Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Pukul delapan malam, apartemen itu seharusnya terasa hangat.

Lampu dapur menyala temaram, aroma masakan masih menggantung di udara, dan hujan rintik di luar jendela biasanya menjadi latar sempurna untuk mereka berdua. Biasanya.

Tapi malam itu berbeda.

Selena duduk di sofa, lututnya ditarik ke dada. Telepon genggamnya tergeletak di meja, layarnya sudah mati, tapi dadanya masih terasa sesak, seolah pesan yang baru saja ia baca belum benar-benar menghilang.

Justin berdiri di dapur, membelakanginya. Ia tahu ada yang berubah. Ia selalu tahu.

“Kau tidak makan,” ujar Justin akhirnya, suaranya dibuat ringan.

Selena tidak menjawab.

Justin mematikan kompor, lalu berbalik. Tatapannya jatuh ke wajah Selena yang pucat.

“Sel?” panggilnya pelan.

Selena mengangkat wajah. Matanya tidak berkaca-kaca, tapi justru itu yang membuat Justin cemas.

“Kau habis dapat kabar apa?” tanya Justin, mendekat.

Selena menggeleng kecil. “Tidak penting.”

Justin berhenti tepat di depannya. “Kau tidak pernah bilang ‘tidak penting’ kalau benar-benar tidak penting.”

Hening.

Hujan di luar semakin deras, seolah sengaja mempertebal jarak di antara mereka.

Selena akhirnya meraih ponselnya, lalu menyodorkannya ke Justin.

“Baca saja.”

Justin menerima ponsel itu. Satu pesan. Dari nomor yang ia kenal.

Dari ibunya Selena.

Selena, Mama dengar kau tinggal serumah dengan laki-laki itu. Kalau benar, pulanglah. Jangan hancurkan hidupmu sendiri.

Justin menelan ludah.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Ibuku…?”

“Bukan,” Selena menyela cepat. “Ibuku.”

Justin meletakkan ponsel itu kembali ke meja, pelan, seolah benda itu rapuh.

“Dia tahu?”

“Bukan cuma tahu,” Selena tersenyum pahit. “Dia marah. Kecewa. Dan… mengancam.”

Justin mengerutkan dahi. “Mengancam apa?”

Selena menutup mata sejenak.

“Kalau aku tidak pulang, dia akan datang ke sini.”

Ruangan terasa menyempit.

Justin mengusap rambutnya sendiri. “Oke. Kita bisa jelaskan baik-baik. Kita orang dewasa—”

“Justin,” potong Selena, suaranya gemetar untuk pertama kalinya. “Baginya, ini bukan soal dewasa. Ini soal aib.”

Kata itu menggantung berat.

Justin menelan ludah. “Apa yang kau takutkan sebenarnya?”

Selena bangkit berdiri. “Aku takut kehilangan keluargaku.”

Dan di saat yang sama, pikirannya menjerit:

Dan aku juga takut kehilanganmu.

Justin mendekat, tangannya terulur.

“Aku tidak pernah berniat membuatmu berhadapan dengan semua ini sendirian.”

“Aku tahu,” Selena menatapnya, matanya basah. “Tapi tinggal bareng itu artinya pilihanku tidak lagi cuma tentang aku.”

Justin terdiam.

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Selena sadari.

“Jadi… kau menyesal?” tanya Justin pelan.

Selena menggeleng cepat. “Tidak. Tapi aku ketakutan.”

Justin menghela napas panjang. “Selena, kalau ini terlalu berat—”

“Jangan!” suara Selena meninggi. “Jangan mulai dengan kalimat itu.”

Justin terdiam. “Kalimat apa?”

“Kalimat ‘kalau ini terlalu berat’.” Selena tertawa getir. “Karena itu selalu diikuti dengan ‘kita berhenti’.”

Justin mendekat lagi, jarak mereka kini sangat dekat.

“Aku tidak pernah bilang kita harus berhenti.”

“Tapi kau memikirkannya.”

Justin membuka mulut… lalu menutupnya kembali.

Kejujuran itu terlalu jelas.

Hening kembali jatuh.

Selena memalingkan wajah, dadanya terasa perih.

“Lihat? Bahkan diam kita sekarang berbeda dari minggu lalu.”

Justin memejamkan mata.

“Living together itu membuat semuanya terasa lebih nyata. Lebih telanjang.”

Selena menoleh. “Dan lebih mudah hancur.”

Justin membuka mata, menatapnya penuh kesungguhan.

“Tidak kalau kita saling bertahan.”

Selena tersenyum pahit. “Bertahan itu bukan cuma soal cinta, Justin. Ini soal tekanan. Keluarga. Norma. Masa depan.”

Justin mendekat, menyentuh bahu Selena.

“Apa kau ingin aku pergi?”

Pertanyaan itu membuat jantung Selena seolah berhenti sesaat.

Ia menatap Justin lama. Terlalu lama.

“Aku tidak ingin sendirian,” katanya akhirnya, jujur dan rapuh. “Tapi aku juga tidak ingin menjadi alasan kau dibenci orang tuaku.”

Justin menelan ludah.

“Selena, aku tidak mencintaimu setengah-setengah.”

“Aku tahu,” bisik Selena. “Itulah yang membuat ini makin sakit.”

Justin memeluknya tiba-tiba. Selena kaku sesaat, lalu membalas pelukan itu. Tangannya mencengkeram kaus Justin erat-erat, seolah takut kehilangan pegangan.

“Kalau ibumu datang,” ujar Justin di atas kepala Selena, “aku akan berdiri di depanmu.”

Selena menutup mata.

“Dan kalau dia memintaku memilih?”

Justin terdiam.

Pelukan itu sedikit mengendur.

“Jawab,” pinta Selena lirih.

Justin menarik napas dalam.

“Aku ingin kau memilih dirimu sendiri.”

Selena tersenyum getir.

“Itu bukan jawaban yang aman.”

“Tapi itu jawaban jujur.”

Selena melepaskan pelukan, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku takut, Justin. Aku takut suatu hari aku bangun di apartemen ini… dan kau tidak ada.”

Justin mengusap pipi Selena.

“Dan aku takut kau bangun… lalu memutuskan aku bukan pilihan yang layak.”

Keduanya terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, cinta mereka tidak terasa seperti rumah, melainkan medan perang yang sunyi.

Selena berjalan menjauh, duduk kembali di sofa.

“Aku butuh waktu.”

Justin mengangguk pelan. “Aku di kamar.”

Ia berbalik, melangkah pergi.

Langkah itu terdengar lebih berat dari biasanya.

Pintu kamar tertutup. Tidak dibanting. Justru itu yang menyakitkan.

Selena duduk sendiri, memeluk lututnya. Apartemen yang tadi terasa hangat kini terasa terlalu besar.

Ia berbisik pada dirinya sendiri,

“Beginikah rasanya ketika cinta diuji bukan oleh perasaan… tapi oleh dunia?”

Di balik pintu kamar, Justin bersandar pada daun pintu. Matanya terpejam, napasnya berat.

“Jangan hancur sekarang,” gumamnya pelan. “Tolong.”

Malam itu, mereka tidur di atap yang sama…

tapi untuk pertama kalinya,

tidak dalam mimpi yang sama. Maka itu awal mulai masalah mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel