Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Dua belas: Jangan pergi!

Perlahan-lahan kelopak mata Hana terbuka, cukup  tertegun menyaksikan pemandangan di sekelilingnya. Hamparan padang rumput yang luas. Berisikan semilir angin tenang. Dirinya berjalan menyusuri padang rumput, lalu tubuhnya membatu kala melihat punggung kokoh dari sosok laki-laki yang familiar olehnya.

"Rai ...." dia bersuara lirih.

Sosok yang dia amati dari kejauhan tersebut menoleh, membalikkan tubuhnya, memberi senyum tulus tanpa beban. Sejenak Hana berpikir, mungkinkah sekarang dia sudah mati? Tak ada keraguan, hanya ada sesaknya rindu ... mendorong kakinya berlari secepat dia mampu. Walau terjatuh, dia bangun semula untuk terus mengejar sosok itu ... ingin sekali dapat memeluknya.

"Rai ....?Jangan pergi lagi," air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Akan kulakukan apa saja asal kamu tidak meninggalkan aku," tutur Hana di sela-sela tangis penyesalan. Menghiraukan sempitnya rongga di dada akibat pernapasan tersengal-sengal.

"Han ...." sosok itu berbisik lembut, "Kamu jangan menangis, aku selalu di sini sayang ... bersamamu." Sosok itu merapatkan jarang di antara mereka, betapa lembutnya mendekap Hana.

"Kamu bohong. Aku mencarimu ke mana-mana, tapi kamu tidak ada. Apa kamu sangat marah padaku? Maaf kalau aku salah, aku janji tidak akan mengulangi." 

"Han, sayang ... aku sudah memaafkanmu. Aku tidak mungkin menghukum istriku sendiri." sosok itu merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata Hana dengan ibu jarinya. Membawa perempuan tersebut duduk bersamanya, beralaskan rumput hijau yang lembab. "Untuk apa menangis, cantikmu jadi hilang. Aku lebih suka senyummu."

"Rai ...."

"Hm?"

"Aku mencintaimu." Sosok itu hanya bergeming, selain seyumnya sungguh menenangkan. Dia mengecup sekilas bibir Hana, sebelum akhirnya menghilang bagai debu yang berterbangan bersama angin.

Matanya mengerjap-ngerjap, Hana mencari ke mana perginya sosok itu. Panik, bingung menguasai dirinya detik itu juga. Buru-buru Hana bangun dari rerumputan, berlari tak tentu arah, berupaya menyusul sosok yang keberadaannya hanyalah semu.

"Rai!" dia kembali berteriak, tubuhnya dipenuhi peluh nan dingin. Hana kembali gagal mengontrol emosi itu. Dia histeris, meraung sejadi-jadinya.

Sampai seseorang masuk tergesa-gesa ke dalam kamar, dengan langkah cepat mendekati Hana. "Ada apa Nyonys?" Tamae memeluk, mengujarkan kalimat-kalimat yang kiranya bisa menenangkan. Meski merasa sedikit kesulitan. Akhirnya dia mampu menghentikan teriakan Hana ... memberi obat penenang untuk kesekian kalinya. "Nyonya, saya berharap sekali Anda bisa terlepas dari obat-obatan ini. Cobalah untuk ikhlas menerima yang terjadi, setidaknya Anda bisa lebih tenang. Memang tidak mudah kehilangan orang yang dicintai. Tapi percayalah, dia di sana pun juga bersedih bila tahu kondisi Anda seperti ini."

Justru kekosongan yang dapat ditangkap di mata Hana. "Kamu tidak akan mengerti. Aku mencintainya dan terlambat. Seperti jantungku ini mati, tetapi aku tidak bisa menerimanya."

"Kamu menjawabku? Kamu mengerti apa yang ku katakan?"

Hana mengangguk pelan. "Dia pergi, itu yang kalian yakini. Bukan aku."

"Nyonya," Tamae menangis dan berkata, "Itu hanya mimpi."

"Kamu tidak pernah tahu. Hanya aku yang bisa ...." Hana kembali terlelap akibat obat penenang yang diminumnya. Tamae memilih tidur di samping dia, mengantisipasi andai Hana bermimpi buruk semula.

Mimpi itu sangat nyata. Hana bisa merasakan betapa hangat dekapannya. Senyum serupa, sedikitpun tiada berubah. Wajahnya tetap menggambarkan ketulusan dan kasih.

Lalu harus dengan apa menyimpulkan yang baru terjadi? Bila pun itu bunga tidur, namun efeknya sungguh tidak diduga. Sesaat Hana membaik. Daripada meracau seperti yang sudah-sudah, mengamuk, menjerit, dia malah berbicara dengan benar. Kalimatnya bukan lagi berisi ocehan hampa. Tamae mengira, sekejap Hana telah tersadar dari depresinya. Namun belum dia sempat memastikan, Hana kembali damai di dalam tidurnya.

.

.

.

Semburat matahari menyeruak ke sudut ruangan. Masuk melalui celah-celah ventilator di atas bingkai jendela. Kamar yang gelap, suram dan dingin seakan memiliki harapan baru. Hana bergerak tak nyaman merasakan cahaya membelai sisi wajahnya. Dia bangun dalam keadaan jauh lebih tenang. Mulutnya menguap, melenyapkan sisa kantuk yang tersisa. Dia melangkah perlahan mendekati bingkai jendela. Menyingkap tirai dan membuka jendela ... sontak menutupi wajah dari sentuhan langsung kilau jingga yang menyilaukan manik kelam miliknya.

Hana menepi ke kiri, menarik napas lumayan dalam demi menghirup udara pagi yang terasa menyegarkan, menjernihkan kalutnya pikiran. Sejemang bergeming, kilas balik mimpi malam tadi berputar di benaknya. Tiba-tiba Hana bersimpuh di lantai, lagi. Dadanya bergemuruh, dia menahan kesakitan itu sembari terus memegangi kepalanya. Bagaikan ada benda yang menusuk, menembus tempurung kepala.

Teramat sakit, tetepi Hana hanya mampu diam. Seolah dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya, tak ada teriakan sebagaimana selalu dapat didengar, bahkan setitik air mata pun nihil. Beberapa menit berlalu, suara pintu terbuka dan Tamae masuk membawa nampan kayu lengkap dengan isinya. Segelas air putih, secangkir teh chamomile juga semangkuk sereal gandum. "Nyonya ...." sebut Tamae agak panik. Dia lantas meletakkan nampan di atas nakas, "Anda kenapa? Ayo, saya bantu Anda berdiri. Dia memapah Hana untuk kembali duduk di pinggir ranjang. "Minum dulu teh ini, agar Anda merasa lebih baik."

Hana menyesap perlahan tehnya. Apa yang disaksikan Tamae tadi membuat dia terperangah sekaligus bingung. Sama seperti tadi malam, dia sangat tenang. Benarkah? Tamae berdeham. "Bagaimana perasaan kamu hari ini?"

"Kamu bertanya padaku?"

"Iya, Nyonya. Saya perhatikan Anda sangat berbeda. Entah cuma pikiran Saya, tetapi Anda kelihatan lebih baik dari biasanya."

Hana menatap datar wajah Tamae, tak ada raut apa pun. Setitik respons di wajah atau ekspresi yang biasa ditunjukkan seseorang kala meresapi rasa atau suasana yang berbeda. "Aku tidak apa-apa, memangnya apa yang terjadi?"

Satu pengakuan yang membalikkan dugaan Ayame, keyakinannya memudar, dia berpikir Hana seperti melupakan peristiwa besar yang sempat menyiksa batinnya. "Maaf, bukannya saya lancang. Apa Anda mengingat kematian suami Anda?"

Hana mengangguk, "Iya, tapi itu bukan mudah dilupakan."

"Ada yang lain dari diri Anda. Sekarang ... Anda tidak lagi marah-marah."

"Benarkah? Kamu pasti ketakutan." dahi Tamae mengernyit, tak mengalihkan tatapannya dari Hana. "Boleh kumakan serealnya?"

"Tentu saja. Saya menyiapkannya memang untuk Anda. Ehm ... maafkan saya Nyonya, apakah Anda sungguh baik-baik saja? Lusa Dokter Kenji berkunjung. Dia akan memeriksa kondisi Anda dan memberi obat yang diperlukan."

Hana melahap serealnya. Diamati berlama-lama pun tidak ada yang mengkhawatirkan dari gelagatnya. Jika biasanya cukup sulit untuk membujuk dia makan, maka tidak hari ini. Jelas Tamae berprasangka bagus atas perihal ini, "Anda suka serealnya? Itu rasa vanila, bukankah Anda suka rasa vanila?"

"Betulkah? Aku tidak tahu, aku cuma ingin menghabiskan makanan yang kamu berikan." dahi Tamae mengernyit, sikap Hana membuat dia teramat bingung. Tamae masih ingat sampai kini, bahwa vanila adalah salah satu rasa yang menjadi favorit Hana.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel