Delapan: Matahari terbenam
Masih dalam renungan mimpi yang tersisa oleh lelapnya tidur semalaman. Kicau burung terdengar merdu saat menyanyikan pesona alam di pagi ini. Di atas terlihat panorama yang memaparkan keindahan tiada tara. Melukis birunya langit diiringi gumpalan awan putih yang berarak tersapu oleh angin.
Hana berjalan terburu-buru sambil membawa seikat bunga matahari di genggaman. Dia membelinya di toko bunga di ujung jalan. Senyum tipis terulas di bibirnya yang merah ... kentara membuka bahagia yang terpatri di wajah cantiknya.
"Aku jadi tidak sabar untuk sampai di rumah. Rai pasti senang jika mendengar kabar ini. Festival bunga matahari segera dibuka peresmiannya mulai besok dan aku ingin mengajaknya ke sana." Kegirangan Hana sulit ditepis, malah semangatnya tampak menggebu-gebu.
Rai memang menantikan acara ini. Tetapi akibat terbatasnya waktu yang dia punya, menggagalkan rencananya. Bimbing untuk tidak memikirkan risiko, lalu dia memutuskan mengajak Hana ke taman bunga matahari, tanpa adanya festival tersebut. "Kejutan ini bagus sekali." Melekat jua seringainya, di ujung kata terucap.
-----
Tuan Kenji, kenapa di sini? Kamu ada urusan dengan suamiku? Biar kubangunkan sebentar, sepertinya dia lelap sekali ... tidak sadar aku pergi sejak tadi. Biasanya dia langsung terbangun bila tahu aku tidak ada di sampingnya."
Pernyataan sekian mengantar Hana ke ranjang mereka. Dia duduk di samping tubuh Rai dan mencoba membangunkannya. "Sayang, ada Tuan Kenji di sini." Irama halus menjelma menjadi alarm pemanggil kesadaran. Sengaja Hana menahan nadanya agar tetap terungkai lirih, namun masih bisa didengar telinga. "Suamiku, bangunlah ... atau kamu bakal kesiangan Rai. Dia menyentuh pipi suaminya dengan telapak tangan, mengelus lembut rahangnya dengan ibu jari. Sejenak tatapan Hana bertahan lama di paras pria itu, mengagumi garis-garis yang tegas ... tampan dan pucat dalam sekali pengamatan. Ketika punggung tangannya menjamah dahi Rai, serta merta wajah Hana berkerut ... bingung dan cemas. 'Dingin sekali? Batin Hana saat merasakan suhu kontras di kulit suminya. Nihilnya respon kian menguatkan tanda tanya di benak Hana. Hilang ketenangan, pelan-pelan Hana menggoyang-goyangkan tubuh bahu Rai. "Sayang, belum mau bangun juga ya?"
"Hentikan! Dia tidak akan bangun." Seruan singkat, namun menyebabkan Hana tegang di tempatnya. Kontan dia mengalihkan pandang ke pria itu, memampangkan mimik penasaran yang kental, mencerminkan kebingungan luar biasa. "Percuma dibangunkan. Rai tidak bisa bangun lagi, dia pergi." Tekanan pada ucapan Kenji terdengar memojokkan.
"Diam! Tega-teganya kamu berkata begitu. Rai baik-baik saja, dia cuma kelelahan. Belakangan ini dia sering begadang. Rai, suamiku ... bukalah matamu, sayang. Temanmu menunggu di sini, kamu tidak ingin menyapanya? Atau aku harus memintanya pulang sampai kamu mau bangun?" Seolah tengah membujuk, Hana tetap mencoba membangunkan pria itu. "Rai ...." Lalu Hana nyaris frustrasi membangunkannya, dia memukul-mukul ringan pipi Rai. Menyingkirkan prasangka negatif di atas pengumuman Kenji. Walau perasaan waswas telah menubruk ketenangannya.
Cukup, Nyonya Masahiro!" Kenji membentak.
"Tubuhnya sudah mati, buat apa kamu terus membangunkannya seakan-akan dia bisa kembali sadar. Kini Rai pergi jauh, selamanya meninggalkan kita. Tapi aku cukup lega sekarang, temanku bebas dari semua penderitaannya."
"Kamu bohong 'kan?" Suara Hana memelan juga parau, matanya turut berkaca-kaca. "Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Tidak ada tanda-tanda yang kulihat. Kami baru saja mengobrol semalam."
"Sungguh naif. Aku jadi kasihan padamu." Kenji bersedekap, wajahnya yang datar sedikit menyeramkan. Apalagi di tengah-tengah peristiwa memilukan demikian. "Dia sakit, begitu kesakitan. Rai sengaja menutupinya darimu. Dia tidak tega membuat istri tercintanya khawatir. Kesabarannya terlalu besar padamu ... kamu sadar 'kan? Tidak ada yang kamu tahu sampai akhir hayatnya."
"Aku tidak memahami perkataanmu, Tuan." Tiada ekspresi terbaca, selain air matanya lebih dahulu mengakui lara.
"Pernahkah kamu memandang ke arahnya sejenak dan tersenyum? Atau setidaknya bertanya apa dia sudah makan, bagaimana pekerjaannya? Tidak 'kan? Itulah keinginan yang selalu dia tunggu setiap hari. Dan kamu tidak pernah melakukannya. Satu hal lagi, mana mungkin kamu tahu tentang penyakit itu ketika waktu yang kamu punya habis untuk mengabaikan keberadaan dia. Rai pintar memendam semua deritanya rapat-rapat."
"Aku ... Tuan Kenji, kamu ... aku tidak ingin. percaya ...."
"Dengar! Rasa sakit yang datang bagai masa-masa siksaan. Tubuhnya pun ikut menjerit andai bisa, sampai-sampai mati adalah hal yang terpikir oleh Rai. Siksaan dari dalam mengambil seluruh batasannya, dia berteriak. Aku memberinya suntikan penenang bila aku ada di sana saat dia mengalaminya. Jangankan untuk mengerti, kamu tidak mengenalnya. Dia temanku ... pria yang baik. Sayang sekali dia sungguh kesepian, bahkan menjelang kematian. Kanker merenggut banyak kebahagiaan darinya, membuat dia begitu rendah diri. Itu alasan kenapa dia tidak pernah keberatan atas semua penghinaan yang kamu lempar padanya." Amat mudah mengundang kepedihan, dengan berterus terang demikian mengubah sikap dingin Kenji menjadi tindakan cengeng. Air mata membasahi wajahnya yang kaku.
"Kanker?! Tidak ... tidak benar!" Bisik nan pahit kian memojokkan posisi Hana. Fakta berbicara ... dia memang tidak tahu menahu mengenai suaminya.
"Dan kamu! Kamu menghukumnya dengan tetap mempertahankan ikatan yang kamu benci ini. Aku menyesal tidak mencegahnya untuk menikahimu. Jika saja saat itu kulakukan, barangkali dia tidak akan semenderita ini. Rai teman berharga bagiku. Sulit untuk pura-pura tegar di hadapannya, setiap kali kulihat dia berusaha tenang di tengah keputusasaan. Dia tidak suka dikasihani ... dukungan satu-satunya cara agar dia tidak kehilangan semangat hidup. Tetapi pelipur lara tak sekalipun menyambutnya. Maka dari itu aku bersyukur kini dia terlepas dari penjara kesengsaraan." Tumpah seluruh gundah yang semula menyesakkan. Kenji sadar dia tidak perlu berbasa-basi ... memilah kata terbaik. Biarkan segalanya mengalir seperti keinginan sahabat karibnya. Rai yang selalu menganggap takdir wajib diterima meski hati menangis.
"Aku ... tidak tahu." Hana tidak siap menerima kenyataan ini. Tubuhnya melemah, tiada merespons dengan selayaknya. Bagaikan tulang-tulangnya pun ikut melunak, dia bertahan duduk di samping jenazah suaminya ... kala akalnya melayang-layang.
"Tepat! Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi berhentilah menangisinya, tolong! Bukankah ini yang kamu tunggu? Demi menyelamatkan hidupmu. Kamu sudah bebas, setidaknya nikmati kelegaanmu." Siapa pun yang mendengar tentu terpukul. Penuturan sarkasme paling menyayat nurani dan Hana mematung ... tanpa tanggapan. "Ada yang perlu kuserahkan." Kesadaran pun berkumpul ulang, Kenji mendekati Hana. "Rai menitipkan ini padaku, dua minggu lalu ." Sebuah amplop cokelat berisi berkas-berkas gugatan ... diletakkan di permukaan ranjang, tak jauh dari posisi Hana. "Aku permisi, secepatnya akan kuurus pemakaman Rai."
Tatapan Hana mengabur diserang tumpukan kesedihan. Dia menatap dengan pandangan kosong, benda yang sempat menjadi harapannya. Asa guna menata jalan hidup yang baru dengan lelaki pilihan. Kendati dia memutuskan hubungan terlarang itu secara sepihak, sejak tiga minggu kemarin.
Sorot mata Hana tiada tertangkap, melainkan kekosongan dengan puncak tangis yang jua mendorong bertubi-tubi. Tiada lagi senyuman hangat dari sosok nan rupawan, penyokong utama bagi dia yang hendak meniti kebaikan ... melenyapkan pundi-pundi kesilapan dosa.
Bersambung...
