong menolong. Kau bisa beristirahat dulu, aku akan membersihkan badanku."

Selama Barnes mandi, Ara melihat foto yang berdiri berjajar pada sebuah lemari kayu. Ara hampir kelepasan tertawa saat melihat sebuah foto. Di dalam foto itu ada dua anak kecil dengan pose sangat lucu. Ara bisa menebak jika dua anak itu adalah Barnes dan Ara.

Ara bergerak ke kanan untuk melihat beberapa foto dan dia berdiri mematung saat melihat sebuah foto seorang perempuan cantik. Ara terus menatap foto itu.

"Aku merasa tidak asing dengan foto itu," kata Ara. Bukan foto perempuan itu yang mengalihkan atensi Ara, tapi pada sebuah foto kecil yang memang terpasang pada satu bingkai dan foto itu berada di sudut kanan bingkai. "Aku seperti pernah bertemu dengan sosok anak laki-laki ini." Ara mencoba mengingatnya, tapi dia tidak bisa mengingat kenangan masa kecilnya.

Sepuluh menit berlalu, Barnes keluar dari kamar mandi dengan memakai setelan kaos dan celana pendek. Dengan keadaan rambut yang masih basah Barnes sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Barnes melihat Ara yang tengah duduk di sofa.

"Kau bisa memakai kamar mandinya," ujar Barnes.

"I-iya, kalau begitu aku akan membersihkan badanku terlebih dahulu." Ara segera masuk ke kamar mandi. Sedangkan Barnes menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

Malam kian larut, Ara terbaring di sebuah kasur gulung yang halus dan empuk. Begitu nyamannya hingga membuatnya langsung terlelap tidur.

"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Barnes di pagi hari.

"Nyenyak sekali. Aku tidur sangat lelap. Terima kasih," balas Ara.

Barnes menghela napas. "Dari kemari kata-kata itu terus yang selalu aku dengar. Aku sungguh bosan mendengarkan itu." Barnes memberikan sepiring roti oles untuk Ara.

"Ma-maaf ...." Ara tidak tahu lagi harus berkata apa.

"Aku harus berangkat kerja. Anggap saja rumah sendiri. Nanti aku akan mencarikan info lowongan kerja untukmu. Aku biasa pulang kerja pada sore hari. Jadi kalau kau lapar, kau bisa memasak sesuatu. Semua bahan ada di dalam kulkas." Barnes menjelaskan sedetailnya pada Ara sebelum berangkat kerja.

Sebelum Barnes memutar gagang pintu dan dia membalikkan badannya ke belakang.

"Mungkin adikku akan pulang hari ini, tapi aku tidak tahu juga dan aku sudah memberitahu adikku tentang keberadaan mu di rumah ini," jelas Barnes.

"Ka-kau sudah memberitahu adikmu?" ucap Ara terkejut. Barnes menganggukkan kepalanya.

"Itulah kenapa dia bilang ingin pulang, tapi semua tergantung majikannya apakah akan memberi izin untuk dia atau tidak. Baik-baik di rumah, aku berangkat kerja dulu."

Selepas kepergian Barnes berangkat kerja, suasana rumah menjadi sepi dan hening. Hanya terdengar bunyi suara detak jam dinding. Ara menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak menyangka akan tinggal di rumah Barnes. Jika boleh berkata jujur. Ara sebenarnya tidak ingin merepotkan Barnes, tapi dia sendiri sedang kebingungan.

Pagi berganti siang dan Ara disibukkan dengan membersihkan rumah Barnes. Rumah yang hanya ditinggali oleh seorang pemuda, sedangkan adiknya yang sudah bekerja diharuskan untuk tinggal di rumah majikannya. Walaupun Barnes seorang laki-laki tapi semua terlihat sangat rapi. Ya, Barnes adalah typikal laki-laki yang memperhatikan kerapian dan kebersihan.

Ara menyapu lantai, mengepel dan mencuci piring bekas dia makan. Saat Ara tengah membersihkan debu-debu yang ada di lemari kayu, Ara kembali menatap foto itu.

"Siapa dia? Kenapa aku merasa sangat mengenalnya," pikir Ara. "Ah, sudahlah. Hal itu tidak penting juga." Ara kembali melakukan aktivitasnya.

Menjelang sore, Ara berniat untuk memasak makan malam. Dia membuka kulkas dan melihat isi kulkas yang sangat komplit. Ada buah-buahan, sayuran, daging ayam, dan daging sapi. Ara bingung melihatnya.

"Aku bingung harus memasak apa untuk makan malam nanti? Isi kulkas ini benar-benar lengkap." Tangan Ara terulur ke dalam kulkas untuk mengambil beberapa sayuran dan juga daging ayam. "Mungkin akan lebih enak jika aku memasak tumis sayur, karena itu sangat praktis dan cepat. Jadi makan malam sudah matang sebelum Barnes sampai di rumah."

Ara dengan cekatan dan terampil mengolah sayuran tersebut. Dia begitu lincah memotong sayur-mayur. Tak lupa dia merebus seperempat daging ayam yang tadi dia ambil dari dalam kulkas. Kemudian dia mengecek sisa nasi, apakah cukup untuk makan malam mereka berdua.

Setelah semua matang, Ara menatanya di sebuah meja kecil yang terletak di ruang tengah. Rumah Barnes memang tidak terlalu besar, tapi rumah itu cukup luas. Mungkin karena yang menempati adalah seorang laki-laki dan biasanya laki-laki itu simple. Tidak terlalu butuh banyak barang.

Saat sedang menunggu Barnes, Ara dikejutkan dengan suara ketukan pintu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel