Sebelas: Merasakan sakitmu
Pagi berganti siang, siang berganti malam. Hari terus bergulir tanpa diminta, tak berhenti kecuali bila napas pun telah habis. Matahari dan bulan melakukan peran sebagai pelita dalam waktu berbeda, meskipun keduanya punya tujuan yang sama. Sebulan sudah semenjak suaminya dinyatakan meninggal dunia. Bulir-bulir kenangan berisikan dosa satu persatu kini mulai mencuat kembali ke permukaan benak.
Andai bisa membuang semua dosa dalam satu kali mata terpejam. Bila saja mampu menukarnya dengan keping-keping kenangan yang manis. Barangkali masih bisa mengulang lagi kebersamaan dengannya. Ingin, sangat ingin, teramat ingin. Nelangsa memohon bertemankan genangan air mata yang entah kenapa saat ini begitu mudahnya mengguyur membasahi pipi hingga mengering, lagi dan lagi mengalir dari pelupuk mata.
Terkadang bertanya-tanya bila hukuman bermula? Berharap tahu hingga kapan akan berlangsung. Sesak menunggu berujung seperti apa. Adakah bisa melihat senyumnya lagi walau hanya siluet. Meski serpihan khayal yang menghilang bersama angin, pun bila samar dia hadir menyapa ke dalam mimpi. Tak seorangpun mengerti bagaimana rasanya. Bahkan teriakan yang mengambil semua tuturnya pergi, pita suaranya hancur, membiarkan mereka rusak bersama kenangan pahit, rela. Namun tetap hanya menjadi secuil mimpi semu.
"Nyonya, kamu harus makan. Kamu mau Tuan segera pulang 'kan?" Rayu Tamae sembari dia menyisir rambut panjang Hana perlahan-lahan. "Kamu juga tahu 'kan dia tidak suka bila kamu tidak makan."
"Tidak, aku ingin makan. Dia selalu menyuruhku makan sebelumnya, tapi aku ... tidak, tidak lagi. Cepat! Ambilkan makanannya."
Hana masih mengingat suasana di pagi-pagi mereka, di mana Rai tengah duduk di meja makan sembari menikmati sarapan. Wajahnya lesu seperti orang-orang kekurangan tidur. Laki-laki itu menikmati hidangan bagai tanpa berminat. Hana mendapati raut demikian saat suapan sendok berada di dekat bibir Rai. Dia termenung, lalu memijit pelipisnya yang boleh jadi dipenuhi oleh masalah-masalah yang enggan bagi Hana mencari tahu. Hana memilih diam, keputusan tersalah yang pernah dia perbuat.
Han, kamu sudah akan pergi? Kamu tidak makan dulu? Kemarilah makan bersamaku.
Maaf, aku langsung pergi saja. Aku bisa makan di sana nanti.
Suasana tenang seketika bising saat Hana histeris meminta makanannya. Teriakan bercampur tangisan menyayat hati dan selalu membuat Tamae iba, turut dia menangis. Berkali-kali Hana menyebut nama Rai. Terang saja ia akan menerima umpatan atau makian dari siapa pun yang merasa terganggu oleh perilakunya. Bila dari mereka tak mengetahui sembilu luka yang harus dia tuai.
Tamae memeluk erat perempuan itu. Satu-satunya hal yang bisa diperbuat olehnya dalam berusaha menenangkan Hana, sesal yang dirasakan luar biasa menyiksa batin. Sangat dalam jua sulit terlupakan.
Tamae sontak terbelalak ketika Hana tiba-tiba saja pingsan. Dia menahan tubuh Hana supaya tidak jatuh ke lantai. Menatap nanar wajahnya yang kian hari bertambah tirus, samar-samar memperlihatkan tulang pipinya. Air mata enggan berhenti, kendati dirinya kehilangan kesadaran kemudian.
"Nyonya ..." sebut Tamae di tengah kepanikan. Dia memapah hati-hati tubuh Hana ke ranjang, tak jauh di sampingnya.
-----
Tamae menyelimuti tubuh Hana setelah sebelumnya perempuan itu histeris tanpa henti memanggil nama mendiang suaminya. Dia pingsan dengan air mata yang terus mengalir. Sebegini sakitkah yang dirasakan olehnya? Tamae sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Menghakimi pun tidak, walau sedikit banyak dia tahu apa yang terjadi di balik semua keharuan ini. Tamae sangat memahami apa yang dia saksikan, sebentuk ujian dari sang pencipta untuk Hana sebagai penebusan kekhilafan yang telanjur dia perbuat. Berada di samping Hana, dia hanya dapat mengawasi, merawat, menghibur, menyisipkan doa khusus untuknya di atas harap.
"Nyonya, tolong relakan Tuan. Yang kamu lakukan ini justru membuat dia tidak tenang di kehidupan sana." Tamae berkata lirih sembari mengusap-usap rambut Hana. Usai memastikan perempuan itu tertidur, Tamae lekas meninggalkannya untuk menelepon seseorang yang bertanggung jawab terhadap kondisi Hana.
Salah satu dari sekian banyak hal yang akan menjadi sumber kebahagiaan Hana adalah peristiwa munculnya fajar yang di setiap pagi. Fajar yang selalu menjadi milliknya seorang, hanya dirinya. Sebab fajar itu mampu memberi sinar terang benderang, menghapus kelelahan sebelum datang gempita malam berselimut kabut kedamaian. Seperti fajar yang siap menyinari bumi tanpa batas waktu, Rai satu-satunya sosok cahaya terang kala dunianya terasa gelap penuh kehampaan.
Betapa semua kenangan singkat itu terasa sangat indah. Padahal Hana ingin sekali Rai tahu, dari semua hal menyenangkan di dunia ini, dirinya lebih suka bisa selalu duduk di samping pria itu. Berbagi cerita apa saja yang telah dilalui. Saling berucap kata cinta, pujian kekaguman terhadap diri masing-masing. Semua kesederhanaan itu jauh lebih indah dibandingkan dengan kemilau emas berlian termahal.
Bukankah di surat itu sudah jelas, Rai. Aku ingin kita bercerai. Aku lelah berpura-pura dalam pernikahan ini. Tidak ada diantara kita yang bahagia disini. Aku berharap kamu menemukan wanita yang lebih baik dariku.
Tapi aku sangat mencintaimu, Han. Bagaimana kamu sanggup berpikir aku tidak bahagia bersamamu? Apa anak-anak kita tidak cukup untuk meyakinkanmu?
Peluh dingin membanjiri pelipis Hana. Perempuan itu meracaukan kata-kata yang tak jelas dalam tidur, terus saja dia menggelengkan kepalanya. Kilatan memori menyakitkan masih belum puas menyerang jiwanya hingga ke alam mimpi.
Aku mau dalam sebulan ini kamu tidak pergi bekerja. Tetaplah di rumah melakukan peranmu sebagai istri yang sebenarnya, sekaligus ibu yang memperhatikan dan menyayangi anak-anaknya.
"Rai, tunggu. Jangan ke mana-mana Rai, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa di sini sendirian. Tolong, biarkan aku ikut. Rai, tunggu aku." Hana mengigau lagi. Tangannya terulur seakan sedang mencoba meraih sesuatu, tetapi sulit digapai.
Baiklah. Akan kulakukan. Kupenuhi permintaanmu, Rai. Kamu harus berjanji tidak akan mempersulitku nanti. Dan jangan lupa setelah satu bulan ini selesai, kamu harus menandatangani surat cerainya.
"Jangan! Berikan suratnya padaku, aku tidak akan pergi. Jangan! Aku tidak mau bercerai. Tidak, aku tidak mau, Rai!" Hana menjerit. Dia tersentak, terbangun dari mimpi sekian buruk. Deru napasnya tidak teratur, dadanya terengah-engah. Persis seseorang yang dihantui rasa menakutkan.
"Nyonya ...!" pekik Tamae. Buru-buru dia membuka pintu kamar. "Kamu bermimpi lagi?" tanyanya cemas. Bisa menebak keadaan Hana, sebab dia memahami kebiasaan-kebiasaan sang majikan. Tamae langsung mengambil obat penenang yang ada di dalam laci nakas, meraih segelas air putih di atas laci untuk diberikan pada Hana. "Tenanglah, tidak ada yang perlu kamu takutkan. Itu semua hanya mimpi, aku di sini menemanimu." Lirih Tamae guna meredakan kekalutan yang barusan dialami Hana. Seperti malam-malam biasa, kini dia pun siaga menemani Hana menanti pagi dan asa.
Bersambung...
