Sosok Detail
"Apa Bapak sudah menemukan? Siapa?" tanya Linus antusias.
"Stella"
Linus berpikir dengan merasa tidak mengerti.
"Stella OB"
"Apa alasan Bapak menilai Stella cocok menjadi sekretaris?" tanya Linus dengan berhenti berpikir.
"Pekerjaan rapi dan jika diperintah tidak pernah salah. Giat bekerja. Ingatan Stella sangat bagus. Tidak pernah lupa. Hal tersebut penting untuk sekretaris. Memang hanya SMA dan dari cara bicara kurang lantang. Berjalan masih lambat tetapi semuanya bisa training. Menurut saya hal tersebut karena Stella belum terbiasa"
Linus berpikir keras.
"Baiklah. Semua bisa diputuskan sendiri oleh Bapak. Tentang perilaku karyawan hanya Bapak yang lebih mengerti tetapi jika bisa pendidikan dari sarjana"
"Baiklah"
Linus mengangguk untuk mempersilahkan HRD pergi lalu HRD berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja Linus. Handphone Linus berbunyi dan Linus berhenti berpikir dengan melirik sekilas layar handphone lalu mengambil handphone dan menerima telepon.
"Hans" sapa Linus.
"Hey Linus. Apa loe sibuk?"
"Tidak terlalu sibuk juga. Kenapa?"
Agak lama pintu ruang kerja Hans diketuk dan seorang perempuan membuka separuh pintu untuk memastikan dirinya diperbolehkan masuk. Hans melihat dan mempersilahkan masuk dengan wajahnya.
"Jika memang loe masih butuh bicara saja sejujurnya. Loe melakukan hal tersebut kepada karyawan tidak akan membuat harga diri loe jatuh justru membuat karyawan merasa segan"
"Apa begitu?"
"Pasti. Dia akan berpikir. Gue masih dibutuhkan. Apa pantas gue mengecewakan atasan dengan mendadak berhenti bekerja? Loe lihat karyawannya. Kata loe dia sangat baik dalam bekerja dan sulit untuk menemukan karyawan yang begitu"
"Ya...gue masih awal ada di sini jadi hal tersebut kata papa dan manajer"
"Intinya dalam pandangan perusahaan sulit menemukan karyawan yang bekerja seperti dia, bukan?"
"Ya...benar"
"Nah...itu..."
Loly berdiri di hadapan Hans dan Hans menyuruh Loly duduk dengan tangannya.
"Perusahaan lain juga akan melakukan hal tersebut jadi loe jangan khawatir" lanjut Linus.
"Baiklah. Baiklah"
"Apa mungkin loe ada sesuatu hal lain yang perlu minta pendapat gue?"
"Tentang hal lain mungkin lewat chat"
Linus tertawa pelan.
"Terbuka untuk loe"
Hans tersenyum.
"Terima kasih"
Linus berhenti tertawa lalu mengakhiri telepon dan Hans meletakkan handphone.
"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya Hans dengan merapikan beberapa berkas yang berantakan.
"Tidak ada apapun. Ada apa, Pak?" tanya Loly dengan merasa heran.
Hans menggeleng.
"Kamu tidak sedang baik, bukan?"
Loly semakin tidak mengerti lalu Hans berhenti merapikan dan melihat Loly.
"Kinerja kamu menurun. Tanpa saya perlu menjelaskan kamu mengerti tentang kualitas semua pekerja di kantor. Jika memang kinerja menurun siap dikeluarkan"
"Ya...gue memang siap" pikir Loly.
"...tetapi tidak dengan kamu"
Loly melihat Hans dengan merasa tidak percaya.
"Perusahaan mencatat kamu tidak pernah memiliki kinerja menurun...jika seorang karyawan yang awalnya baik saja...dalam arti bekerja tidak pernah menyimpang...melakukan kesalahan...atau apapun semacam itu...lalu seketika berubah drastis. Bagaimana kamu pikir?"
Loly enggan membahas dan menjawab sehingga pura-pura tidak mengerti.
"Atasan yang menilai tidak mungkin salah terlebih Pak Venus dan manajer"
Loly melihat sikap santai dari Hans dan hal tersebut membuat Loly semakin merasa tidak enak telah sengaja bekerja tidak baik.
"Gue lupa bahwa Pak Hans lebih detail. Melihat keyakinan Pak Hans gue mengerti dia tidak hanya mengandalkan pendapat Pak Venus dan manajer" pikir Loly.
Loly menyerah sebelum berperang dengan Hans hingga membuat Loly mengangguk. Hans yang sedari tadi santai akhirnya tersenyum puas.
"...tetapi susah untuk menjelaskan" lanjut Loly.
"Kenapa? Ada masalah, bukan? Ayo cerita kepada saya. Tidak apa-apa" kata Hans pelan dengan sikap terbukanya.
Loly sibuk mencari alasan hingga akhirnya tidak berani melihat Hans.
"Saya..."
Hans melihat terus Loly dan Loly merasa bingung.
"Saya butuh uang..." kata Loly terpaksa.
Loly melihat Hans masih melihat dirinya tetapi tidak mengerti yang dipikirkan Hans tentang dirinya.
"...banyak..."
Hans merasa ingin tahu.
"Gawat. Pak Hans masih ingin tahu" pikir Loly.
"...untuk hutang orang tua saya. Orang tua saya sudah meninggal satu tahun yang lalu jadi..."
Loly jadi merasa canggung tetapi melihat Hans berpikir keras. Loly tidak mengerti alasan Hans harus berpikir keras tetapi lebih daripada hal tersebut Loly sungguh merasa bersalah karena menggunakan alasan sembarangan. Tangan Loly jadi dingin.
"Papa. Mama. Bagaimana bisa Loly berbohong?" pikir Loly pelan.
"Tentang itu saya akan konfirmasi dengan pihak keuangan"
Loly merasa tidak menyangka dan bingung.
"Kenapa jadi begini?" pikir Loly.
"Pak, saya..."
"Astaga. Bagaimana selanjutnya?" pikir Loly dengan merasa panik.
"Hal tersebut memang ada kebijakan dari perusahaan untuk meminjamkan dana ketika ada karyawan yang membutuhkan. Nanti ada form yang juga harus kamu tanda tangan untuk jangka waktu kamu bisa mengembalikan"
Loly merasa tidak percaya.
"...tetapi, Pak...saya...astaga. Jangan. Saya sungguh tidak apa apa. Saya juga..."
Loly merasa bingung dan Hans segera bicara.
"Kamu tetap bekerja di sini. Perusahaan sangat membutuhkan karyawan seperti kamu. Tekun. Bekerja cepat dan tepat. Tanggap dengan situasi. Saya melihat juga kamu sangat loyalitas"
"Pak Hans salah menilai saya justru saya ingin berhenti kerja di sini. Memang terpaksa tetapi semua untuk Stella" pikir Loly pelan.
"Kenapa?"
Hans melihat Loly sangat terbeban sehingga membuat dirinya merasa iba kepada Loly.
"Saya khawatir tidak bisa mengembalikan"
"Ada form untuk kamu tanda tangan. Kamu mengembalikan juga tidak langsung semuanya. Saya yakin semua karyawan pun jika pinjam dan mengembalikan semua ketika mendapat gaji pasti kesusahan. Nanti setiap bulan dipotong dari gaji kamu dengan nominal sesuai kesepakatan yang tidak berat sebelah"
"Bagaimana jika ketika itu saya berhenti?"
Hans merasa heran.
"Apa jadi kamu memang ada niat untuk berhenti dari sini?"
Seketika Loly terkejut.
"Saya minta maaf karena saya khawatir...maksud saya...sebagai karyawan biasa tidak yakin perusahaan akan mempekerjakan terus"
Hans merasa lucu dengan Loly yang pesimis.
"Tadi saya sudah mengatakan, bukan? Kamu tidak akan diberhentikan karena kinerja kamu sangat bagus. Memang semuanya harus tanda tangan kontrak. Hal tersebut untuk menghindar dari penyimpangan karyawan tetapi semua karyawan yang memiliki kualitas kerja sangat bagus tidak akan ada yang diberhentikan. Mulai tahun ini juga perusahaan tidak akan mempekerjakan karyawan baru"
"Apa? Artinya jika Stella melamar bekerja di sini maka tidak akan pernah dipanggil wawancara" pikir Loly.
Hans berhenti sebentar melihat Loly.
"Mungkin memang kamu butuh berpikir. Beban kamu...pikiran kamu juga kalut karena masalah kamu. Semuanya memang harus dipikirkan. Tidak gegabah. Pikir saja dulu. Tidak apa apa. Besok sore saya tunggu keputusan kamu"
"Baiklah. Terima kasih"
Hans mengangguk lalu Loly berdiri dan berjalan keluar.
"Dilihat dari jarak dekat gue semakin merasa tidak asing dengan Loly" pikir Hans.
Hans berpikir keras.
