Dua: Sebuah kesepakatan
"Kau sudah pulang? Ada yang ingin kukatakan denganmu," terburu-buru Hana mengumumkan niatnya, padahal Rai baru saja tiba di rumah. Kondisinya memperihatinkan, andai Hana dapat menangkap keganjilan pada diri suaminya itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Han?
Rai berjalan mendekati istrinya yang kini duduk di sofa di ruang keluarga. Dia ingin bicara, namun pandangannya tertuju ke tempat lain.
"Bacalah ini." tanpa basa basi Hana menyerahkan sebuah map kepada suaminya dan Rai tidak menahan diri untuk segera membukanya.
"Apa maksudnya ini?!" Oh Tuhan, menyakitkan sekali ketika dia mempertanyakan keterkejutannya. Suara Rai hampir menghilang, diam-diam jantuknya mengentak-entak tak sabar.
"Bukankah di surat itu sudah jelas, Rai? Aku ingin kita bercerai. Aku lelah berpura-pura dalam pernikahan ini. Tidak ada diantara kita yang bahagia, kuharap kau menemukan wanita yang lebih baik dariku." ujar Hana. Pengakuannya bagai perintah, tiada kebimbangan pula di sana. Sedari lama dia telah matang-matang mempertimbangkan.
"Kau berpikir begitu?"
"Ya! Kenapa tidak? Kita tidak saling mencintai, jadi seharusnya kita berpisah."
"Tapi aku mencintaimu, Han! Bagaimana kau berpikir kalau aku tidak bahagia bersamamu?" Apa anak-anak kita tidak cukup untuk meyakinkanmu?"
"Kau bisa membawa mereka, aku tidak akan menahannya."
"Demi Tuhan, Hana ...! Bahkan anak-anak pun tidak kau inginkan?" suara Rai mulai meninggi, dengan kelopak mata yang siap menggenang.
"Aku tidak ingin berdebat, Rai! Cukup tanda tangani surat itu, tanpa kau perlu panjang lebar bercerita."
Tanggapan keras yang dia terima, amat memukul keasadaran Rai. Dia meremas kasar rambutnya. Apa lagi sekarang? Baru saja mendengar dari Kenji, bahwa hidupnya tidak lama lagi dan sekarang istri yang begitu dia cintai, memintanya untuk bercerai. Luka hati kian pedih, bagai sayatan pisau di kulit tersiram air cuka. Berjuang sendiri melawan penyakit keras selama bertahun-tahun, lalu saat ini dia dihadapkan pada istri yang sama sekali tak pernah menginginkan dirinya.
Nasib benar-benar mempermainkan hidup Rai Masahiro. Batinnya menangis. Ingin menjerit sekeras-kerasnya, tapi dia menahan. Tak ingin berdebat, dia pilih untuk mengalah.
"Baiklah. Tapi aku juga minta satu hal darimu. Hanya satu saja, setelah itu kau dapat keinginanmu."
"Katakan apa yang kaumau?"
"Dalam sebulan ini kau tidak boleh pergi bekerja. Tetaplah di rumah dan lakukan peranmu sebagai istri yang sebenarnya, menjadi ibu yang memerhatikan dan menyayangi anak-anaknya." Terbilang sudah syarat itu, samar-samar di telinga akibat kesadarannya nyaris ditelan nelangsa.
"Satu bulan?" Hana terbelalak, seolah permintaan itu bakal memberatkannya.
"Ya, cuma satu bulan. Untuk membayar kesediaanmu, kita akan bercerai. Aku pikir itu bukanlah hal yang berat, mengingat keinginanmu begitu kuat untuk berpisah dariku."
"Oke! Aku setuju. Tapi kau harus berjanji agar tidak mempersulitku dan jangan lupa setelah satu bulan ini selesai, kau harus menandatangani suratnya."
"Kau tidak perlu khawatir, aku cukup sadar atas perkataanku." mendadak salivanya terasa pahit, menyadari pula tubuhnya seakan makin lemah da melemah. Bahkan kita tidak perlu bercerai, karena aku pasti pergi dari dunia ini, Hana. Aku akan mati membawa semua perasaan cintaku padamu.
-----
Pagi ini ada yang berbeda di kediaman keluarga Masahiro. Hana sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suami juga anak-anaknya. Pemandangan baru, mampu mengundang sedikit senyuman di bibir sang suami.
Hana menyuguhkan hidangan sehat untuk keluarganya. Nasi tim bersama ikan salmon, juga sayuran hijau seperti brokoli, asparagus dengan tambahan wortel agar terlihat lebih berwarna dan menarik. Hinata menyajikan makanan ini untuk anak-anaknya yang memang masih dalam masa pertumbuhan. Tak lupa dua gelas susu segar juga tersedia. Kepandaian dalam memasak sebagian kecil sudah ada sejak lama. Meski ini pertama kalinya, namun berkat ilmu yang sedikit itu ternyata dia mampu menyediakan hidangan enak.
Hidangan khusus bagi Rai, Hana memasak ramen spesial yang memang menjadi makanan favorit suaminya. Jika dimasak dengan berbagai macam sayuran, tentu sajian ini akan bertambah sehat untuk dimakan.
"Silakan cicipi dulu, aku menambahkan sayuran agar lebih bergizi. Aku tidak tahu lagi apa yang kau sukai selain ramen ini." kata Hana sembari dia mengambil sesendok kuah ramen dan meniupnya sebentar untuk dia suapkan ke mulut Rai. "Bagaimana rasanya?"
"Aku tidak menyangka masakanmu seenak ini." pujian ini menyebabkan Hana berbinar-binar riang, puas sebab jeri payah tangannya disukai oleh sang suami. "Pas sekali di lidahku."
"Syukurlah kalau kau suka. Maafkan aku, hanya itu yang bisa kuberikan padamu. Lain kali akan kubuat makanan yang berbeda. Kau hanya perlu memberitahu apa pun yang ingin kau makan, akan kumasak untukmu." Baru kali ini Rai menemukan istrinya berkata lembut. Hati yang tadinya kering tanpa kasih, perlahan-lahan mendingin lagi. Begitu pun Hana, rasa gembira itu samar terbaca di sela-sela penyesalan karena tidak menghidangkan makanan yang lebih baik untuk suaminya.
"Terima kasih, Han. Aku senang kau mau melakukan ini semua untuk kami. Aku jadi tidak sabar menunggu masakanmu yang lain. Kau boleh memasak makanan apa saja dan aku pasti menghabiskan semuanya." Rai kelihatan bersemangat menyebutkan kehendaknya, sembari tangan pun terus menyuap pelan sendok demi sendok ramen ke mulutnya. Sesekali dia menatap lewat pandangan teduh pada sang istri, bertemankan senyum yang pagi ini kekal di wajahnya yang tampan.
Berhadapan langsung dengan suami dan anak-anaknya membuat perasaan Hana mengalami perubahan. Dia justru gelisah. Tahan menundukkan wajah, menyembunyikan rona yang tanpa dia sadari muncul di kedua pipinya. Ego berusaha menyangkal, kendati kerupawanan sang suami adalah kenyataan di depan mata, Hana tidak mau dia terpukau karenanya. Tidak sekarang, atau rencananya terancam gagal.
"Aku ingin melihat anak-anak terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor." Rai menuturkan jangka dia baru saja menyelesaikan makan paginya.
"Mereka di taman belakang, Tamae sedang menyuapi mereka. Biar kuambilkan jas dan juga dasimu."
"Terima kasih, maaf merepotkanmu ya." Gerakan refleks tiba-tiba saja menyapa tubuh Hana, Rai mengusap pelan puncak kepala istrinya. "Kau berusaha dengan sangat baik." senyum mengacaukan pikiran itu lagi-lagi datang untuk menghancurkan egoisme Hana.
Hana menyadari ada yang tidak beres pada jantungnya hari ini. Getaran yang mengisi rongga dada, hingga dia terdiam mematung di sana. Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya aneh sekali. Bukankah dia memang selalu bersikap demikian?
-----
Begitu kembali dari kamar, Hana membawa jas dan dasi untuk dikenakan suaminya. "Biar kubantu memakainya." dia mengalungkan dasi ke leher Rai sekalian merapikan letak jas supaya benar-benar pas.
"Terima kasih, sayang." Ciuman keresahan itu akhirnya turun pula, mengenai kening Hana. Terlalu mendadak dan perempuan itu belum siap menerimanya. Menyenangkan, tapi asing bagi Hana.
"Aku menantikan makan malam yang enak darimu." hanyut dalam pikirannya sendiri, ucapan Rai pun tiada masuk ke telinga Hana. "Han ... kau tidak mendengarku? tanyanya sembari mendekati istrinya. "Kau baik-baik saja? Mukamu merah, sayang." Rai mengangkat pelan dagu istrinya, mempertemukan tatapan mereka. Lantas, sebentuk rasa yang sulit dimengerti terlintas di benak keduanya.
Hana dibuat tercekat akibat tindakan intim suaminya barusan. Dengan cepat dia memalingkan wajah, berusaha menetralkan rasa gugup yang kian parah. "Itu, apa katamu tadi? Maksudku ... aku akan memasak makanan enak untukmu, nanti malam." Segera Hana meninggalkan suaminya dengan langkah tergesa-gesa. Menitipkan kesan berbeda pada Rai, dia tampak bahagia di momen ini. Satu hal yang dia sadari, dia menyukai ketika istrinya secara alami menjadi malu-malu karena berdekatan dengannya. Rai beranjak membawa kebahagiaan yang singkat tersebut, namun amat berpengaruh terhadap dirinya.
Bersambung...
