Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Selena terbangun lebih awal dari biasanya saat menjelang pagi harinya.

Ia membuka mata dan langsung sadar pada satu hal: ruang di sebelahnya kosong. Tidak ada tubuh hangat, tidak ada lengan yang melingkar, hanya sprei yang sedikit kusut dan dingin.

Justin sudah bangun.

Atau mungkin… sengaja bangun lebih awal agar tidak bertemu.

Selena duduk perlahan. Dadanya terasa berat, seolah semalaman ia memikul sesuatu yang tidak kasatmata. Ia memandang pintu kamar, berharap terbuka, berharap Justin kembali hanya untuk berkata apa pun.

Tapi pintu itu tetap tertutup.

Ia bangkit, berjalan ke dapur. Gelas kopi Justin sudah ada di wastafel. Tidak dicuci. Tidak disentuhnya. Seolah ia ingin meninggalkan jejak tanpa kehadiran.

Selena menelan ludah.

“Diam itu lebih kejam,” gumamnya pelan, entah kepada siapa.

Ia membuat kopi sendiri. Tidak dua cangkir. Satu.

Justin duduk di meja kerja kecil di sudut ruang tamu. Laptop menyala, tapi pikirannya tidak fokus. Ia tahu Selena sudah bangun. Ia mendengar langkahnya. Ia mengenali ritmenya terlalu baik.

Tapi ia tidak menoleh.

Bukan karena tidak mau.

Karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Kalau aku bicara sekarang, apakah aku akan memperbaiki atau justru menghancurkan?

Justin menghela napas panjang.

Ketika Selena lewat menuju kamar mandi, mereka saling melihat sepersekian detik. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.

Hanya tatapan singkat yang terlalu penuh arti untuk dibahas.

Pintu kamar mandi tertutup.

Justin memejamkan mata.

Beginikah rasanya tinggal bersama tanpa benar-benar bersama?

Siang hari datang dengan jarak yang semakin terasa.

Selena bekerja dari rumah. Justin juga. Dua laptop, dua dunia, satu apartemen.

Selena mengetik, berhenti, lalu menghapus. Ia tidak fokus. Matanya sesekali melirik ke arah Justin, yang duduk beberapa meter darinya. Punggungnya tegak, ekspresinya datar.

Apakah ia sengaja bersikap sejauh itu?

Atau aku yang terlalu berharap ia mendekat?

Justin sesekali berdiri mengambil air minum. Ia lewat di belakang Selena, jaraknya cukup dekat untuk menyentuh, tapi cukup jauh untuk terasa asing.

“Airnya habis,” ujar Justin akhirnya, suaranya netral.

Selena mengangguk. “Nanti aku isi.”

Tidak ada tambahan. Tidak ada aku yang isi atau biar aku saja.

Justin kembali ke mejanya.

Kalimat sederhana itu menggantung lebih berat daripada pertengkaran semalam.

Malam hari adalah yang terburuk.

Mereka makan di meja yang sama, tapi memilih kursi yang berseberangan, seolah ada garis tak terlihat di tengah meja.

Justin memecah kesunyian, bukan dengan kata, tapi dengan suara sendok yang menyentuh piring terlalu keras.

Selena mengangkat wajah. “Kau marah?”

Justin menoleh. “Aku tidak marah.”

“Kau dingin.”

Justin terdiam sejenak. “Dan kau tidak?”

Selena menelan ludah. “Aku hanya… lelah.”

Justin tersenyum tipis, tanpa humor. “Kita baru tiga minggu tinggal bareng, dan kita sudah lelah.”

Kalimat itu menyentil.

Selena berdiri. “Aku ke kamar.”

Justin tidak menghentikan.

Pintu tertutup lagi. Bukan dibanting. Tapi tetap menyakitkan.

Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama.

Jarak di antara mereka cukup untuk satu orang lagi.

Selena membelakangi Justin. Matanya terbuka, menatap gelap.

Justin menatap langit-langit. Tangannya mengepal.

Keduanya terjaga.

Keduanya ingin bicara.

Keduanya memilih diam.

Karena diam terasa lebih aman daripada mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Justin akhirnya berbisik, hampir tak terdengar,

“Sel?”

Selena menahan napas.

Ia ingin menjawab. Ingin berbalik. Ingin berkata bahwa ia juga takut.

Tapi ia diam.

Justin menutup mata.

Baiklah, pikirnya. Aku mengerti.

Padahal, ia tidak.

Hari kedua silent treatment terasa lebih berat.

Selena mulai mempertanyakan keputusannya. Tinggal bersama bukan cuma tentang berbagi ruang, tapi juga tentang menghadapi sisi paling buruk satu sama lain.

Dan sekarang, sisi itu muncul… tanpa peringatan.

Justin pulang lebih malam. Selena sudah berbaring.

Ketika Justin masuk kamar, Selena berpura-pura tidur.

Justin berdiri lama di samping ranjang. Tangannya terulur, berhenti di udara.

“Aku masih di sini,” bisiknya pelan, lebih ke dirinya sendiri.

Selena mendengar. Jantungnya bergetar.

Ia ingin berbalik dan berkata, Aku juga.

Tapi ia tidak bergerak.

Hari ketiga, keheningan berubah menjadi kebiasaan yang menakutkan.

Mereka mulai terbiasa tidak saling menyapa.

Itu yang paling berbahaya.

Selena berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri.

“Apakah ini harga dari memilih tinggal bersama?” tanyanya pelan.

Di ruang tamu, Justin membuka ponselnya, melihat foto lama mereka—tertawa, berpelukan, tanpa beban.

“Kapan kita jadi sejauh ini?” gumamnya.

Malam itu, hujan turun deras.

Listrik padam.

Apartemen gelap total.

Selena terkejut, berdiri dari sofa. “Justin?”

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah pelan. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia bukan takut gelap—ia takut sendirian.

Tiba-tiba, sebuah cahaya kecil menyala. Senter ponsel.

Justin berdiri di ujung lorong.

Mata mereka bertemu.

Dalam gelap, jarak itu terasa lebih dekat.

“Kau baik-baik saja?” tanya Justin akhirnya.

Selena mengangguk. “Kau?”

“Iya.”

Hening lagi.

Listrik belum menyala. Hujan semakin keras.

Selena melangkah mendekat. “Justin…”

Ia berhenti tepat di depannya. Kata-kata mengumpul di tenggorokannya.

Justin menatapnya, wajahnya penuh emosi yang tertahan. “Diam itu menyiksa, Sel.”

Air mata Selena jatuh tanpa izin.

“Aku tahu.”

Justin menghela napas, suaranya serak.

“Aku tidak mau kita jadi orang asing di rumah sendiri.”

Selena mengangkat wajahnya.

“Kalau begitu… jangan pergi walau aku diam.”

Justin mengangguk, lalu memeluk Selena. Kali ini, Selena langsung membalas.

Pelukan itu tidak menyelesaikan semuanya. Tapi cukup untuk menghentikan jarak dari tumbuh lebih jauh.

Lampu menyala kembali.

Namun luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Karena silent treatment bukan akhir konflik,

ia hanya jeda sebelum kebenaran benar-benar diucapkan.

Dan malam itu, mereka sadar satu hal:

Tinggal bersama bukan sekadar berbagi rumah.

Tapi berani saling mendengar, bahkan saat kata-kata paling sulit untuk diucapkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel