
Ringkasan
Setelah menemukan alasan untuk hidup, Ara memilih untuk menjadi maid di sebuah mansion mewah. Tapi, sebuah insiden membuat gadis polos dan lugu itu justru menjadi wanita simpanan yang selalu didatangi oleh tuannya setiap malam. Lantas, bagaimana nasib Ara?
1. Sakit Hati
Seorang gadis melangkahkan kakinya dengan sangat terburu-buru. Gadis dengan nama lengkap Ara Shanelly itu benar-benar dalam keadaan marah. Setelah mendapatkan pesan dari pacarnya, dia langsung bergegas pergi untuk menemuinya.
Ara begitu sapaan gadis cantik itu. Dia cukup tahu di mana harus menemui Ryan, kekasih yang sudah dia pacari dari SMA. Dia mendengkus kesal meniup angin kencang dan menyibakan anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Kau bilang apa? Putus? Enak saja kau bilang seperti itu," tukas seorang gadis berparas cantik sambil menunjuk seorang laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya.
"Ara ... aku tahu ini sangat berat bagimu, tapi aku tetap harus bertanggung jawab pada Ellen. Aku harus menikahi Ellen," jelas Ryan pada Ara.
Ara berdecak kesal pada Ryan. "Brengsek! Bagaimana bisa kau meminta putus begitu saja setelah menjalin asmara selama itu denganku? Seenak jidatmu memutuskan secara sepihak."
"Lalu, apa aku harus menghamili mu juga agar aku bisa menikahi mu?"
PLAAAKK!
Sebuah tamparan keras mendarat dengan manis di pipi Ryan. Itu adalah luapan kekecewaan dan rasa marah dari seorang Ara Shanelly.
Ara begitu sengit menatap Ryan. Dengan tatapan mata berkaca-kaca. Ara menahan air matanya agar tidak lolos dari matanya.
"Baiklah. Kita putus dan jangan pernah sekali pun kau mencariku ataupun menghubungiku." Ara segera berlalu meninggalkan Ryan dan Ellen.
Satu tamparan yang mendarat di pipi Ryan dirasa belum cukup. Ya, Ara belum cukup puas. Hubungan yang dijalin selama lima tahun harus kandas hanya karena orang ketiga yang tak lain adalah sahabat Ara sendiri.
"Ara ...," panggil Ryan membuat Ara menghentikan langkahnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak membalikkan badannya.
"Tidak masalah. Aku tidak akan mencari mu lagi dan terima kasih sudah memberi restu atas hubunganku dengan Ellen."
"Ryan sialan. Belum puas kau mengkhianati ku dan sekarang bisa-bisanya kau berterima kasih atas apa yang kau lakukan padaku? Terlebih kau mengkhianati ku dan kau menusukku dari belakang." Ara terlihat sangat geram. Tak dapat menahan emosi lagi, Ara memutarkan badannya, dan melangkah mendekati Ryan. Gadis itu melayangkan bogem mentah ke arah muka Ryan dan tendangan keras pada kaki pemuda sialan itu.
Ara terlihat sangat menakutkan ketika sedang marah. Setelah menghajar Ryan hingga babak belur, Ara terlihat puas dan segera pergi meninggalkannya. Tak hanya sampai di situ, Ara masih dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit yang benar-benar harus dia terima. Rumah yang dia tinggali telah digadaikan oleh Ryan.
Rumah yang dia beli dengan uang hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun harus hilang begitu saja. Ara berniat setelah dia bisa membeli rumah sendiri, dia akan memboyong Ibunya untuk tinggal bersama dengannya. Kini dia harus mengubur dalam-dalam impiannya itu, karena ulah Ryan. Ara harus menghindar dari para penagih hutang.
"Brengsek. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa harus aku yang menanggung semuanya. Sampai aku bertemu dengan Ryan sialan itu, akan aku bunuh dia."
Ara yang bernasib malang, dia harus menerima dan menelan rasa pahit yang disebabkan oleh pacar dan sahabatnya sendiri. Sahabat yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, begitu tega menyakitinya.
Kini Ara harus menanggung semuanya, hutang yang berjumlah tidak sedikit itu harus dia tanggung sendiri. Ara menjadi tidak fokus dalam bekerja, dia sering kena tegur oleh atasannya. Karena kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Ara menjadikan Ara harus menerima kenyataan lagi, dipecat dari tempat dia kerja.
Sungguh benar-benar malang nasib Ara. Hari-hari dia lalui dengan begitu berat, membuatnya tak punya arah dan tujuan hidup.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku sudah dipecat dan aku pun dikejar-kejar para penagih hutang. Kenapa begitu sial sekali hidupku ini," keluh Ara yang sore itu dia berjalan kaki sendirian.
Ara berhenti di sebuah jembatan kecil. Ara mendekati ke sisi jembatan tersebut, kepalanya menoleh ke bawah, melihat derasnya air yang mengalir. Terbesit sudah dalam pikiran Ara untuk bunuh diri dan terjun dari jembatan itu. Namun, dilema mulai menghantuinya. Ara berjalan mondar-mandir seperti orang bingung. Di sisi lain, dia tidak ingin melakukannya, tapi di sisi lain lagi, Ara sudah putus asa dan bingung harus bagaimana menghadapi hidupnya selanjutnya.
Ara kembali mendekat ke sisi jembatan. Dia menelan ludah tak kala melihat arus air semakin deras. Melangkah mundur, kemudian melangkah maju lagi. Berulang kali dia melakukan hal yang sama hingga pada akhirnya tekadnya sudah bulat, Ara melangkah semakin mendekat ke sisi jembatan.
"Ibu, maafkan anakmu ini. Anakmu ini memang tidak berguna. Anakmu ini belum bisa membahagiakanmu, Ibu," cicitnya sembari terisak. "Apakah ketika aku meloncat dari jembatan ini, tubuhku masih utuh? Ataukah tubuhku akan sangat mengenaskan?" ucap Ara sendiri bersiap untuk loncat dari jembatan tersebut.
Namun, tak disangka-sangka. Aksinya digagalkan oleh seorang pemuda yang menarik tangannya dan langsung memeluknya dengan erat.
Menyadari akan hal itu, Ara langsung memberontak, dan memaksa lepas dari pelukan pemuda tersebut.
"Apa-apaan ini. Main meluk seenaknya saja atau jangan-jangan mencari kesempatan dalam kesempitan?" tuduh Ara pada pemuda itu.
"Kau sendiri kenapa berdiri di sisi jembatan? Kau ingin bunuh diri?"
"Bukan urusanmu!" Ara acuh tak acuh. Gadis itu kembali berdiri menepi ke pinggir jembatan.
"Kau ingin loncat? Loncat saja. Sungguh dangkal sekali pemikiran mu itu." Pemuda itu menarik napas. "Jika dengan cara bunuh diri akan menyelesaikan semua masalah, maka loncat lah. Mungkin besok pagi kau akan langsung terkenal dan seketika kau akan membuat masalah baru yang mungkin akan membuat orang yang kau tinggalkan bersedih." Ucapan pemuda itu membuat Ara menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya. Sesaat setelah itu, bahunya tampak bergejolak menandakan dia sedang menangis.
Pemuda itu memperhatikan Ara, "Hei, kau kenapa?" tanyanya dan tiba-tiba Ara memutarkan badannya dan memeluk pemuda tersebut. Tak hanya itu, suara tangisnya semakin kuat membuat pemuda itu bingung dengan keadaannya saat itu.
Tangisannya semakin menjadi, Ara menumpahkan kekesalannya dengan menangis di pelukan pemuda itu.
Barnes namanya, pemuda itu tampak kaget. Namun, dia membiarkan Ara menangis saat itu juga.
"Luapkan tangisanmu sampai hatimu lega," saran Barnes.
Suara tangisan Ara semakin melemah, menandakan gadis itu mungkin sudah capek dan lega dengan cara menumpahkan air matanya.
"Ma-maaf," ucapnya lirih.
"Tidak masalah. Jika itu membuatmu lega, tapi maaf ... apa kau sedang ada masalah sehingga berniat untuk mengakhiri hidupmu?" tanya Barnes. Pertanyaannya sama sekali tidak dijawab oleh Ara. Gadis itu hanya diam. "Maaf, jika pertanyaanku tidak sopan," imbuh Barnes meminta maaf pada Ara.
"Aku dikhianati pacarku. Dia selingkuh dengan sahabatku sendiri hingga sahabatku hamil, dan rumah yang aku beli dari hasil jerih payahku selama ini dipakai pacarku sebagai jaminan hutangnya. Apesnya lagi, aku yang harus membayar tagihan itu. Setelah itu pun aku dipecat dari tempatku kerja." Ara tiba-tiba menceritakan semua masalah yang sedang dia hadapi saat itu.
Barnes yang mendengarkannya menjadi sangat iba.
"Aku bingung. Aku benar-benar putus asa. Aku tidak tahu harus berbuat apa." Ara kembali menangis.
"Hidup memang tidak pernah lepas dari masalah, tapi kekasihmu itu benar-benar sudah keterlaluan. Bagaimana kalau untuk sementara waktu, kau tinggal di rumahku?" tawar Barnes.
Ara menatap Barnes dengan pandangan yang aneh.
"Ke-kenapa kau jadi menatapku seperti itu? Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin membantumu saja. Nanti aku juga akan membantu mencarikan pekerjaan untukmu," jelas Barnes. "Bagaimana?" imbuhnya bertanya.
Tak ada pilihan lain lagi bagi Ara. Ara harus bekerja dan membayar tagihan surat-surat rumahnya yang dijadikan jaminan oleh Ryan. Dia tidak mungkin terus-menerus menghindarinya.
"Baiklah. Aku akan menerima tawaranmu itu, tapi setelah aku mendapatkan pekerjaan, aku akan mencari rumah kontrakan dengan ukuran kecil," balas Ara. Gadis itu sedikit lega karena masih ada orang baik yang mau menolong dan menampungnya.
"Kalau begitu, ayo ikut pulang denganku. Aku juga baru saja pulang dari kerja," ucap Barnes tersenyum.
"Tu-tunggu dulu. Di rumahmu ada siapa saja?" tanya Ara.
"Aku tinggal bersama dengan adikku. Kami juga seorang perantauan, datang ke kota untuk mencari keberuntungan," jelas Barnes.
Pemuda itu menatap Ara. Barnes tahu jika Ara pun berstatus sama seperti dirinya, perantau yang datang ke kota untuk mengadu nasib.
"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, jadi jangan berpikiran sempit atau melakukan hal yang tidak semestinya. Gunakan masa muda mu untuk hal yang bermanfaat. Oiya, namaku Barnes. Siapa namamu?"
"A-ku? Namaku Ara," jawabnya.
Itulah perkenalan Ara dan Barnes. Lalu bagaimana kelanjutan dari kisah ini?
