Sembilan: Hampa
Tak ada yang dilakukan Hana, dia hanya menatap bisu jenazah yang beberapa hari ini memadu kasih bersamanya dan saling berjanji untuk selalu mencintai satu sama lain, selamanya. Baru sebentar dia merasakan indahnya berbagi rasa penuh cinta. Kini ujian atau semacam hukuman seperti datang menyinggahi terlalu cepat. Sungguh sulit untuk memercayai musibah yang terjadi. Ditinggalkan lelaki terkasih secara tiba-tiba menyisakan ribuan tanya yang terus berputar-putar di benaknya.
'Kenapa kamu pergi Rai? Aku harus bagaimana tanpa kamu di sini?' batin Hana cuma sanggup meratapi.
Tubuh Rai yang kokoh, terbaring kaku di atas ranjang ... tempat dia menopang rasa lelah di setiap pengujung malam. Matanya terpejam, menutup cahaya kehidupan yang semula kerap terbias.
Beberapa jam sebelumnya...
Jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Tiba-tiba saja Rai terbangun, sepasang netranya melirik Hana yang tengah tertidur lelap. Rai meringis kesakitan, rasa sakit yang sungguh luar biasa hingga dirinya tak sanggup untuk menahan. Tatapan matanya kian menyendu, perlahan-lahan tangan Rai terangkat membelai lembut rambut istrinya.
"Maaf, Han." bisiknya lirih tepat ditelinga istrinya. "Maafkan aku telah membuatmu mengorbankan kebahagiaanmu." Kian detik, rasa sakitnya meningkat, menghantam kuat dibagian perutnya. "Tuhan, inikah waktuku?" Bibir Rai bergetar, kelopak matanya terpejam, dampak dari nyeri yang kelewat menyiksa."Terima kasih untuk satu bulan terindah yang kamu berikan, Hana. Kamu akan selalu ada di hatiku." Rai menarik dan memeluk tubuh istrinya, mungkin untuk terakhir kalinya.
-----
"Nyonya, kita harus segera pergi ke pemakaman sekarang. Kamu bersiap-siaplah segera.
Anak-anak juga sudah menunggu di bawah."
"Tidak! Kalian pergilah."
"Ini terakhir kali kamu melihatnya, apa kamu tidak ingin mengucapkan salam perpisahan?."
"Tak ada lagi yang perlu kukatakan."
"Baiklah! terserah padamu." Kenji pergi tanpa usaha lebih untuk meyakinkan Hana agar ikut ke pemakaman.
Tubuhnya terlalu lemas dibawa berdiri, Hana bersandar di kepala ranjang ... memandangi sepucuk surat yang dia pegang sebagai wasiat dari mendiang suaminya. Dengan beberapa lembar foto yang pula tampak terbalik di belakang surat. Dia mencoba menguatkan diri untuk membaca setiap kalimat yang tertulis.
'Teruntuk istriku tercinta, Hana Masahiro'
Han, sayangku. Bagaimana kabarmu? Kuharap kamu selalu baik-baik saja. Mungkin saat kamu membaca suratku ini, aku sudah tidak ada di sisimu.
Han, maafkan aku yang tak bisa lagi untuk menjagamu dan juga malaikat-malaikat kecil kita. Maafkan aku.
Kamu tahu, saat pertama kali kita bertemu aku sudah jatuh cinta padamu. Walaupun pernikahan kita hanyalah karena perjodohan dan meskipun aku juga tahu kamu memiliki kekasih saat itu. Aku pikir kamu pasti hendak membatalkan perjodohan kita, aku bisa melihatnya dari tatapan di matamu ... berharap agar aku tidak menyetujui perjodohan itu. Tapi Han, aku tak bisa melakukannya. Aku tak ingin mengecewakan keluarga kita berdua, terlebih ayahmu yang sangat menginginkan pernikahan ini tetap terjadi. Maafkan aku ... menyebabkanmu terkurung dalam kehidupan yang tak pernah kamu harapkan ini.
Sejujurnya aku bisa menerima jika kamu membenciku. Meski pada awalnya aku takut akan hal tersebut, tapi semua prasangka sirna saat aku melihat wajahmu. Aku tak tahu kenapa, tapi sungguh aku sangat mencintaimu, Han. Aku tetap bersyukur kamu bersedia bersamaku dan tidak keberatan untuk melahirkan buah cinta kita. Maaf bila kamu menyesalinya.
Han, aku tak mengharap dan meminta cintamu untukku. Mencintaimu adalah hal terindah yang kupunya. Begitu banyak mimpi yang singgah di dalam khayalku untuk bisa membagi cinta yang tulus sampai kita menua bersama. Bahkan di saat Aku mati pun, aku ingin kamu ada di sampingku. Mati di pelukanmu bisa mengurangi rasa kecewaku terhadap waktu yang teramat singkat ini.
Kamu harus mengingatnya, Han. Bahwa Di hatiku hanya akan ada cinta untukmu. Di mana pun keberadaanku, hatiku akan tetap bersamamu.
Terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan, istriku. Aku menitipkan kebahagiaanku bersamamu ... agar kaku selalu mengingatku.
Dari suamimu,
Rai Masahiro
.
.
.
Hana memandang haru dua lembar foto yang terlampir di belakang surat itu.
Air matanya jatuh begitu deras saat membaca setiap kata dan kalimat yang tertulis di sana. Gemuruh sesak dan pilu memenuhi rongga dada Hana kala mengetahui ketulusan Rai yang begitu mendambakan cintanya. Dan ketika dirinya sudah mencintai, lelaki baik itu kini pergi meninggalkan dia untuk selamanya.
"Satu kali saja, tolong! Beri kesempatan padaku. Kembalilah, Rai! Aku tidak bisa menerimanya. Biarkan Tuhan mengutukku asal hidupmu kembali. Aku siap menanggung semua hukuman untuk bisa bersamamu. Tuhan, kembalikan Rai padaku." Hana terduduk di atas lantai yang dingin, kakinya ditekuk. Sepenggal doa harapan diucapkan olehnya di sela-sela kesadaran yang ada. Rendah terdengar seakan dia tengah berbisik. Kedua tangan Hana meremas kuat surat peninggalan suaminya, melampiaskan segala keputusasaan.
Hana masih ingat wajah terakhir Rai sebelum dia meninggal di dalam tidurnya. "Rai ... aku juga mencintai kamu."
Terdiam. Pandangan matanya kosong diiringi raut wajah yang masih datar. Dia mengacak-acak seikat bunga matahari yang dia beli sebelumnya untuk diberikan kepada Rai dan kini hanya tinggal asa yang hampa. Wajah cantiknya sembab, matanya pun kian memerah, lelah akan tangis yang tak berujung. Sungguh sebuah rasa yang teramat terlambat.
-----
"Bagaimana keadaannya, Tamae? tanya Kenji pada si pengasuh anak keluarga Masahiro.
Tamae hanya menggeleng-gelengkan kepala, "Aku tidak bisa memahami ekspresi di wajahnya."
"Sikapnya pada anak-anak, apa dia merespons mereka?"
"Hampa Tuan. Dia tidak marah, tidak menangis, juga tidak tertawa. Nyonya memang masih menanggapi apa yang kubilang. Tapi tiada emosi apa pun yang terlihat di matanya. Aku juga sering mendengar dia berteriak dan menangis di malam hari. Aku kasihan padanya." jawab Tamae, merundukkan kepalanya sebagai bentuk keprihatinan.
"Begitu ya. Aku permisi pulang dulu. Tetap awasi dia, Tamae. Dan tolong jaga anak-anak untukku. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan kembali."
-----
Malam yang suram menyampaikan apa yang tak dapat terucapkan di kala terang, kesunyian yang kerap memendam riuhnya sendiri. Bukankah sesuatu yang tampak kosong tak selalu dapat disinggahi?
Wanita itu berjalan terhuyung tanpa arah. Keadaannya sangat jauh dari kata baik. Wajahnya pucat dan tatapan kesedihan yang tak bisa menguap tanpa pelampiasan. Bagai seorang tuna rungu yang tuli, dia lebih memilukan dari kelompok itu. Tak menghiraukan apa dan siapa yang ada di sekelilingnya. Rambut panjangnya tergerai berantakan, melayang-layang terembus dinginnya angin malam.
Di sanalah dia melangkah tanpa alas kaki yang menjaga dari kerasnya aspal jalanan yang kasar, terus berjalan tanpa tujuan pasti. Mengabaikan diri yang menggigil karena hanya terbalut sebuah gaun pendek tak berlengan ... tak cukup menghangatkan tubuh mungilnya.
Sesekali terdengar rintihan parau dari bibirnya yang bergemeletuk. "Aku merindukanmu, Rai ...."
Bersambung...
