Secret
Kata orang semakin kita tumbuh dewasa, semakin sempit pertemanan karena akan disibukkan oleh urusan masing-masing. Dan itulah yang dirasakan oleh para pangeran Othrys itu. Sebagai seorang pewaris kerajaan, tak ada yang namanya berhenti belajar atau sebutan lulus. Sekarang walaupun sang putra tertua yaitu Ravn telah berumur dua puluh tahun, dia tetap belajar tapi tanpa guru. Terakhir dia menerima kelas adalah dua tahun lalu saat dirinya berumur delapan belas tahun, kini dia harus sering ke perpustakaan untuk belajar secara otodidak. Tahun pertama memang sulit karena dia harus mengerti semuanya sendiri, tapi sudah setahun ini dia menjadi lega bahwa Seoho juga sudah 'lulus' dari ajaran guru, hal itu membuat Ravn dapat bertanya pada adiknya yang notabene memang paling pintar itu.
Tapi yang paling merasa kesepian jelas lah si bungsu, Xion. Dia yang bahkan tahun ini baru berumur lima belas tahun, lebih tepatnya besok adalah ulang tahunnya ke lima belas itu. Dia harus belajar sendiri, memahami semua pelajaran sendiri, bahkan bermain sendirian. Ia mengerti karena kakak-kakaknya yang lain telah dewasa, jadi dia merasa kesepian. Oleh karena itu Xion lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah kaca yang terletak di halaman belakang istana, dekat dengan taman belakang. Disana dia akan menyiram bunga, memberi mereka pupuk, dan bahkan memotong tangkai-tangkai yang sudah layu. Entah kenapa Xion sedikit berbeda dari kebanyakan anak laki-laki lainnya yang lebih menyukai tantangan atau hal-hal yang sedikit berbahaya, Xion lebih menyukai hal yang tenang dan damai, bahkan dia selalu enggan jika sudah mendengar tentang senjata atau perang, bukan karena dia takut, melainkan menurutnya hal itu tidak bermanfaat dan tidak ada yang akan dia dapatkan dari itu. Sama halnya dengan ungkapan bahwa seseorang yang menang akan jadi arang, dan yang kalah akan menjadi abu. Itulah definisi singkat sebuah perselisihan di mata Xion, kedua belah pihak hanya akan terluka.
Disamping itu pula memang sejak kecil Xion adalah anak yang pendiam, tak jauh berbeda dengan Leedo yang hanya dekat dengan Seoho, Xion pun dulu dekat dengan kakak tertuanya yaitu Ravn. Tapi karena jarak umur mereka yang terlampau jauh, dia hanya memaklumi kesibukan Ravn saat ini. Xion dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya.
kebetulan jarang ada pelayan istana yang mengunjungi taman belakang. Memang itu disengaja karena taman belakang di khususkan untuk dirawat oleh anggota kerajaan, begitu usul sang ratu. Dan juga karena bagian ini biasa menjadi tempat privasi entah untuk makan keluarga, atau untuk menerima tamu penting. Hanya pelayan yang diperintahkan saja yang bisa masuk kesana.
Karena alasan itu pula, kini Xion tengah telentang memandang langit malam yang penuh bintang itu di rumah kaca istana, serta dikelilingi oleh bunga-bunga indah berbagai jenis. Kalau saja pengasuhnya tahu kelakuannya ini, Xion sudah dipaksa berada di dalam di kamar seharian untuk belajar karena bagaimana bisa seorang pangeran menidurkan tubuhnya sendiri diatas tanah? Apalagi karena dia adalah anak bungsu, jadi sepertinya semua orang di istana ini bnegitu menyayanginya dan tak akan membiarkan satu hal kecilpun melukainya, termasuk duri dari bunga sekalipun. Lalu tak jarang juga dia bersembunyi disini untuk menghindari pelajaran yang tidak ia suka, belajar pedang. Entah karena apa, dia membencinya. Dia tak bisa melukai orang lain walaupun itu hanya pedang palsu, dia tak bisa mengacungkan senjata itu pada manusia.
Tanpa terasa, matanya mulai terasa berat, ditambah dari aroma harum bunga-bunga di sekelilingnya itu menambah rasa kantuk di mata Xion, dan pada akhirnya sang hitam pun datang.
"Xion??" Leedo mengguncangkan badan adik bungsunya itu. Lalu dengan perlahan, pemilik nama tersebut membuka matanya perlahan, dan seketika cahaya matahari langsung masuk ke dalam retina nya.
"Kak Leedo? Kenapa disini?" Tanya Xion sembari mengambil posisi berdirinya, diikuti oleh Leedo.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidur disini?"
Xion menggaruk tengguknya yang tidak gatal, "aku... ketiduran disini setelah semalam jalan-jalan disini." Setelah itu Xion terkekeh kecil.
Leedo menghela nafas.
"Ayo keluar dari sini. Hari ini ulang tahunmu, ibu sudah membuatkan kue untukmu."
Xion hanya mengangguk dan mengikuti langkah lebar kakaknya dari belakang.
Setelah bersiap diri dan beganti pakaian, Xion berjalan menuju taman belakang istana, disana sudah ada ayahnya, kedua ibunya, dan kelima kakaknya yang lain.
Mereka semua memandang ke arahnya. Hal itu langsung membuat Xion tertunduk dan berjalan menuju sebuah kursi kosong yang sudah disiapkan untuknya.
Perayaan ulang tahun ke lima belas putra terakhir kerajaan Othrys dimulai. Mereka mendoakan semoga Xion menjadi anak yang berbakti dan bahagia, semua doa mereka sangat baik, lalu sampailah pada ucapan sang raja yang mengejutkan semua orang disana.
"Xion, nanti sehabis makan malam, kau datang ke ruang tahta, ya?"
Tentu saja semua terkejut. Dari lima tahun lalu saat Ravn dipanggil, tak ada yang tahu, hingga saat Hwanwoong pun tak ada yang pernah tahu kapan raja memerintah mereka untuk menghadap. Hanya raja dan putra yang berulang tahun hari itu saja yang tahu, dimana dan kapan tepatnya sang raja mengatakan itu. Karena semua orang mengira itu adalah.... rahasia.
"Semua orang telah memiliki rahasia yang sama, kurasa tak apa mengatakan itu kan?" Lanjut sang raja.
Hanya Xion saja yang tidak mengerti keadaan ini.
"Tetap jaga rahasia kalian, sampai semuanya dewasa." Ucap raja lagi sembari tersenyum dan memandang Xion di sebrang mejanya.
Ravn memandang ayahnya yang duduk di sisi kirinya itu, "lima tahun lagi ayah?"
Pandangan sang raja beralih ke putra pertamanya, "tentu."
Seperti yang diperintahkan tadi, kini setelah penampilan Xion sudah ditata oleh ibunya, dia segera berjalan menuju ruang tahta. Semua perkataan ayahnya dan kakaknya tadi sangat membingungkan dan meninggalkan rasa penasaran yang besar. Rahasia? Rahasia apa?
Tapi setelah ia sampai ditempat itu, semuanya jelas. Ayahnya telah memberitahukan semuanya, rahasia, janji, dan alasannya.
"Asklepios." Ucap Xion setelah selesai memandang matanya di dalam cermin.
"Dengan ini ayah tahu kenapa kau tak suka belajar senjata." Atas perkataan ayahnya itu, Xion memandang ayahnya dengan mata yang bergetar.
"Jadi... semua kakakku sudah pernah kesini, ayah? Dan melihat yang sama?" Tanya Xion.
Raja menggeleng, "mereka memang kesini, tapi mereka melihat hal yang berbeda. Kau juga akan menjaga rahasia ini kan?"
Xion mengangguk.
"Baiklah. Ayo kita pergi dari sini."
-LIVED
_=Asklepios: Dewa penyembuh dan pengobatan.=_
Asklepios sering diwujudkan sebagai pria berjanggut, dan membawa tongkat emas yang sudah dililit oleh seekor ular. Dan hal itulah yang sampai saat ini kita kenali sebagai lambang di sebuah apotek atau klinik.
