Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Pagi setelah ibunya pergi, apartemen itu terasa seperti rumah yang baru saja kehilangan suara.

Tidak ada bentakan. Tidak ada tangisan lagi. Hanya sisa-sisa emosi yang menggantung di udara, seperti debu halus yang tak terlihat tapi membuat napas sesak.

Selena bangun lebih siang dari biasanya. Kepalanya pening, matanya sembab. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa benar-benar ringan.

Di sampingnya, Justin sudah berpakaian rapi. Ia duduk diam, mengikat tali sepatu dengan gerakan pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang biasanya terburu-buru di pagi hari.

“Kau mau kerja?” tanya Selena lirih.

Justin mengangguk. “Iya.”

“Kau… pulang malam?”

“Mungkin.”

Satu kata. Jarak terasa lagi.

Selena menunduk. “Maaf.”

Justin berhenti mengikat tali sepatunya. Ia menoleh. “Kau tidak perlu minta maaf.”

“Tapi aku—”

“Kau memilih hidupmu,” potong Justin lembut. “Itu bukan kesalahan.”

Selena mengangguk, tapi air matanya jatuh juga.

“Aku merasa seperti anak durhaka.”

Justin berdiri, mendekat, lalu berlutut di hadapannya.

“Perasaan bersalah tidak selalu berarti kau salah.”

Selena menatapnya, matanya basah. “Ibuku mungkin tidak akan menghubungiku lagi.”

Justin menggenggam tangannya. “Kalau dia mencintaimu, dia akan kembali bicara. Mungkin tidak sekarang.”

“Bagaimana kalau tidak pernah?”

Justin tidak langsung menjawab. Ia mengusap punggung tangan Selena dengan ibu jarinya.

“Kalau pun tidak… kau tidak sendirian.”

Kalimat itu menghangatkan, sekaligus menakutkan.

Karena Selena sadar, menggantungkan segalanya pada satu orang juga adalah risiko.

Justin berdiri. “Aku berangkat.”

Selena mengangguk. “Hati-hati.”

Justin berhenti di pintu. Menoleh.

“Kau makan, ya.”

Selena tersenyum kecil. “Iya.”

Pintu tertutup.

Dan Selena kembali sendirian—bukan sendiri secara fisik, tapi sendiri dalam pikirannya.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan, seperti seseorang yang baru belajar berjalan setelah jatuh keras.

Selena menerima pesan dari bibinya. Dari sepupunya. Dari nomor-nomor yang ia kenal sebagai keluarga. Isinya hampir sama.

Ibumu kecewa.

Kau seharusnya tahu batas.

Kau terlalu jauh.

Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

Selena membaca semuanya, lalu mematikan ponsel.

Ia duduk di sofa, memeluk bantal, menatap dinding kosong.

“Apa aku egois?” tanyanya pelan pada ruangan.

Tidak ada jawaban.

Malam hari, Justin pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya lelah. Dasi dilonggarkan, bahunya turun.

“Capek?” tanya Selena.

Justin mengangguk. “Lumayan.”

Selena menyiapkan makan malam sederhana. Mereka makan bersama, tapi pembicaraan ringan—tentang kerja, cuaca, hal-hal aman.

Hal-hal yang tidak menyentuh luka.

Sampai Selena akhirnya berkata,

“Orang-orang mulai menjauh.”

Justin mengangkat wajah. “Keluargamu?”

“Teman juga,” Selena tersenyum pahit. “Mereka bilang aku berubah.”

Justin terdiam. “Dan menurutmu?”

Selena memikirkan jawabannya lama.

“Aku memang berubah.”

Justin mengangguk pelan. “Aku juga.”

Ada jeda.

“Apakah itu buruk?” tanya Selena.

Justin menatapnya. “Tidak selalu. Tapi perubahan punya harga.”

Selena menunduk.

“Harga yang mahal.”

Beberapa hari kemudian, Selena menerima panggilan dari kantor. Nada bicara atasannya berbeda—lebih dingin.

“Selena, kami dengar beberapa hal tentang kehidupan pribadimu,” kata suara di seberang.

Selena menegakkan punggungnya. “Tentang apa?”

“Kami hanya ingin mengingatkan, reputasi itu penting.”

Telepon ditutup dengan kalimat yang menggantung seperti ancaman.

Malam itu, Selena duduk di lantai kamar mandi, punggungnya bersandar ke dinding. Ia menangis tanpa suara.

Justin menemukannya di sana.

“Sel?” Justin berlutut. “Ada apa?”

Selena mengangkat wajahnya, air mata mengalir.

“Aku mulai kehilangan hal-hal lain.”

Justin memeluknya.

“Kita bisa hadapi pelan-pelan.”

“Tapi bagaimana kalau aku kehilangan diriku sendiri?”

Justin memejamkan mata. Pertanyaan itu menakutkan.

“Kalau itu terjadi, aku akan mengingatkanmu siapa dirimu.”

Selena tertawa kecil di sela tangis. “Kau terlalu yakin.”

“Karena aku mencintaimu,” jawab Justin sederhana.

Namun cinta juga lelah.

Minggu berikutnya, tekanan mulai memengaruhi hal-hal kecil.

Justin pulang lebih sering larut. Selena jadi lebih sensitif. Percakapan sederhana berubah jadi salah paham.

“Kau lupa beli susu,” ujar Selena suatu malam.

Justin menghela napas. “Aku capek.”

Selena terdiam. “Aku juga.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya ada tumpukan emosi yang tak terselesaikan.

Mereka mulai bertanya-tanya dalam diam:

Apakah kita saling menguatkan… atau justru saling menahan?

Suatu malam, Justin duduk di balkon, menatap lampu kota. Selena menyusul, membawa dua cangkir teh.

“Duduk?” tanya Selena.

Justin mengangguk.

Mereka duduk berdampingan, tanpa saling menyentuh.

“Aku takut,” ujar Selena tiba-tiba.

Justin menoleh. “Tentang apa?”

“Kalau suatu hari kau bangun dan sadar… hidupmu akan lebih mudah tanpa aku.”

Justin terdiam lama. Lalu berkata pelan,

“Hidupku mungkin lebih mudah. Tapi bukan lebih berarti.”

Selena menelan ludah.

“Kadang aku merasa kita memaksa.”

Justin menghela napas. “Kadang cinta memang butuh dipaksakan agar bertahan.”

Selena menatapnya. “Atau dilepas agar tidak saling melukai.”

Justin menoleh cepat. “Kau ingin pergi?”

Selena menggeleng, cepat. “Tidak. Aku cuma jujur.”

Kejujuran itu membuat hening jatuh lagi.

Hari Minggu, Selena mencoba menelepon ibunya.

Nada sambung terdengar. Jantungnya berdegup cepat.

Satu dering. Dua.

Lalu… panggilan ditolak.

Selena menatap layar itu lama. Tangannya gemetar.

Justin berdiri di ambang pintu kamar. Ia melihat semuanya.

“Dia belum siap,” katanya pelan.

Selena mengangguk, tapi matanya kosong.

“Bagaimana kalau dia tidak pernah siap?”

Justin mendekat, memeluknya dari belakang.

“Waktu tidak selalu menyembuhkan. Tapi kadang memberi jarak yang dibutuhkan.”

Selena bersandar padanya.

“Living together itu katanya menyatukan.”

Justin tersenyum tipis. “Ternyata juga bisa mengisolasi.”

Mereka tertawa kecil—tawa yang rapuh.

Malam itu, Selena menulis di buku kecilnya:

Hari ini aku kehilangan banyak hal.

Tapi aku juga belajar satu hal:

tinggal bersama bukan soal bahagia setiap hari,

melainkan bertahan saat bahagia terasa jauh.

Justin melihatnya menulis.

“Kau menulis apa?”

Selena menutup bukunya. “Tentang kita.”

Justin tersenyum kecil. “Pastikan akhirnya tidak sedih.”

Selena menatapnya.

“Akhir tidak selalu bisa kita pilih.”

Justin mengangguk.

“Tapi kita bisa memilih bertahan sampai akhir itu datang.”

Mereka saling menatap.

Cinta mereka tidak runtuh hari itu.

Tapi juga belum sepenuhnya utuh.

Karena setelah pilihan besar diambil,

yang tersisa bukan euforia,

melainkan konsekuensi yang harus dijalani bersama.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel