Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Enam: Gelisah

"Kamu siap, Han? Yakin tidak ada lagi yang tertinggal?"

"Kayaknya tidak, aku sudah periksa ulang semuanya."

"Oke ... sabuk pengamannya dipakai, sayang. Kita berangkat sekarang." Rai memutar roda setir ke kanan, melewati halaman hingga mobilnya keluar dari gerbang.

Di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan di antara mereka. Di mana Hana terus memandangi wajah Rai. Dengan perasaan kacau, berdebar-debar tak menentu di dada ... efek luar biasa saat bersama dengan pria di sampingnya ini.

Perlakuan Rai selalu bisa membuat dia salah tingkah ... kerap kali Hana tersipu malu dibuatnya. Perhatian-perhatian kecil atau tindakan manis oleh sang suami membuat dia tersentuh, bahkan dia mulai merindukannya.

Ingatan Hana terlempar ke belakang, beberapa tahun telah berlalu. Mendadak heran ... kenapa dia tidak bisa melihat suaminya yang begitu memerhatikannya. Sedari awal pernikahan, Hana dapat merasakan cinta yang tulus di mata lelaki itu. Betapa luas kesabaran Rai dalam menghadapi dan menerima semua perilaku jahatnya selama ini. Tetap pula Rai sudi bersikap baik. Dan sekonyong-konyong matanya berkaca-kaca, timbul keinginan untuk memeluk suaminya saat ini juga. Ingin mencurahkan isi hatinya melalui ungkapan cinta.

Aku berjanji segera memperbaiki kesalahan yang telanjur, akan kuberi seluruh cintaku hanya padamu. Harapan terucap di dalam hati, tak kuasa menelan kekecewaan ... lantas Hana sengaja menyingkirkan mukanya ke samping. Ternyata kesedihan tiada terelakkan ... malu jikalau Rai menemukan kekalahannya, Hana menjadi rapuh.

"Kita hampir sampai," sekian interupsi Rai menghapus keheningan di antara keduanya. "Satu jam perjalanan menuju ke sana. Maka dari itu aku  pulang lebih awal. Kencan ini tidak boleh disia-siakan, pengalaman pertama buat kita sejak menikah. Baru sadar ... aku belum pernah mengajak kamu jalan-jalan. Semisal kepergian kita ini dijadikan penebusnya ... kamu keberatan tidak?" Pengamatan Rai bergulir ke kiri dan kanan, tersadar bahwa istrinya tengah melamun. "Han, kamu cape?"

"Tidak kok. Aku cuma kepikiran."

"Aku di sini sayang. Pikiran kamu ke mana tujuannya?"

"Kamu."

Tawa Rai sontak menyapa. "Suami kamu di sini, loh." Senyum dan pernyataan ini malah menyebabkan Hana mencicipi ulang penyesalan. "Mau bilang cinta?" Tahu-tahu Hana menangis, menyimpan jawaban untuk dirinya sendiri. Maaf  Rai, maafkan semua dosa-dosa aku.

"Ada apa sama kamu?" ibu jari Rai terangkat, mengusap lembut air mata di pipi Hana. "Tidak usah tersinggung ... cuma bercanda. Bila tak suka, kamu boleh mengabaikannya."

Hana menggenggam tangan Rai yang masih mengusap pipinya. "Aku tidak apa-apa, mungkin terlalu senang karena kamu mengajakku berkencan." Kilah Hana demi menghapus kekhawatiran suaminya.

"Aku benaran cemas. Nikmati saja perjalanannya, banyak pemandangan indah di sekeliling kita ... memberi pengaruh positif buat emosional kamu. Enggak usah memikirkan hal lain selama kita di sini." Kemudian Rai kembali fokus ke depan, menstabilkan laju mobilnya setelah sempat menurunkan kecepatan.

-----

"Rai, indah sekali. Aku tidak mengira kamu akan mengajakku ke tempat sebagus ini. Bunga matahari memang cantik ya, bahagia rasanya bisa berada di tengah-tengah lautan bunga. Bukankah ia adalah cerminan keceriaan dan kehangatan? Maaf aku sangat bersemangat. Ini pengalaman pertamaku berkunjung ke taman bunga matahari."

"Aku kurang mengerti dirimu selama ini. Mestinya aku yang mengajakmu ke tempat-tempat bagus, atau tempat berbeda yang mungkin kamu inginkan."

"Tolong jangan seperti itu, Rai. Kamu membuatku sedih ... betapa tidak tahu dirinya aku ketika menelantarkan kamu dan anak-anak. Sebagai istri, semestinya aku melayanimu dengan baik. Mendampingi anak-anak kita di masa pertumbuhan mereka. Tetapi yang kulakukan justru sesuatu yang amat buruk, aku sangat malu." Wajah Hana tertunduk di atas pengakuannya.

"Han, kita hanya manusia biasa. Jauh dari kata sempurna. Jikalau kita dapat menyesali kesalahan yang pernah dilakukan, sepatutnya untuk bersyukur. Tuhan masih mengampuni dan memberi kesempatan untuk berbenah."

Perkataan bijak yang terucap oleh Rai membuat Hana tertegun. "Rai, kamu sempurna bagi aku. Aku memang bodoh, karena tidak memahaminya dari semula. Aku beruntung bisa memiliki kamu. Semua yang ada pada dirimu bahkan lebih indah dari keindahan yang kita saksikan sekarang."

Senyum bahagia tampaknya akan terus terulang sore ini, oleh kedua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Tidak ada hal lain mengusik akal mereka. Rai dan Hana lupa terhadap kenyataan di depan mata, bahwa keberadaan mereka di tempat ini adalah sebab sebentuk kontrak singkat demi perceraian.

"Ketika alam masih bersedia menyuguhkan keindahan, lalu sang semesta melukis hari demi hari yang silih berganti, angin memberikan udara yang tak terbatas. Hanya kata-kata syukur yang paling layak kita berikan untuk menyempurnakannya. Dan cara yang paling tepat adalah menerima seluruh milik kita dengan bahagia, walau terkadang hati menolak. Namun tak sepatutnya kita melawan saat takdir memenangkannya. Selagi masih bisa berusaha, kenapa berhenti? Selalu ada pelajaran di setiap cerita kehidupan."

Pernyataan Rai layaknya penenang, menghapus segala kebimbangan praduga. Setitik harapan muncul di benak Hana. Dia lega, ketika meyakini masih ada waktu untuk menukar semua dosanya dengan cinta yang kini memenuhi hati. Untuk Rai, juga anak-anak mereka.

Perasaan yang hadir mendorong Hana memberanikan diri menggenggam jemari suaminya, diiringi senyum bahagia dan bebas. Dia menuturkan secara halus apa yang tengah dia rasakan kini, "Terima kasih atas kesabaran, kebaikanmu, juga kesediaanmu bertahan di sisiku." Baru saja Hana mampu melepaskan kegelisahan yang berhari-hari terpendam, tahu akan kian menyesakkan kalau terus menekannya ke dasar penyangkalan. Lalu, dia menepis penghalang yang dipicu rendah diri.

"Aku melakukannya karena aku yang ingin." Dengan tiba-tiba Rai mengecup punggung tangan Hana. Kecupan singkat nan hangat. Sekejap, namun membekas di hati. "Tidak perlu menjabarkan segalanya Han, seolah-olah aku pamrih. Hatiku terpanggil olehmu, aku tidak dapat menolaknya."

"Rai! Aku jadi merasa takut.

"Takut? Takut aku meminta imbalan padamu?" Rai menyeringai, pertanda kata-kata ini cumalah sekadar gurauan. Tetapi tak berdampak pada kelesah yang dirasakan istrinya.

"Rai ... aku serius. Entah apa sebabnya perasaanku sungguh tidak enak." lirih Hana berucap seraya memegang dadanya, meresapi detak berbeda ... ia menjadi terburu-buru. Seakan Hana dilanda ketakutan yang cukup menyinggung. Andaikan ada satu cara yang dapat digunakan untuk membaca isi hati manusia, boleh jadi kesalahpahaman di dunia ini pun sirna. Sementara saat ini, Hana hanya bisa menikmati kegundahan itu seorang diri.

"Mungkin hanya kecemasan sepintas, tidak perlu dipikirkan. Aku masih di sini bersama kamu." kalimat yang keluar dari bibir Rai terdengar seperti harapan di bawah keputusasaan. Tak ada daya upaya sanggup menentang takdir. Satu-satunya hal yang mampu Rai perbuat adalah membagi kenyamanan singkat. Melalui kata-kata penghibur, sentuhan lembut maupun dekapan hangat.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel