Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tiga: Permainan takdir

Sejak divonis terkena Hepatocellular Carcinoma 4 tahun yang lalu, Rai sudah terbiasa menjalani berbagai cara pengobatan demi kesembuhannya. Mulai dari terapi radiasi, ablasi tumor, embolisasi hingga mengkonsumsi obat-obatan secara rutin.

Namun seperti sebuah kesialan atau memang takdir menyedihkan yang harus diterima pria itu. Di usia masih terbilang muda, karier cemerlang dan harta berlimpah tak pula dapat membuatnya berbahagia, dapat menikmati apa yang sudah dicapai.

Tapi dia masih teramat bersyukur atas satu hal terindah yang dimiliki olehnya, sebuah keluarga. Itulah obat penenang yang menjadikan dia tetap tegar melewati sisa hidupnya.

Sepasang buah hati terkasih dan istri cantik yang selalu dicintai, membuat Rai Masahiro bisa melakonkan senyum tulus sepintas, menggambarkan kebahagiaan di balik persembunyian rasa pilu dan kesakitan. Dia hanya pasrah pada hidup yang segera meninggalkannya.

"Rai, bagaimana keadaanmu?"

"Apa maksudmu? Kau lebih tahu bagaimana kondisiku sekarang."

"Bukan hal itu, ada yang berbeda denganmu kali ini. Kau terlihat lebih senang dari biasanya. Kenapa senyum-senyum begitu?"

"Itu karena ... bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan istriku. Tingkahnya lucu beberapa hari ini, aku seperti mendapat pengalaman baru. Ternyata dia mudah sekali tersipu, langsung menyembunyikan mukanya yang merah merona dariku. Sikapnya juga lebih manis sekarang, dia mau memerhatikan anak-anak kami." hela napas Kenji terbuang ringan, pertanda baik menyaksikan antusias sahabat karibnya saat ini. Jika biasanya Rai kerap bermuram durja, kini senyuman dapat jua muncul di wajahnya yang pasi.

"Berita bagus. Istrimu tidak lagi mengabaikan kalian, kau juga anak-anakmu. Setidaknya, gekar sebagai istri yang buruk pelan-pelan terkikis."

"Kenji, jangan seenaknya mengatai istriku. Kau tidak mengenal dia sepenuhnya. Pantaskah seorang dokter bermartabat berkata seperti itu?"

"Hanya karena dirimu, maafkan aku."

"Sudahlah, lupakan saja!" seru Rai, lalu memalingkan wajahnya ke sisi lain. Gelagatnya menimbulkan sedikit penyesalan dalam diri Kenji Daisuke, kedua kali dia mengembuskan napasnya, lebih dalam.

"Ceritakan padaku apa yang membuat istrimu berubah?"

"Dia menginginkan perceraian ...."

"Apa maksudmu, Rai?" Kenji langsung menyela, sontak terperangah karena mendengar pengakuan sahabatnya barusan.

"Hana ingin agar kami berpisah. Aku meminta satu hal sebagai syarat demi menuruti keinginannya." Kesenangan tadi tiada bertahan lama, kenyataan getir tetap menggenggam kewarasan Masahiro.

"Istrimu sudah gila, Rai. Wanita macam apa yang tega meninggalkan suaminya di saat terpuruk begini?! Kau berjuang keras menghadapi penyakitmu. Nihil dukungan, atau sekadar kata-kata penghibur bahwa kau tidak sendirian. Oh Tuhan, aku menyesal telah bertanya padamu." Kenji mengusap kasar wajahnya, ketika dia pun turut terpukul atas berita tak mengenakkan demikian.

"Tenangkan dirimu, Kenji. Aku sungguh tidak apa-apa. Aku cukup bersyukur masih ada dirimu yang selalu sabar menghadapiku. Cuma kau satu-satunya orang terdekatku. Kita ini bagai saudara bukan? Tak ada yang perlu dikesalkan. Lagi pula Hana tidak pernah tahu tentang penyakit yang kuderita, aku yang bersalah di sini. Penyakit ini gara-gara kebodohanku sendiri. Andai aku tidak kecanduan minuman laknat itu, semuanya pasti lebih baik." sejenak Rai mengangkat wajahnya, mengamati kediaman Kenji di hadapannya. "Kematian kakek sangat menyakitkan. Dialah yang selalu bersamaku, membesarkanku hingga seperti sekarang. Aku selalu kehilangan orang-orang yang kucintai dalam waktu singkat. Ayah, ibu dan setelah pendidikanku yang terakhir ... kakek juga pergi menyusul mereka. Terperangkap dalam kesedihan ... hidupku hancur. Jika ... jika waktu bisa diputar kembali. Akan kupastikan aku menjadi sosok yang lebih baik."

"Maaf, aku makin merasa bersalah ... aku yang meninggalkanmu waktu itu." Kenji tertunduk pilu, entah kenapa terlampau banyak penyesalan yang mesti mereka tuai.

"Sudah kubilang bukan salah siapa-siapa. Kau pergi untuk mengejar impianmu ... menjadi dokter yang hebat. Lihat sekarang! Kau yang membantuku agar bisa bertahan sampai sejauh ini." papar Rai dengan yakin, demi melenyapkan perasaan bersalah sahabat karibnya.

"Harusnya aku melarangmu saat kau hendak menerina tawaran Tuan Akio ... kau tidak akan semenderita ini. Peluangmu untuk dapat bertemu dengan wanita yang tulus juga besar." Lagi dan lagi Kenji Daisuke kembali menyesal, merasa dirinya turut bertanggung jawab atas peristiwa yang sudah berjalan.

"Takdir yang membuatku mengalami semua ini, Kenji. Kita hanya manusia lemah yang hidup sesuai keinginan dan rencana Tuhan. Karena itu aku harus ikhlas menerimanya, meski semua berat."

"Kau memang benar. Percuma berdebat denganmu." Kenji mendengkus, sorot matanya kelihatan gelisah.

"Aku pamit, sampai jumpa di pertemuan berikutnya!"

"Berhati-hatilah, perhatikan kondisimu. Aku khawatir ... kapan pun kesehatanmu bisa saja menurun. Aku tahu, kau pasti bakal menolak jika kurawat secara intensif di rumah sakit dari sekarang ... aku bisa terus mengawasimu."

"Tidak perlu, akan kuhubungi jika terjadi sesuatu padaku. Aku hanya ingin memperbaiki rumah tanggaku. Biarkan aku menikmati sisa hidup ini dengan melakukan apa pun yang kumau. Aku hanya ingin merasakan sedikit cinta dari istriku." Dan kuharap aku bisa terus mendapatkannya sampai napas terakhir, permintaan Rai Masahiro dari lubuk hatinya yang terdalam.

---

"Tamae," panggil Hana sembari berjalan ke dapur untuk menemui pengasuh bayinya itu.

"Ada apa, Nyonya?"

"Tolong awasi anak-anakku sebentar, ya. Tadi aku bermain bersama mereka dan sekarang mereka sudah tertidur pulas di kamar, kelelahan barangkali. Aku belum memasak makan malam untuk suamiku. Dia sudah hampir sampai, tapi aku belum menyiapkan apa pun untuk dia makan."

"Tentu, biar saya yang mengawasi mereka. Itu memang sudah menjadi tugas saya Nyonya." jawaban Tamae disertai senyuman mengembang.

"Terima kasih." ucap Hana sebelum mengambil alih kegiatan di dapur dan Tamae, tanpa berlama-lama bergegas menuju ke kamar anak-anak.

-----

Bunyi yang sedikit gaduh namun teratur mulai terdengar dari dapur. Hana menyiapkan makanan untuk dihidangkan pada suaminya yang sebentar lagi akan tiba di rumah.

Wanita itu menghidangkan makanan yang sudah matang ke piring, lalu ditata di atas meja. Ada sup daging dicampur dengan jamur dan lobak. 'Chicken katsu', tumisan sayur juga siap dihidangkan olehnya. Hana memasak semua itu dengan sepenuh hati, berharap Rai akan menyukainya.

Bersambung...

Note:

Hepatocellular carcinoma: jenis kanker hati primer yang terjadi akibat komplikasi penyakit hati seperti sirosis (rusaknya organ hati akibat jaringan parut, biasanya disebabkan minuman beralkohol yang berlebih) atau hepatitis (radang hati).

Terapi radiasi: terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif.

Ablasi tumor ada 3;

Ablasi radiofrekuensi: membuat sayatan diperut dan memasukkan satu atau beberapa jarum sampai ke lokasi tumor. Kemudian dialiri listrik berkekuatan rendah untuk memanaskan dan menghancurkan sel kanker.

Cyroablation: membekukan sel kanker dengan nitrogen cair.

Ablasi etanol: menyuntikkan etanol langsung ke tumor untuk mematikan sel kanker.

Embolisasi: menyuntikkan obat untuk menghalangi atau mengurangi aliran darah ke sel kanker di hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel