Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tujuh: Cahaya harapan

"Tadinya aku berniat mengajakmu makan malam. Tapi ... kalau dipikir-pikir, sesuatu yang baru dan mengesankan mungkin lebih baik. Maka dari itu aku menyiapkan kejutan kecil."

"Apa itu?" tanya Hana ... cukup penasaran akan perkataan suaminya.

"Kalau kuberitahu sekarang, bukan kejutan lagi namanya. Kamu harus sabar menunggu, karena ini sesuatu yang sangat istimewa." Dan Rai tidak bisa bercerita panjang lebar, jika ingin tetap menyembunyikan rencananya. Kini mereka berjalan bergandengan tangan, menikmati pemandangan elok yang terhampar luas sepanjang mata memandang.

.

.

.

"Han, kurasa kita perlu sedikit berlama-lama di sini. Aku ingin menikmati sunset di taman ini, denganmu. Orang-orang yang sudah pernah melihatnya ... mengatakan bahwa peristiwa itu tak kalah indah dari pemandangan sunset di tepi pantai."

"Benarkah? Kita wajib menunggunya. Ah iya, aku baru ingat bekal kita. Sambil menunggu, mending kita makan dulu. Perutku juga sudah mulai lapar."

"Kita cari tempat yang nyaman, agar bisa sekalian beristirahat sebentar."

Setengah jam mereka habiskan untuk bersenda gurau ... ditemani penganan yang dibawa oleh Hana. Sampai keduanya beranjak guna kembali melanjutkan penelusuran, mencari spot yang tepat demi dapat menyaksikan keindahan petang.

"Kayaknya di sini bagus, Han."

"Kupikir juga begitu. Kebetulan kakiku juga tidak kuat lagi, saking asyiknya berjalan."

"Cape kamu?"

"Lumayan. Tapi turnya lebih menyenangkan."

"Kemarilah!" pinta Rai sambil menepuk-nepuk rerumputan hijau di sampingnya. "Ada yang ingin kuberi padamu." Rai menuntun tangan Hana agar duduk di sebelahnya, "Anggap saja sekarang aku sedang mengutarakan perasaanku." Tangan Rai merogoh sesuatu dari saku celananya ... sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk bunga matahari. Desainnya sederhana, namun elegan. Menambah kesan mewah pada kalung tersebut. "Kamu suka? Aku membelinya beberapa hari yang lalu dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya." sejemang suasana mendadak intens dan serius, "Aku mencintaimu Han." Tatapan Hana terpaku pada keseriusan di wajah suaminya. "Aku bodoh ... tidak tahu harus bagaimana menunjukkannya padamu. Aku terpesona sejak pertama kali melihat senyummu dan berharap agar kamu bisa menjadi milikku. Maaf telah membiarkanmu terpaksa masuk ke dalam hidupku. Aku sadar bahwa aku hanya lelaki egois ... menghancurkan hidupmu dengan menahanmu agar terus bersamaku. Menutup semua mata dan telingaku padahal aku tahu cintamu tak pernah ada untukku. Saat itu aku berpikir ... waktu akan menggiring perasaanmu padaku. Hingga aku sadar ... cinta tidak pernah bisa dipaksakan. Akan kulakukan apa pun termasuk melepasmu, jika itu bisa membuatmu bahagia dan mau memaafkanku." Rai mengungkap semua kejanggalan yang terpendam di benaknya. "Han, kenapa menangis? Aku tahu yang kulakukan sangat keterlaluan. Tapi ...." Rai menunduk lesu, lidahnya tiba-tiba menjadi kelu.

"Hentikan Rai! Jangan diteruskan lagi! Aku tidak cukup kuat menerima rasa sakitnya." Hana menangis tertahan. "Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Tak peduli apa yang kaulakukan dulu, itu bukan salahmu. Kenapa ini begitu menyakitkan?!" Kesedihan merongrong Hana bertubi-tubi, tentu penyesalan tiada bisa tersingkirkan dengan mudah. "Aku benci perbuatanku. Aku yang sudah melukaimu begitu dalam ... membuat dirimu terus-menerus meminta maaf." Hana mulai terisak, dia menangkup mukanya dengan kedua telapak tangan. "Aku juga mencintaimu Rai. Meski kata-kata ini tak lagi pantas untuk kamu dengar." Berat bagi Hana menunjukkan rautnya. Terikat rasa malu terlampau besar, memojokkan keberanian Hana ke dasar terendah.

"Han ...." sebut Rai dengan lembutnya. "Benar apa yang kudengar? Benarkah itu?" Rai teramat senang atas ungkapan demikian. Dia perlu meyakinkan itu sekali lagi, untuk ketenangan batinnya. Anggukan Hana lebih dari yang dia butuhkan, kontan pula dia menarik istrinya ke dalam pelukan. "Terima kasih Han, terima kasih kamu mau mencintaiku. Terima kasih karena telah mewujudkan mimpiku. Cukup lama aku menantikan ini ... ternyata Tuhan masih memberi kesempatan untukku menerima cinta darimu." Air mata Rai turun dengan mudahnya, kali pertama keharuan menguasai sebab gembira yang membuncah.

-----

Larut dalam suasana haru dan sunyi. Keduanya lega karena bisa mengutarakan yang selama ini terpendam.

"Han ...." bisik Rai pelan sambil melepas pelukannya. "Kamu mau kan memakai kalung ini untukku?"

Tanpa basa basi, tiada kata ... Hana menyampirkan rambutnya ke samping, mengisyaratkan kepada Rai agar dia yang memakaikan kalungnya. "Sangat cocok di lehermu, kamu bertambah cantik." puji Rai seraya memandang lekat wajah istrinya yang sekarang sudah memerah. "Aku hampir lupa ... liontin ini bisa dibuka, ada tulisannya di bagian dalam 'You are my sunshine'. Semoga kalung ini bisa membuat kamu selalu mengingatku. Seperti sang surya ... kuharap kamu selalu menantikanku di hari-harimu. Memberi cahaya harapan dihidupmu dan kehangatan dalam senyumanmu. Jadikan aku matahari di hidupmu, kamu adalah satu-satunya wanita yang kucintai ... bahkan pada kehidupan selanjutnya, jika takdir mengizinkan."

Hana terhanyut oleh kata-kata puitis yang terucap dari bibir Rai. Refleks dia memeluk suaminya ... membenamkan wajah penuh linangan air mata pada bahu pria itu. Kemudian satu kecupan menyapu kening Hana, beberapa saat ... turun perlahan dan mendarat di pipinya. Terlalu besar mimpi yang kuinginkan ... andai aku terlahir kembali dengan banyak waktu dan kesempatan untuk bisa bersamamu, Han.

.

.

.

"Kamu begitu baik padaku, Rai. Aku bahagia sekali ... entah bagaimana caranya membalas semua ini. Cintamu membuatku menjadi sosok yang sentimental." Hana menyeka air matanya selagi tatapan kagum tiada lepas dari sosok pria di sisinya itu.

"Coba kamu pandang ke depan, mataharinya mulai terbenam." Interupsi Rai mengalihkan atensi Hana, dia turut menggulir tatapannya ke hadapan mereka. Di mana berangsur-angsur pancaran sinar jingga nan menawan mengelilingi sang surya.

"Sebentar, kita tidak akan melewatkan yang satu ini. Momen istimewa harus disimpan 'kan?" Hana mengambil gadgetnya di dalam tas untuk mengabadikan momen menakjubkan di depan mereka. "Ya Tuhan, cantik sekali. Ini yang terindah dari yang pernah kulihat selama hidupku." Kata Hana mengutarakan rasa takjubnya.

"Bagiku masih kehadiran kamu yang terindah, mengalahkan apa pun di dunia ini." tangan kiri Rai menarik pelan pinggang ramping Hana, mendekat padanya. Sedangkan tangan yang satunya menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga. Perlahan-lahan Rai merapatkan jarak di antara mereka, perhatiannya tertuju ke bibir ranum sang istri. Rai mencium mesra, memberi lumatan lembut mengandung hasrat. Membujuk Hana untuk saling menyahut gairah kerinduan. Saling memagut, mencicipi rasa manis yang ditimbulkan ... membuai kesadaran ke dunia intim milik mereka berdua. Akhirnya runtuh sudah tembok tinggi berisi keliru dan kerasnya egoisme. Kemesraan di antaranya menghapus kebimbangan Hana, menghipnotis akalnya melupakan tujuan semula. Kepingan masa terindah, kekal bersemayam di sanubari. Hana bersumpah akan terus melindungi detik-detik berharga ini di sanubari.

"Rai ... izinkan aku mengganti seluruh lukamu dulu dengan hunjaman cinta."

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel