
Ringkasan
Loly dan Stella, kakak beradik yang ditinggal kedua orang tuanya dengan sebuah teka teki yang belum dapat dipecahkan hingga detik itu. Akhirnya Loly dan Stella bertemu dengan sepasang sahabat bernama Hans dan Linus yang telah menjadi kekasih mereka. Loly dan Stella meminta pertolongan Hans dan Linus untuk membantu menemukan teka teki yang ditinggalkan kedua orang tuanya sebelum meninggal. Akankah teka teki tersebut bisa dipecahkan dengan hadirnya Hans dan Linus? Mohon maaf...karya ini memuat konten dewasa lebih spesifik (semua karyaku...tidak hanya ini) jadi mohon kebijakan untuk pembaca...jika di bawah umur jangan mengunjungi semua karyaku
Prolog
Pukul 19.30. Loly duduk di ruang tamu dan melihat Stella yang menonton TV.
"Sebentar lagi papa dan mama pulang. Apa kejutan yang akan diberikan papa dan mama untuk kita? Kita tunggu saja" kata Loly semangat.
Stella tersenyum.
"Aku juga sangat penasaran" kata Stella dengan tersenyum heran.
Loly berpikir dengan tersenyum dan menerka hadiah berkesan dari orang tuanya. Orang tuanya memang tahu apa yang diinginkan Loly dan Stella sehingga beliau tidak pernah membuat kecewa. Pukul 20.00. Handphone Loly berbunyi dan Loly melihat layar handphone yang sejak tadi memang dipegang. Nomor tidak dikenal dan Loly merasa heran.
"Stella"
Stella yang fokus dengan acara TV menoleh dan melihat Loly dengan merasa ingin tahu.
"Kenapa, Kak Loly?"
Loly tidak menjawab justru sibuk menebak di otaknya orang yang telepon dirinya.
"Siapa?" pikir Loly.
Akhirnya Loly menerima telepon.
"Halo"
"Selamat malam. Apa saya berbicara dengan Saudari Loly?"
Stella yang merasa tidak dihiraukan kembali fokus dengan acara TV.
"Suara ini..." pikir Loly dengan merasa merinding.
"Benar dengan saya sendiri. Maaf. Siapa Bapak, ya?"
"Saya dari pihak kepolisian"
Seketika Loly merasa tegang.
"Ada apa? Kenapa gue ditelepon polisi?" pikir Loly dengan merasa tidak mengerti.
"Ehmm...ya" kata Loly kaku.
"Apa Anda kenal dengan pemilik mobil pajero merah nopol XXXXXX?"
Loly merasa heran.
"Nopol..." pikir Loly.
"Nopol mobil XXXXXX milik orang tua saya. Ada apa, Pak?"
Stella berhenti menonton TV dan melihat Loly dengan merasa ingin tahu.
"Saya harus memberitahukan berita bahwa mobil tersebut kecelakaan. Jatuh ke jurang dan..."
Seketika Loly merasa tidak percaya dan kaget. Loly kurang bisa mendengar penjelasan polisi karena sibuk memikirkan keadaan orang tuanya.
"...korban kritis di rumah Sakit Taman Anggrek. Harap Anda segera datang"
"Baik. Baik, Pak"
Loly mengakhiri telepon dan segera menceritakan kepada Stella lalu Stella tidak kuasa untuk berdiri dan seketika mengeluarkan air mata. Loly dan Stella segera pergi. Pukul 21.00. Loly dan Stella keluar dari mobil. Loly dan Stella diantar supir lalu berjalan masuk dan tanya di bagian informasi. Setelah diberitahu maka Loly dan Stella berlari hingga melewati lorong rumah sakit. Loly dan Stella tidak peduli dirinya dilihat oleh orang yang berada di sana. Sampai di IGD maka Loly dan Stella berhenti berlari dengan napas terengah. Beberapa polisi ada di sana dan Loly segera memperkenalkan diri kepada polisi. Polisi menjelaskan lebih detail kejadian awal dan Stella merasa sangat sedih ketika mendengarkan penjelasan polisi.
"Papa. Mama" panggil Loly dalam hati dengan merasa sedih.
Seketika Loly mengeluarkan air mata lalu polisi menenangkan Loly dan Stella. Loly dan Stella juga belum diperbolehkan masuk ke dalam IGD orang tuanya karena ternyata beliau harus operasi. Keesokan harinya. Pukul 10.00. Loly dan Stella sudah diperbolehkan melihat kedua orang tuanya lalu mereka berjalan masuk dan melihat keadaan beliau masih belum sadar. Loly dan Stella berharap beliau segera sadar dengan menatap beliau dalam diam. Pukul 12.10. Loly dan Stella bersama polisi. Polisi mengatakan kepada Loly dan Stella tentang fakta kecelakaan tersebut.
"Kecelakaan yang dialami bukan kecelakaan murni"
Loly dan Stella merasa tidak mengerti lalu saling melihat sebentar dengan penuh tanda tanya dan Loly yang memulai pembicaraan kepada polisi.
"Apa jadi ada orang yang berniat jahat kepada orang tua kami?" tanya Loly dengan merasa penasaran.
"Jika dilihat berdasarkan fakta kemungkinan besar benar yang dikatakan Saudari tetapi saya belum menemukan modus mereka. Mobil orang tua kalian sengaja dibuat agar dalam keadaan menyetir tidak stabil sehingga ketika dijalankan terombang ambing dan menyebabkan jatuh ke jurang"
Seketika Loly dan Stella melongo dengan terkejut.
"Astaga. Papa. Mama" pikir Stella dengan merasa sedih.
Loly masih merasa tidak percaya.
"Siapa yang tidak berkenan dengan kehadiran papa dan mama padahal papa dan mama selalu baik terhadap siapapun?" pikir Loly dengan merasa miris.
"Pak, jadi...apa yang harus dilakukan kami?" tanya Loly tidak berdaya.
"Kalian cukup menunggu perkembangan penyelidikan kami selanjutnya" kata polisi dengan segala ketegasannya.
Loly merasa sedih.
"Baiklah" kata Loly pelan dengan berpikir.
Polisi berjalan pergi dan seketika air mata Loly jatuh.
"Stella, bagaimana papa dan mama?" kata Loly dengan melihat ke arah dalam ruang rawat.
Stella melihat Loly dengan merasa sedih dan memeluk Loly dengan menggeleng pelan. Loly yang semakin bingung tidak tahu harus melakukan apapun dan sedih...juga memeluk Stella. Loly dan Stella hanya bisa berharap kedua orang tuanya segera sadar, sembuh dan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Pukul 13.00. Loly dan Stella melihat kedua orang tuanya sudah sadar tetapi susah untuk bicara. Satu sisi terlihat dari wajah beliau ada hal mendesak yang ingin dikatakan sehingga mamanya hanya bisa memegang erat tangan kanan Loly dan Stella. Akhirnya papanya yang sejak tadi pun belum bicara secara perlahan angkat bicara dengan raut wajah berharap tentang sesuatu hal kepada Loly dan Stella. Stella yang melihat kondisi kedua orang tuanya hanya bisa menahan sedih. Papa menggeleng pelan melihat Stella.
"Jangan rapuh" kata papa lirih.
Loly melihat sebentar Stella dan melihat papa dengan merasa penasaran.
"Kenapa, pa? Wajar Loly dan Stella sangat sedih karena melihat kondisi..."
Secara spontan mama menyentuh bibir Loly dengan jempolnya untuk berhenti bicara dengan kondisi lemah dan seketika Loly berhenti bicara. Mama menyuruh Loly untuk mendengarkan perkataan papa dengan wajah pelan beliau.
"Kun...ci" kata papanya.
Loly merasa tidak mengerti lalu Loly dan Stella saling melihat dengan berpikir keras. Akhirnya Stella ingat sesuatu.
"Apa mungkin..."
Stella melihat papa.
"...kunci yang sering dipegang papa?" lanjut Stella.
Loly melihat papa.
"Apa benar maksud Stella, Pa?" tanya Loly.
Papa mengangguk pelan.
"Berupa sebuah kotak" lanjut papanya lirih.
Loly dan Stella mendengarkan dengan seksama.
"Ambil dalam brankas. Loly, kamu sudah tahu kode untuk membuka brankas"
Loly mengangguk pelan.
"Loly sangat ingin tahu orang yang mencelakakan papa dan mama. Polisi mengatakan kepada kami kecelakaan yang dialami papa dan mama bukan kecelakan murni" lanjut Loly.
Mama menggeleng pelan dengan mata sayu lalu mengelus pelan tangan kanan Loly dan Stella.
"...tetapi...mana mungkin?"
Papa dan mama melihat pelan Loly.
"Loly tidak bisa hanya diam jika ada orang yang berniat jahat"
"Kamu harus menjaga adik kamu" kata papa.
Loly melihat Stella.
"Loly mengerti tetapi satu sisi Loly hanya ingin memberi pelajaran kepada orang yang membuat papa dan mama celaka" pikir Loly dengan merasa gelisah.
Papanya yang selalu mengerti pikiran Loly memegang pelan tangan Loly.
"Kamu harus hati-hati" bisik papanya
"Apa yang dikatakan papa? Coba diulang. Loly tidak mendengar" kata Loly memohon.
Stella yang mengerti kondisi papa dan mamanya tidak memungkinkan untuk bicara panjang lebar karena kondisi beliau yang memprihatinkan segera mendekatkan diri kepada beliau.
"Pa" panggil Stella pelan.
"Sahabat papa dan mama...bisnis bersama..."
Stella terkejut dan menjauh dari papa.
"Papa tidak becanda, bukan?" tanya Stella dengan menggeleng karena merasa tidak percaya.
"Stella, apa yang dikatakan papa?" tanya Loly dengan merasa penasaran melihat reaksi Stella.
"Bisnis tersebut...sebenarnya sudah papa dan mama..."
Seketika keadaan mama shock mendengar cerita suaminya kepada Loly dan Stella sehingga membuat napas setengah terputus. Loly dan Stella segera melihat mamanya dengan terkejut.
"Mama" panggil Loly dan Stella secara bersama.
"Mama, jangan begini" panggil Loly panik.
"Stella" panggil papanya dengan memegang tangan Stella yang jelas tidak memiliki tenaga.
Stella menoleh dan melihat papanya dengan terkejut.
"Papa"
Papanya melepaskan tangan Loly dan Stella lalu merentangkan kedua tangan dengan sangat pelan dan seketika Stella memeluk papanya. Papanya dan Stella saling melihat.
"Jikalau kalian memang...ingin mencari tahu lakukanlah"
Stella melihat terus papanya dengan merasa sedih.
"...tetapi kalian cukup tahu jangan coba membalaskan dendam. Berbah..bahaya..."
Seketika air mata Stella jatuh.
"Stella, jangan..kamu tidak boleh...bagaimana papa dan mama mendidik kamu maupun Loly?"
"...te...tapi, pa...Stella..."
"Tidak, Stella" kata papanya memohon.
Stella berusaha menahan air mata agar tidak jatuh lebih deras lagi. Papanya mau melanjutkan perkataan tetapi mendadak kondisinya kembali kritis. Loly dan Stella yang menyadari hal tersebut panik dan sedih melihat kedua orang tuanya secara bersama kritis maka Loly segera memencet tombol untuk memanggil dokter. Loly yang semakin panik karena dokter tidak juga datang melepaskan tangan mamanya dan berjalan keluar dengan berteriak memanggil dokter. Dokter yang berbicara dengan suster segera berjalan masuk ke dalam ruang rawat dan...
