Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Bukan karena cuaca, tapi karena ada terlalu banyak hal yang belum selesai, dan masih terlalu banyak kalimat yang dipendam terlalu lama. Selena berdiri di dapur, menatap jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Di belakangnya, Justin duduk di meja makan, jemarinya beradu pelan dengan permukaan meja.

Tidak ada yang berbicara.

Bukan lagi karena tidak berani.

Melainkan karena takut apa yang akan keluar jika mereka mulai.

Justin akhirnya berdiri. Kursinya bergeser, suaranya nyaring di keheningan.

“Aku tidak bisa terus begini,” katanya.

Selena tidak menoleh. “Begini bagaimana?”

“Seperti kita sedang berjalan di ladang ranjau. Salah satu dari kita bicara sedikit saja, semuanya bisa meledak.”

Selena menarik napas panjang. “Bukankah itu yang kau mau? Bicara.”

Justin tertawa singkat, getir. “Aku mau bicara. Aku tidak mau berperang.”

Selena akhirnya berbalik. Matanya lelah, tapi menyala.

“Kau pikir aku mau perang?” tanyanya. “Justin, aku cuma mencoba bertahan.”

“Bertahan dari apa? Dari aku?”

Pertanyaan itu jatuh keras.

Selena terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Dari kehilangan segalanya.”

Justin mendekat beberapa langkah. “Dan kau pikir aku tidak mempertaruhkan apa pun?”

“Kau tidak harus memilih antara aku dan keluargamu,” balas Selena cepat. “Aku harus.”

Justin menggeleng. “Aku memilihmu. Setiap hari.”

Selena tertawa kecil, hampir putus asa. “Itu mudah untukmu bilang.”

Justin mengeraskan suaranya tanpa sadar. “Kenapa mudah? Karena aku tidak pulang ke rumah dengan rasa bersalah?”

“Karena dunia tidak menghakimimu seperti menghakimiku!” suara Selena akhirnya pecah.

Ruangan itu seakan membeku.

Justin terdiam. Dadanya naik turun.

“Jadi sekarang aku adalah beban?”

Selena menutup wajahnya dengan tangan. “Tidak… jangan memutarbalikkan.”

“Lalu apa, Sel?” Justin melangkah lebih dekat. “Kita tinggal bareng. Kita berbagi ranjang, rutinitas, hidup. Tapi setiap kali masalah datang, aku selalu yang harus menyingkir.”

“Aku tidak pernah minta kau menyingkir.”

“Tapi kau selalu menarik diri.”

Selena menurunkan tangannya. Air mata menggenang, tapi ia menahannya.

“Karena aku takut kalau aku bicara jujur, kau akan melihatku sebagai orang yang rumit dan pergi.”

Justin tertawa lirih, penuh luka.

“Dan kau pikir diam membuatku bertahan?”

Selena membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Justin melanjutkan, suaranya kini lebih pelan tapi justru lebih tajam.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari silent treatment kita kemarin?”

Selena menggeleng pelan.

“Aku mulai terbiasa tanpamu bicara padaku.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Selena tersentak. “Itu tidak adil.”

“Aku tahu,” Justin mengangguk. “Tapi itu nyata.”

Hening kembali turun. Kali ini bukan diam yang aman—melainkan diam yang berbahaya.

Selena akhirnya berkata, “Ibuku akan datang besok.”

Justin membeku. “Apa?”

“Dia sudah beli tiket. Dia akan datang ke apartemen ini.”

Justin mengusap wajahnya. “Dan kau baru bilang sekarang?”

“Aku takut reaksimu.”

Justin menatap Selena lama. “Dan apa yang kau harapkan dariku?”

Selena menelan ludah. “Aku tidak tahu.”

“Itu masalahnya,” Justin meninggikan suara. “Kau tidak tahu, tapi aku yang harus siap menghadapi semuanya.”

Selena membalas, nadanya meninggi juga.

“Apa kau pikir ini mudah bagiku? Kau pikir aku menikmati berada di tengah seperti ini?”

Justin menghela napas keras. “Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau ibumu memintamu pergi… apa yang akan kau lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Selena terdiam lama.

Terlalu lama.

Justin tersenyum pahit. “Jawabanmu sudah cukup.”

Selena akhirnya bersuara, suaranya gemetar.

“Aku tidak tahu apakah aku sekuat itu.”

Justin mengangguk pelan, seperti menerima pukulan terakhir.

“Setidaknya sekarang aku tahu di mana posisiku.”

“Itu tidak adil,” Selena menangis. “Aku mencintaimu.”

Justin mendekat, suaranya melembut tapi penuh luka.

“Cinta tanpa keberanian itu menyiksa, Sel.”

Selena memejamkan mata. “Aku belum siap kehilangan keluargaku.”

Justin mengangguk. “Dan aku belum siap kehilangan diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat Selena terisak.

Justin berjalan menjauh, masuk ke kamar. Selena mengejarnya.

“Justin, jangan pergi!”

Justin berhenti di ambang pintu. “Aku cuma butuh udara.”

“Kau bilang kau tidak akan pergi,” suara Selena pecah.

“Aku tidak pergi,” Justin menoleh. “Aku hanya mencoba agar kita tidak saling menghancurkan.”

Pintu kamar tertutup.

Selena jatuh terduduk di lantai.

Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, Selena menyadari satu hal yang menakutkan:

Cinta saja tidak selalu cukup untuk membuat dua orang tetap di tempat yang sama.

Malam menjelang dengan sunyi yang lebih tebal dari sebelumnya.

Justin duduk di kamar, menatap koper kecil di sudut ruangan. Ia tidak berniat pergi. Tapi fakta bahwa koper itu ada di sana membuat dadanya sesak.

Apakah ini akhirnya?

Apakah living together hanya membawa kita pada perpisahan yang lebih dekat?

Di ruang tamu, Selena membersihkan air matanya. Ia berdiri, berjalan ke kamar, mengetuk pelan.

“Justin…”

Tidak ada jawaban.

Ia membuka pintu perlahan. Justin duduk di tepi ranjang, menunduk.

Selena mendekat, duduk di sampingnya dengan jarak tipis.

“Aku tidak mau kehilanganmu,” katanya lirih.

Justin menatapnya. Matanya merah.

“Aku juga. Tapi aku tidak mau menjadi pilihan kedua.”

Selena menggeleng cepat. “Kau bukan pilihan kedua.”

“Buktikan,” ucap Justin pelan.

Selena terdiam.

Dan di situlah mereka duduk—bersebelahan, dekat secara fisik, tapi masih berjauhan secara batin.

Malam itu, tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang sama-sama mencintai…

dan sama-sama takut mengambil langkah paling berani.

Karena esok hari, ibu Selena akan datang,

dan keputusan yang selama ini mereka tunda

tidak bisa lagi dihindari.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel