Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sepasang Sahabat

Akhirnya waktu untuk mencari sekretaris dimulai. HRD mulai memilah yang lolos dan tidak. Akhirnya ada dua orang yang lolos dan hal tersebut dikatakan kepada Linus.

"Stella terpilih karena hampir memenuhi kriteria. Mampu untuk menerima beberapa hal yang disuruh dalam waktu singkat dan tidak menunda. Sekretaris harus selalu siap dengan waktu luang yang akan tersita. Hal tersebut yang dimiliki Stella"

Linus mendengarkan penjelasan HRD.

"Selanjutnya ada Cici. Cici sudah memiliki pengalaman di bidangnya selama dua tahun sehingga dia mengerti dasar syarat menjadi sekretaris. Kita tidak perlu memberitahu detail kepada Cici. S1. Kemampuan dia sigap setiap saya memberikan pertanyaan"

Linus berpikir.

"Sekarang waktunya Pak Linus sendiri yang menguji mereka" kata HRD dengan memberikan sebuah berkas.

Linus melihat berkas yang bertuliskan nama lalu alamat pengirim dan penerima di amplop coklat tersebut. Artinya berkas tersebut merupakan CV dari Cici dan Stella. Linus mengambil berkas tersebut.

"Baiklah. Terima kasih"

HRD berdiri dan berjalan keluar lalu Linus membuka amplop dan melihat satu per satu CV.

"Gue harus segera memutuskan" pikir Linus.

Pukul 20.00. Loly dan Stella berada di dapur. Loly mencuci piring sedangkan Stella mencuci bajunya sendiri.

"Apa benar?" tanya Loly dengan menoleh sebentar kepada Stella.

"Sebenarnya sejak beberapa minggu yang lalu"

"Lalu?"

"Aku tidak cerita karena aneh dan esoknya tidak diperbincangkan kembali oleh HRD kepada aku tetapi lima hari yang lalu aku dipanggil dan disuruh membuat kembali lamaran pekerjaan sebagai sekretaris"

"..."

"Tadi aku menjalani wawancara. Banyak. Mulai dari psikotest, test kepribadian, pertanyaan tentang diri sendiri hingga aku lolos dengan perempuan yang bernama Cici"

"Semoga kamu yang terpilih"

"Jujur aku pesimis. Lawan aku lulusan S1 dan sudah pengalaman sebagai sekretaris. Tadi sedikit saling bicara dengan Cici"

"Kita tidak akan tahu. Siapa tahu keberuntungan datang kepada kamu"

Stella hanya mengangguk.

"Tadi aku dipanggil Pak Hans"

Stella melihat Loly.

"Tanya alasan aku berhenti. Selama ini aku memang sengaja bekerja sembarangan. Sok bekerja lama dan sengaja melakukan kesalahan ketika membuat laporan untuk manajer"

Stella merasa heran.

"Pak Hans memang detail. Pak Hans juga langsung mengurus keanehan yang terjadi di kantor. Akhirnya terpaksa aku berbohong dengan alasan papa dan mama memiliki hutang sehingga membutuhkan biaya banyak lalu cerita papa dan mama sudah meninggal satu tahun yang lalu. Bagaimana jawaban Pak Hans?"

Stella merasa ingin tahu.

"Perusahaan sangat membutuhkan aku dengan alasan aku memenuhi kriteria apalagi loyal tinggi lalu perusahaan belum mau mencari karyawan baru. Jadi aku disuruh menghadap pihak keuangan untuk pinjam. Nanti akan diberi form untuk tanda tangan dan sepakat jangka waktu untuk mengembalikan"

"Akhirnya?"

Loly mengangkat bahu.

"Kak Loly pantas dinilai begitu. Selama ini memang Kak Loly tidak pernah bersikap menyimpang bahkan tanggung jawab dengan pekerjaan. Kak Loly akan pulang terlambat ketika laporan yang diminta belum selesai dikerjakan. Tidak pernah mengeluh jika pulang terlambat jadi Kak Loly memang tidak perlu berhenti"

Loly berpikir.

"Jadi sekarang Kak Loly harus memikirkan jawaban untuk Pak Hans tentang meminjam uang perusahaan"

"Pastinya aku tidak mungkin meminjam"

Stella berpikir keras.

"Tidak perlu bingung. Bicara saja mendadak ada uang melayang datang kepada Kak Loly dan uang tersebut cukup untuk membayar hutang"

Loly tertawa pelan.

"Baiklah. Baiklah. Kamu sudah mulai menggunakan 'bahasa' kamu sendiri. Jelaskan kepada aku maksudnya"

"Uang melayang dari saudara papa dan mama. Datang ke rumah lalu Kak Loly cerita tentang keadaan kita selama ini. Tidak memiliki apapun justru ada hutang yang ditinggalkan papa dan mama"

"Apa semudahnya Pak Hans percaya?"

"Percaya jika..."

Loly merasa ingin tahu.

"Kak Loly menjelaskan tidak dalam waktu dekat"

"Dengan kata lain beberapa hari kemudian"

Stella tersenyum.

"Pak Hans tidak mungkin hanya mengurus tentang masalah Kak Loly, bukan? Banyak yang harus diurus Direktur jadi Kak Loly tidak masalah jika tidak segera menghadap Pak Hans"

"Walaupun Pak Hans mengatakan menunggu besok?"

"Menurut aku Kak Loly lebih paham daripada aku"

"Tentang?"

"Waktu besoknya Direktur sama dengan beberapa hari bahkan minggu kemudiannya Direktur"

"Oh...astaga. Benar. Sekarang aku mengerti" kata Loly dengan tertawa pelan hanya sebentar.

Stella tersenyum.

"Ya...karena terlalu banyak hal yang diurus jadi waktu terlambat sudah biasa menurut Direktur" lanjut Loly dengan tersenyum.

Stella kembali tersenyum. Pukul 21.10. Stella dan Loly selesai dengan pekerjaan rumah sehingga berada di dalam kamar. Mereka berbaring di atas tempat tidur.

"Aku rindu keluarga kita yang utuh" kata Loly pelan.

Stella melihat Loly dan menghadap kepada Loly.

"Stella"

Stella merasa ingin tahu.

"Pak Hans..."

"Kenapa?"

Stella melihat Loly berpikir keras.

"...aku teringat mantan aku"

"Apa hubungannya dengan Pak Hans?"

"Pak Hans seperti mantan aku. Peka dengan keanehan yang terjadi" kata Loly pelan.

"Jadi peka tentang karyawan?"

"Justru karena aku karyawan Pak Hans. Kenapa hingga begitu?"

"Bukankah Pak Venus lebih mengayomi karyawan?"

Loly mengangguk.

"Entahlah. Aku bisa teringat mantan aku karena Pak Hans"

Stella tersenyum heran.

"Apa Kak Loly rindu mantan?"

Loly berpikir.

"Kak Loly juga yang salah. Kenapa memutuskan hubungan? Kak Loly cerita kepada aku dia tetap menerima keadaan Kak Loly yang sudah tidak memiliki apapun"

"Percuma disesali. Selanjutnya dia pindah ke luar kota"

"Jika begitu jangan dipikirkan kembali. Nanti semakin susah melupakan"

"Aku punya BBM dia"

"Bagaimana bisa? Kapan punya?"

"Sangat jarang komunikasi bahkan hanya sekedar memenuhi kontak BBM"

Stella mengangguk. Linus melihat Hans yang sedari tadi masih bengong dengan hal yang menjadi bahan pembicaraan.

"Hans, kenapa sebenarnya dengan loe? Apa hingga begitu?"

Hans langsung berhenti bengong karena ditegur Linus.

"Nanti gue akan menunjukkan foto Loly"

Linus merasa heran.

"Gue tanya A jawab loe B. Apa jadi loe serius mulai tertarik?"

Hans berpikir keras dengan menggeleng pelan dan Linus segera menggeleng.

"Gue tidak percaya dengan jawaban loe. Sikap loe beda jika tentang Loly"

"Entahlah tetapi...tidak bisa dikatakan tertarik"

Linus merasa tidak mengerti.

"Apa sebenarnya mau loe?"

"Lebih tentang...kagum...mungkin?" kata Hans dengan berpikir.

"Kagum?"

Hans berhenti berpikir dan melihat Linus.

"Penasaran...mungkin?"

Linus melihat terus Hans dengan seksama.

"Loe tahu, bukan? Gue selalu penasaran dengan perempuan yang menyangkut pekerjaan serius, tidak lalai bahkan loyal tinggi kepada perusahaan tempat dia bekerja"

"Gue mengerti. Berawal dari penasaran, kagum, sayang dan cinta. Berpacaran, menikah, memiliki anak, mati bersama" goda Linus dengan mengedipkan salah satu matanya.

"Loe terlalu berpikir jauh"

Linus tertawa pelan hanya sebentar.

"Dengan kata lain gue tidak berhenti mengingatkan loe. Percuma cerdas otak bahkan memiliki kemampuan tinggi tetapi perilaku tidak baik bahkan memuakkan. Belajar dari kesalahan yang lalu"

"..."

"Hans"

Hans melihat Linus.

"Ingat. Pasangan hidup tidak bisa jika hanya baik dalam berpikir tetapi seharusnya juga baik dalam berperilaku"

Hans mengangguk tanda mengerti.

"Gue akan lebih hati-hati" lanjut Hans.

"Jangan buta cinta lagi"

"Thanks" kata Hans dengan tersenyum.

"You're welcome" kata Linus balas tersenyum.

"..."

"Apa jadi yang sudah dilakukan loe untuk menjawab rasa penasaran loe?"

"Belum sejauh itu. Entahlah gue juga masih memikirkan kantor. Gue baru mulai bergabung dan papa sudah melepas gue"

"Ada manajer, bukan?"

Hans mengangguk.

"Loe yang lebih dulu mengurus kantor pasti mengerti"

"Belum bisa dikatakan begitu juga. Gue masih belajar dengan papa gue. Loe jangan khawatir. Pasti banyak yang membantu loe. Jika loe tanya kepada gue dan gue mengerti dengan terbuka akan membantu loe"

"Terima kasih" kata Hans dengan merasa senang.

"..."

"Bagaimana dengan masalah sekretaris loe?"

"Belum memutuskan. Bingung. Stella hanya lulus SMA tetapi potensi bisa juga sebagai sekretaris sedangkan Cici lulus S1 tetapi jika dilihat dari foto dia genit. Loe tahu gue takut dengan perempuan genit"

Hans tertawa pelan.

"Linus. Linus. Loe lucu. Loe bisa melakukan segala cara untuk terhindar dari perempuan genit"

Linus tertawa pelan hanya sebentar.

"Memang cantik...dan...menarik"

"Semoga foto tidak bohong" kata Hans dengan berhenti tertawa.

"HRD yang memilih tidak mungkin salah"

"Apa kabar dengan Stella? Bukankah kata loe tidak cantik?"

"Tentang Stella...dari karyawan sendiri jadi entahlah..tidak peduli cantik atau tidak"

"Kenapa begitu? Tidak adil. Tidak bisa. Tidak bisa. Loe terlalu membandingkan antara Cici dengan Stella. Belum tentu juga Cici genit. Loe belum bertemu langsung dengan Cici"

"Memang benar"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel