Empat: Satu ruang
Rai Masahiro tiba di rumah dengan raut gembira. Sepertinya perceraian yang diinginkan istrinya berdampak cukup baik. Terang saja, hal itu justru memicu kedekatan antara keduanya. Dia sangat bersyukur, harapan yang tersimpan sejak lama kini bisa dia rasakan. Meskipun semuanya adalah momen terlambat untuk dirinya terima, namun tak mengurangi kebahagiaan yang meluap di hati Rai.
Lagi pula, dia memang sudah mengikhlaskan takdir yang tertulis pada buku kehidupannya. Rai, dia selalu meyakini bahwa cintanya untuk sang istri adalah sejati.
Tiap malam menjelang sebelum dia beristirahat di peraduannya, tak satu kali pun waktu terlewatkan olehnya untuk mengucap doa, memohon agar cintanya senantiasa berlabuh pada sang istri. Hanya dia yang tahu, besarnya rasa cinta untuk istrinya dan dia bangga memilikinya.
Kala beberapa orang memilih mencari pelarian jika cinta mengabaikan, tidak dengan Rai. Tidak ada hal semacam itu di pikirannya. Walau kesempatan untuk berbuat terbuka lebar dan selalu ada.
Rai merupakan pria yang berpikir logis. Jika satu nama telah singgah dan bersemayam di hati, sisi mana lagi untuk membaginya dengan orang lain? Bukankah rasa itu datang dengan sendirinya? Debaran, getaran, degupan begitu banyak cara untuk menggambarkannya. Tapi hanya satu kata untuk menyimpulkannya, cinta. Bagaimana bisa orang-orang mendua dengan mudahnya? Tak cukupkah hati terbelenggu oleh satu nama? Itulah yang bersemayam di benak Rai Masahiro.
.
.
.
Bunyi bel membuat Hana terperangah, ia melepas apronnya dan segera berlari ke depan untuk membuka pintu. Mungkin suamiku sudah pulang, batinnya. Sampai di depan pintu, Hana menarik engsel itu perlahan. "Kau sudah pulang?" tanya Hana sembari mengambil tas dari tangan suaminya dan meletakkannya di atas sofa. "Apa kau sudah lapar? Ingin langsung makan atau kau mau mandi dulu? Penampilanmu agak berantakan."
"Benarkah? Kalau begitu aku mandi saja, rasanya juga gerah."
Selesai membersihkan diri, Rai mengambil kaus putih berlengan pendek dan celana panjang kantun berwarna hitam untuk dikenakan. Begitu siap, dia langsung kembali ke dapur untuk makan malam bersama istrinya.
-----
"Bagaimana? Suka tidak? Aku sengaja memasak lebih banyak sayuran untukmu agar kau tetap sehat. Aku perhatikan beberapa hari ini badanmu makin kurus, mukamu pun pucat. Kau baik-baik saja? Atau memang kurang fit?" Hana tidak dapat menutupi kecemasannya dan fakta ini menyebabkan Rai gembira dan sedih secara beriringan. Gembira akan kepedulian istrinya, sedih karena sulit untuk jujur tentang penyakitnya.
Rai terdiam sesaat, memikirkan penyakit yang sedang dia derita. Kenji mengatakan kondisinya bisa kian memburuk. Tak ingin istrinya semakin cemas, dia berusaha tetap tersenyum tegar. "Ah, tidak. Aku baik-baik saja, Han. Masakanmu enak." sengaja mengalihkan fokus istrinya, Rai terus-menerus menyuap tumis sayur serta nasi ke mulutnya. "Omonganku terbukti 'kan? Sudah kubilang aku pasti bakal menyukai semua masakanmu. Kau berbakat dalam memasak, Han."
"Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Kalau begitu, jangan membeli makanan di luar lagi ya. Makanlah apa yang kumasak, aku bersedia menyiapkannya untukmu. Kau mau 'kan Rai?" Jika dahulu senyum itu cumalah khayal, kini Rai menyaksikan ketika kecantikan istrinya menyapa dia dengan ramah.
Sayang, kenyamanan itu berat dipertahankan. Rai memandang sendu wajah Hana, mengingat sisa hidupnya yang berangsur-angsur berkurang. "Han ..." panggil lelaki itu dan sang istri seketika mendongak. "Maaf karena tidak bisa membahagiakanmu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki, kontraknya tiga minggu lagi bukan? Agar aku bisa tenang untuk melepasmu. Setelah itu aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu lagi."
Batin Hana tercubit, jantungnya memompa sangat cepat. Ia terdiam jangka mendengar ucapan suaminya. Ada rasa tak rela di benak perempuan itu saat Rai menyinggung tentang perjanjian yang mereka buat sebelumnya. Hana mulai meragukan keputusannya sendiri. Ragu apakah dia benar-benar siap jika harus berpisah dari suami dan anak-anaknya. Inilah keluargaku, inilah kehidupanku sekarang. Kenapa aku harus melepasnya? Tidak akan terjadi, kurasa aku tidak bisa. Aku harus membatalkan perjanjian itu nanti, batin Hana.
"Han ... Hana ...." panggil Rai lagi, sebab mendapati istrinya tetap bergeming.
"Ya?"
"Kau tidak mendengarku?"
"Tidak, bukan seperti itu. Aku mendengar semuanya, jangan meminta maaf. Kau sudah melakukan yang terbaik. Akulah yang harusnya meminta maaf di sini. Banyak kesalahan yang telah kulakukan, terutama padamu. Karena itu aku mohon, tolong maafkan aku. Aku berjanji semuanya akan lebih baik." Hana mengutarakan segala niatnya sambil menggenggam jemari suaminya.
"Terima kasih, Han." singkat yang terucap, seraya Rai membalas genggaman tangan istrinya, erat.
"Untuk apa?"
"Terima kasih karena kini kau mau mengakui keberadaanku juga anak-anak. Aku sungguh bahagia." Rai tersenyum, sebuah senyum tulus penambah rasa sesal bagi Hana. "Ya sudah, kau pergilah tidur. Aku hendak ke ruanganku, ada berkas yang perlu diperiksa ulang. Nanti kususul." Lantas Rai berdiri, meninggalkan Hana dalam keadaan terduduk diam di sana. Terbersit masa lalu, mendorong kenangan buruk di sepanjang dia berperan sebagai istri dan ibu yang gagal.
Memori demikian menyebabkan mata turut memanas, ingin menumpahkan yang sedari tadi ditahannya. Benarkah aku sejahat itu? Dia merasa tidak diakui olehku. Kekejaman inikah yang kulakukan terhadap pria sebaik dirinya? Hana berbisik di hatinya, lagi. Tak lama dia mengusap air mata yang telanjur keluar ... berdiri, guna segera membereskan piring-piring dan sisa makanan di atas meja. Takut berlama-lama dihantui penyesalan, segera Hana berpindah ke kamar untuk menenangkan diri.
-----
Hana berbaring menghadap ke samping, matanya belum juga mau terpejam, pikirannya terusik oleh perkataan suaminya tadi. Tak menyangka akan sesakit ini rasanya mendengar langsung apa yang pernah dia lakukan pada suaminya itu. Bertahun-tahun mengabaikan orang yang selalu berada di sisinya. Hana mengulang ke belakang, di mana dia bersikap ketus, berwajah dingin dan kerap kali membuang muka jika berhadapan dengan Rai. Terlebih dia mengkhianati janji suci yang pernah mereka ucapkan. Ego yang mati-matian dipertahankan menjadikan dia sosok wanita yang kejam. Dia sangat malu pada dirinya sendiri, berujung kekhilafan tersebut menyebabkan dia menangis ulang. Tubuhnya bergetar karena isakan yang tertahan.
Derit pintu terdengar, Hana hampir gelagapan menyapu sisa air matanya, menekan kewarasan supaya mampu terkendali. Ditariknya selimut hingga sebatas bahu dan dia tidak bergerak ketika merasakan Rai sudah naik ke atas ranjang, berbaring di sebelahnya.
"Han, kau belum tidur?" cuma gelengan kepala yang dia dapat, mustahil Hana menjawab dengan suara yang kemungkinan parau akibat menangis. "Boleh kupeluk? Aku tidak memaksa jika tidak mau."
Hana berusaha meredam kadar emosionalnya agar tidak menangis lagi, setidaknya jangan sekarang. Dia tak mau suaminya tahu. Lalu anggukan datang, diiringi tetesan air mata yang bungkam.
Tangan Rai masuk di antara kasur dan pinggang Hana, dia bergeser perlahan-lahan usai kedua lengannya merangkul tubuh Hana. Dengan lembut dia mengecup kepala istrinya, memejamkan mata demi menghirup aroma harum dan menenangkan akal dan nurani.
"Terima kasih, Han." bisik Rai di telinga Hana. Tanpa dia tahu, betapa mudah memancing senyuman di wajah lelaki itu. Cukup hanya dengan sebuah pengakuan.
Bersambung...
