Pustaka
Bahasa Indonesia

Losing Hurts

67.0K · Tamat
Laceena
59
Bab
3.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Hana tak lagi bisa merasakan apapun di hatinya. Penyesalan terlalu dalam menguasai jiwa. Benaknya makin berteriak frustrasi kala waktu yang dia punya kelewat singkat. Perbuatan dosa selama tiga tahun dia tebus dalam tiga puluh hari. Suaminya mengajukan satu permintaan yang semula adalah omong kosong bagi Hana dan kini menjadi bulir kenangan yang tersisa dari laki-laki paling baik sedunia baginya. Tanpa kesempatan tersebut, dia tak akan pernah tahu betapa besar rasa cinta yang laki-laki malang itu miliki teruntuk dirinya seorang. Apa yang terjadi di dalam kehidupan keluarga Masahiro sebelum adanya perjanjian tiga puluh hari? Dan bagaimana kehidupan Hana setelah perjanjian tiga puluh hari berakhir?

RomansaIstriDewasaPerselingkuhanPengantin PenggantiPengkhianatanKeluargaPernikahanMenyedihkanBaper

Satu: Cinta yang tidak diinginkan

Pagi hari, di kediaman keluarga Masahiro. Sepasang suami istri sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun tak ada kehangatan yang muncul di antara interaksi keduanya.

"Han, kau tidak sarapan dulu? Kemarilah! Kita sarapan bersama." ajak Rai sembari menuangkan segelas teh untuk istrinya.

"Tidak, terima kasih. Aku langsung ke kantor saja dan sarapan di sana nanti." jawaban Hana yang ketus memperkuat penolakan atas tawaran tadi.

"Kenapa terburu-buru, Han? Lagi pula ini masih jam 7 pagi, bukankah biasanya jam 8 kau baru berangkat ke kantor?"

"Ada beberapa berkas yang harus segera disiapkan. Bosku bisa marah jika aku terlambat menyerahkannya."

"Baiklah, aku mengerti. Apa kau sudah melihat anak-anak. Mungkin menyapa mereka sebentar sebelum kau pergi."

"Maaf, Rai. Aku harus segera pergi. Aku bisa melihat mereka nanti, kapan pun aku mau." jawab Hana dengan wajah dinginnya, seraya beringsut keluar mengabaikan lalu kesenduan di wajah suaminya.

"Berhati-hatilah." katanya perih. Dipandangnya punggung sang istri yang menyingkir tanpa salam manis. 'Apakah tidak bisa untukmu, peduli padaku sedikit saja Han?' batinnya merintih.

-----

Hana berdiri di atas trotoar, memakai kemeja ketat berwarna ungu lengkap dengan blazer dan rok span pendek berwarna hitam. Penampilannya makin sempurna dengan sepasang sepatu berhak tinggi yang melekat di kaki jenjangnya, senada dengan warna kemejanya. Riasan wajah minimalis menambah kecantikan parasnya.

Dia mengambil ponsel dari dalam tas dan mengetik beberapa digit angka di sana.

"Halo, Koji..."

...

"Kau di mana?"

...

"Baiklah. Aku ke sana sekarang."

Hana menghentikan taksi yang lewat. Kemudian meminta sipir taksi untuk mengantar dirinya ke sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari kantornya.

Di sanalah dia berjanji bertemu dengan Koji Fukusi yang tak lain adalah mantan kekasihnya dahulu. Sudah 6 bulan Hana menjalin hubungan kembali dengan pria itu. Meskipun sudah memiliki suami bahkan sepasang putra dan putri yang sangat lucu nan menggemaskan. Tapi dia tidak pernah benar-benar menyayangi suami dan anak-anaknya.

Hana merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak diinginkan. Menikah karena perjodohan pula harus memiliki anak dari pria yang tidak dia cintai.

Tak ada yang kurang dari suaminya, Hana tahu itu. Berwajah tampan, kaya juga selalu bersikap baik padanya. Hanya saja itu tak berarti bagi Hana karena dia tak pernah mengharapkan dari pria yang tetap asing di hatinya.

Bertemu kembali dengan Koji, pria yang pernah menjalin hubungan dengannya saat masih kuliah, membuat sikap Hana bertambah dingin. Dia makin tak mengacuhkan suaminya ketika berada di rumah.

Diam-diam Hana sering berjalan berdua atau bahkan makan bersama dengan mantan kekasihnya itu. Layaknya sepasang remaja yang sedang kasmaran, terlihat mesra bergandengan tangan. Bercanda, sesekali saling tersenyum memandang satu sama lain. Senyum yang bahkan tidak pernah ada untuk suaminya selama 3 tahun pernikahan mereka.

Setibanya di kafe, Hana langsung mencari keberadaan Koji. Dia melirik ke sepenjuru ruang.

"Han, di sini!" Koji melambaikan tangannya kepada Hana.

Hana berjalan mendekati Koji yang sedari tadi duduk di sana. "Apa kau sudah lama menungguku?" tanya Hana.

"Ah, tidak terlalu. Aku senang bisa menunggu wanita cantik sepertimu." puji lelaki itu sambil mengerlingkan matanya kepada Hana.

"Kau menggodaku? Ternyata kau itu sama sekali tidak berubah ya, masih saja suka merayu wanita."

Koji spontan tergelak akibat sindiran Hana, apalagi melihat wajah Hana yang tampak kesal sekarang.

"Tapi aku jujur dengan apa yang kubilang. Kau cantik Han. Padahal kau memiliki dua anak, tapi hal itu tidak membuat kecantikanmu puda."

"Sudahlah! Hentikan rayuanmu yang membosankan itu. Pesan saja makanannya, aku sudah lapar. Aku sengaja melewatkan sarapanku di rumah agar bisa segera menemuimu dan menikmati sarapan bersama."

"Baiklah. Kau ingin makan apa?"

"Dua potong cinnamon roll dan juga segelas green tea.

Koji memanggil pelayan, lalu mengatakan semua menu yang mereka inginkan. "Han, apa kau sudah mengatakannya pada suamimu bahwa kau ingin bercerai?" tanya Koji sambil mengesap pelan kopi yang masih panas.

"Belum." Aku berencana mengatakannya sepulang dari kantor nanti. Aku harus menyiapkan kata-kata yang tepat, agar tidak menyinggungnya. Bagaimanapun juga dia selalu bersikap baik padaku selama ini. Dia memenuhi semua tanggung jawabnya sebagai suami. Walaupun aku tak pernah membalasnya."

"Aku mengerti, aku hanya tidak mau hubungan kita terus-terusan seperti ini. Pernikahanmu menghalangi kita berdua."

"Bersabarlah sedikit, Tuan merepotkan. Aku memang ingin bercerai, bahkan sebelum bertemu denganmu. Awalnya aku tidak mempunyai alasan yang kuat untuk bercerai darinya. Selama dia bersikap baik, aku pikir tidak menjadi masalah untuk bertahan dalam pernikahan kami. Tapi sekarang berbeda, aku hanya akan menjalani kehidupan yang kumau." ujar Hana terdengar bijak atau kata-kata yang dia ucapkan adalah egoisme sesaat.

"Aku percaya padamu." dengan lancang Koji menggenggam kedua tangan Hana, diiringi senyum tipis mengandung makna tersembunyi. Tapi tetap Hana menanggapi dengan bahasa tubuh serupa, dia menyeringai. Sebuah senyum cantik yang bahkan tiada pernah hadir bagi suaminya.

-----

"Kau sudah meminum obatmu, Rai?" Dia adalah seorang dokter sekaligus sahabat bagi Rai, Kenji Daisuke. Kini mereka sedang duduk berhadapan, ditemani perbincangan serius.

"Untuk apa meminumnya lagi?" kepasrahan kentara pada ucapannya. Lingkar hitam di bawah mata, menegaskan situasi mencemaskan yang Rai alami.

"Kau tetap harus meminumnya, Rai."

"Walaupun aku tahu jika aku tak akan pernah sembuh, kau masih ingin memaksaku meminumnya?! Kau pikir berapa lama lagi waktu yang kupunya, Ken? Sebulan! Hanya sebulan dan aku pasti mati." serunya pilu, teramat frustrasi. "Empat tahun sudah aku hidup dengan harapan kosong. Aku bahkan ingin nyawaku habis saat ini juga agar tidak merasakan sakit itu lagi. Rasanya sakit sekali ... sangat sakit sampai aku berharap mati lebih cepat." Rai menjerit kecil dalam keputusasaan yang menguasainya, detik itu juga. "Aku tidak tahu dosa apa yang telah kulakukan di kehidupan sebelumnya, hingga Tuhan menghukumku seperti ini." Rai tertunduk lemah, tak berdaya atas apa yang menimpanya.

"Aku ini doktermu, Rai. Kau harus mendengarku. Setidaknya kau bisa melakukannya untuk anak-anakmu. Aku tidak ingin melihatmu menyerah begitu saja." pinta Kenji dengan berupaya mempertahankan ketenangannya. Selama ini, ia tak pernah lelah atau bosan untuk memberi dukungan moral pada sahabatnya itu.

"Sudahlah, terserah padamu! Aku ingin pulang." Dia beranjak meninggalkan ruang praktek, membawa kejengkelan di dalam tumpukan luka. Sedangkan Kenji masih duduk diam, sembari memandang kepergian sahabatnya dengan perasaan bersalah.

Di dalam mobil, Rai hanya termenung memikirkan penyakit yang sebentar lagi akan mengakhiri masa hidupnya. Hanya sebulan sisa waktu yang dia miliki. Pria itu memikirkan pernikahan dengan istri yang teramat dia cintai. Sayangnya sedikit pun istrinya tak pernah memberi perhatian, apa lagi membagi cinta.

Pikiran kacau kerap menari di kepalanya dan saat lamunan usai, dia mengarahkan pandang ke kaca jendela mobil, "Sudah hampir malam rupanya, aku rindu anak-anak." katanya lirih, bergegas pula mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, perlahan-lahan melaju meninggalkan area rumah sakit.

Bersambung...