Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sepuluh: Jiwa yang kosong

Jika keping-keping kenangan itu bersembunyi

Dan doa yang dihunjamkan tak lagi menjadi harap

Biarkanlah gemuruh rindu ini perlahan sirna terlahap

Akhirilah semua jejak indah ini sebagaimana senja yang tenggelam kala malam mendekap

-----------------------------------

Malam yang suram menyampaikan apa yang tak dapat terucapkan di kala terang, dia hanyalah kesunyian yang kerap memendam riuhnya sendiri. Bukankah sesuatu yang tampak kosong tak selalu dapat untuk disinggahi?

Wanita itu berjalan terhuyung tanpa arah. Keadaannya sangat jauh dari kata baik. Wajahnya pucat dengan tatapan kesedihan yang tak bisa menguap tanpa pelampiasan. Bagai seorang tuna rungu yang tuli, dia lebih memilukan dari kelompok itu. Tak menghiraukan apa dan siapa yang ada di sekelilingnya. Rambut panjangnya tergerai berantakan dan melayang-layang terembus angin malam.

Di sanalah dia melangkah tanpa alas kaki yang menjaga dari kerasnya aspal jalanan yang kasar, terus berjalan tanpa tujuan pasti. Mengabaikan dirinya yang kini menggigil sebab hanya diselimuti sebuah gaun pendek tak berlengan dan pasti tak pula cukup menghangatkan tubuh mungilnya. Sesekali terdengar rintihan parau dari bibirnya yang bergemeletuk. "Aku merindukanmu, Rai ...."

Hana tak lagi bisa merasakan apa pun di dalam hatinya. Penyesalan terlalu dalam menguasai jiwa. Benaknya semakin berteriak frustrasi kala waktu yang dia punya kelewat singkat. Perbuatan dosa selama tiga tahun dia tebus dalam tiga puluh hari. Bila saja suaminya tak mengajukan satu permintaan yang semula adalah beban bagi Hana, kini menjadi bulir kenangan yang tersisa dari laki-laki paling baik sedunia baginya. Tanpa kesempatan tersebut, dia tak akan pernah tahu betapa besar rasa cinta yang laki-laki malang itu miliki teruntuk dirinya seorang.

"Aku ingin pulang." Hana kembali menangis dalam racauannya. Air mata terus mengalir tiada henti ke pipi mulusnya, tanpa ekspresi. "Di mana Rai?" tanyanya. "Aku harus ke mana? Dia pasti menungguku, bagaimana bila dia mencariku dan aku tak ada di sana?" wanita itu tanpa henti mengatakan kalimat-kalimat menyayat hati.

Semua orang tahu, suaminya sudah tiada. Mereka memberitahu dengan cara yang paling halus. Namun dia tetap saja membantah, bahkan menjerit lantang menyangkal semua tuduhan orang-orang.

Tak jarang Hana menghancurkan barang-barang di sekitarnya bila orang-orang menyebalkan itu tetap juga mengatakan pada dia akan kematian suaminya. "Hanya aku yang tahu, dia masih di sini bersamaku." dengan suara parau, Hana meyakinkan dirinya sendiri. "Dia tidak boleh mati selama aku masih bernapas. Tolong jangan katakan itu. Jangan lagi menyumpahinya!" Hana akan seketika berubah histeris bila tak ada satupun dari mereka yang mempercayai ucapannya. Lebih baik dia lari, pergi menjauh dari orang-orang yang hanya bisa mengutuk nyawa lelaki yang dia cintai. Sekarang, belum lama dia sadar ... meskipun terlambat, tapi keyakinan bahwa suaminya masih ada tetaplah kuat.

.

.

.

"Nyonya Hana ... Nyonya ...." cukup keras suara Tamae memanggil berulang kali. Dia melangkah tergesa-gesa sembari mengamati sekitarnya, menoleh ke kiri ke kanan mencari keberadaan Hana. "Anda di mana, Nyonya? Ya Tuhan, di mana dia? Dia bisa sakit jika tidak segera ditemukan. Cuaca di luar dingin sekali." Tamae memeluk tubuhnya sendiri akibat tak kuat menahan suhu rendah yang menyapu di permukaan kulitnya.

"Rai! Ayo kita pulang." dari tempat lain Hana masih terus menyerukan nama suaminya. Dia terus berjalan sampai langkahnya menuntun dia ke sebuah warung makan, tepatnya warung kecil yang menjual ramen. Tahu-tahu bayangan sekeping peristiwa masuk ke dalam pikirannya, teringat saat Rai begitu bersemangat menghabiskan ramen yang dia buat. Pria itu betah mengulas senyum di bibirnya sambil menikmati tiap suapan ramen. Alhasil, memori sekian justru berdampak buruk bagi Hana. Kakinya seakan menjadi lembek, lemah untuk berpijak ... sehingga membuat Hana terduduk di depan warung lalu menangis.

Hana mencengkram kuat gaun pendek yang dia kenakan, menelan ulang sembilu yang sungguh menyakitkan. "Rai ...." sebagian dari hatinya kini telah mati. Menyesal, satu kata yang ada di benak Hana. Seandainya waktu bisa berputar kembali, seandainya waktu bisa mengubah hatinya lebih awal dan sendainya masih ada kesempatan. Betapa berharapnya dia bisa memberi cinta yang dia miliki pada suaminya sepenuh hati. Apakah ini hukuman untuknya? Hana benci, dia membenci dirinya yang cuma mampu menangis. Sementara semasa hidup Rai, pria itu tiada pernah menunjukkan raut kesedihan di depan Hana. Kendati tiada suasana baik di hari-harinya, Rai tetap berupaya membagi senyuman. Hana tahu betul dan tidak akan melupakan situasi ini.

Malam bertambah dingin. Sunyi dan senyap kini mengungkung relung hati Hana. Hidupnya bagai raga tanpa jiwa. Tangisan kerap kali terdengar kala dia mengingat kepingan dosa yang dia timbun. Menoleh ke belakang bagaimana perlakuan kasarnya pada sang suami. Dia bahkan tak segan-segan menodai kehormatan seseorang yang selalu tulus padanya. Menelantarkan anak-anak, pula tak mengacuhkan suaminya ... dia lebih memilih pergi dengan laki-laki lain.

Hana bagaikan hidup di dalam dua sisi tanpa kepastian apa pun. Musibah yang menimpanya menjungkirbalikkan hidupnya detik itu juga. Hidup tanpa cinta, kepergian sandaran jiwa, kehilangan penopang raga, terbenamnya matahari yang selama ini mengasihi tanpa pamrih. Hana kehilangan arah, batin membeku seiring cinta yang telah pergi menjauh darinya.

"Ya Tuhan, Nyonya Hana!" Buru-buru Tamae mendekati Hana, menarik tubuhnya dari lantai kasar nan berdebu. "Nyonya, sebaiknya kita pulang. Aku khawatir kamu jatuh sakit."

"Aku sedang menunggu suamiku ...." tentu Hana tidak menyadari perkataannya sendiri, yang tertinggal di dalam pikirannya adalah sosok Rai.

"Tuan Rai tidak mungkin ada di sini." raut wajah Tamae berubah bingung sekaligus cemas. "Apa mungkin Tuan sudah pulang, Nyonya?" Kebohongan Tamae semata-mata demi dapat membujuk Hana untuk pulang.

"Benarkah?" binar senang tergambar di paras Hana, dia tersenyum.

Sempat Tamae menghela napasnya, mempertimbangkan ulang perkataan selanjutnya. Lalu, dia mengangguk dan berkata, "Bisa jadi dia sudah menunggu Anda." Air mata tak dapat dicegah. Tamae menyesal atas sandiwaranya, tetapi demi kebaikan sang Tuan dia siap berbuat apa saja.

"Benarkah?! Kalau begitu kita harus segera pulang. Dia pasti lapar dan aku belum memasak makan malam untuknya." Satu dua kali lagi, kesedihan tumpah dari pelupuk mata Tamae.

"Saya akan membantu Anda setelah kita tiba di rumah. Yang terpenting, Anda harus makan dulu bila tidak ingin Tuan marah."

"Aku tahu, Rai memang sangat mencintaiku. Dia pasti sibuk mencariku sekarang, iya 'kan?" Hana berceloteh di sepanjang jalan. Sepintas ia kini tampak baik-baik saja. Namun tidak nuraninya. Dia sakit, Hana menderita sebab perasaan pribadi. Menyangkal takdir, hingga tak jarang dia membohongi diri demi menepis luka.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel