Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kinerja Terbaik

Pukul 16.00. Linus bersama papanya yang memang sudah sejak tadi bicara tentang pekerjaan hingga akhirnya Linus minta pendapat papanya.

"Kapan rencana kamu akan memilih? Pekerjaan kamu banyak jadi tidak mungkin kamu bisa menyelesaikan dalam waktu cepat tanpa sekretaris"

Linus mengangguk paham.

"Aku masih bingung"

"Tadi kamu melakukan wawancara langsung dengan mereka pasti sudah bisa memilih, bukan?"

"Bagaimana menurut papa?"

"Kenapa tanya kepada papa? Papa tidak tahu. Bukan papa yang wawancara langsung dengan mereka"

Linus berpikir keras.

"Cici memang genit. Aku tidak bisa mempekerjakan karyawan genit"

Beliau masih setia mendengarkan Linus.

Satu sisi jika aku memilih Stella...pendidikan Stella hanya SMA"

Linus melihat papanya tampak berpikir.

"Satu hal yang harus kamu tahu"

Linus merasa ingin tahu. Keesokan harinya. HRD memanggil dan menyuruh Stella untuk menghadap Linus. Stella yang membuat minum menghentikan aktifitasnya dan berjalan menuju ruang Linus lalu mengetuk sebentar dan masuk pelan ke dalam ruang kerja. Stella melihat Linus yang sibuk tanda tangan belum mengajak bicara dirinya. Stella duduk pelan dan Linus selesai tanda tangan.

"Stella"

"Iya, Pak?"

"Hari ini kamu diterima sebagai sekretaris saya. Selamat ya?"

"Saya, Pak?" tanya Stella pelan

Stella merasa tidak percaya tetapi satu sisi senang.

"Ya..."

Stella masih tidak percaya dan Linus ikut semangat melihat antusias dari Stella.

"Potensi kamu bagus sebagai sekretaris dilihat dari wawancara kemarin"

"Mohon maaf, Pak. Apa saya boleh tahu alasan diterima? Saya hanya lulusan SMA"

"Tentang pendidikan kamu saya akan memikirkan lebih lanjut. Kamu direkomendasikan oleh Pak Rizal. Kinerja kamu di pekerjaan sebelumnya lalu kamu diterima baik oleh Pak Sanjaya. Beliau mengatakan lebih baik merekrut karyawan yang sudah ada. Pak Sanjaya banyak menerima perkataan dari Pak Rizal tentang karyawan yang kinerjanya baik"

Stella melihat sebentar Pak Rizal HRD yang duduk di sebelahnya.

"Pak, apa saya dipersilahkan menjelaskan kepada Stella kriteria dasar sekretaris?"

"Ya...memang perlu diberi training, Pak" lanjut Linus dengan mengangguk.

"Baik, Pak" kata Pak Rizal.

Pak Rizal berdiri dan mengajak Stella berbincang di ruang kerjanya lalu Stella berdiri dan mereka berjalan keluar. Sampai di ruang HRD Stella dipersilahkan duduk dan diberi aqua gelas.

"Jadi, Stella..."

Stella duduk di seberang Pak Rizal dan melihat Pak Rizal mengambil dua lembar kertas lalu memberikan kepada dirinya dan Stella mengambil. Isinya tentang job list sekretaris dan Pak Rizal menjelaskan secara garis besar.

"Tamu jangan dibiarkan berdiri apalagi tamu dari luar kantor seperti klien atau pemegang saham terbesar yang berhubungan langsung dengan Pak Linus"

Stella mendengarkan dengan seksama.

"Lebih hati-hati daripada posisi kamu sebelumnya. Sekretaris memegang peran penting untuk kinerja atasan. Atasan bisa update tentang perusahaan jika sekretaris selalu mengirimkan berita terbaru di email atasan. Meskipun berita tentang perusahaan pasti Pak Linus tahu lebih dulu"

Stella mengangguk.

"Terkadang atasan ingin melihat sejauh mana kesigapan dari sekretaris, bukan?"

"Benar. Saya paham, Pak"

"Pak Linus memang sangat baik hati tetapi Beliau tidak akan toleransi tentang karyawan yang bekerja tidak sesuai job list terlebih sekretarisnya"

"..."

"Mungkin ada yang ditanyakan kamu"

"Apa jadi saya satu ruang dengan manajer?"

"Benar. Memang sejak dulu Pak Linus tidak ingin sekretarisnya bekerja di dekat ruang kerjanya. Jarak ruang kerja manajer dengan Pak Linus tidak jauh juga, bukan? Jadi saya berpikir kamu tidak akan capek jika bolak balik dari ruang kerja kamu ke ruang kerja Pak Linus. Bisa telepon atau chat komputer"

"Baik, Pak"

"Ada pertanyaan lagi?"

"Training, Pak"

"Ya...kamu masih training. Tiga bulan. Training langsung dengan Pak Linus"

***

"Hans, gue minta tolong kirim sekretaris Om ke sini untuk mengajarkan Stella"

"Bukankah dulu yang memberi training sekretaris adalah loe?"

"Bukan gue tetapi sekretaris papa tetapi papa sudah tidak memakai sekretaris"

Hans mengangguk-anggukkan kepala dan berpikir.

"Apa bisa atau tidak? Jangka waktu tiga bulan"

"Papa selalu mengusahakan bisa jika untuk membantu saudaranya tetapi gue tetap harus mengatakan lebih dulu kepada papa"

"Baiklah. Terima kasih"

Stella sudah duduk di ruang kerjanya dan melihat sebentar sekeliling lalu Stella tersenyum kepada manajer dan manajer membalas.

"Apa sekarang yang harus dilakukan gue? Gue canggung" pikir Stella.

***

Hans baru saja bertanya kepada Nina tentang papanya.

"Silahkan, Pak. Pak Venus ada di tempat"

Hans berjalan masuk dan Venus melihat sebentar Hans dengan menulis sesuatu yang Hans belum tahu.

"Hans"

"Pa...maaf, Pak Venus"

Venus tersenyum dan berhenti menulis.

"Ada apa gerangan kamu memanggil saya 'Pak'?"

Hans menggaruk sebentar kepalanya yang tidak terasa gatal dengan mengangkat bahu dan tertawa pelan hanya sebentar lalu duduk dan Venus meletakkan bolpoin. Venus dan Hans sedikit saling becanda.

"Pa, Linus membutuhkan bantuan papa"

"Apa?"

Hans menceritakan semuanya.

"Apa jadi Linus sudah memilih sekretaris?"

Hans mengangguk.

"Jadi Stella yang dipilih Linus berdasarkan rekomendasi dari Pak Rizal, pendapat Om Sanjaya dan penilaian tersendiri dari Linus" lanjut Hans.

Venus merenung dan Hans merasa ingin tahu.

"Pa?"

"Stella...Loly...aneh. Di sini ada nama Loly. Di sana ada nama Stella"

"Papa kembali memikirkan anak sahabat papa"

"Bukan sahabat"

"Ya...maksud aku saudara"

"Selalu, Hans"

"Papa seperti mama"

Venus mengangkat bahu.

"Kamu sudah tahu sejarah kami"

Hans tahu rasa khawatir dan rindu Venus terhadap saudaranya.

"Tentang Linus pasti papa membantu tetapi...coba kamu tanya kembali kepada Linus. Kapan berhenti segan kepada papa sehingga untuk meminta pertolongan harus melewati kamu?"

Hans tersenyum.

"Begitulah Linus"

"Hans, selanjutnya papa akan jarang datang ke sini. Seperti pembicaraan kita sebelumnya urusan kantor sudah sepenuhnya kamu yang mengurus. Jika memang membutuhkan bantuan tanya manajer lalu laporan rahasia tentang perusahaan tanya kepada papa. Pastinya tidak di sini. Bisa ketika di rumah atau jika papa ada di restoran bisa ke sana"

Hans mengangguk tanda mengerti.

"Bagaimana jadi dengan Nina?"

"Setelah memberi training kepada Stella maka papa menyuruh Nina pindah ke sana. Di sana sudah ada sebuah ruang kecil. Nanti untuk Nina tinggal. Tetap sebagai sekretaris papa"

"Jadi Nina sudah bersedia pindah dari sini?"

"Itu sudah dibicarakan kepada Nina sejak empat bulan yang lalu. Nina selalu siap dipindahkerjakan dimana pun. Sekretaris yang sangat loyal" kata Venus dengan tersenyum.

Hans mengangguk.

"Biaya yang dikeluarkan atau pemasukan restoran dilaporkan dari papa kepada Nina. Nina melapor kepada kamu untuk kamu proses selanjutnya"

"Baiklah. Tentang Kiran yang mau berhenti aku sudah menyetujui proses yang dijalankan Kiran tetapi belum menemukan pengganti karena kebijakan papa tidak mau merekrut dari yang lain"

"Papa tidak percaya kamu bingung"

"Prosesnya...bagaimana? Maksud aku tidak mudah untuk menilai semua karyawan"

"Kamu sudah sebulan di sini. Pasti sedikit tahu tentang karyawan. Ayo, Hans. Tidak seperti biasanya kamu tidak bisa merekrut"

Hans menghela napas pelan.

"Bagaimana selama ini kamu melihat kinerja semua karyawan?"

Hans berpikir keras.

"Tetap kamu yang harus memutuskan. Papa percaya kamu bisa" kata Venus memberi semangat Hans.

Hans berhenti berpikir dan akhirnya mengangguk. Hans berusaha keras untuk memberikan yang terbaik untuk Venus karena rasa percaya Venus yang tinggi kepadanya walaupun dirinya merasa sangat sulit untuk menghadapi. Hans sudah ada di ruangnya dan duduk lalu melihat amplop coklat dan membuka. Amplop tersebut berisi berkas penting yang hanya ditujukan untuk Hans.

{Jika Bapak berkenan maka silahkan tanda tangan di kolom yang tersedia. Terima kasih}

Terdapat surat pemberitahuan maka Hans segera membuka lembar kedua dari berkas penting tersebut dan mempelajari.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel