Pustaka
Bahasa Indonesia

Living Together

36.0K · Tamat
Novita Ledo
28
Bab
27
View
9.0
Rating

Ringkasan

Selena dan Justin memilih tinggal bersama demi cinta yang mereka percaya. Namun keputusan itu membawa konsekuensi: jarak dengan keluarga, tekanan sosial, dan sunyi yang perlahan merayap di antara mereka. Ketika diam lebih menyakitkan daripada pertengkaran, mereka sadar—living together bukan tentang selalu bahagia, melainkan bertahan saat cinta diuji oleh pilihan yang tak bisa ditarik kembali. Living Together adalah kisah cinta dewasa tentang keberanian memilih, kehilangan, dan arti bertahan bersama.

RomansaMetropolitanKehidupan SosialNovel Memuaskan

Bab 1

Jam menunjukkan pukul 05.47 pagi ketika Selena terbangun bukan karena alarm, melainkan karena lengan seseorang yang terlalu erat melingkari pinggangnya.

Napas hangat menyentuh tengkuknya.

Selena menghela napas pelan.

Bukan kesal.

Lebih ke… sadar.

Ia tidak lagi tidur sendirian.

“Justin…” gumamnya lirih, suaranya serak sisa tidur.

Tidak ada jawaban. Hanya dengusan pelan, lalu pelukan itu justru semakin mengencang, seolah tubuh di belakangnya menolak kenyataan bahwa pagi sudah datang.

Selena tersenyum kecil.

Situasi ini yang sangat aneh, hangat, sekaligus menakutkan—sudah menjadi rutinitas baru mereka selama tiga minggu terakhir.

Tiga minggu tinggal serumah.

Tiga minggu berbagi ruang, udara, kebiasaan, dan diam-diam… ketakutan.

Ia mencoba melepaskan diri pelan-pelan, tapi Justin bergerak.

“Kau mau ke mana?” suara itu rendah, masih setengah tidur.

“Ke dapur. Aku mau bikin kopi.”

Justin membuka mata perlahan. Rambutnya berantakan, kaus hitamnya kusut, tapi tatapannya tetap tajam—tatapan yang selalu membuat Selena lupa cara bernapas normal.

“Kau selalu kabur tiap pagi,” ujar Justin.

Selena berbalik sedikit, menatapnya. “Aku tidak kabur.”

“Kau lepasin pelukanku setiap kali aku bangun.”

“Karena kalau tidak, kita bakal telat kerja.”

Justin mendengus kecil, lalu menempelkan dahinya ke bahu Selena.

“Aku tidak keberatan telat… kalau kau tetap di sini.”

Kalimat itu membuat jantung Selena berdegup lebih cepat dari seharusnya.

“Justin,” katanya pelan, “kita tinggal bareng bukan berarti kita berhenti hidup di dunia nyata.”

Justin terdiam.

Pelukannya melonggar, tapi tidak sepenuhnya dilepas.

“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Aku cuma… belum terbiasa bangun dan kau masih ada.”

Selena menelan ludah.

Itu bukan kalimat romantis berlebihan, tapi justru karena kesederhanaannya, kata-kata itu menghantam tepat di dadanya.

Ia berbalik sepenuhnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Aku juga,” akunya jujur.

Mata Justin menelusuri wajah Selena, seolah memastikan ia tidak bercanda.

“Kau tidak menyesal?”

Pertanyaan itu.

Pertanyaan yang selalu datang diam-diam, tapi tak pernah berani mereka bahas panjang.

Selena menarik napas dalam.

“Kalau aku menyesal, aku tidak akan ada di sini.”

Justin mengangkat tangan, mengusap pipi Selena dengan ibu jarinya.

“Kau tahu betapa beraninya kau?”

Selena terkekeh kecil. “Atau bodohnya.”

Justin tersenyum miring. “Aku suka versi bodohmu.”

Selena mendorong dadanya pelan. “Bangun. Aku benar-benar mau kopi.”

Justin tertawa pelan, akhirnya melepaskan pelukan.

“Baik, Nyonya Serumah.”

“Jangan panggil aku begitu.”

“Terlambat.”

Dapur apartemen kecil itu dipenuhi cahaya pagi. Selena berdiri di depan mesin kopi, mengenakan kaus Justin yang kebesaran—satu lagi kebiasaan baru yang tidak pernah ia rencanakan, tapi diam-diam ia nikmati.

Justin bersandar di meja dapur, menatapnya tanpa malu.

“Kau menatapku seperti aku lukisan,” Selena menegur tanpa menoleh.

“Aku cuma memastikan ini nyata.”

Selena menoleh. “Apa?”

“Bangun pagi, kau ada di sini. Rambutmu berantakan, kausku kau pakai. Kita berbagi dapur.”

Justin tersenyum kecil. “Aku takut ini mimpi yang terlalu manis.”

Selena menuang kopi ke dua cangkir.

“Kalau ini mimpi, maka sewa apartemen kita terlalu mahal untuk mimpi.”

Justin tertawa.

Selena menyerahkan satu cangkir padanya. Jari mereka bersentuhan sebentar, seperti kontak singkat, tapi cukup membuat udara di antara mereka menghangat.

Justin mengangkat cangkir. “Untuk hari ke dua puluh satu kita tinggal bareng.”

Selena mengangkat cangkirnya juga. “Dan belum saling membunuh.”

“Prestasi besar.”

Mereka minum dalam diam.

Diam yang tidak canggung.

Diam yang terasa… milik.

Justin tiba-tiba berkata, “Tadi malam kau bicara saat tidur.”

Selena mengerutkan dahi. “Apa yang kukatakan?”

“Kau bilang, ‘Jangan pergi.’”

Jantung Selena bergetar.

Ia menunduk, menatap kopinya.

“Itu cuma mimpi.”

Justin mendekat, suaranya melembut.

“Atau ketakutan.”

Selena menghela napas panjang.

“Tinggal bareng itu bukan cuma soal berbagi ruang, Justin. Ini soal membuka sisi paling rapuh dari diri kita.”

Justin menatapnya serius.

“Aku tahu. Dan aku masih di sini.”

Selena mengangkat wajahnya. “Kau tidak takut?”

Justin tersenyum kecil.

“Takut. Tapi aku lebih takut kehilanganmu daripada menghadapi semua ini.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.

Selena menaruh cangkirnya, lalu melangkah mendekat.

“Aku tidak menjanjikan semuanya akan mudah.”

Justin mengangkat tangannya, menggenggam jemari Selena.

“Aku tidak minta mudah. Aku cuma minta kau tidak pergi diam-diam.”

Selena menelan ludah, lalu mengangguk.

“Aku janji.”

Justin menariknya ke dalam pelukan—bukan pelukan posesif, tapi pelukan yang berkata aku di sini.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka memutuskan tinggal bersama, Selena merasa…

tenang.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu pikiran yang berbisik pelan:

Tinggal bersama bukan ujian cinta.

Ini adalah awal dari semua risiko yang belum mereka siap hadapi. Pagi itu, tanpa mereka sadari,

sebuah keputusan sederhana bernama living together sedang perlahan mengubah segalanya.