Lima: Kamu istriku
Jika ada takdir lain yang harus kupenuhi selain mencintaimu, mungkin yang paling dekat dengan pikiranku adalah tak ingin kehilanganmu.
-----------------------------------
"Rai, tumben sekali sepagi ini sudah siap." Masuk ke kamar, Hana menemukan kondisi suaminya telah rapi dalam balutan kemeja abu-abu tua.
"Aku ada janji dengan teman lama di kantor. Biasalah, minum teh sambil mengobrol masalah pekerjaan." Tangan Rai sibuk memutar-mutar dasi, hendak memasangnya dan belum jua berhasil.
"Sini, aku bantu." Hana mengambil dasi dari tangan suaminya, memasangnya tak sampai lima menit. Dasi itu menempel apik, melingkar di balik kerah kemeja Rai. "Sebenarnya, aku juga baru selesai menyiapkan sarapan untukmu."
"Serius?"
"Iya. Bangun tadi aku agak kaget karena tidak menemukanmu di tempat tidur. Pas keluar, enggak sengaja melihatmu sedang bicara di telepon. Aku juga mendengar sedikit pembicaraanmu, mangkanya langsung ke dapur untuk memasak. Mumpung waktunya masih sempat. Berikan jasnya padaku." Netra jelaga Rai tiada berkedip, mengagumi garis wajah Hana dari jarak terdekat. "Kamu memang tampan." Pujian justru kontan terungkai dengan entengnya di mulut Hana, tanpa menyadari apa yang dia katakan. Kendati kalimat itu merupakan kejujuran mutlak.
"Sungguh aku tampan?" Timbul niat jahil Rai hendak menggoda istrinya. Gara-gara ulahnya ini, Hana dibuat terpelongo.
"Ha?!"
"Katamu ... suamimu ini tampan 'kan?" Senyum Rai menampar kewarasan Hana, menciptakan warna kemerahan di pipinya. "Aku tiba-tiba besar kepala karena istriku ini memujiku." Jarak di antara keduanya menipis, akibat Rai makin merapatkan wajahnya.
"Aku ...." Hana dikuasai kegugupan, tenggorokan turut tercekat. Dia tidak bisa membalas ucapan suaminya, memilih memalingkan wajah agar rona semunya tidak menjadi perhatian Rai, atau dia akan teramat malu saat ini.
"Han ... jangan menyembunyikan kecantikanmu dariku. Istriku ini benar-benar cantik. Apakah aku tidak berhak memandangnya? Memujanya?" perlahan-lahan jemari Rai menarik dagu Hana. Sorot matanya tertuju pada bibir sang istri. Walau awalnya bimbang, Rai tetap nekat memenuhi hasratnya. Bibir keduanya bersentuhan, Rai tidak menyia-nyiakan kesempatan itu demi menyalurkan rasa cintanya melalui ciuman manis. Sebuah ciuman pertanda adanya kasih melimpah yang dia miliki terhadap Hana dan Hana menyambutnya dengan hati terbuka. Dia memahami bahwa ini patut terjadi, tidak butuh penolakan apa pun karena seluruh anggota tubuhnya telah berbicara. Sejak kini, sirna sudah keraguan Hana untuk terus mendambakan sentuhan Rai. Semenjak pelukan pria itu datang dan mengikis egonya.
"Aku ini suamimu, Han. Tidak ada batasan di antara kita. Kenapa kamu malu padaku?"
"Mm ... aku tahu. Tapi, bagiku hal ini masih terasa asing. Maaf bila sikapku membuatmu terganggu."
"Lupakan soal itu, jadilah dirimu sendiri. Aku bisa menerimanya selama kamu merasa nyaman. Terima kasih, kamu sudah membantuku berkemas." Ibu jarinya naik membelai halus pipi Hana. "Bekalku sudah siap?"
Sejemang Hana bergeming, lalu ... "Ada di atas meja." Rai mengangguk-angguk, meraih tas dan perlengkapan lainnya sebelum menyusul istrinya keluar.
Tak lama berselang, Hana menghampir Rai yang sedang menunggunya di teras rumah. "Rai, nanti malam kamu mau makan apa? Maksudku ... agar aku bisa menyiapkan bahan-bahannya dulu. Barangkali ada stok bahan yang habis di kulkas."
"Aku bahkan belum memakan yang ini, kamu langsung bertanya menu nanti malam. Kamu jadi makin tidak sabaran sekarang." ya Tuhan ... Hana sangat gelisah berhadapan dengan suasana canggung begini. Suaminya seakan amat gembira untuk berulang menggodanya. "Bercanda sayang." Senyum Rai menggetarkan rongga dada Hana, "Apa saja yang kamu hidangkan untukku, asalkan ada rasa cinta di dalamnya ... pasti kunikmati dengan senang hati." Bagai terhipnotis, Hana hanya bisa manggut-manggut di hadapan suaminya. Benar-benar jantungnya abnormal akhir-akhir ini, tak berkutik ketika Rai berbicara terlalu berterus terang padanya. "Ah satu lagi, aku mau mengajakmu keluar sore ini. Siapkan dirimu ya, luangkan waktu untukku. Jika mau, bawalah camilan yang kamu sukai."
"Ke mana?" Hana bertanya, di sela-sela euforia yang mengelilingi akalnya.
"Kamu akan tahu nanti. Aku pergi dulu." kata Rai usai satu kecupan menjamah puncak kepala Hana, mengisi rongga dadanya dengan banyak kupu-kupu yang berterbangan.
-----
"Apa kabarmu, Paman?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja."
"Aku bisa memastikannya ... tidak banyak berubah, kecuali keriput yang mulai muncul di muka Paman." Kelakar Rai menyebabkan lawan bicaranya tergelak lepas. Toshi Shinichi, dia merupakan tangan kanan mendiang ayah Rai. Pria yang selama ini cukup berjasa bagi perusahaan keluarga Masahiro.
"Memangnya aku harus berubah menjadi bagaimana, bocah?"
"Aku bukan bocah lagi Paman. Aku punya dua anak sekarang."
"Tidak mengubah kedudukanmu ... di mataku kamu masih bocah kecil yang nakal, yang selalu mengikuti ayahnya ke mana-mana. Ke ruang rapat, kamu hampir saja menggagalkan proyek besar waktu itu."
"Paman masih ingat?"
"Tentu. Tidak terlupakan. Aku pikir ayahmu marah besar dan bakal menghukummu. Dia justru tertawa gembira, mengangkat tubuhmu yang kecil ke atas pundaknya. Dia begitu sayang padamu."
"Masa lalu yang sangat menyenangkan, tapi tidak bertahan lama. Kalau dipikir-pikir, takdir terlalu kejam pada hidupku." Tahu-tahu tatapan Rai merunduk sendu.
"Jangan cengeng begitu. Di tempat lain, dia sedang mengawasimu ... bangga atas pencapaianmu, tahu?!" Kemudian Rai menengadah, menunjukkan seringai tipisnya, sedangkan Toshi ... menating cangkir untuk menyesap teh yang disajikan. "Kondisimu bagaimana? Sudah coba metode transplantasi?"
"Itu sebuah kemungkinan yang sangat kecil, Paman. Aku berada di stadium lanjut. Bahkan hidupku hanya tinggal beberapa waktu, sama halnya dengan melakukan kesia-siaan."
Tatapan Toshi mengandung keprihatinan yang tinggi. Kesedihan memancar jelas pada raut keduanya.
"Rai ... tidak ada salahnya mencoba 'kan? Kita mesti menjemput setiap kemungkinan yang ada, walau nilainya hanya secuil."
"Sudahlah, paman. Aku mengundangmu kesini untuk tujuan berbeda." Bergantian Rai yang baru saja meminum tehnya.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"
"Aku berencana menitipkan seluruh perusahaan keluargaku pada Paman. Kuharap Paman dapat menjalankan sekaligus mengawasi ... satu-satunya orang yang bisa kupercaya di sini. Sampai anak-anakku dewasa, cukup usia untuk mengambil alih segalanya."
"Perusahaan Masahiro bukanlah perusahaan menengah, Rai. Memimpin satu lokasi pun perlu kekuatan besar." Terdengar Toshi sedikit keberatan terhadap keputusan yang ditetapkan Rai.
"Paman tidak sendirian. Aku memilih teman-teman yang mampu turut andil di bidangnya dan mereka adalah orang-orang yang jujur."
Toshi hela napasnya agak dalam dan berkata, "Baiklah. Aku tidak ingin menjanjikan apa pun di depan ... selain memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini sesuai kesanggupanku. Sambil menunggu penerus keluarga Masahiro beranjak dewasa."
"Terima kasih, Paman." Selanjutnya kelegaan terbuang dari pernapasan Rai ... menikmati lagi teh harum yang mampu menyamankan emosionalnya.
"Anak-anakmu? Nasib mereka kelak? Mereka masih sangat kecil."
"Kamu tidak perlu cemas. Hana yang akan menjaga dan merawat anak-anak. Sesekali Kenji pun bersedia memantau mereka."
"Kita hanya bisa memegang asa, ke depannya semua baik-baik saja ... keluargamu juga perusahaan Masahiro." Dorongan timbul oleh orang-orang terdekat dan peduli, demikian ucapan Toshi. Namun, Rai mempersiapkan diri sejak dini, supaya dia tidak memampangkan kesedihannya di depan siapa pun.
Bersambung...
