Bab 5
Selena bangun dengan dada berdebar.
Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena kenyataan yang tak bisa lagi ia tunda.
"Aduh...."
Ia melihat ponselnya. Jam di ponsel itu menunjukkan pukul 06.12. Pesan dari ibunya sudah masuk sejak subuh.
Mama sudah di bandara.
Selena menatap layar itu lama, terlalu lama, sampai tulisannya terasa kabur. Tangannya gemetar saat ia meletakkan ponsel kembali ke meja samping ranjang.
Di sisi lain ranjang, Justin belum bangun. Wajahnya menghadap jendela, matanya terpejam, napasnya pelan. Selena menatapnya dengan perasaan yang campur aduk—cinta, takut, bersalah, semuanya bertumpuk jadi satu.
Hari ini… semuanya berubah, batinnya.
Ia bangkit pelan, mengenakan sweater tipis, lalu berjalan ke dapur. Apartemen terasa asing pagi itu, seperti rumah orang lain yang ia tumpangi terlalu lama.
Ia membuat teh, bukan kopi. Perutnya terlalu mual untuk kafein.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari kamar.
Justin muncul dengan kaus abu-abu dan wajah lelah. Matanya langsung menangkap raut Selena.
“Dia sudah sampai?” tanyanya tanpa basa-basi.
Selena mengangguk. “Masih di bandara. Dia bilang mau langsung ke sini.”
Justin menarik napas panjang. “Oke.”
Hanya itu.
Tidak ada aku siap.
Tidak ada tenang, aku ada.
Dan justru itu yang membuat Selena makin takut.
Pukul sembilan pagi, bel apartemen berbunyi.
Selena berdiri kaku di depan pintu. Tangannya terulur, berhenti di udara. Justin berdiri di belakangnya, satu langkah jarak, cukup dekat untuk menopang, cukup jauh untuk tidak terlihat menantang.
Selena membuka pintu.
Wanita di hadapannya berdiri tegak dengan ekspresi dingin—ibunya. Rambutnya rapi, pakaiannya sederhana tapi berwibawa. Tatapan matanya tajam, langsung menyapu interior apartemen, lalu berhenti pada Justin.
Jeda beberapa detik.
“Masuk, Ma,” ujar Selena pelan.
Ibunya melangkah masuk tanpa senyum.
“Jadi ini tempatmu sekarang,” katanya, nadanya datar. “Kecil. Tapi cukup untuk melanggar banyak hal.”
Selena menelan ludah. “Ma—”
Ibunya mengangkat tangan. “Duduk.”
Nada itu tidak memberi ruang bantahan.
Mereka duduk di ruang tamu. Justin memilih kursi terpisah. Selena duduk di ujung sofa, tepat di antara dua dunia.
Ibunya menatap Selena lurus-lurus.
“Kau benar-benar tinggal di sini?”
Selena mengangguk. “Iya.”
“Dengan dia?” tatapannya mengarah ke Justin.
“Iya.”
Hening menekan.
Ibunya akhirnya berkata, “Kau mengecewakan Mama.”
Kalimat itu jatuh pelan… dan mematikan.
Selena menarik napas tajam. Dadanya terasa perih.
“Aku tidak bermaksud mengecewakan.”
“Tapi kau melakukannya,” balas ibunya dingin. “Kami membesarkanmu dengan nilai. Dengan batas. Dan kau memilih melompati semuanya.”
Justin membuka mulut, tapi Selena lebih dulu berkata,
“Ini pilihanku, Ma.”
Ibunya tertawa kecil, sinis. “Pilihan? Atau pengaruh?”
Tatapan itu kini mengarah tajam ke Justin.
“Kau,” katanya, “laki-laki yang merasa berhak membawa anak orang ke dalam hidup tanpa tanggung jawab.”
Justin menegakkan tubuhnya. “Bu, saya mencintai Selena.”
Ibunya mendengus. “Cinta tidak cukup.”
Justin mengangguk. “Saya tahu. Tapi saya tidak mempermainkannya.”
“Kalau tidak mempermainkan, kenapa tidak menikahinya?”
Pertanyaan itu membuat udara seakan berhenti.
Selena menoleh cepat ke Justin.
Justin terdiam.
Ibunya tersenyum pahit. “Lihat? Diamnya saja sudah jawaban.”
Selena bangkit berdiri. “Ma, ini tidak adil.”
“Yang tidak adil adalah kau memaksa kami menerima sesuatu yang bertentangan dengan prinsip hidup kami,” suara ibunya meninggi.
Justin ikut berdiri. “Bu, saya tidak pernah berniat menyakiti Selena atau keluarganya.”
“Berniat atau tidak, kau tetap melakukannya,” balas ibunya tajam.
Selena menangis. “Kenapa semuanya harus hitam-putih?”
Ibunya menatapnya dengan mata keras.
“Karena dunia tidak selalu abu-abu, Selena. Dan keputusanmu hari ini akan kau tanggung seumur hidup.”
Selena menggeleng, suaranya pecah.
“Aku bahagia, Ma.”
Ibunya menatapnya lama.
“Bahagia yang membuatmu jauh dari keluarga bukan kebahagiaan. Itu pelarian.”
Justin mengepalkan tangan. “Bu—”
Ibunya mengangkat tangan lagi. “Aku bicara pada anakku.”
Selena menatap Justin sekilas—tatapan yang berisi permintaan maaf, ketakutan, dan cinta. Lalu ia kembali menghadap ibunya.
“Apa yang Mama mau?” tanyanya lirih.
Ibunya menjawab tanpa ragu.
“Kau pulang. Sekarang.”
Ruangan terasa runtuh.
Selena menoleh ke Justin. Wajah pria itu pucat, tapi matanya tetap menatapnya, penuh harap yang tertahan.
Ibunya melanjutkan, “Atau Mama pergi, dan hubungan kita selesai.”
Pilihan itu kejam.
Dan nyata.
Selena gemetar. Napasnya terengah.
“Ma…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya berdiri. “Pilih.”
Hening panjang.
Justin akhirnya berkata pelan, suaranya serak,
“Selena… apa pun keputusanmu, aku tidak akan membencimu.”
Kalimat itu seperti pisau bermata dua—membebaskan sekaligus menyayat.
Air mata Selena jatuh deras.
Ia menatap Justin. Pria yang berbagi pagi, sunyi, tawa kecil, dan diam paling menyakitkan dengannya. Rumah yang ia pilih sendiri.
Lalu ia menatap ibunya. Wanita yang melahirkannya, membesarkannya, dan kini berdiri sebagai tembok tertinggi.
“Aku…” Selena terisak. “Aku butuh waktu.”
Ibunya menggeleng. “Tidak. Sekarang.”
Justin menghela napas panjang.
“Bu, kalau Selena belum siap—”
“Aku tidak bertanya padamu,” potong ibunya.
Selena akhirnya berkata dengan suara gemetar tapi jelas,
“Ma… aku tidak bisa pulang hari ini.”
Wajah ibunya mengeras.
“Apa kau memilih dia?”
Selena menangis. “Aku memilih hidupku.”
Keheningan yang mengikuti terasa mematikan.
Ibunya mengambil tasnya. “Kalau begitu, jangan hubungi Mama lagi.”
Pintu tertutup.
Bukan dibanting.
Tapi cukup keras untuk memutus sesuatu yang tak terlihat.
Selena jatuh terduduk di lantai.
Justin berlutut di depannya. “Sel…”
Selena menangis tersedu-sedu. “Aku kehilangan ibuku.”
Justin memeluknya erat. “Aku di sini.”
Selena mencengkeram bajunya. “Tapi bagaimana kalau suatu hari aku juga kehilanganmu?”
Justin memeluk lebih erat.
“Kalau itu terjadi, setidaknya kita jujur pada diri kita sendiri.”
Selena terisak di dadanya.
Di luar, kota berjalan seperti biasa.
Di dalam apartemen kecil itu, dua orang dewasa baru saja membayar mahal sebuah pilihan.
Karena living together bukan hanya tentang cinta, tapi tentang keberanian menghadapi konsekuensi.
Dan hari itu, Selena sadar:
tidak ada jalan kembali yang benar-benar sama.
